Ringkasan Inovasi
BUMDes Kertamukti di Desa Kertamukti, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, sejak sekitar tahun 2017 melembagakan keterampilan memasak roti ibu-ibu Kampung Bojongkerta menjadi unit usaha bernama Roti BUMDes Kertamukti Bakery [1], [2]. Inovasi ini digagas bersama pengrajin roti rumahan, salah satunya Sumarna, dan Pemerintah Desa Kertamukti untuk menjawab persoalan keterampilan warga yang selama ini tidak termonetisasi karena tidak memiliki modal, jaringan pemasaran, maupun branding yang memadai [1]. Melalui dukungan modal, fasilitas produksi, dan jaringan distribusi dari BUMDes, roti tanpa bahan pengawet ini dalam waktu dua tahun berhasil menembus pasar perkantoran, perusahaan, toko, dan warung kecil di berbagai wilayah Kabupaten Sukabumi [1], [2]. Harga jual yang terjangkau mulai Rp2.000 per buah menjadikan produk ini dapat diakses seluruh lapisan masyarakat, sekaligus membuka sumber penghasilan rutin bagi perempuan Kampung Bojongkerta yang sebelumnya sebagian besar mengandalkan penghasilan suami.
Latar Belakang
Desa Kertamukti merupakan hasil pemekaran dari Desa Bojongkerta di Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, dengan Kampung Bojongkerta sebagai salah satu wilayah permukiman utamanya. Karakter desa yang agraris dan berjarak dari pusat kota membuat sebagian besar perempuan di kampung ini menekuni kegiatan rumah tangga, termasuk keterampilan memasak roti yang diwariskan turun-temurun [1].
Sebelum dilembagakan, keterampilan membuat roti para ibu rumah tangga Kampung Bojongkerta hanya menghasilkan penjualan dalam skala rumah ke rumah tanpa modal usaha yang memadai, tanpa jaringan pemasaran yang terstruktur, dan tanpa branding yang mampu mengangkat produk ke pasar yang lebih luas. Dokumentasi yang tersedia tidak merinci angka pasti volume penjualan maupun pendapatan warga pada periode ini, namun secara konsisten menggambarkan usaha rumahan yang berjalan apa adanya tanpa dukungan kelembagaan [1].
Pemerintah Desa Kertamukti membaca kondisi ini sebagai peluang ekonomi yang belum dikelola secara maksimal, sementara BUMDes pada saat bersamaan membutuhkan unit usaha nyata yang mampu menyerap tenaga kerja lokal dan menghasilkan Pendapatan Asli Desa secara konsisten. Penelitian tentang pemberdayaan BUMDes menunjukkan bahwa lembaga ini paling efektif ketika perannya diarahkan untuk mendampingi potensi ekonomi masyarakat yang sudah ada, bukan membangun usaha dari nol tanpa akar di masyarakat [3].
Dari pertemuan antara keterampilan warga dan kebutuhan kelembagaan desa itulah gagasan sentra produksi roti lahir, dengan salah satu pengrajin, Sumarna, tampil sebagai penggerak yang berkolaborasi langsung dengan Pemerintah Desa Kertamukti untuk membangun Roti BUMDes Kertamukti Bakery [1].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan BUMDes Kertamukti adalah pelembagaan keterampilan informal warga menjadi sentra produksi kuliner desa berstandar usaha nyata. BUMDes merangkul ibu-ibu pengrajin roti Kampung Bojongkerta ke dalam unit usaha Roti BUMDes Kertamukti Bakery, bertindak sebagai penyokong modal, penyedia fasilitas produksi, sekaligus ujung tombak jaringan pemasaran yang menjangkau pasar yang sebelumnya tidak dapat diakses secara mandiri oleh para pengrajin [1].
Model ini bekerja dengan prinsip simbiotik: BUMDes menyediakan kapasitas manajerial dan akses pasar, sementara warga menyumbangkan keahlian tangan dan pengetahuan lokal tentang cita rasa yang disukai konsumen [3]. Secara teknis, roti diproduksi dari bahan dasar tepung terigu, susu, dan gula yang diolah tanpa penambahan zat pengawet apa pun, sebuah pilihan produksi yang berani namun menjadi keunggulan utama produk di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap pangan yang sehat dan alami [1], [4].
Produk dijual mulai harga Rp2.000 per buah, harga yang terjangkau untuk semua lapisan masyarakat, dan dipasarkan melalui jaringan distribusi langsung ke perkantoran, perusahaan, toko kelontong, dan warung kecil di wilayah Sukabumi [2].
