Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Kalahiang, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan, membangun 17 unit jamban atau WC gratis bagi warga kurang mampu melalui kerja sama multipihak antara pemerintah desa, TNI, dan program Corporate Social Responsibility Yayasan Adaro Bangun Negeri (YABN) [1]. Inovasi yang mulai dirintis sejak pertengahan 2017 ini menjadi jawaban atas kebiasaan buang air besar sembarangan di Sungai Balangan yang telah lama mengancam kesehatan warga [1]. Pelaku utama inovasi ini adalah Pemerintah Desa Kalahiang bersama YABN, satuan TNI setempat, dan warga yang bergotong royong membangun fasilitas sanitasi [3]. Permasalahan utama yang dijawab adalah ketidakmampuan ekonomi keluarga miskin membangun WC dan septic tank secara mandiri, sehingga mereka terus buang air besar di sungai dan berisiko terpapar penyakit berbasis air [3]. Dalam waktu sekitar satu bulan, 17 unit WC berhasil dibangun dengan mengandalkan gotong royong warga dan tenaga TNI, menghasilkan perubahan nyata perilaku sanitasi masyarakat serta menjadi titik awal Desa Kalahiang menuju status Open Defecation Free (ODF) [2].

 

Latar Belakang

Desa Kalahiang dialiri Sungai Balangan yang mengalir panjang melewati kawasan permukiman warga di Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan [3]. Keberadaan sungai yang dekat dengan permukiman membuat sebagian warga terbiasa menggunakannya sebagai tempat buang air besar sembarangan, kebiasaan yang telah berlangsung turun-temurun dan dianggap lumrah [3].

Kebiasaan tersebut bukan tanpa dampak serius, karena buang air besar di sungai terbuka menjadi sumber pencemaran air yang memicu penyebaran penyakit berbasis air seperti diare, kolera, dan tifoid, yang masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di kawasan sungai Kalimantan Selatan [4]. Sebelum inovasi ini berjalan, tidak satu pun dari 17 keluarga kurang mampu yang menjadi sasaran program memiliki fasilitas jamban dengan septic tank layak di rumah masing-masing [3].

Banyak keluarga kurang mampu di Desa Kalahiang tidak memiliki kemampuan finansial untuk membangun WC dan septic tank secara mandiri, sehingga ketidakmampuan ekonomi ini menjadi penghalang utama perubahan perilaku sanitasi [3]. Kebutuhan intervensi kolaboratif yang menyentuh akar persoalan sekaligus, yakni kemampuan membangun dan kesadaran berperilaku hidup bersih, mendorong Yayasan Adaro Bangun Negeri memperkenalkan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) kepada warga Desa Kalahiang pada pertengahan 2017 [1].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah model pembangunan WC gratis melalui kerja sama multipihak yang mempertemukan program STBM dari Yayasan Adaro Bangun Negeri, partisipasi fisik anggota TNI, dan penggalangan donasi dari masyarakat [1]. Skema ini memungkinkan pembangunan jamban permanen dengan septic tank layak tanpa membebani keluarga penerima manfaat [1].

Cara kerja inovasi ini terbagi menjadi tiga lapis. Pertama, YABN menyediakan cetakan WC dan melatih warga cara membangun septic tank yang sesuai standar kesehatan. Kedua, TNI bersama warga mengerjakan pembangunan fisik secara gotong royong. Ketiga, pemerintah desa mengorganisir penggalangan dana dari donatur untuk pembelian material bangunan seperti semen, pasir, bata, dan pipa saluran [3].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan dimulai pada pertengahan 2017 ketika YABN memperkenalkan program STBM melalui forum warga Desa Kalahiang [1]. Pada pertemuan awal, program dirancang dalam bentuk arisan jamban, sebuah mekanisme gotong royong finansial yang membantu warga membangun WC secara bergiliran [2].

Pendekatan arisan jamban semata ternyata belum cukup memicu kesadaran perubahan perilaku warga secara menyeluruh, karena hanya menyentuh aspek pembiayaan tanpa pendampingan perilaku hidup bersih yang sistematis [5]. Pada 2018, pendekatan ini dikoreksi menjadi pendekatan STBM yang lebih sistematis dengan lima pilar perubahan perilaku, meliputi stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan, pengamanan sampah, serta pengelolaan limbah cair [5]. Koreksi ini menjadi pembelajaran penting bagi replikator, bahwa pembiayaan gotong royong semata perlu dipadukan dengan pemicuan kesadaran perilaku agar perubahan sanitasi bertahan jangka panjang [5].

