Ringkasan Inovasi
Desa Botohili Sorake, Kecamatan Luahagundre Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara, memanfaatkan Dana Desa untuk memulihkan kawasan wisata Pantai Sorake yang sempat meredup pascagempa bumi Nias pada 28 Maret 2005 [5]. Melalui musyawarah desa pada September 2017, Kepala Desa Pilipis Jagote bersama warga menyepakati pembangunan wahana bermain anak dan ruang publik di tepi pantai [1]. Fasilitas itu dikelola BUMDes Sorake dengan penyertaan modal awal sekitar Rp45 juta pada 2018 [1]. Permasalahan utama yang hendak dijawab adalah minimnya fasilitas rekreasi keluarga non-selancar, sehingga kunjungan wisatawan domestik tetap sepi meski ombak Sorake dikenal sebagai salah satu terbaik dunia setelah Hawaii [3]. Setahun berjalan, BUMDes Sorake berhasil mendiversifikasi profil pengunjung dari dominasi peselancar mancanegara menuju wisatawan keluarga lokal, sekaligus membuka peluang usaha kuliner dan penginapan warga [1], [2]. Kebangkitan kawasan ini turut sejalan dengan kembalinya penyelenggaraan kejuaraan selancar internasional Nias Pro di Pantai Sorake [6].
Latar Belakang
Desa Botohili Sorake terletak di Kecamatan Luahagundre Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara, dengan kode pos 22868 [7]. Desa ini berbatasan langsung dengan Pantai Lagundri di pesisir barat daya Pulau Nias, yang menghadap langsung ke Samudra Hindia [7]. Pantai Sorake di kawasan ini dikenal luas sebagai salah satu lokasi selancar terbaik dunia, dengan ombak kidal yang disebut menempati peringkat kedua setelah Hawaii [3]. Reputasi ombak ini sudah memikat peselancar mancanegara sejak mulai populer pada dekade 1970-an, jauh sebelum desa mengenal konsep pariwisata keluarga [3].
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 8,6 yang mengguncang Nias pada 28 Maret 2005 memicu tsunami dengan tinggi air pasang sekitar 170 sentimeter di Pantai Lagundri, tetangga langsung Sorake [5]. Guncangan itu turut mengangkat terumbu karang dasar laut di sekitar Sorake, mengubah morfologi pantai menjadi berkarang tajam dan mengurangi kenyamanan visual kawasan bagi pengunjung awam [5]. Stigma kawasan rawan bencana ikut menekan minat kunjungan wisatawan domestik, sementara fasilitas rekreasi keluarga non-selancar di sekitar pantai nyaris tidak tersedia [4]. Kondisi ini membuat perputaran ekonomi warga sekitar pantai bertumpu nyaris sepenuhnya pada segmen peselancar mancanegara yang jumlahnya terbatas [4].
Momentum perubahan muncul saat pemerintah desa menggelar musyawarah desa pada September 2017, mengumpulkan aspirasi warga tentang masa depan pariwisata Sorake [1]. Forum itu menyimpulkan bahwa kelangkaan ruang publik dan wahana rekreasi keluarga menjadi penyebab utama sepinya kunjungan wisatawan lokal, berbeda dari kebutuhan peselancar profesional [1]. Kepala Desa Pilipis Jagote memutuskan mengarahkan sebagian Dana Desa untuk menjawab kebutuhan itu, alih-alih menunggu pemulihan alami minat wisatawan pascabencana [1].
Inovasi yang Diterapkan
Ide membangun wahana bermain anak dan ruang publik lahir dari hasil musyawarah desa 2017, yang menemukan bahwa pengunjung keluarga lokal membutuhkan fasilitas berbeda dari peselancar mancanegara [1]. Pemerintah desa memutuskan memanfaatkan Dana Desa untuk membiayai pembangunan tersebut, alih-alih hanya mengandalkan promosi pariwisata selancar yang sudah berjalan bertahun-tahun. Pendekatan ini menempatkan kebutuhan wisatawan keluarga sebagai peluang pasar baru yang belum tergarap serius oleh pelaku wisata Sorake sebelumnya.
