Ringkasan Inovasi
Desa Sakerta Timur di Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, sejak deklarasi desa wisata pada 2017 membangun identitas wisata dengan memadukan lanskap perdesaan Sunda, budaya leluhur, dan penataan visual yang mengingatkan pada nuansa Ubud, Bali [1]. Inovasi ini digerakkan Kepala Desa Cucu Sudrajat bersama sekitar 700 kepala keluarga warga desa, didukung investasi infrastruktur dari pemerintah pusat dan Kabupaten Kuningan senilai total Rp1,12 miliar pada 2018-2019, untuk mengubah desa yang sebelumnya bergantung pada pertanian dan perdagangan subsisten [1]. Tiga destinasi utama menjadi tulang punggung daya tarik desa: Saung Karuhun, wisata kuliner bernuansa Sunda-Bali di tepi hutan kopi dengan pemandangan Waduk Darma; Bukit Bagarurung, wisata alam berketinggian dengan panorama Gunung Ciremai; dan Kampung Tumaritis, perkampungan Sunda yang mempertahankan keaslian kehidupan perdesaan [2]. Dampak inovasi ini terasa lewat terbukanya sumber pendapatan baru bagi warga melalui homestay, kuliner, produk lokal, dan jasa pemandu wisata, dengan program pemberdayaan perempuan P2WKSS turut menjadi bagian penting dari transformasi ekonomi desa ini [9].
Latar Belakang
Desa Sakerta Timur adalah desa tertua di Kecamatan Darma — Desa Jagara, Kertayuga, dan Sakerta Barat pernah menjadi bagian dari wilayahnya sebelum dimekarkan. Desa ini berbatasan langsung dengan Waduk Darma, destinasi unggulan Kabupaten Kuningan yang menampung air dari empat sungai (Cisanggarung, Cinangka, Cikalapa, dan Cireungit) dengan kapasitas kunjungan hingga 10.000 wisatawan dan tarif masuk Rp17.500-Rp20.000 [10]. Kedekatan geografis ini memberi posisi strategis yang selama ini belum dimaksimalkan Sakerta Timur.
Pada 2017, sekitar 700 kepala keluarga dengan total sekitar 2.700 penduduk menyepakati deklarasi bersama menjadikan desa mereka sebagai desa wisata, didorong kesadaran bahwa banyak warga masih bergantung pada pertanian dan perdagangan subsisten, sementara sebagian lain harus keluar desa mencari penghidupan [1]. Wisata dipandang sebagai jalan menggerakkan potensi lokal yang sudah ada, yaitu alam, budaya, dan produk pertanian, tanpa mengubah karakter desa secara mendasar.
Tantangan utamanya bukan ketiadaan potensi, melainkan ketiadaan pembeda yang kuat. Kawasan Waduk Darma dikelilingi sembilan desa yang sama-sama berpotensi menjadi destinasi wisata, sehingga Sakerta Timur perlu menciptakan identitas yang cukup spesifik agar wisatawan tidak sekadar transit, melainkan sengaja datang dan tinggal lebih lama [2].
Inovasi yang Diterapkan
Inti inovasi Sakerta Timur adalah narasi wisata “Sunda-Bali” yang membingkai kekayaan yang sudah lama ada di desa ini — hutan kopi liberika, persawahan berundak, tradisi babarit, produk gula aren, serta panorama Waduk Darma dan Gunung Ciremai — melalui estetika yang mengingatkan pengunjung pada Ubud [4]. Alih-alih menjual objek tunggal, desa ini menawarkan pengalaman ruang yang menyeluruh, dari tata letak hingga nuansa visual.
Saung Karuhun menjadi manifestasi utama konsep ini. Nama “Karuhun” (leluhur) merujuk pada status Sakerta Timur sebagai desa tertua di Kecamatan Darma, dipilih oleh Cucu Sudrajat yang juga pemilik usaha kuliner ini. Bangunan saung khas Sunda di tepi hutan kopi ini dilengkapi detail dekorasi bernuansa Bali, dengan menu berbahan baku lokal dan harga terjangkau mulai Rp7.000 untuk minuman dan paket makan mulai Rp21.000 [3].