Pelaksanaan pembangunan 17 unit WC berlangsung dalam waktu sekitar satu bulan [3]. Hambatan utama selama proses ini adalah terbatasnya anggaran desa untuk membeli seluruh material, namun keterbatasan ini justru mendorong kreativitas kelembagaan dengan menyatukan sumber daya dari donatur, perusahaan, dan tenaga sukarela sehingga pembangunan tetap berjalan tanpa menunggu alokasi anggaran penuh [3].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan utama selama pelaksanaan adalah keterbatasan anggaran untuk pembelian bahan bangunan, sementara ketergantungan pada donasi membuat kepastian waktu pembangunan tidak sepenuhnya terprediksi [3]. Desa memitigasi tantangan ini dengan menggalang donasi dari berbagai pihak, termasuk program CSR YABN dan sumbangan warga, agar material tersedia sebelum pelaksanaan dimulai [3].

Tantangan pasca-pembangunan adalah memastikan perawatan WC yang sudah dibangun dilakukan secara konsisten oleh keluarga penerima manfaat, karena tanpa perawatan berkelanjutan, jamban berisiko rusak atau tidak berfungsi optimal [3]. Pemerintah desa memitigasi risiko ini dengan aktif mendorong dan memantau partisipasi warga dalam menjaga fasilitas yang telah ada, mengacu pada pilar STBM yang menempatkan komunitas sebagai penjaga utama perubahan perilaku sanitasi [3], [5].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Kunci keberhasilan inovasi ini terletak pada kemitraan yang saling melengkapi. YABN menyediakan pengetahuan teknis dan cetakan WC, TNI membawa tenaga terlatih dan kedisiplinan kerja, pemerintah desa mengorganisir warga dan donatur, sementara warga sendiri menyumbangkan partisipasi aktif baik tenaga maupun dana. Kombinasi ini memungkinkan pembangunan cepat dengan biaya yang ditanggung bersama [1].

Faktor lain yang menentukan adalah kerangka pelatihan STBM yang menanamkan pemahaman mendasar tentang hubungan sanitasi dengan kesehatan. Tanpa perubahan pola pikir warga, fasilitas WC yang sudah dibangun berisiko tidak digunakan atau tidak terawat. Pelatihan itulah yang mengubah program fisik menjadi program perubahan perilaku yang bermakna jangka panjang [5].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara kuantitatif, inovasi ini menghasilkan 17 unit WC dengan septic tank yang terbangun dalam waktu sekitar satu bulan dan dinikmati langsung oleh 17 keluarga kurang mampu yang sebelumnya sama sekali tidak memiliki fasilitas jamban layak [3]. Keseluruhan pembangunan berhasil diselesaikan dengan biaya yang ditanggung bersama antara donatur, program CSR YABN, dan partisipasi tenaga TNI serta warga, tanpa memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) [3].

Secara kualitatif, dampaknya dirasakan warga dalam tiga dimensi. Dari sisi kesehatan, warga tidak lagi buang air besar di sungai sehingga risiko pencemaran air dan penularan penyakit berbasis sanitasi berkurang. Dari sisi kenyamanan, keluarga penerima manfaat memiliki fasilitas sanitasi yang layak dan bermartabat. Dari sisi sosial, inovasi ini menjadi peristiwa penting bagi Desa Kalahiang karena menandai langkah konkret menuju status desa ODF [3], [6].

Dampak lebih luas dari program STBM di Kabupaten Balangan secara keseluruhan terlihat dari penghargaan STBM Award 2025 yang diterima oleh Desa Muara Jaya, sebuah dampak ikutan yang tidak direncanakan secara eksplisit oleh Desa Kalahiang namun menunjukkan bahwa ekosistem STBM yang dibangun bersama YABN di wilayah ini memiliki daya ungkit yang berkelanjutan [7].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pembangunan 17 unit WC ini dibiayai melalui skema urunan multipihak yang menggabungkan program CSR Yayasan Adaro Bangun Negeri, donasi warga, dan tenaga kerja sukarela dari TNI, tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa [3]. YABN menanggung penyediaan cetakan WC dan pelatihan teknis, TNI menyumbangkan tenaga kerja gotong royong, sementara pemerintah desa mengorganisir penggalangan dana dari donatur untuk pembelian material seperti semen, pasir, bata, dan pipa saluran [1], [3].