BUMDes Sorake dibentuk sebagai operator resmi yang mengelola wahana bermain anak, rest area, serta zonasi bagi pedagang makanan di tepi pantai [1]. Pemerintah desa menyalurkan penyertaan modal awal sekitar Rp45 juta kepada BUMDes Sorake pada 2018 untuk mendanai pembangunan fasilitas ini [1]. Skema pengelolaan ini memadukan misi mencari pendapatan usaha dengan pemberdayaan pelaku usaha mikro kuliner dan penginapan rakyat di sekitar kawasan [1].
Elemen pembeda inovasi ini terletak pada penggunaan Dana Desa untuk membangun segmen wisata keluarga, bukan sekadar mempercantik fasilitas selancar yang sudah punya pasar sendiri. Pendekatan ini berbeda dari pola pengembangan wisata Sorake sebelumnya yang nyaris seluruhnya berorientasi pada peselancar profesional asing [4]. BUMDes Sorake menjadi simpul tunggal yang menyatukan pengelolaan aset wisata baru dengan pemberdayaan usaha mikro warga sekitar pantai.
Proses Penerapan Inovasi
Tahapan diawali musyawarah desa mufakat pada September 2017 yang menampung keresahan warga soal masa depan pariwisata Sorake pascagempa [1]. Warga mengidentifikasi kelangkaan fasilitas rekreasi non-selancar sebagai penyebab utama sepinya kunjungan wisatawan domestik ke kawasan pantai [1]. Kesepakatan ini menjadi dasar penyusunan rencana pembangunan wahana bermain pada tahun berikutnya.
Pemerintah desa merespons kesepakatan itu dengan menyalurkan penyertaan modal awal sekitar Rp45 juta kepada BUMDes Sorake pada 2018 untuk membangun wahana bermain [1]. Tim pengelola menyusun rencana pembangunan kawasan secara bertahap, dimulai dari fasilitas bermain anak dan ruang publik sederhana di tepi pantai [1]. Pendekatan bertahap ini dipilih agar dana penyertaan modal yang terbatas dapat dikelola secara hati-hati sejak awal.
Proses pembangunan sempat menghadapi penolakan awal dari sebagian pengelola penginapan pesisir yang mengkhawatirkan perubahan karakter kawasan selancar [1]. Dialog berkelanjutan antara pemerintah desa dan pengelola penginapan akhirnya menghasilkan kesepahaman bahwa diversifikasi fasilitas justru memperpanjang durasi menginap wisatawan domestik [1]. Pembelajaran bagi replikator adalah pentingnya melibatkan pelaku usaha pariwisata eksisting sejak tahap perencanaan, bukan setelah pembangunan fisik dimulai.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal berupa penolakan awal sebagian pengelola penginapan pesisir sempat menghambat kelancaran pembangunan wahana bermain [1]. Pemerintah desa memitigasi hal ini lewat dialog persuasif berkelanjutan hingga tercapai kesepahaman bahwa fasilitas keluarga baru dapat memperpanjang masa tinggal wisatawan [1]. Pendekatan dialogis ini dipilih ketimbang memaksakan pembangunan tanpa dukungan pelaku usaha eksisting.
Tantangan eksternal muncul dari cuaca ekstrem berupa angin kencang dan ombak pasang tinggi yang mengancam keawetan material wahana permainan anak di tepi pantai [5]. BUMDes Sorake memitigasi risiko ini dengan mengalokasikan anggaran pemeliharaan berkala agar fasilitas tetap aman digunakan meski terpapar cuaca pesisir. Perawatan rutin ini menjadi pos anggaran tetap dalam operasional BUMDes setiap tahunnya.
Keterbatasan daya tampung lahan parkir pada jalur akses tunggal menuju kawasan pantai kerap memicu kemacetan saat musim puncak liburan [4]. Pengelola bersama pemerintah desa memitigasi kepadatan ini dengan mengatur ulang zonasi kawasan, meski penambahan kapasitas parkir permanen masih menjadi pekerjaan rumah jangka panjang. Persoalan infrastruktur akses ini menjadi catatan penting bagi pengembangan kawasan pada tahap berikutnya.
