Ringkasan Inovasi
Desa Wisata Kubu Gadang di Kelurahan Ekor Lubuk, Kecamatan Padang Panjang Timur, Kota Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat, sejak 2014 mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat yang memadukan agrowisata sawah, pelestarian budaya Minangkabau, dan pemberdayaan ekonomi warga melalui homestay [1]. Inovasi ini digagas Yuliza Zen, yang memulai perintisan pada usia 21 tahun, mengubah kampung yang sebelumnya hanya dilintasi wisatawan menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman menginap dan belajar langsung dari kehidupan warga [8]. Dampak inovasi ini terlihat dari 22 unit homestay yang dikelola warga dengan sekitar 100 rumah tangga terlibat dalam aktivitas pariwisata, serta sekitar 75 persen pendapatan wisata yang berputar di dalam komunitas [8]. Kubu Gadang meraih kategori Desa Wisata Maju dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 dan Juara 1 kategori Wisata IMA UMKM Award 2024, sementara Yuliza Zen secara pribadi meraih penghargaan Asia’s Top Outstanding Young Marketer 2025 dari Asia Marketing Federation [10], [9], [11].
Latar Belakang
Kota Padang Panjang memiliki lanskap pegunungan dan sawah yang dikelilingi Gunung Merapi, Gunung Singgalang, Gunung Tandikat, dan Bukit Barisan. Laju pembangunan kota yang terus berkembang lambat laun menekan keberadaan lahan pertanian yang menjadi penopang hidup warga, sementara modernisasi turut memudarkan minat generasi muda terhadap kesenian tradisional warisan leluhur [3].
Pemuda setempat cenderung lebih tertarik merantau dibanding mengelola sawah atau mempelajari silat tradisional. Kondisi ini mendorong tokoh adat dan warga mencari wadah ekonomi yang dapat merangkul potensi masyarakat sekaligus menahan laju migrasi pemuda ke kota [4].
Yuliza Zen, yang memulai perintisan pada 2014 saat berusia 21 tahun, melihat peluang dari keaslian alam dan kehidupan pedesaan Kubu Gadang bagi wisatawan perkotaan. Ia membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bersama warga untuk merancang program wisata berbasis pengalaman hidup sehari-hari warga [8].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi utama Kubu Gadang adalah pengemasan tradisi Minangkabau menjadi atraksi wisata tanpa menghilangkan esensi aslinya. Atraksi andalannya adalah Silek Lanyah, pertunjukan silat tradisional yang dipentaskan di kubangan lumpur persawahan, dilengkapi paket belajar menanam padi dan memasak rendang [2].
Pengelola juga mengembangkan pengalaman menginap di rumah warga, dengan 22 unit homestay yang disewakan seharga Rp600.000-Rp700.000 per malam [8]. Tuan rumah dilatih menyambut tamu secara personal, menciptakan interaksi yang lebih dekat antara pengunjung dan warga dibanding wisata konvensional [4]. Setiap Minggu, Kubu Gadang juga menyelenggarakan Pasar Digital dengan kode busana bertema vintage dan jajanan tradisional sebagai daya tarik tambahan [1].
Proses Penerapan Inovasi
Perombakan desa dimulai dari pengorganisasian modal sosial secara swadaya dan gotong royong. Yuliza Zen bersama pemuda setempat merangkul tetua adat untuk meminta restu menjadikan pelestarian budaya sebagai daya tarik wisata, hingga seorang maestro silat bersedia melatih pemuda tampil di hadapan wisatawan [2].
Tahap berikutnya adalah penyempurnaan standar layanan penginapan rumahan, yang sempat terkendala minimnya pemahaman warga soal kebersihan dan penyajian makanan. Dengan pendampingan bertahap, standar penyajian dan kebersihan fasilitas penginapan warga berangsur membaik [5]. Salah satu tantangan permodalan terberat, menurut penuturan Yuliza Zen sendiri, adalah harus mencari solusi pembiayaan hingga puluhan kali karena tidak adanya modal awal yang memadai [8].