Model ini tidak menghasilkan pendapatan bagi desa karena seluruh fasilitas diberikan gratis kepada keluarga penerima manfaat, sehingga orientasinya murni pada peningkatan kesehatan lingkungan, bukan skema bisnis [3]. Strategi pembiayaan lanjutan diarahkan pada integrasi program sanitasi ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) tahunan, agar pembangunan jamban lanjutan bagi warga yang belum terjangkau tidak lagi bergantung sepenuhnya pada donasi CSR yang sifatnya insidental [6].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan menggabungkan tiga sumber daya sekaligus, yaitu pengetahuan teknis YABN, tenaga kerja TNI, dan penggalangan dana pemerintah desa, terbukti menjadi kunci yang mempercepat pembangunan tanpa membebani satu pihak saja [1]. Koreksi dari arisan jamban menjadi pendekatan STBM sistematis pada 2018 juga terbukti penting agar perubahan perilaku sanitasi tidak berhenti pada pembangunan fisik semata [5].

Jika memulai dari awal, pemerintah desa mengakui idealnya mekanisme pemantauan perawatan WC pascapembangunan dirancang sejak tahap perencanaan, bukan setelah fasilitas selesai dibangun, agar keberlanjutan penggunaan lebih terjamin [3]. Desa lain yang berencana menerapkan model serupa disarankan memetakan mitra potensial sejak awal, seperti perusahaan ber-CSR, Kodim setempat, dan Dinas Kesehatan dengan fasilitator STBM, serta memadukan pembangunan fisik dengan pemicuan kesadaran perilaku sejak tahap pertama [8].

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan program sanitasi Desa Kalahiang dirancang melalui dua pendekatan: penguatan kesadaran warga dan kelembagaan pemantauan. Pemerintah desa mendorong partisipasi aktif warga untuk merawat dan menjaga WC yang sudah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal dan berkelanjutan, mengacu pada pilar STBM yang menempatkan komunitas sebagai penjaga utama perubahan perilaku sanitasi [5].

Untuk jangka panjang, Desa Kalahiang dapat membangun program jamban lanjutan yang memanfaatkan dana desa untuk warga yang belum terjangkau tahap pertama. Integrasi program sanitasi ke dalam RKPDes tahunan menjadi kunci agar inovasi ini tidak berhenti pada 17 unit pertama, melainkan berkembang menjadi strategi desa menuju ODF yang komprehensif [6]. Mekanisme keberlanjutan ini tidak bergantung pada satu individu tertentu, karena kelembagaan STBM menempatkan komunitas dan pemerintah desa secara kolektif sebagai penjaga keberlanjutan program, sehingga pergantian perangkat desa di masa depan tidak menghentikan arah menuju status ODF [5], [6].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi WC gratis Desa Kalahiang berkontribusi secara langsung pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan, sebagaimana dijelaskan dalam tabel berikut beserta indikator yang dapat diukur dari capaian yang telah didokumentasikan.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Program WC gratis meringankan beban pengeluaran keluarga kurang mampu yang tidak mampu membangun sanitasi mandiri, sekaligus melindungi mereka dari pengeluaran kesehatan akibat penyakit yang bersumber dari sanitasi buruk. 17 keluarga kurang mampu menerima fasilitas WC dan septic tank tanpa biaya.
SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera Penghentian praktik buang air besar di Sungai Balangan mengurangi risiko penyebaran penyakit berbasis air seperti diare dan tifoid. Warga penerima manfaat berhenti buang air besar di sungai sejak WC selesai dibangun.
SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak Pembangunan 17 unit WC dengan septic tank memperluas akses sanitasi layak dan melindungi Sungai Balangan dari pencemaran tinja. 17 unit WC dengan septic tank terbangun dalam waktu sekitar satu bulan.
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan Inovasi ini secara khusus menyasar warga kurang mampu yang selama ini tidak memiliki akses pada fasilitas sanitasi dasar. Seluruh 17 unit WC diprioritaskan bagi keluarga kurang mampu yang sebelumnya tidak memiliki jamban layak.
SDGs 17: Kemitraan untuk Tujuan Model kerja sama antara pemerintah desa, TNI, Yayasan Adaro Bangun Negeri, dan donatur warga menjadi praktik nyata kemitraan lintas sektor. Empat pihak (pemerintah desa, TNI, YABN, donatur warga) terlibat aktif dalam satu skema pembangunan.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model kerja sama multipihak Desa Kalahiang relevan untuk direplikasi oleh desa-desa lain yang berada di kawasan sungai dengan masalah buang air besar sembarangan [8]. Prasyarat minimum bagi desa lain meliputi identifikasi mitra potensial di tingkat lokal, seperti perusahaan tambang atau perkebunan yang memiliki program CSR, Kodim setempat yang aktif dalam program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD), serta Dinas Kesehatan yang memiliki fasilitator STBM [8].