Dua destinasi lain melengkapi ekosistem wisata ini. Bukit Bagarurung menawarkan panorama Gunung Ciremai dan Waduk Darma yang dapat dicapai dengan paket perjalanan Jeep dari Saung Karuhun, sementara Kampung Tumaritis mempertahankan keaslian kehidupan pertanian tradisional Sunda [5]. Desa ini juga mengembangkan atraksi pendukung berupa sirkuit motocross, area perkemahan, kolam renang anak, dan kebun kopi liberika sebagai diversifikasi pengalaman wisata.
Proses Penerapan Inovasi
Deklarasi desa wisata pada 2017 diikuti konversi rumah warga menjadi homestay, penempatan produk lokal seperti gula aren dan kopi sebagai bagian pengalaman kunjungan, serta pelestarian tradisi babarit sebagai atraksi budaya [1]. Program Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (P2WKSS) menjadi kendaraan utama yang melibatkan perempuan desa dalam pengelolaan homestay dan industri rumahan olahan pangan lokal [9].
Pengembangan industri rumahan perempuan ini tidak berjalan mulus sejak awal. Produksi keripik singkong sempat terhambat karena keterbatasan lahan membuat jumlah pohon singkong tidak mencukupi dan pertumbuhannya membutuhkan waktu lama, sementara bahan baku nira untuk gula aren juga langka. Produksi keripik pisang menghadapi kendala serupa karena pohon pisang di desa tidak mencukupi, sehingga sebagian bahan baku terpaksa didatangkan dari Kuningan dan Cirebon [9]. Koreksi atas keterbatasan ini menjadi pembelajaran penting bahwa produk unggulan wisata perlu didukung ketersediaan bahan baku yang realistis, bukan sekadar potensi di atas kertas.
Dukungan infrastruktur dari pemerintah mempercepat transformasi fisik desa. Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp550 juta pada 2018 dan Rp370 juta pada 2019 dari pemerintah pusat, ditambah Rp200 juta dari Pemerintah Kabupaten Kuningan, digunakan memperlancar akses jalan menuju desa, termasuk jalur sepeda yang mengelilingi Waduk Darma [1]. Penguatan identitas melalui media sosial dan liputan media turut mendorong kunjungan baru dari Cirebon, Bandung, dan kota-kota Jawa Barat lainnya [3].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah keterbatasan bahan baku produk olahan lokal, seperti singkong, pisang, dan nira, yang tidak sebanding dengan potensi lahan desa. BUMDes dan kelompok perempuan P2WKSS memitigasi kendala ini dengan mendatangkan sebagian bahan baku dari Kuningan dan Cirebon agar produksi keripik dan gula aren tetap berjalan [9].
Tantangan infrastruktur muncul dari akses jalan menuju Bukit Bagarurung yang kondisinya masih membatasi segmen wisatawan, terutama keluarga dengan anak kecil atau lansia yang tidak dapat menggunakan kendaraan off-road [7]. Kendala ini dimitigasi melalui penyediaan paket perjalanan Jeep dari Saung Karuhun, memungkinkan wisatawan tetap mencapai Bukit Bagarurung tanpa harus memperbaiki seluruh ruas jalan terlebih dahulu.
Tantangan kelembagaan yang lebih mendasar adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kunjungan dan kualitas kehidupan warga, karena semakin ramai desa wisata, semakin besar risiko hilangnya keaslian yang menjadi daya tarik utamanya [8]. Pemerintah desa memitigasi risiko ini dengan menentukan zona yang tetap steril dari aktivitas wisata, khususnya di kawasan permukiman inti Kampung Tumaritis, agar ruang hidup warga tidak sepenuhnya beralih fungsi menjadi ruang komersial.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah konsistensi kepemimpinan Cucu Sudrajat sejak deklarasi 2017, yang tidak hanya memimpin kebijakan desa tetapi juga terlibat langsung sebagai pelaku usaha melalui Saung Karuhun [3]. Faktor kedua adalah pemilihan pembeda yang autentik: konsep Sunda-Bali dihidupi secara konsisten melalui arsitektur saung, menu berbahan lokal, dan pelestarian tradisi babarit, bukan sekadar slogan pemasaran [4].
