Ringkasan Inovasi

BUMDes Makmur di Kampung Margomulyo, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat, memanen selada segar perdana pada 21 Mei 2026 melalui fasilitas greenhouse hidroponik program Rumah Inovasi Teknologi Desa (RITD) Tahun Anggaran 2025 [1]. Inovasi ini digagas pengurus BUMDes Makmur Margomulyo dengan dukungan Fasilitator Program TEKAD dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDT) bersama IFAD [2]. Permasalahan utama yang dijawab adalah ketergantungan Kampung Margomulyo pada pasokan sayuran dari luar daerah yang harganya mahal akibat biaya logistik tinggi, sementara lahan pertanian lokal belum dioptimalkan secara teknologis [4]. Seluruh hasil panen dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan sayuran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Manokwari Selatan, menjadikan BUMDes Makmur mitra pemasok lokal sekaligus menciptakan rantai nilai dari kebun kampung langsung ke penerima manfaat MBG, sambil menumbuhkan Pendapatan Asli Kampung dari sektor pertanian modern [5].

 

Latar Belakang

Kampung Margomulyo di Distrik Oransbari terletak di wilayah Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, yang selama ini menghadapi keterbatasan pasokan sayuran segar [4]. Masyarakat bergantung pada pasokan sayuran dari luar daerah yang harganya mahal akibat biaya logistik tinggi, sementara lahan pertanian lokal belum dioptimalkan secara teknologis [4]. Kondisi ini berdampak langsung pada rendahnya konsumsi sayuran bergizi di tingkat rumah tangga dan sekolah.

Di sisi lain, BUMDes Makmur sebagai unit usaha ekonomi kampung belum memiliki unit usaha produktif berbasis teknologi yang mampu menghasilkan pendapatan rutin dan stabil [3]. Kebutuhan sayuran segar untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pemerintah pusat membuka peluang bagi BUMDes untuk menjadi pemasok lokal yang andal [5], [6].

Program Rumah Inovasi Teknologi Desa (RITD) yang dikembangkan Kemendes PDT bersama IFAD melalui program TEKAD hadir sebagai jawaban atas kebutuhan ini [8]. RITD menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, masyarakat desa, akademisi, dan sektor swasta untuk memperkenalkan teknologi tepat guna yang dapat langsung diterapkan di tingkat kampung, sebagaimana juga diterapkan di kampung lain seperti Ransiki untuk komoditas kakao [7], [11].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah budidaya selada dengan sistem hidroponik di dalam greenhouse menggunakan metode Nutrient Film Technique (NFT), yaitu teknik menanam tanpa tanah dengan mengalirkan lapisan tipis larutan nutrisi secara terus-menerus ke akar tanaman [9]. Sistem ini dipilih karena mampu mengoptimalkan penggunaan air hingga 90 persen lebih efisien dibandingkan pertanian konvensional, sekaligus menghasilkan tanaman yang tumbuh cepat, bebas hama tanah, dan bebas pestisida [10].

Instalasi greenhouse dirancang agar setiap satu meja hidroponik mampu menampung 300 pohon selada siap konsumsi dalam satu siklus tanam [1]. Sistem tanam terjadwal dengan rotasi semai dan pindah tanam yang kontinu memungkinkan panen dilakukan setiap minggu tanpa kekosongan stok. Seluruh produk diserap langsung oleh pengelola MBG dengan harga Rp5.000 per pohon, menciptakan kepastian pasar bagi BUMDes [1].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan dimulai dari tahap sosialisasi dan penguatan kapasitas melalui program TEKAD pada 2024, ketika pengurus BUMDes dan warga kampung mendapat pelatihan teknologi tepat guna [2]. Kemendes PDT menyalurkan bantuan RITD Tahun Anggaran 2025 berupa fasilitas greenhouse, instalasi hidroponik, bibit selada unggul, dan paket nutrisi AB Mix sebagai modal awal [3].

Setelah instalasi selesai, pengelola BUMDes menjalani fase percobaan dengan menyemai benih pada media rockwool, memindahkan bibit ke instalasi NFT setelah berkecambah, lalu mengatur konsentrasi nutrisi larutan AB Mix secara rutin [9]. Pada fase awal, kesalahan penyesuaian pH dan konsentrasi nutrisi sempat menghambat kecepatan pertumbuhan tanaman, sehingga sejumlah batch semai tidak tumbuh optimal sebelum tim menemukan takaran yang tepat [9]. Kegagalan pada fase awal ini mendorong pengelola meminta pendampingan teknis intensif dari fasilitator TEKAD sebelum mampu mengelola larutan nutrisi secara mandiri [2].