Proses Penerapan Inovasi
Penerapan inovasi dimulai dari dialog antara kelompok ibu-ibu pengrajin roti Kampung Bojongkerta dan Pemerintah Desa Kertamukti yang menghasilkan kesepakatan bersama bahwa usaha ini tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri jika ingin tumbuh menembus pasar yang lebih besar. BUMDes kemudian menyiapkan manajemen usaha yang lebih terarah, meliputi pencatatan keuangan dasar, standarisasi proses produksi, dan pembentukan jaringan distribusi yang dapat diandalkan [1], [3].
Tahap paling krusial adalah menjaga konsistensi kualitas produk tanpa bahan pengawet. Pada tahap awal, sejumlah percobaan racikan menghasilkan roti dengan daya tahan yang belum stabil, sehingga tim produksi harus menyesuaikan berulang kali takaran adonan dan durasi fermentasi sebelum menemukan formula yang membuat roti tetap lembut dan legit meski disimpan selama beberapa hari [1], [4]. Proses eksperimen dan koreksi berulang ini menjadi fondasi standar produksi yang dipakai Kertamukti Bakery hingga saat ini.
Selama dua tahun berjalan, unit usaha ini menghadapi kenyataan bahwa kapasitas produksi belum mampu menampung permintaan pasar yang terus bertumbuh seiring meluasnya jaringan distribusi ke berbagai wilayah Sukabumi [1], [2].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal paling mendesak adalah ketimpangan antara kapasitas produksi dan volume permintaan pasar yang terus meningkat. Keterbatasan jumlah alat pemanggang dan tenaga kerja aktif membuat BUMDes tidak selalu mampu memenuhi seluruh pesanan yang masuk, sehingga ada potensi pendapatan yang hilang dan risiko kekecewaan konsumen [1]. Kondisi ini dimitigasi melalui rencana investasi pada peralatan produksi berskala lebih besar dan rekrutmen tenaga kerja baru dari kalangan warga desa [3].
Tantangan eksternal muncul dari sisi regulasi dan akses pasar modern: produk roti Kertamukti Bakery hingga saat ini belum mengantongi izin edar Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) maupun sertifikat halal resmi, sehingga jangkauan distribusinya masih terbatas pada perkantoran, toko, dan warung konvensional dan belum menjangkau ritel modern [6]. BUMDes memitigasi kendala ini dengan menjadikan pengurusan izin PIRT dan sertifikasi halal sebagai agenda prioritas dalam rencana pengembangan usaha ke depan.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah keberadaan keterampilan masyarakat yang sudah matang sebelum inovasi diluncurkan, sehingga BUMDes tidak perlu membangun kapasitas produksi dari nol. BUMDes cukup memfasilitasi keterampilan yang sudah ada menuju proses komersialisasi yang lebih terorganisir, efisien, dan berdampak, sebuah strategi pemberdayaan yang sesuai dengan temuan penelitian bahwa BUMDes yang paling sukses adalah yang mampu mengakselerasi keunggulan komparatif yang sudah dimiliki warganya [3].
Faktor pendukung lain adalah kepemimpinan Kepala Desa Kertamukti, Dede Kusnadi, yang memberi legitimasi kelembagaan dan komitmen jangka panjang terhadap kelangsungan unit usaha bakery. Keputusan Menteri Desa Nomor 3 Tahun 2025 yang mengatur bahwa 20 persen Dana Desa dapat digunakan untuk penyertaan modal BUMDes turut memperkuat landasan pembiayaan bagi keberlanjutan inovasi serupa di Kabupaten Sukabumi [5].
Hasil dan Dampak Inovasi
Hasil paling nyata dari inovasi ini adalah transformasi skala pasar produk roti yang semula hanya dikenal di lingkup rumah tangga Kampung Bojongkerta menjadi komoditas kuliner yang dipasok ke perkantoran, perusahaan, toko kelontong, dan warung kecil di berbagai wilayah Kabupaten Sukabumi dalam kurun dua tahun [1], [2]. Fakta bahwa permintaan pasar melampaui kapasitas produksi yang tersedia menjadi indikator kuat tingginya penerimaan dan loyalitas konsumen terhadap produk ini.