Faktor Penentu Keberhasilan
Keberhasilan inovasi ini ditopang keberanian Kepala Desa Pilipis Jagote mengalokasikan Dana Desa untuk sektor wisata, keputusan anggaran yang tidak selalu populer di tengah kebutuhan pembangunan dasar desa lain [1]. Dukungan itu bersinergi dengan partisipasi gotong royong warga dalam menjaga kebersihan dan keamanan wahana baru [1]. Sinergi antara kepemimpinan desa dan partisipasi warga inilah yang menjaga wahana bermain tetap terawat sejak awal beroperasi.
Reputasi global ombak Sorake yang sudah dikenal sejak dekade 1970-an mempermudah promosi kawasan wisata terpadu ini hingga ke tingkat nasional [3]. Penyelenggaraan kejuaraan selancar internasional Nias Pro di kawasan yang sama turut mempercepat pemulihan citra positif Sorake di mata wisatawan pascabencana [6]. Modal reputasi ini memberi daya ungkit promosi yang tidak perlu dibangun dari nol oleh pemerintah desa maupun BUMDes.
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum pembangunan wahana bermain, kunjungan wisatawan ke Pantai Sorake didominasi peselancar mancanegara, sementara warga lokal jarang berkunjung karena minimnya fasilitas rekreasi keluarga [4]. Setelah BUMDes Sorake mengelola wahana bermain dan ruang publik sejak 2018, kawasan pesisir mulai ramai dikunjungi warga lokal terutama pada akhir pekan [1]. Diversifikasi profil pengunjung ini menjadi penanda kuantitatif paling jelas dari perubahan pola kunjungan wisata Sorake pascainovasi. Perubahan ini berlangsung dalam rentang waktu kurang dari setahun sejak wahana bermain mulai beroperasi.
Pendapatan usaha mikro warga di sektor kuliner dan penyewaan penginapan rakyat meningkat seiring bertambahnya kunjungan wisatawan keluarga [2]. BUMDes Sorake turut menyumbang pos Pendapatan Asli Desa yang dapat dipakai membiayai program pembangunan fasilitas publik lainnya [1]. Dampak spillover yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal adalah kembalinya penyelenggaraan Nias Pro, kejuaraan selancar internasional yang diikuti ratusan peselancar mancanegara [6].
Dokumentasi resmi program tidak merinci angka pasti kenaikan jumlah kunjungan maupun pendapatan usaha mikro secara agregat. Nilai penyertaan modal awal sekitar Rp45 juta pada 2018 tetap menjadi data kuantitatif paling eksplisit yang tersedia dari sumber resmi tentang program ini [1]. Keterbatasan data ini menjadi catatan penting bagi desa yang ingin mereplikasi model serupa agar mendokumentasikan dampak secara lebih terukur sejak tahap awal.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Program wahana bermain dan ruang publik Pantai Sorake dibiayai dari Dana Desa dengan penyertaan modal awal sekitar Rp45 juta kepada BUMDes Sorake pada 2018 [1]. Model bisnis BUMDes bertumpu pada pendapatan sewa fasilitas bermain serta retribusi zonasi bagi pedagang makanan di sekitar kawasan pantai [1]. Pendekatan ini menjadikan aset wisata milik desa sebagai sumber pendapatan langsung, bukan sekadar fasilitas publik gratis tanpa nilai ekonomi.