Pembelajaran dari fase uji coba menjadi dasar penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya yang kini menjadi panduan pengelola [1]. Skema rotasi tanam disusun agar meja-meja hidroponik panen secara bergantian tiap minggu, memastikan pasokan ke dapur SPPG MBG tidak pernah terputus, wawasan penting bagi replikator bahwa penguasaan pengaturan nutrisi memerlukan waktu adaptasi sebelum produksi berjalan stabil [1].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar pada fase awal adalah keterbatasan pengetahuan teknis warga dalam mengelola larutan nutrisi hidroponik, terutama menjaga pH air dan konsentrasi AB Mix yang optimal, karena kesalahan penyesuaian nutrisi berdampak langsung pada kecepatan pertumbuhan dan kualitas selada [9]. Pengelola memitigasi tantangan ini dengan menjalani pendampingan intensif dari fasilitator TEKAD hingga mampu mengelola larutan nutrisi secara mandiri sesuai SOP yang disusun [2].

Tantangan infrastruktur muncul dari ketergantungan pada pasokan listrik untuk menjalankan pompa sirkulasi larutan nutrisi secara terus-menerus, karena wilayah Oransbari masih mengalami ketidakstabilan pasokan listrik pada waktu-waktu tertentu [4]. Gangguan listrik berisiko menghentikan aliran nutrisi dan merusak tanaman, sehingga pengelola memitigasi risiko ini dengan menyiapkan solusi cadangan energi agar sistem tetap berjalan optimal [1].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan inovasi ini ditopang tiga faktor utama. Pertama, dukungan program RITD-TEKAD yang menyediakan bantuan infrastruktur, pelatihan, dan pendampingan teknis secara menyeluruh [3]. Kedua, kepastian pasar dari program MBG menciptakan insentif ekonomi yang kuat bagi BUMDes untuk menjaga kualitas dan kontinuitas produksi [1]. Ketiga, komitmen pengurus BUMDes dan warga Margomulyo menerapkan SOP budidaya secara disiplin menjadi kunci mutu produk [1].

Kolaborasi antara pemerintah kampung, BUMDes, fasilitator TEKAD, dan pengelola MBG membentuk ekosistem kemitraan yang saling menguatkan [3]. Pola ini selaras dengan prinsip RITD sebagai wadah kolaborasi multipihak yang mendorong inovasi lokal berbasis kebutuhan nyata masyarakat desa [8].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum inovasi ini berjalan, Kampung Margomulyo sepenuhnya bergantung pada pasokan sayuran dari luar daerah dengan harga yang mahal akibat biaya logistik tinggi [4]. Panen perdana pada 21 Mei 2026 menghasilkan 300 pohon selada segar dari satu meja instalasi hidroponik, membuktikan efisiensi ruang dan produktivitas sistem NFT di lingkungan greenhouse [1]. Seluruh hasil panen langsung terserap pengelola MBG Manokwari Selatan dengan harga Rp5.000 per pohon, menghasilkan pendapatan awal yang menjadi modal perputaran produksi berikutnya [1].

Secara kualitatif, inovasi ini menggeser paradigma warga Margomulyo dari ketergantungan pada pasokan sayuran luar daerah menuju kemandirian produksi lokal [1]. Pengalaman serupa di daerah lain menunjukkan potensi jangka panjang model ini, seperti petani selada hidroponik program MBG di Pangandaran yang meraih omzet hingga Rp20 juta per bulan setelah beberapa siklus produksi berjalan [12], serta kisah petani muda hidroponik di Bangka Belitung yang turut memasok kebutuhan dapur MBG setempat [13], meski capaian Margomulyo sendiri masih dalam tahap panen perdana.

Dampak sosial yang mulai terlihat adalah terbukanya pekerjaan baru bagi warga kampung sebagai pengelola greenhouse, operator nutrisi, dan tenaga panen mingguan [1]. Tersedianya sayuran segar dengan harga terjangkau turut memperkuat ketahanan gizi anak-anak penerima MBG, mendukung agenda nasional penurunan stunting [6].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Modal awal inovasi ini sepenuhnya berasal dari bantuan Program RITD Tahun Anggaran 2025 yang disalurkan Kemendes PDT bersama IFAD melalui program TEKAD, berupa fasilitas greenhouse, instalasi hidroponik, bibit selada unggul, dan paket nutrisi AB Mix [3]. Model bisnis unit usaha ini bertumpu pada penjualan langsung ke pengelola MBG Manokwari Selatan dengan harga tetap Rp5.000 per pohon, menciptakan kepastian pasar yang tidak bergantung pada fluktuasi harga pasar bebas [1].

