Ringkasan Inovasi
Koperasi Ebier Suth di Desa Abreso, Kecamatan Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat, merevitalisasi kebun kakao warisan PT Cokran yang terbengkalai sejak perusahaan itu bangkrut pada 2006 [3]. Koperasi ini didirikan pada 2017 oleh mantan karyawan PT Cokran yang sebelumnya kehilangan pekerjaan akibat penutupan mendadak perusahaan, dan kini menjalankan pertanian kakao organik tanpa pupuk kimia [3]. Permasalahan utama yang dijawab inovasi ini adalah hilangnya mata pencaharian sekitar enam ratus mantan karyawan serta terbengkalainya ribuan hektare kebun kakao yang sempat menjadi tulang punggung ekonomi Distrik Ransiki [1]. Dampak yang tercatat sejak koperasi berdiri hingga laporan tahun 2021 mencakup total pendapatan sekitar Rp 8,3 miliar dari penjualan biji kakao kering, penyerapan lebih dari seratus lima puluh tenaga kerja lokal yang mayoritas warga asli Papua, serta pasokan biji kakao ke sejumlah pembeli industri termasuk PT Cargill Indonesia, JIKA Chocolate, dan Pipiltin Cocoa [6].
Latar Belakang
Distrik Ransiki di Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat, dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan kakao sejak era perusahaan swasta mengelola lahan dalam skala besar [1]. Desa Abreso dan sekitarnya menyimpan ribuan hektare lahan kebun kakao yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi warga suku Sougb dan komunitas asli Papua di wilayah ini [3]. Selama beroperasi, perusahaan pengelola kebun ini menyerap ratusan tenaga kerja lokal dan menjadikan Ransiki dikenal luas sebagai penghasil kakao [1].
Kondisi ini berubah ketika PT Cokran, perusahaan pengelola perkebunan kakao setempat, mengalami kebangkrutan dan menghentikan seluruh operasional pada 2006 [3]. Penutupan mendadak ini membuat sekitar enam ratus karyawan kehilangan pekerjaan dalam waktu singkat, memaksa banyak keluarga mencari sumber penghidupan lain [3]. Ribuan hektare kebun kakao warisan pun dibiarkan tanpa perawatan selama lebih dari satu dekade, sehingga tidak memberikan manfaat ekonomi bagi warga [1]. Kondisi ini memicu persoalan ekonomi yang berkepanjangan bagi masyarakat asli Papua di Ransiki, yang sebelumnya bergantung pada sektor perkebunan sebagai sumber penghasilan utama [3].
Pemerintah daerah bersama sejumlah mantan karyawan PT Cokran menilai lahan yang terbengkalai ini masih menyimpan peluang untuk dihidupkan kembali [3]. Mereka mulai menyusun rencana pengelolaan lahan secara kolektif, dengan koperasi dipilih sebagai bentuk kelembagaan agar tata kelola usaha lebih melibatkan warga secara langsung [3]. Momentum ini mendorong pembentukan Koperasi Ebier Suth pada 2017, lebih dari sepuluh tahun setelah kebun kakao Ransiki berhenti beroperasi [3].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi utama yang diterapkan warga adalah revitalisasi kebun kakao melalui sistem manajemen kolektif berbasis koperasi masyarakat adat setempat [3]. Nama Ebier Suth diambil dari bahasa suku Sougb yang berarti kebangkitan atau bangkit kembali, mencerminkan semangat menghidupkan kembali kebun yang lama terbengkalai [3]. Koperasi ini merawat lahan warisan tanpa menggunakan pupuk kimia, dengan warga bergotong royong menjalankan seluruh tahapan perawatan kebun [1].
Petani mempertahankan bibit kakao lawas peninggalan PT Cokran untuk menjaga kemurnian genetik dan cita rasa khas varietas tersebut, alih-alih mengganti dengan bibit unggul baru [3]. Proses panen dilakukan dengan memetik langsung biji matang dari pohon yang sebagian telah tumbuh setinggi lima meter [3]. Pendekatan organik dan pelestarian bibit lawas ini menjadi elemen pembeda dibandingkan pengelolaan kebun konvensional yang umumnya mengejar volume produksi melalui bibit unggul dan pupuk kimia [1].
Proses Penerapan Inovasi
Koperasi Ebier Suth resmi berdiri pada 2017, beranggotakan mayoritas mantan karyawan PT Cokran yang telah memiliki pengalaman bertahun-tahun mengelola kebun kakao [3]. Pada tahap uji coba awal, koperasi merestorasi lahan seluas seratus empat puluh hektare dari total ribuan hektare kebun yang sebelumnya terbengkalai [3]. Restorasi bertahap ini dipilih agar koperasi dapat mengelola sumber daya modal dan tenaga kerja yang masih terbatas pada masa awal berdiri.