Dampak sosial paling terasa adalah perubahan status ekonomi ibu-ibu rumah tangga Kampung Bojongkerta, dari warga yang sebagian besar mengandalkan penghasilan suami menjadi pekerja produktif dengan penghasilan rutin dari unit usaha bakery. Pemberdayaan perempuan melalui jalur ekonomi riil ini sejalan dengan agenda pembangunan perdesaan yang menekankan pentingnya partisipasi aktif perempuan dalam sistem produksi dan distribusi ekonomi desa [3].
Secara kualitatif, Roti Kertamukti Bakery membangun reputasi lokal yang bertumpu pada kepercayaan konsumen terhadap produk alami tanpa pengawet, dan pertumbuhan permintaan yang konsisten selama dua tahun operasional menjadi sinyal positif bagi prospek bisnis jangka panjangnya [1].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Dokumentasi yang tersedia tidak merinci besaran investasi awal secara spesifik, namun secara konsisten menunjukkan bahwa BUMDes Kertamukti berperan sebagai penyokong modal, penyedia fasilitas produksi, dan pengelola jaringan distribusi bagi unit usaha bakery, sementara warga menyumbangkan keahlian produksi [1]. Model pendapatan bertumpu pada penjualan langsung roti seharga mulai Rp2.000 per buah ke perkantoran, perusahaan, toko, dan warung kecil, dengan sebagian hasil penjualan diputar kembali sebagai modal kerja operasional.
Keberlanjutan pembiayaan ke depan terbuka lebih luas dengan berlakunya Keputusan Menteri Desa Nomor 3 Tahun 2025, yang mengizinkan penggunaan 20 persen Dana Desa untuk penyertaan modal BUMDes di Kabupaten Sukabumi [5]. Kerangka regulasi ini membuka ruang fiskal bagi BUMDes Kertamukti untuk memperluas kapasitas produksinya tanpa bergantung semata-mata pada akumulasi laba organik yang berjalan lambat.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan kunci yang terbukti tepat adalah memilih memfasilitasi keterampilan yang sudah dimiliki warga alih-alih memaksakan jenis usaha baru yang asing bagi masyarakat, sehingga BUMDes dapat langsung fokus pada penguatan manajemen, modal, dan pemasaran sejak awal [3]. Proses eksperimen berulang pada takaran adonan dan durasi fermentasi juga mengajarkan bahwa formula produksi tanpa pengawet perlu diuji secara sistematis sebelum produksi diperluas ke skala pasar yang lebih besar [1], [4].
Jika memulai dari awal, investasi pada kapasitas produksi dan pengurusan izin PIRT serta sertifikasi halal idealnya dilakukan lebih dini, sebelum permintaan pasar tumbuh melampaui kemampuan produksi, agar peluang pasar yang muncul tidak terlewat begitu saja [6]. Desa lain yang ingin menerapkan model serupa disarankan memetakan keterampilan kuliner spesifik yang sudah dimiliki warganya, mengikat kerja sama formal dengan BUMDes sejak tahap awal, dan menyiapkan rencana penambahan kapasitas produksi sebelum permintaan pasar meningkat tajam [3].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Roti BUMDes Kertamukti Bakery bertumpu pada tiga agenda strategis: penambahan kapasitas produksi melalui pengadaan alat pemanggang berskala lebih besar, rekrutmen tenaga kerja baru dari kalangan warga desa, dan profesionalisasi sistem pencatatan keuangan yang lebih tertib [1]. Sumber pendanaan ekspansi ini dapat diakses melalui skema penyertaan modal BUMDes yang diperkuat Keputusan Menteri Desa Nomor 3 Tahun 2025 [5].