Faktor ketiga adalah diversifikasi pengalaman wisata antara alam, kuliner budaya, dan perkampungan tradisional, sehingga berbagai segmen wisatawan menemukan alasan untuk datang [8]. Faktor keempat adalah keterlibatan perempuan desa melalui program P2WKSS dalam pengelolaan homestay dan industri rumahan, yang memperluas basis pelaku ekonomi wisata di luar sektor kuliner dan pemandu wisata [9].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling nyata adalah transformasi Sakerta Timur dari desa dengan 700 kepala keluarga yang sebelumnya bergantung pada pertanian dan perdagangan subsisten menjadi desa dengan ragam sumber pendapatan baru dari homestay, kuliner, produk lokal, dan jasa pemandu wisata [1]. Saung Karuhun secara konsisten disebut sebagai titik singgah dalam rute wisata keliling Waduk Darma, menarik pengunjung dari Cirebon, Majalengka, dan Bandung [2].
Dampak ekonomi terlihat dari aktivasi lini pendapatan warga yang sebelumnya tidak ada: rumah warga yang dijadikan homestay, petani gula aren dan kopi yang memasok Saung Karuhun, serta warga muda yang menjadi pemandu Jeep menuju Bagarurung [1]. Perempuan desa melalui program P2WKSS turut memperoleh penghasilan dari homestay dan industri rumahan olahan pangan, meski produksinya masih dibatasi ketersediaan bahan baku lokal [9].
Bukit Bagarurung tercatat pernah digunakan untuk kegiatan retreat pejabat eselon II Pemerintah Daerah Kuningan, menunjukkan bahwa kawasan ini telah masuk dalam pertimbangan penyelenggaraan kegiatan semi-formal [6].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pembiayaan infrastruktur desa wisata ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus pemerintah pusat sebesar Rp550 juta pada 2018 dan Rp370 juta pada 2019, ditambah Rp200 juta dari Pemerintah Kabupaten Kuningan, sehingga total investasi infrastruktur mencapai sekitar Rp1,12 miliar pada periode 2018-2019 [1]. Model pendapatan warga bertumpu pada penjualan langsung di Saung Karuhun dengan harga terjangkau mulai Rp7.000 untuk minuman dan Rp21.000 untuk paket makan, ditambah sewa homestay dan jasa pemandu Jeep menuju Bukit Bagarurung [3].
Program P2WKSS turut berperan sebagai skema pendampingan yang mendorong kemandirian ekonomi perempuan melalui homestay dan industri rumahan, meski dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran modal yang dikelola program ini secara spesifik [9]. Pendapatan warga dari sektor wisata pada dasarnya bersifat mandiri dan berjalan tanpa subsidi operasional rutin dari desa, sehingga keberlanjutannya bergantung pada konsistensi kunjungan wisatawan.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah memilih membingkai ulang aset yang sudah dimiliki desa, seperti hutan kopi, sawah, dan tradisi babarit, melalui narasi Sunda-Bali yang konsisten, alih-alih membangun objek wisata baru dari nol [4]. Keterlibatan langsung Kepala Desa sebagai pelaku usaha di Saung Karuhun juga menunjukkan bahwa komitmen kepemimpinan paling efektif ketika disertai keterlibatan praktis, bukan hanya kebijakan di atas kertas.