Pada tahap awal, koperasi sempat berupaya mengejar volume produksi tinggi untuk menyamai kapasitas panen PT Cokran di masa lalu, namun keterbatasan modal dan peralatan membuat target ini sulit tercapai [3]. Pengurus kemudian mengevaluasi pendekatan tersebut dan menyadari bahwa jaminan kualitas produk lebih penting dibandingkan mengejar volume panen semata [3]. Koreksi strategi ini mendorong petani bekerja lebih teliti dalam menyortir biji kakao, sebuah pembelajaran yang kemudian terbukti membantu koperasi memenuhi standar mutu pembeli industri [3]. Wawasan ini penting bagi replikator lain, bahwa pada tahap awal dengan modal terbatas, fokus pada mutu produk lebih realistis dibandingkan mengejar volume produksi besar sejak awal.
Setelah proses produksi berjalan stabil, Pemerintah Provinsi Papua Barat bersama Bank Indonesia mendukung koperasi dengan meresmikan rumah produksi cokelat Ransiki pada Juli 2020, lengkap dengan peralatan pengolahan dan pendampingan selama tiga tahun [5]. Dukungan ini memungkinkan koperasi memproses biji kakao fermentasi menjadi produk cokelat yang siap dipasarkan, bukan sekadar menjual biji kering mentah [5]. Ketelitian petani dalam merawat dan menyortir hasil kebun turut menarik minat sejumlah pembeli industri kakao untuk menjalin kerja sama pasokan jangka panjang [6].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal utama adalah kapasitas produksi koperasi yang masih jauh di bawah kapasitas PT Cokran pada masa jayanya, yang pernah mencatat hingga seratus ton panen per bulan [3]. Koperasi saat ini baru mampu mengolah kakao organik pada kisaran empat ton per bulan, sehingga volume pasokan belum bisa memenuhi seluruh permintaan pembeli secara konsisten [3]. Koperasi memitigasi kesenjangan ini secara bertahap dengan memperluas area kebun yang direvitalisasi dan memanfaatkan dukungan peralatan dari pemerintah provinsi dan Bank Indonesia [5].
Tantangan eksternal berupa fluktuasi cuaca turut memengaruhi hasil panen harian petani, karena curah hujan tinggi dapat menurunkan hasil panen seorang pekerja dari sekitar empat puluh kilogram menjadi hanya dua puluh kilogram per hari [3]. Kondisi ini menghambat percepatan pemenuhan pesanan ketika permintaan pembeli sedang tinggi [3]. Koperasi memitigasi kendala ini dengan menjaga komunikasi terbuka bersama pembeli mengenai kondisi panen aktual, alih-alih memaksakan target pasokan yang tidak realistis saat cuaca kurang mendukung [6].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama keberhasilan inovasi ini adalah ketekunan petani, khususnya pekerja perempuan yang berperan besar dalam menyeleksi dan memanen biji kakao organik secara konsisten [3]. Keterampilan menyortir biji kakao yang diwariskan dari pengalaman bekerja di PT Cokran menjadi modal keahlian yang memastikan setiap tahap produksi memenuhi standar mutu pembeli [3].
Dukungan Pemerintah Provinsi Papua Barat turut menjadi faktor penentu, termasuk melalui peresmian rumah produksi cokelat dan pendampingan teknis bersama Bank Indonesia [5]. Kunjungan delegasi internasional, seperti Duta Besar Norwegia yang meninjau kemajuan program yang didukung Pemerintah Norwegia, turut memperkuat posisi koperasi ini sebagai model pemberdayaan ekonomi masyarakat adat Papua [2]. Sinergi antara koperasi, pemerintah daerah, dan mitra pembangunan ini menjadi modal kelembagaan yang mengawal keberlanjutan usaha [2].
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum koperasi berdiri, kebun kakao Ransiki tidak menghasilkan pendapatan apa pun bagi warga karena telah terbengkalai lebih dari sepuluh tahun sejak PT Cokran bangkrut pada 2006 [3]. Sejak Koperasi Ebier Suth berdiri pada 2017 hingga laporan tahun 2021, total produksi kakao mencapai sekitar 146 ton biji kering, dengan pengiriman pada periode Januari-September 2021 saja mencapai sekitar 269 ton [6]. Total pendapatan yang dihasilkan dari penjualan biji kakao ini mencapai sekitar Rp 8,3 miliar, sebuah lompatan dari kondisi sebelumnya ketika lahan sama sekali tidak memberikan nilai ekonomi [6].