Dokumentasi program tidak merinci total biaya replikasi secara spesifik, sehingga calon replikator perlu memperhitungkan skema urunan CSR dan donasi sesuai kondisi masing-masing desa. Untuk scale up, program dapat diperluas menjadi kampung ODF penuh dengan mengintegrasikan pembangunan WC ke dalam RKPDes dan musyawarah desa setiap tahun [6]. Kabupaten Balangan sendiri telah membuktikan bahwa pendekatan STBM berbasis kemitraan dapat berjalan di banyak desa sekaligus, sebagaimana ditunjukkan oleh penghargaan STBM Award 2025 untuk wilayah ini [7].

 

Daftar Pustaka

[1] Tribunnews Banjarmasin, “Berkolaborasi dengan YABN, Kabupaten Balangan Terus Menggalakkan Program STBM,” Tribun Banjarmasin, 27 Agt. 2019. [Daring]. Tersedia: https://banjarmasin.tribunnews.com/2019/08/27/berkolaborasi-dengan-yabn-kabupaten-balangan-terus-menggalakkan-program-stbm.

[2] Antara Kalsel, “Tabalong Percepat Program Bebas BAB Sembarangan,” Antara News Kalsel, 12 Mei 2016. [Daring]. Tersedia: https://kalsel.antaranews.com/berita/36285/tabalong-percepat-program-bebas-bab-sembarangan.

[3] inovasi.web.id, “ID 00616: Desa Kalahiang Bangun Kerjasama dengan TNI untuk Bangun Fasilitas Sanitasi,” inovasi.web.id. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id/desa-kalahiang-bangun-kerjasama-dengan-tni-untuk-bangun-fasilitas-sanitasi/.

[4] A. Setiawan et al., “Akselerasi Desa Open Defecation Free melalui PAR dan CLTS,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia (JPMI). [Daring]. Tersedia: https://journalshub.org/index.php/jpmi/article/download/6909/6422/29795.

[5] STIA Amuntai, “Efektivitas Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Pilar Pertama,” Jurnal PPJ STIA Amuntai. [Daring]. Tersedia: https://ejurnal.stiaamuntai.ac.id/index.php/PPJ/article/download/1170/954/2118.

[6] Dinas Kesehatan Buleleng, “Konsep Dasar Open Defecation Free (ODF),” banjar.bulelengkab.go.id. [Daring]. Tersedia: https://banjar.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/konsep-dasar-open-defecation-free-odf-26.

[7] Dinas Kesehatan Balangan, “STBM Award Tahun 2025 Kabupaten Balangan,” dinkes.balangankab.go.id, 10 Nov. 2025. [Daring]. Tersedia: https://dinkes.balangankab.go.id/pberita/detail/1395.

[8] Antara Kalsel, “Kodim 1006/MTP Bantu Pembuatan Toilet Sehat,” Antara News Kalsel, 11 Mar. 2018. [Daring]. Tersedia: https://kalsel.antaranews.com/berita/64289/kodim-1006-mtp-bantu-pembuatan-toilet-sehat.

Data Inovasi

Nama Inovasi
Pembuatan WC Gratis untuk Masyarakat Kurang Mampu
Alamat
Desa Kalahiang, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan
Inovator
Pemerintah Desa Kalahiang
Kontak
Sekretaris Desa Kalahiang, Telepon/WA 0811-5114581
Lokasi