Dokumentasi program tidak merinci total nilai bantuan RITD secara spesifik, sehingga estimasi biaya bagi replikator perlu dikonfirmasi langsung ke fasilitator TEKAD setempat [2]. Strategi pembiayaan lanjutan diarahkan pada reinvestasi keuntungan penjualan untuk menambah jumlah meja instalasi secara bertahap, sehingga BUMDes tidak bergantung sepenuhnya pada satu kali bantuan RITD [1].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan menjadikan program MBG sebagai pasar utama sejak awal, alih-alih menjual ke pasar bebas yang harganya fluktuatif, terbukti menjadi keputusan kunci yang memberi kepastian penyerapan hasil panen setiap minggu [1]. Keputusan menyusun SOP budidaya berdasarkan pembelajaran dari kegagalan penyesuaian nutrisi pada fase awal juga terbukti penting agar pengelola berikutnya tidak mengulangi kesalahan yang sama [9].

Jika memulai dari awal, pengelola mengakui idealnya pelatihan pengaturan pH dan konsentrasi nutrisi AB Mix diberikan lebih mendalam sejak sebelum instalasi rampung, agar batch semai pertama tidak mengalami hambatan pertumbuhan [9]. Kampung lain yang berencana menerapkan model serupa disarankan memastikan kepastian pasar seperti program MBG sejak tahap perencanaan, menyiapkan solusi cadangan listrik sebelum instalasi beroperasi, dan mendokumentasikan SOP budidaya sejak siklus tanam pertama [4], [1].

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Strategi keberlanjutan jangka panjang bertumpu pada kepastian offtake dari program MBG yang menjamin penyerapan produk setiap minggu, memastikan arus kas BUMDes tetap sehat untuk membiayai operasional dan pengadaan input produksi [1]. BUMDes Makmur juga berencana memperluas jumlah meja instalasi secara bertahap seiring akumulasi keuntungan, meningkatkan kapasitas produksi dari satu meja menjadi multi-meja dalam satu greenhouse [1].

Penguatan kapasitas SDM pengelola dilakukan secara berkelanjutan melalui program pelatihan TEKAD dan dokumentasi SOP budidaya yang terus diperbarui, sehingga penguasaan teknis tidak hanya terpusat pada satu atau dua pengelola awal [2]. Ke depan, BUMDes Makmur menargetkan diversifikasi komoditas hidroponik, seperti bayam, kangkung, dan pakcoy, untuk memperluas ragam pasokan ke MBG dan membuka akses pasar ke konsumen rumah tangga di Oransbari [1].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi greenhouse hidroponik BUMDes Makmur Margomulyo berkontribusi pada lima tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang relevan dengan konteks pemberdayaan ekonomi desa dan ketahanan pangan lokal. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang dapat diukur dari capaian yang telah didokumentasikan.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Pengelolaan greenhouse hidroponik BUMDes menciptakan lapangan kerja bagi warga Margomulyo sebagai operator nutrisi, tenaga panen, dan koordinator logistik MBG. Warga kampung memperoleh pekerjaan baru di unit usaha greenhouse yang sebelumnya tidak ada.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Produksi 300 pohon selada per meja per siklus memastikan ketersediaan sayuran hijau bergizi bagi anak-anak penerima program MBG Manokwari Selatan. 300 pohon selada dipanen per meja hidroponik setiap siklus tanam mingguan.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi BUMDes Makmur membangun unit usaha produktif berbasis teknologi yang menghasilkan Pendapatan Asli Kampung dari sektor pertanian modern. Penjualan selada ke MBG dengan harga tetap Rp5.000 per pohon menjadi sumber pendapatan rutin BUMDes.
SDGs 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur Penerapan sistem NFT dan greenhouse di tingkat kampung terpencil membuktikan bahwa infrastruktur teknologi pertanian modern dapat diadaptasi di wilayah 3T. Sistem NFT mengoptimalkan penggunaan air hingga 90 persen lebih efisien dibandingkan pertanian konvensional.
SDGs 17: Kemitraan untuk Tujuan Inovasi ini terwujud melalui kolaborasi multipihak antara Kemendes PDT, IFAD, pemerintah kampung, BUMDes, fasilitator TEKAD, dan pengelola MBG. Enam pihak terlibat dalam pendanaan, pendampingan teknis, dan penyerapan hasil produksi.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

BUMDes Makmur Margomulyo dirancang menjadi contoh percontohan bagi kampung-kampung lain di Kabupaten Manokwari Selatan dan Papua Barat [8]. Strategi replikasi dilakukan melalui mekanisme kunjungan belajar antarkampung, tempat pengelola BUMDes dari kampung lain dapat langsung melihat, mempelajari, dan mencoba praktik budidaya hidroponik di fasilitas Margomulyo, selaras dengan fungsi RITD sebagai pusat dokumentasi dan media pembelajaran praktik baik desa [2].

Untuk scale up, program TEKAD membuka peluang pengembangan RITD di kampung-kampung lain yang memiliki potensi serupa, dengan dukungan fasilitator teknis dan akses pembiayaan dari Dana Desa [3]. Pengalaman Margomulyo menunjukkan bahwa modal awal berupa bantuan infrastruktur RITD sudah cukup untuk menggerakkan produksi mandiri, sehingga model ini berpotensi direplikasi desa-desa lain yang memiliki akses ke program MBG sebagai pasar jaminannya [1].