Koperasi ini menyerap lebih dari seratus lima puluh tenaga kerja lokal, dengan mayoritas pekerja berasal dari suku asli Papua [1]. Setiap pekerja mampu memanen hingga empat puluh kilogram kakao per hari pada kondisi cuaca normal, sebuah standar kerja yang terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun merawat kebun [3]. Biji kakao Ransiki kini dipasok ke sejumlah pembeli, antara lain PT Cargill Indonesia, JIKA Chocolate, dan Pipiltin Cocoa, menunjukkan bahwa produk koperasi ini telah diterima industri pengolahan cokelat skala nasional [6].
Kunjungan delegasi internasional yang meninjau langsung koperasi ini menjadi dampak ikutan yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal pendirian koperasi [2]. Keberhasilan Koperasi Ebier Suth juga menumbuhkan rasa percaya diri warga asli Papua dalam mengelola sendiri sumber daya alam yang sebelumnya dikuasai perusahaan luar [3]. Perubahan ini menunjukkan bahwa dampak revitalisasi kebun kakao meluas melampaui aspek pendapatan, menuju penguatan kepercayaan diri kelembagaan masyarakat adat.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal awal revitalisasi kebun berasal dari swadaya anggota koperasi yang sebagian besar merupakan mantan karyawan PT Cokran, dipadukan dengan dukungan peralatan dan pendampingan dari Pemerintah Provinsi Papua Barat bersama Bank Indonesia [5]. Bank Indonesia menyediakan peralatan pengolahan rumah produksi cokelat serta pendampingan selama tiga tahun sejak peresmian pada 2020 [5]. Model bisnis koperasi ini bertumpu pada penjualan biji kakao kering dan produk olahan cokelat kepada pembeli industri seperti PT Cargill Indonesia, JIKA Chocolate, Pipiltin Cocoa, dan PT Delfia Prima Jaya [6].
Total pendapatan penjualan sekitar Rp 8,3 miliar sejak 2017 hingga 2021 menjadi sumber utama perputaran modal kerja koperasi, tanpa bergantung pada satu jenis produk atau satu pembeli tunggal [6]. Strategi keberlanjutan pembiayaan diarahkan pada perluasan bertahap area kebun yang direvitalisasi, seiring bertambahnya permintaan pasar terhadap kakao organik Ransiki [3]. Pendekatan ini memungkinkan koperasi menambah kapasitas produksi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada suntikan dana hibah dari luar.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan pengurus mengalihkan fokus dari mengejar volume produksi menjadi menjaga mutu biji kakao terbukti menjadi keputusan kunci yang membuka akses ke pembeli industri skala nasional [3]. Keputusan mempertahankan bibit kakao lawas alih-alih mengganti dengan varietas baru juga terbukti menjaga keunikan cita rasa yang menjadi daya tarik utama kakao Ransiki [3]. Kedua keputusan ini menunjukkan bahwa menjaga identitas produk lokal dapat menjadi strategi bersaing yang lebih relevan dibandingkan mengejar skala produksi semata.
Jika memulai dari awal, pengurus mengakui idealnya dukungan peralatan pengolahan dari pemerintah dan Bank Indonesia diperoleh lebih awal, mengingat rumah produksi cokelat baru diresmikan tiga tahun setelah koperasi berdiri [5]. Desa lain yang berencana menerapkan model serupa disarankan mengidentifikasi lebih dahulu potensi kemitraan dengan lembaga keuangan atau pemerintah daerah untuk dukungan peralatan, memprioritaskan mutu produk sejak tahap awal, dan mempertahankan kearifan lokal seperti bibit atau metode tradisional yang menjadi pembeda produk [3].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Koperasi menegaskan komitmen mempertahankan bibit kakao warisan dan menolak intervensi bibit silangan dari luar, demi menjaga kemurnian genetik yang menjadi ciri khas kakao Ransiki [3]. Penggunaan pupuk kimia sintetis tetap dilarang sepenuhnya untuk menjaga keseimbangan ekologis lahan kebun [1]. Pemerintah Provinsi Papua Barat turut mendukung keberlanjutan ini dengan menetapkan kakao sebagai salah satu komoditas nondeforestasi unggulan yang dilindungi regulasi kawasan konservasi [1].