Jika memulai dari awal, pemetaan ketersediaan bahan baku produk unggulan lokal idealnya dilakukan lebih dini, agar kendala kekurangan singkong, pisang, dan nira yang dialami program P2WKSS tidak perlu dikoreksi di tengah jalan dengan mendatangkan bahan baku dari luar desa [9]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memetakan warisan budaya dan alam paling otentik yang dimiliki, memastikan pasokan bahan baku produk lokal realistis, dan melibatkan kelompok perempuan sejak tahap perencanaan agar manfaat ekonomi tersebar lebih merata.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan wisata Sakerta Timur bertumpu pada komitmen menjaga kualitas identitas Sunda-Bali melalui tradisi babarit, produk lokal, dan lanskap alam yang dijaga kelestariannya, alih-alih mengejar kuantitas kunjungan melalui diskon atau promosi masal [1]. Pengembangan paket wisata terpadu yang menghubungkan Saung Karuhun, Kampung Tumaritis, Bukit Bagarurung, dan kebun kopi maupun kebun gula aren diarahkan untuk memperpanjang durasi kunjungan dan pengeluaran wisatawan di desa [8].
Keberlangsungan model ini tidak bergantung sepenuhnya pada satu figur, karena program P2WKSS melembagakan peran perempuan dalam homestay dan industri rumahan sebagai bagian permanen dari ekosistem wisata desa, terlepas dari pergantian kepemimpinan desa di masa depan [9].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi pengembangan desa wisata Sakerta Timur berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Pemberdayaan ekonomi berbasis wisata menciptakan sumber pendapatan baru bagi warga yang sebelumnya hanya mengandalkan pertanian dan perdagangan subsisten. | Rumah warga dijadikan homestay, petani gula aren dan kopi terhubung ke Saung Karuhun, dan pemuda menjadi pemandu Jeep berbayar. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | Program P2WKSS melibatkan perempuan desa secara langsung dalam pengelolaan homestay dan industri rumahan olahan pangan lokal sebagai pelaku ekonomi wisata. | Perempuan desa mengelola homestay dan produksi keripik singkong, keripik pisang, serta gula aren untuk kebutuhan wisata. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pengembangan desa wisata membuka ragam pekerjaan baru bagi warga: pelayan kuliner, pemandu wisata alam, pengelola homestay, dan pengrajin produk lokal. | Saung Karuhun menjual paket makan mulai Rp21.000 dan minuman mulai Rp7.000 dengan pelanggan dari Cirebon, Majalengka, dan Bandung. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Pelestarian Kampung Tumaritis sebagai permukiman tradisional yang tetap hidup menjadi model pembangunan permukiman yang berkelanjutan secara budaya dan ekonomi. | Kampung Tumaritis dipertahankan sebagai ruang hidup sekaligus ruang wisata tanpa alih fungsi total menjadi kawasan komersial. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab | Penggunaan bahan baku lokal seperti gula aren dan kopi dalam menu Saung Karuhun mempersingkat rantai pasok dan menjaga perputaran keuntungan wisata di dalam komunitas desa. | Menu Saung Karuhun menggunakan gula aren dan kopi hasil petani lokal Sakerta Timur. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | Hutan kopi di sekitar Saung Karuhun dan panorama alam Bukit Bagarurung yang menjadi aset wisata memberi insentif ekonomi bagi warga untuk menjaga kelestarian ekosistem darat di sekitar Waduk Darma. | Kebun kopi liberika dan kawasan hutan di sekitar Saung Karuhun tetap dipertahankan sebagai bagian dari daya tarik wisata. |
| SDGs 16: Kelembagaan Kuat dan Akuntabel | Deklarasi desa wisata 2017 yang melibatkan seluruh warga dan konsistensi Kepala Desa Cucu Sudrajat menjalankan visi tersebut mencerminkan tata kelola desa yang berorientasi jangka panjang dan berbasis partisipasi komunitas. | Deklarasi desa wisata 2017 melibatkan sekitar 700 kepala keluarga dan bertahan dijalankan hingga saat ini. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Formula Sakerta Timur dapat direplikasi oleh desa-desa lain di sekitar destinasi wisata alam yang sudah ramai namun belum memiliki identitas kuat untuk menahan wisatawan lebih lama. Kuncinya bukan meniru ornamen Bali, melainkan meniru cara berpikirnya: menemukan warisan paling otentik yang dimiliki desa, membingkainya dalam narasi yang mudah diingat, lalu menghidupkan narasi itu secara konsisten di setiap detail pengalaman [6].