 

Daftar Pustaka

[1] Redaksi RITD Margomulyo, “BUMDes Makmur Margomulyo Sukses Gelar Panen Perdana Selada Hidroponik Program RITD 2025,” Dokumentasi Internal BUMDes Makmur, Kampung Margomulyo, Oransbari, Manokwari Selatan, 21 Mei 2026.

[2] Tim TEKAD Papua Barat, “RITD Kampung Margomulyo Hadir Sebagai Ruang Belajar Teknologi Pertanian,” Instagram Reel, 2026. [Daring]. Tersedia: https://www.instagram.com/reel/DYLsZ_QmtDs/.

[3] Kemendes PDT, “Menteri Desa dan PDT: BUM Desa Menjadi Motor Ekonomi Rumah Tangga dan Unit Usaha Desa,” Workshop Nasional Evaluasi Program TEKAD 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.instagram.com/p/DSmXHfoExz4/.

[4] BPS Manokwari Selatan, Distrik Oransbari Dalam Angka 2015, Badan Pusat Statistik Kabupaten Manokwari Selatan, 2015.

[5] Politeknik PU, “Mendukung Terselenggaranya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua,” politeknikpu.ac.id, 24 Feb. 2025. [Daring]. Tersedia: https://politeknikpu.ac.id/2025/02/24/mendukung-terselenggaranya-program-makan-bergizi-gratis-mbg-di-papua/.

[6] Berita Nasional Update, “Makan Bergizi Gratis di Papua: Solusi Nyata untuk Generasi Sehat dan Cerdas,” beritanasionalupdate.com, 3 Mei 2026. [Daring]. Tersedia: https://beritanasionalupdate.com/news/details/119/makan-bergizi-gratis-di-papua.

[7] JPNN, “Prof Zainuddin: Kemendes PDT Dorong Inovasi Petani Kakao Ransiki Lewat Rumah Inovasi Desa,” jpnn.com, 6 Okt. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.jpnn.com/news/prof-zainuddin-kemendes-pdt-dorong-inovasi-petani-kakao-ransiki-lewat-rumah-inovasi-desa.

[8] F. Tongjaya, “RITD: Atap Bersama Inovasi Desa,” Kompasiana, 25 Jul. 2025. [Daring]. Tersedia: https://www.kompasiana.com/fourzanitongjaya3408/68845f73ed6415384a01d2d2/ritd-atap-bersama-inovasi-desa-kompasianadesa.

[9] T. Hidayat et al., “Respon Pertumbuhan dan Hasil Berbagai Jenis Tanaman Selada (Lactuca sativa) dengan Sistem Hidroponik NFT,” Jurnal Green, Universitas Islam Kuantan Singingi, 2023. [Daring]. Tersedia: https://ejournal.uniks.ac.id/index.php/GREEN/article/view/2861.

[10] Tim Peneliti, “Sistem Hidroponik Menggunakan Nutrient Film Technique (NFT) pada Selada,” Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia. [Daring]. Tersedia: https://jurnal.syntaxliterate.co.id/index.php/syntax-literate/article/view/11983/7552.

[11] Maklumat.id, “Ransiki Kampung Cokelat yang Berinovasi: Petani Papua Barat Belajar Dari Rumah Inovasi Desa,” maklumat.id, 6 Okt. 2025. [Daring]. Tersedia: https://maklumat.id/ransiki-kampung-cokelat-yang-berinovasi-petani-papua-barat-belajar-dari-rumah-inovasi-desa/.

[12] MetroTV, “Program MBG Hidupkan Ekonomi Desa, Petani Selada Hidroponik Pangandaran Raih Omzet Rp20 Juta/Bulan,” YouTube MetroTV, 23 Apr. 2026. [Daring]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=TomzrfA01T4.

[13] KBRINA.com, “Dari Green House ke Dapur MBG: Kisah Rio Febrizky, Pemuda Babel yang Menanam Harapan Lewat Selada Hidroponik,” kbrina.com, 12 Des. 2025. [Daring]. Tersedia: https://kbrina.com/dari-green-house-ke-dapur-mbg-kisah-rio-febrizky-pemuda-babel-yang-menanam-harapan-lewat-selada-hidroponik/.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pertanian Modern Greenhouse Hidroponik BUMDes Makmur
Alamat
Kampung Margomulyo, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat
Inovator
Pengurus BUMDes Makmur Margomulyo didukung Fasilitator Program TEKAD - Kemendes PDT bersama IFAD
Kontak
Febriza Anastasia Kasihiw (Kepala Kampung Margomulyo), 0813-4405-7660
Lokasi