Mekanisme regenerasi kepengurusan koperasi menjadi perhatian penting mengingat sebagian besar anggota pendiri merupakan mantan karyawan PT Cokran yang usianya tidak lagi muda. Pelibatan pekerja perempuan dan generasi lebih muda dalam kegiatan pemanenan dan penyortiran biji kakao diharapkan menyiapkan kader pengurus baru untuk melanjutkan pengelolaan koperasi [3]. Rencana pendapatan mandiri diarahkan melalui perluasan bertahap kebun yang direvitalisasi serta kerja sama pasokan jangka panjang dengan pembeli industri, agar koperasi tidak bergantung penuh pada dukungan hibah pemerintah [6].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Revitalisasi kebun kakao oleh Koperasi Ebier Suth berkontribusi pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama pada pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja layak bagi masyarakat adat Papua [1]. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang dapat diukur dari capaian yang telah didokumentasikan.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Pengelolaan koperasi mandiri membuka akses lapangan kerja tetap bagi mantan karyawan PT Cokran dan warga asli Papua yang sebelumnya kehilangan sumber penghasilan. | Lebih dari seratus lima puluh warga lokal kembali memperoleh pekerjaan tetap di sektor perkebunan kakao. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Produksi kakao organik yang terstandardisasi mendukung stabilitas pendapatan rumah tangga petani, sehingga memperkuat daya beli terhadap kebutuhan pangan harian. | Total pendapatan penjualan kakao mencapai sekitar Rp 8,3 miliar sejak 2017 hingga 2021. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Perluasan kebun dan kerja sama dengan pembeli industri membuka lapangan kerja bermartabat serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal Ransiki. | Produksi kakao kering mencapai sekitar 146 ton pada periode 2017-2021, dengan 99 persen tenaga kerja berasal dari warga asli Papua. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pemberdayaan berbasis koperasi ini berpotensi direplikasi oleh desa lain yang memiliki lahan pertanian atau perkebunan yang terbengkalai akibat kebangkrutan perusahaan pengelola sebelumnya [1]. Prasyarat minimum bagi desa lain meliputi ketersediaan lahan yang dapat direvitalisasi, kesediaan warga membentuk kelembagaan koperasi yang transparan, dan komitmen mempertahankan kearifan lokal seperti bibit atau metode budi daya tradisional sebagai pembeda produk [3].
Dokumentasi program tidak merinci total biaya replikasi secara spesifik, namun dukungan peralatan pengolahan dari lembaga seperti Bank Indonesia dapat menjadi salah satu opsi pembiayaan bagi koperasi rintisan [5]. Desa dengan potensi komoditas berbeda dapat mengadaptasi pendekatan organik dan pelestarian varietas lokal ini untuk komoditas selain kakao, selama pasar pembeli untuk produk tersebut tersedia [1]. Perluasan kemitraan dengan pembeli industri dan lembaga pembangunan diharapkan memperluas manfaat model ini ke desa-desa lain di kawasan Papua Barat yang menghadapi persoalan lahan terbengkalai serupa [2].
Daftar Pustaka
[1] C. D. Heatubun, “Inovasi dan Keanekaragaman Komoditas Lokal Unggulan Daerah Non Deforestasi Papua Barat,” Jurnal Majalah Kasuari Inovasi, vol. 4, no. 1, pp. 12-15, Des. 2021.
[2] Pemerintah Provinsi Papua Barat, “Kunjungi Koperasi Ebier Suth, Duta Besar Norwegia Ingin Melihat Kemajuan Proyek,” Balitbangda Papua Barat, 2023. [Daring]. Tersedia: https://balitbangda.papuabaratprov.go.id/detailpost/kunjungi-koperasi-ebier-suth-duta-besar-norwegia-ingin-melihat-kemajuan-proyek-proyek-yang-didukung-oleh-pemerintah-norwegia.
[3] J. I. Sanda, D. Mayawati, dan K. Wibowo, “Strategi Pengembangan Usaha Kakao pada Koperasi Ebier Suth Cokran Ransiki Kabupaten Manokwari Selatan,” Jurnal Sosio Agri Papua, vol. 13, no. 1, Jun. 2024.
[4] Pengelola Inovasi, “Praktik Baik Pemberdayaan Ekonomi Koperasi Ebier Suth Manokwari Selatan,” Portal Inovasi Desa, 2026. [Daring]. Tersedia: https://inovasi.web.id.
[5] Balitbangda Papua Barat, “Gubernur Papua Barat Resmikan Rumah Produksi Cokelat Ransiki,” 2020. [Daring]. Tersedia: https://balitbangda.papuabaratprov.go.id/detailpost/gubernur-papua-barat-resmikan-rumah-produksi-cokelat-ransiki.
[6] Balitbangda Papua Barat, “Koordinator Mitra Pembangunan Provinsi Papua Barat Melaporkan Perkembangan Produksi Biji Kakao asal Mansel,” 2021. [Daring]. Tersedia: https://balitbangda.papuabaratprov.go.id/detailpost/koordinator-mitra-pembangunan-provinsi-papua-barat-melaporkan-perkembangan-produksi-biji-kakao-asal-mansel.