Strategi keberlanjutan pembiayaan diarahkan melalui penyisihan laba bersih usaha BUMDes untuk dana perawatan berkala infrastruktur wisata [1]. Skema ini dirancang agar BUMDes tidak bergantung penuh pada suntikan anggaran desa setiap tahun untuk merawat wahana yang sudah dibangun [1]. Dokumentasi program tidak merinci target pendapatan asli BUMDes secara spesifik, sehingga skema iuran atau retribusi lanjutan masih berpotensi dikembangkan lebih rinci.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan menyasar segmen wisata keluarga, bukan sekadar mempercantik fasilitas selancar, terbukti menjadi langkah kunci yang membuka pasar baru bagi kawasan Sorake. Keterlibatan BUMDes sebagai operator tunggal turut memudahkan konsolidasi pengelolaan aset wisata yang sebelumnya tersebar di antara pelaku usaha perorangan. Kombinasi kedua keputusan ini menjadi fondasi yang memungkinkan kawasan pantai berkembang tanpa mengorbankan segmen selancar yang sudah mapan.
Jika memulai dari awal, pengelola idealnya melibatkan pemilik penginapan pesisir sejak tahap perencanaan, bukan setelah pembangunan fisik wahana dimulai [1]. Penolakan awal yang sempat muncul menunjukkan pentingnya komunikasi dini dengan pelaku usaha pariwisata eksisting sebelum mengubah tata ruang kawasan bersama. Pelibatan sejak awal berpotensi memangkas waktu dialog persuasif yang pada praktiknya memakan proses cukup panjang di Sorake.
Desa pesisir lain yang ingin menerapkan inovasi serupa disarankan memulai dari musyawarah warga untuk memetakan kebutuhan segmen wisatawan yang belum terlayani. Memilih fasilitas pelengkap yang tidak bersaing langsung dengan daya tarik utama, seperti wahana keluarga di kawasan selancar ini, juga disarankan. Pendekatan pelengkap ini memperkuat ekosistem wisata yang sudah ada, alih-alih menciptakan persaingan baru antarsegmen wisatawan.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan BUMDes Sorake direncanakan melalui regulasi peraturan desa tentang penyisihan laba bersih usaha untuk dana perawatan berkala infrastruktur pariwisata [1]. Skema ini menjamin kelangsungan fungsi wahana permainan tanpa harus bergantung penuh pada bantuan modal anggaran pemerintah setiap tahun [1]. Regulasi tertulis semacam ini memberi kepastian pembiayaan perawatan yang tidak bergantung pada kebijakan anggaran desa yang bisa berubah tiap tahun.
Mekanisme regenerasi kepemimpinan menjadi perhatian penting mengingat keberhasilan awal program ini banyak ditopang keputusan personal Kepala Desa Pilipis Jagote mengalokasikan Dana Desa untuk wisata. Pelembagaan BUMDes Sorake sebagai unit usaha permanen diharapkan menjaga keberlanjutan program meski kepemimpinan desa berganti di masa depan. Penguatan kelembagaan ini penting agar keberlanjutan wisata Sorake tidak bergantung pada satu figur pemimpin desa saja.
Pengelola BUMDes terus menjalin kemitraan dengan komunitas pemuda dan pegiat digital lokal untuk mempromosikan konten wisata Sorake secara mandiri [3]. Pengembangan paket edukasi budaya bahari ramah anak turut dipersiapkan agar tingkat kunjungan tetap konsisten sepanjang tahun, tidak hanya bergantung pada musim kejuaraan selancar. Diversifikasi promosi dan paket wisata ini diharapkan menjadi sumber pendapatan mandiri tambahan bagi BUMDes ke depan.