Untuk desa-desa di kawasan wisata Jawa Barat, model Sakerta Timur relevan sebagai referensi pengembangan desa wisata berbasis identitas budaya yang tidak menggantungkan diri pada investasi infrastruktur besar. Pemerintah Kabupaten Kuningan dapat mendorong replikasi model ini ke desa-desa lain di jalur keliling Waduk Darma agar kawasan tersebut memiliki ekosistem wisata yang lebih beragam [2]. Pelibatan kelompok perempuan melalui skema serupa P2WKSS sejak tahap awal juga disarankan agar manfaat ekonomi wisata tidak hanya terpusat pada pelaku usaha kuliner [9].
Daftar Pustaka
[1] Media Indonesia, “Desa Sakerta Timur Bebenah Jadikan Desa Wisata,” mediaindonesia.com, 29 Des. 2021. [Daring]. Tersedia: https://mediaindonesia.com/nusantara/461245/desa-sakerta-timur-bebenah-jadikan-desa-wisata.
[2] R. Arifin, “Wisata Keliling Waduk Darma yang Menakjubkan,” Kompasiana.com. [Daring]. Tersedia: https://www.kompasiana.com/rahmanarifin8650/635fd4114addee72d20f5c32/wisata-keliling-waduk-darma-yang-menakjubkan.
[3] Tribun Cirebon, “Saung Karuhun, Tempat Wisata Kuliner Bernuansa Sunda-Bali di Kawasan Waduk Darma Kuningan,” cirebon.tribunnews.com, 25 Mei 2023. [Daring]. Tersedia: https://cirebon.tribunnews.com/2023/05/25/saung-karuhun-tempat-wisata-kuliner-bernuansa-sunda-bali-di-kawasan-waduk-darma-kuningan.
[4] Radar Kuningan – Disway, “Wisata Dekat Waduk Darma Kuningan, Ada Wisata Kuliner dengan Konsep Sunda-Bali,” radarkuningan.disway.id. [Daring]. Tersedia: https://radarkuningan.disway.id/read/653291/wisata-dekat-waduk-darma-kuningan-ada-wisata-kuliner-dengan-konsep-sunda-bali/15.
[5] “Kampung Tumaritis | Desa Wisata Sakerta Timur Kuningan | Pedesaan Sunda Jawa Barat,” YouTube, 4 Jun. 2023. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=EhKycPNq-4o.
[6] Media Indonesia, “Geliat Sakerta Timur Lewat Destinasi Wisata Unggulan,” mediaindonesia.com. [Daring]. Tersedia: https://mediaindonesia.com/nusantara/458711/geliat-sakerta-timur-lewat-destinasi-wisata-unggulan.
[7] Lingkup Ciremai, “Explore Buper Bagarurung Sakerta Timur in Kuningan, West Java,” TikTok, 25 Mar. 2024. [Daring]. Tersedia: https://www.tiktok.com/@lingkupciremai/video/7350778737341811974.
[8] A. Farhan et al., “Sejarah Desa Sakerta Timur sebagai Destinasi Wisata Populer di Jawa Barat,” Jurnal Akademika, Universitas Islam As-Syafi’iyah, vol. 10, no. 2, 2021. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.uia.ac.id/akademika/article/download/1115/1039/.
[9] T. L. Nurtanio dan H. Brahmantyo, “Pemberdayaan Perempuan melalui Industri Rumahan dan Homestay untuk Mendukung Pengembangan Desa Wisata: Studi Kasus Desa Sakerta Timur, Kuningan, Jawa Barat,” Jurnal Pariwisata Pesona, vol. 6, no. 1, hal. 68-74, 2021. [Daring]. Tersedia: https://doi.org/10.26905/jpp.v6i1.5443.
[10] Dinas Pariwisata Kabupaten Kuningan, “Waduk Darma,” kuninganbeu.kuningankab.go.id. [Daring]. Tersedia: https://kuninganbeu.kuningankab.go.id/detailwisata/Zzv.