Diversifikasi produk menjadi agenda keberlanjutan berikutnya, mencakup inovasi varian rasa baru, penyesuaian kemasan yang lebih menarik dan higienis, serta upaya memperoleh izin PIRT dan sertifikat halal resmi untuk memperluas jangkauan distribusi. Keberlangsungan usaha ini tidak bergantung pada satu figur tertentu, melainkan pada kelembagaan BUMDes dan kelompok pengrajin Kampung Bojongkerta yang menjalankan produksi sehari-hari, sehingga pergantian kepemimpinan desa di masa depan diharapkan tidak menghentikan operasional unit usaha yang telah berjalan [6].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi BUMDes Kertamukti Bakery berkontribusi langsung pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana diuraikan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Sentra bakery BUMDes Kertamukti menciptakan penghasilan rutin bagi ibu-ibu Kampung Bojongkerta yang sebelumnya sebagian besar bergantung pada penghasilan suami. | Kelompok perempuan pengrajin memperoleh penghasilan rutin dari unit usaha bakery yang beroperasi konsisten selama dua tahun. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Produksi roti tanpa pengawet dengan harga mulai Rp2.000 per buah memastikan akses masyarakat desa terhadap pangan yang terjangkau dan aman dikonsumsi setiap hari. | Harga jual mulai Rp2.000 per buah menjangkau seluruh lapisan masyarakat di wilayah distribusi. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | Ibu-ibu Kampung Bojongkerta menjadi subjek utama penggerak sentra bakery, memperkuat posisi perempuan desa sebagai pelaku ekonomi aktif yang setara. | Kelompok pengrajin perempuan menjalankan produksi harian dan menjadi ujung tombak unit usaha bakery. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Unit usaha bakery BUMDes menciptakan pekerjaan dengan penghasilan rutin bagi warga desa dan mendorong pertumbuhan Pendapatan Asli Desa dari sektor pangan lokal. | Produk berhasil menembus pasar perkantoran, perusahaan, toko, dan warung di berbagai wilayah Sukabumi dalam dua tahun. |
| SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan | Inovasi sentra bakery memperkuat kohesi sosial di Kampung Bojongkerta melalui kerja kolektif dalam satu sistem produksi bersama. | Kelompok pengrajin bekerja secara kolektif dalam satu unit usaha yang dikelola bersama BUMDes. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi antara kelompok perempuan pengrajin roti, BUMDes, dan Pemerintah Desa Kertamukti membangun ekosistem kemitraan yang saling mengisi. | Kerja sama tiga pihak (pengrajin, BUMDes, Pemdes) berjalan sejak tahap awal hingga unit usaha beroperasi penuh. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model sentra kuliner BUMDes Kertamukti cocok direplikasi di desa-desa lain yang memiliki kelompok warga dengan keterampilan memasak spesifik yang belum terlembagakan. Prasyaratnya sederhana: ada keahlian memasak yang sudah matang di kalangan warga, ada komitmen kepala desa untuk memfasilitasi komersialisasinya melalui BUMDes, dan ada produk lokal yang memiliki keunggulan rasa atau keunikan yang membedakannya dari produk pasar [3].
Pada tahap scale up, pemerintah kabupaten dapat memperluas dampak model ini dengan merangkul BUMDes sentra kuliner ke dalam jaringan distribusi produk UMKM terpadu yang memiliki akses ke pasar modern dan e-commerce. Dukungan percepatan izin PIRT, sertifikat halal, dan bantuan desain kemasan dari dinas terkait akan mendongkrak daya saing produk BUMDes secara signifikan di pasar yang lebih luas [6], [2].
Daftar Pustaka
[1] Sukabumi Update, “Tangan Terampil Ibu-ibu Warungkiara Hasilkan Roti BUMDes Kertamukti Bakery,” sukabumiupdate.com, 12 Okt. 2019. [Daring]. Tersedia: https://www.sukabumiupdate.com/food-travel/59676/tangan-terampil-ibu-ibu-warungkiara-hasilkan-roti-bumdes-kertamukti-bakery.
[2] Sukabumi Update, “Roti BUMDes Kertamukti Bakery,” Kumparan.com, 12 Okt. 2019. [Daring]. Tersedia: https://kumparan.com/sukabumi-update/roti-bumdes-kertamukti-bakery-1s2vw2uKAey.
[3] F. E. Ramadhan, D. Rahmadanik, dan A. Soesiantoro, “Pemberdayaan BUMDes dalam Meningkatkan Perkembangan UMKM di Desa Sambi Bulu,” PRAJA Observer: Jurnal Penelitian Administrasi Publik, vol. 5, no. 2, hal. 93–101, 2025. [Daring]. Tersedia: https://doi.org/10.69957/praob.v5i02.2174.
[4] T. Hariyanti et al., “Pengembangan Inovasi Produk Roti pada Home Industry,” Garuda Kemdikbud. [Daring]. Tersedia: http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=3270334.
[5] Sukabumi Update, “Modal dari Desa, Pangan untuk Rakyat: BUMDes di Purabaya Sukabumi Dapat Suntikan Strategis,” sukabumiupdate.com, 4 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.sukabumiupdate.com/keuangan/160549.
[6] Inovasi.web.id, “ID 00935: BUMDes Kertamukti Membangun Sentra Bakery dan Memberdayakan Perempuan Desa,” inovasi.web.id, 25 Apr. 2026. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/bumdes-kertamukti-membangun-sentra-bakery-dan-memberdayakan-perempuan-desa/.