Pada 2018, Kubu Gadang membangun Pasar Digital sebagai inovasi baru, namun program ini terhenti total ketika pandemi COVID-19 melanda, karena kunjungan wisatawan berhenti sepenuhnya. Pengelola kemudian mengoreksi pendekatannya dengan mengalihkan fokus ke model wisata edukasi yang lebih fleksibel begitu kunjungan wisatawan pulih pascapandemi [8].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan struktural yang dihadapi Kubu Gadang adalah statusnya sebagai kelurahan, bukan desa, sehingga tidak memiliki akses ke Dana Desa yang lazim menjadi modal pengembangan desa wisata lain [8]. Kendala ini dimitigasi dengan mengandalkan swadaya warga, kemitraan dengan akademisi, dan pendampingan dinas pariwisata sebagai sumber modal dan pengetahuan alternatif [4].
Tantangan berikutnya adalah ketidaksiapan warga menyambut lonjakan pengunjung pada musim liburan awal, yang sempat memunculkan keluhan soal kecepatan pelayanan [3]. Kendala ini dimitigasi melalui pelatihan tata graha bagi pengelola homestay secara berkelanjutan. Pandemi COVID-19 juga sempat menghentikan total program Pasar Digital yang baru dibangun, dan dimitigasi dengan peluncuran paket wisata edukasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar pascapandemi [8].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah konsistensi Yuliza Zen sebagai penggerak yang merangkul warga lintas latar belakang untuk bekerja sama mengelola potensi wisata desa mereka [1]. Faktor kedua adalah keterlibatan akademisi yang membantu mempertajam strategi pemasaran digital, dengan dosen dan mahasiswa membimbing warga memanfaatkan media sosial untuk menjangkau calon pengunjung [3].
Sinergi tiga pihak, warga, akademisi, dan dinas pariwisata, menjadi fondasi pengelolaan wisata yang relatif tangguh meski tanpa akses Dana Desa [4].
Hasil dan Dampak Inovasi
Kubu Gadang kini mengelola 22 unit homestay dengan sekitar 100 rumah tangga terlibat dalam aktivitas pariwisata, dan sekitar 75 persen pendapatan wisata berputar di dalam komunitas [8]. Salah satu penyelenggaraan acara wisata selama lima hari tercatat menghasilkan pendapatan sekitar Rp70 juta [8].
Pada Agustus 2023, Kubu Gadang meraih kategori Desa Wisata Maju dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), setelah bersaing dari 4.573 desa wisata yang dinilai secara nasional, disaring menjadi 500 semifinalis, dan akhirnya masuk 75 besar finalis [10]. Pada Desember 2024, Kubu Gadang juga meraih Juara 1 kategori Wisata dalam IMA UMKM Award 2024 di Jakarta [9]. Yuliza Zen secara pribadi kemudian meraih penghargaan Asia’s Top Outstanding Young Marketer 2025 dari Asia Marketing Federation, yang diserahkan di Colombo, Sri Lanka [11].
Dampak kualitatif terlihat dari meningkatnya minat generasi muda mempelajari kembali silat tradisional dan kesenian randai, seiring pertumbuhan kunjungan wisatawan yang tertarik menyaksikan pertunjukan tersebut [2]. Kajian akademik turut mencatat bahwa pengembangan pariwisata di Kubu Gadang memberi pengaruh terhadap kesejahteraan pelaku usaha setempat, meski sejumlah faktor lain di luar pariwisata juga turut memengaruhi capaian tersebut [6]. Penelitian lain mencatat bahwa dampak sosial budaya pariwisata di Kubu Gadang tidak sepenuhnya positif, sehingga pengelolaan interaksi antara wisatawan dan warga tetap perlu diperhatikan agar nilai budaya lokal tidak tergerus [7].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Karena Kubu Gadang berstatus kelurahan, bukan desa, pengembangan wisata ini tidak dapat mengandalkan Dana Desa dan bertumpu pada swadaya warga sejak tahap awal [8]. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal secara spesifik, namun menegaskan bahwa keterbatasan modal menjadi tantangan nyata pada masa perintisan.