Kontribusi Pencapaian SDGs
BUMDes Sorake berkontribusi pada sedikitnya empat tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari pengentasan kemiskinan hingga kemitraan multipihak pariwisata. Empat tujuan ini dipilih karena kontribusinya paling langsung terlihat dalam praktik pengelolaan wisata Pantai Sorake sehari-hari. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang tersedia dari sumber yang ada.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Diversifikasi wisatawan keluarga membuka peluang usaha mikro kuliner dan penginapan rakyat bagi warga sekitar Pantai Sorake. | Pendapatan usaha mikro kuliner dan penginapan meningkat sejak wahana bermain beroperasi pada 2018. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | BUMDes Sorake membuka lapangan usaha baru berupa pengelolaan wahana bermain, rest area, dan zonasi pedagang makanan. | Penyertaan modal awal sekitar Rp45 juta pada 2018 mengaktifkan unit usaha rekreasi BUMDes Sorake. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan | Penataan ruang publik pantai memberi akses rekreasi inklusif bagi wisatawan keluarga tanpa mengorbankan fungsi kawasan selancar. | Wahana bermain anak dan rest area tersedia di kawasan Pantai Sorake sejak 2018. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi pemerintah desa, BUMDes, pengelola penginapan, dan penyelenggara Nias Pro menunjukkan model kemitraan multipihak pariwisata desa. | Kejuaraan selancar internasional Nias Pro digelar berkala di Pantai Sorake sejak 2018. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Prasyarat minimum bagi desa pesisir lain ada tiga. Pertama, daya tarik wisata alam yang sudah punya reputasi, seperti ombak selancar pada kasus Sorake. Kedua, kelembagaan BUMDes yang siap menjadi operator resmi aset wisata baru. Ketiga, kesediaan menggelar musyawarah warga untuk memetakan segmen wisatawan yang belum terlayani.
Dokumentasi program tidak merinci total biaya pembangunan kawasan secara spesifik, sehingga calon replikator dapat mengacu pada nilai penyertaan modal awal sekitar Rp45 juta dari Dana Desa sebagai titik awal estimasi [1]. Fase dari musyawarah desa pada September 2017 hingga wahana bermain mulai beroperasi pada 2018 berlangsung sekitar satu tahun. Model ini dapat diadaptasi desa pesisir lain dengan mengganti wahana bermain anak sesuai karakteristik segmen wisatawan yang belum terlayani di kawasan masing-masing.
BUMDes Sorake berpeluang memperluas manfaat lintas desa dengan membangun jejaring kluster pariwisata antardesa di sepanjang pesisir Nias Selatan. Kluster ini dapat memadukan potensi ombak selancar dengan wisata petualangan alam pedalaman Pulau Nias yang belum tergarap maksimal. Kolaborasi kawasan semacam ini dapat memperkuat posisi tawar pariwisata daerah dalam rantai industri pariwisata nasional secara lebih luas.
Daftar Pustaka
[1] Detik Finance, “Pantai Sorake Dipercantik Pakai Dana Desa, Ini Hasilnya,” finance.detik.com, 15 Sep. 2019. [Daring]. Tersedia: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4707422/pantai-sorake-dipercantik-pakai-dana-desa-ini-hasilnya
[2] T. Lase, “Objek Wisata Pantai Sorake di Desa Botohilitano Kabupaten Nias Selatan Tahun 1980-2005,” Skripsi, Universitas Sumatera Utara, 2020. [Daring]. Tersedia: https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/26485
[3] Superlive, “Sorake dan Lagundri, Punya Kita, Surfing Kelas Internasional,” superlive.id, 26 Feb. 2026. [Daring]. Tersedia: https://superlive.id/superadventure/artikel/wilderness/sorake-dan-lagundri-punya-kita-surfing-kelas-internasional
[4] R. Prasetyo, “Persepsi Wisatawan terhadap Objek Wisata Pantai Sorake Kabupaten Nias Selatan,” Tesis, Universitas Diponegoro, 2015. [Daring]. Tersedia: https://eprints.undip.ac.id/72813/2/Bab_I.pdf
[5] Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, “Mengenang Gempa Nias 2005,” Geomagz, geomagz.geologi.esdm.go.id. [Daring]. Tersedia: http://geomagz.geologi.esdm.go.id/mengenang-gempa-nias-2005/
[6] RRI, “Kejuaraan Surfing Internasional di Pantai Sorake, Nias Selatan,” rri.co.id. [Daring]. Tersedia: https://rri.co.id/wisata/1599225/kejuaraan-surfing-internasional-di-pantai-sorake-nias-selatan
[7] Wikipedia Bahasa Indonesia, “Botohili Sorake, Luahagundre Maniamolo, Nias Selatan,” id.wikipedia.org. [Daring]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Botohili_Sorake,_Luahagundre_Maniamolo,_Nias_Selatan