Model pendapatan bertumpu pada sewa homestay seharga Rp600.000-Rp700.000 per malam, penyelenggaraan paket wisata edukasi dan atraksi budaya, serta Pasar Digital mingguan. Sekitar 75 persen pendapatan wisata berputar di dalam komunitas, menunjukkan model bisnis yang relatif mandiri dari subsidi eksternal [8].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah merangkul tetua adat sejak awal sebelum mengomersialkan tradisi silat dan budaya lokal, sehingga inovasi ini diterima sebagai pelestarian, bukan eksploitasi budaya [2]. Ketekunan mencari solusi pembiayaan meski berulang kali gagal juga menjadi pelajaran bahwa keterbatasan akses modal formal tidak selalu menghentikan inovasi desa jika warga bersedia bergotong royong [8].
Kegagalan Pasar Digital yang dibangun pada 2018 dan terhenti total akibat pandemi mengajarkan bahwa program wisata baru perlu memiliki rencana cadangan yang tidak sepenuhnya bergantung pada kunjungan fisik wisatawan. Desa atau kelurahan lain yang tidak memiliki akses Dana Desa disarankan membangun kemitraan sejak awal dengan akademisi dan dinas pariwisata untuk menutup kesenjangan modal dan pengetahuan teknis.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Pelatihan tata graha bagi pengelola homestay terus digalakkan untuk menjaga standar layanan, sementara kaderisasi silat dan kesenian tradisional disiapkan secara estafet dari tetua kepada generasi muda agar tidak tergerus perubahan zaman [2].
Pengelola wisata membangun kemitraan dengan agen perjalanan untuk menjaga arus kunjungan sepanjang tahun, sementara promosi digital terus diperkuat mengikuti pengakuan yang diterima Kubu Gadang di tingkat nasional [4].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Desa Wisata Kubu Gadang berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Pengelolaan homestay dan atraksi wisata menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi warga yang sebelumnya hanya bergantung pada pertanian atau merantau ke kota. | Sekitar 100 rumah tangga terlibat dalam aktivitas pariwisata Kubu Gadang. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | Yuliza Zen sebagai perempuan penggerak utama menunjukkan peran perempuan sebagai pemimpin inovasi ekonomi desa, diakui lewat penghargaan pemasaran tingkat Asia. | Yuliza Zen meraih penghargaan Asia’s Top Outstanding Young Marketer 2025 dari Asia Marketing Federation. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Fasilitas penginapan lokal dan Pasar Digital membuka peluang kerja baru bagi pemuda setempat sekaligus menahan laju migrasi ke kota. | 22 unit homestay dikelola warga dengan sekitar 75 persen pendapatan wisata berputar di komunitas. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Pelestarian kesenian randai dan silat tradisional melindungi warisan budaya lokal dari ancaman kepunahan akibat modernisasi. | Pertunjukan Silek Lanyah dan randai rutin ditampilkan sebagai bagian dari paket wisata. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | Penetapan area persawahan sebagai bagian dari agrowisata membantu mempertahankan fungsi lahan pertanian dari tekanan alih fungsi lahan perkotaan. | Lahan persawahan tetap dipertahankan sebagai lokasi atraksi Silek Lanyah dan edukasi tanam padi. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pariwisata komunal Kubu Gadang menjadi rujukan bagi berbagai daerah, termasuk delegasi dari luar Sumatera yang berkunjung mempelajari pengelolaannya [4]. Kesederhanaan konsepnya memungkinkan direplikasi oleh desa atau kelurahan lain yang memiliki potensi budaya lokal yang masih terjaga, termasuk yang tidak memiliki akses Dana Desa sekalipun, selama warga bersedia bergotong royong dan mencari kemitraan alternatif [1].
Pengelola berencana membangun kolaborasi dengan desa wisata tetangga untuk membentuk kawasan wisata terpadu, menawarkan paket kuliner dan wisata edukatif yang saling melengkapi antardesa di sekitar Padang Panjang.
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, “Desa Wisata Kubu Gadang,” jadesta.kemenpar.go.id, 31 Des. 2023. [Daring]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/kubu_gadang_1.
[2] IDN Times, “Menikmati Tari Piring dan Silek Lanyah di Desa Wisata Kubu Gadang Sumbar,” idntimes.com. [Daring]. Tersedia: https://www.idntimes.com/travel/destination/menikmati-tari-piring-dan-silek-lanyah-di-desa-wisata-kubu-gadang-sumbar-00-g3crm-np4qf4.
[3] K. Baswir, “Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat dalam Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan pada Desa Wisata Kubu Gadang di Kota Padang Panjang,” Skripsi, Universitas Andalas, 2025. [Daring]. Tersedia: http://scholar.unand.ac.id/506391/7/BAB%20VI%20PENUTUP.pdf.
[4] R. Ramadan, F. Fasandra, dan N. Hibatullah, “Strategi Manajemen Pariwisata Berbasis Masyarakat dalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Lokal di Desa Wisata Kubu Gadang Provinsi Sumatera Barat,” Jurnal Projemen UNIPA, vol. 12, no. 2, hal. 72-84, 2025. [Daring]. Tersedia: https://doi.org/10.59603/projemen.v12i2.866.
[5] Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pariwisata (JIMPAR), “Peran Desa Wisata Kubu Gadang dalam Mengintegrasikan Produk Kuliner Tradisional Padang Panjang,” Universitas Mataram, 2025. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.fe.unram.ac.id/index.php/jimpar/article/view/2763.
[6] Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, “Pengaruh Pengembangan Pariwisata terhadap Kesejahteraan Masyarakat Desa Wisata Kubu Gadang Kota Padang Panjang,” Skripsi, Repository UIN Suska. [Daring]. Tersedia: https://repository.uin-suska.ac.id/76078/2/TANPA%20BAB%20V.pdf.
[7] ResearchGate, “Dampak Sosial Budaya Pariwisata di Desa Wisata Kubu Gadang Padang Panjang Sumatera Barat,” 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.researchgate.net/publication/387052699_DAMPAK_SOSIAL_BUDAYA_PARIWISATA_DI_DESA_WISATA_KUBU_GADANG_PADANG_PANJANG_SUMATERA_BARAT.
[8] Kompas UMKM, “Kisah Desa Wisata Kubu Gadang, Gerakkan Perekonomian Warga,” umkm.kompas.com, 8 Des. 2024. [Daring]. Tersedia: https://umkm.kompas.com/read/2024/12/08/154651583/kisah-desa-wisata-kubu-gadang-gerakkan-perekonomian-warga?page=all.
[9] Kompas UMKM, “Desa Wisata Kubu Gadang Raih Juara 1 IMA UMKM Award 2024 Kategori Wisata,” umkm.kompas.com, 7 Des. 2024. [Daring]. Tersedia: https://umkm.kompas.com/read/2024/12/07/170413983/desa-wisata-kubu-gadang-raih-juara-1-ima-umkm-award-2024-kategori-wisata.
[10] Antara Sumbar, “Raih Penghargaan ADWI 2023, Desa Wisata Kubu Gadang Kategori Desa Wisata Maju,” sumbar.antaranews.com, 28 Agu. 2023. [Daring]. Tersedia: https://sumbar.antaranews.com/berita/579396/raih-penghargaan-adwi-2023-desa-wisata-kubu-gadang-kategori-desa-wisata-maju.
[11] Rakyat Sumbar, “Pegiat Desa Wisata Kubu Gadang Padangpanjang Raih Penghargaan Asia’s Top Outstanding Young Marketer 2025,” rakyatsumbar.id, 23 Okt. 2025. [Daring]. Tersedia: https://rakyatsumbar.id/pegiat-desa-wisata-kubu-gadang-padangpanjang-raih-penghargaan-asias-top-outstanding-young-marketer-2025/.