Ringkasan Inovasi
Desa Kumbayau, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat, mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kumbayau Maju Bersama sejak tahun 2017 di bawah kepemimpinan Direktur F. Ferdi Datuk Dinagari. BUMDes ini membangun empat unit usaha sekaligus, yakni Bank Desa, Pengelolaan Hasil Bumi, Perdagangan Desa, dan Wisata, untuk menjawab kenyataan bahwa desa mereka nyaris tidak memiliki sumber daya alam unggulan [1]. Direktur Ferdi menyebut keterbatasan itu secara terbuka, lalu memilih mengandalkan sumber daya manusia yang mumpuni dan program social benefit sebagai modal utama pengembangan usaha [2]. Sejak Agustus 2018, BUMDes Kumbayau menjalin kemitraan dengan PT Pos Indonesia Regional Sumatera Barat, Riau, dan Jambi [1]. Kemitraan ini mengekspor pinang olahan ke India, Nepal, dan Turki dengan volume minimal dua puluh ton setiap pengiriman [3]. Terobosan ini lahir dari kebutuhan mendesak menciptakan sumber pendapatan baru bagi warga yang sebelumnya hanya menjual pinang mentah tanpa nilai tambah. Pencapaian tersebut mengantarkan BUMDes Kumbayau Maju Bersama menyandang predikat BUMDes terbaik tingkat nasional dari Provinsi Sumatera Barat sekaligus rujukan percontohan bagi pengelola dana desa lainnya [4], [5].
Latar Belakang
Desa Kumbayau terletak di Kecamatan Talawi, salah satu dari empat kecamatan di Kota Sawahlunto, kota kecil bekas kawasan tambang batu bara Ombilin peninggalan era kolonial di Sumatera Barat. Warga desa umumnya bermata pencaharian sebagai petani lahan kering, dengan pinang sebagai salah satu tanaman yang tumbuh di pekarangan tanpa budi daya intensif. Berbeda dari daerah lain di Sumatera Barat yang kaya hasil bumi, Desa Kumbayau justru dikenal minim sumber daya alam unggulan, sebuah kenyataan yang diakui terbuka oleh Direktur BUMDes Ferdi Datuk Dinagari [2].
Sebelum BUMDes berdiri, pinang hasil kebun warga umumnya dijual mentah kepada pengepul dengan harga rendah tanpa proses pengolahan maupun sortasi standar. Warga desa juga bergantung pada skema pinjaman informal untuk modal usaha kecil, karena akses ke lembaga keuangan formal umumnya terbatas bagi badan usaha desa berskala kecil semacam BUMNag [4], [5]. Kondisi ini sejalan dengan tantangan umum yang dihadapi badan usaha milik nagari di Sumatera Barat, yakni keterbatasan modal, minimnya sumber daya manusia wirausaha, dan dukungan pemerintah yang belum konsisten [4]. Keterbatasan itulah yang menjadi titik berangkat ketika Desa Kumbayau memutuskan mendirikan BUMDes Kumbayau Maju Bersama pada 2017.
Momentum bergerak datang ketika pengurus BUMDes yang baru terbentuk menyadari bahwa mengandalkan satu unit usaha simpan pinjam saja tidak akan cukup mengangkat perekonomian desa yang minim sumber daya alam. Ferdi Datuk Dinagari bersama pengurus memutuskan membangun empat unit usaha sekaligus sejak awal, yakni Bank Desa, Pengelolaan Hasil Bumi, Perdagangan Desa, dan Wisata, alih-alih membangun satu demi satu secara bertahap [2]. Keputusan menjadikan pinang sebagai komoditas andalan Unit Pengelolaan Hasil Bumi diambil karena tanaman itu sudah tumbuh di hampir setiap pekarangan warga, sehingga tidak memerlukan investasi lahan baru untuk memulai. Sejak titik itu, pengurus BUMDes mulai mencari celah pasar yang lebih menguntungkan daripada sekadar menjual pinang mentah kepada pengepul lokal.
Inovasi yang Diterapkan
Ide mengekspor pinang lahir dari pertanyaan sederhana yang diajukan pengurus BUMDes, yakni mengapa komoditas yang tumbuh melimpah di pekarangan warga hanya laku murah di tingkat pengepul lokal. Penelusuran pengurus menemukan bahwa permintaan pinang dunia, terutama dari India, Nepal, dan Turki, cukup tinggi untuk kebutuhan industri pengunyah sirih dan bahan baku farmasi tradisional [1]. Dari titik itu, BUMDes Kumbayau Maju Bersama merumuskan strategi memotong rantai pengepul dan menjual langsung pinang olahan ke pasar ekspor melalui Unit Perdagangan Desa.
Inovasi yang dikembangkan berupa sistem pengumpulan, pengolahan, dan pengemasan pinang milik warga melalui satu pintu manajemen BUMDes, sebelum dikirim ke pembeli luar negeri dengan dokumen ekspor resmi. BUMDes menjalin kemitraan dengan PT Pos Indonesia Regional Sumatera Barat, Riau, dan Jambi untuk mengurus kelengkapan invoice, packing list, shipping instruction, dan material safety data sheet setiap pengiriman [1], [3]. Skema ini memungkinkan BUMDes memenuhi permintaan pembeli asing yang mensyaratkan volume minimal dua puluh ton pinang pada setiap kloter pengiriman.
Elemen yang membedakan inovasi ini dari praktik jual beli pinang konvensional adalah posisi BUMDes sebagai satu pintu yang menyatukan hasil panen ratusan warga sekaligus mengurus birokrasi ekspor yang rumit bagi petani perorangan. Model ini berbeda dari pola lama, karena petani individu tidak mungkin memenuhi syarat volume minimal dan dokumen ekspor pembeli internasional seorang diri. BUMDes juga memadukan unit usaha Bank Desa yang menerima pinang sebagai alat cicilan utang, sehingga rantai pasok pinang untuk ekspor sekaligus berfungsi sebagai mekanisme pelunasan pinjaman warga [2].
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai pada 2017 saat BUMDes Kumbayau Maju Bersama resmi dibentuk dengan Unit Pengelolaan Hasil Bumi dan Unit Perdagangan Desa sebagai penopang rencana ekspor. Pengurus lebih dahulu memetakan potensi panen pinang warga, sebelum mencari mitra logistik yang sanggup menangani pengiriman dalam volume besar ke luar negeri. Penjajakan itu membuahkan kerja sama dengan PT Pos Indonesia Regional Sumatera Barat, Riau, dan Jambi, yang diumumkan ke publik pada Agustus 2018 [1].
Tahap penyiapan dokumen ekspor tidak berjalan mulus pada percobaan pertamanya, karena kelengkapan material safety data sheet dan packing list belum memenuhi standar yang disyaratkan mitra logistik maupun negara tujuan. Pengurus BUMDes harus menyusun ulang dokumen tersebut bersama PT Pos Indonesia, sebelum pengiriman benar-benar disetujui untuk berjalan sesuai jadwal [1], [3]. Koreksi ini menjadi pembelajaran penting, bahwa kesiapan dokumen ekspor kerap menjadi hambatan tersembunyi yang lebih menentukan ketimbang ketersediaan komoditas itu sendiri.
Direktur Ferdi menegaskan kesiapan BUMDes memenuhi permintaan pembeli begitu dokumen rampung, dengan menyatakan “Insyaallah, kami siap memenuhi permintaan tersebut” ketika diwawancarai media lokal pada 2018 [1]. Wawasan berharga bagi replikator adalah pentingnya menjajaki mitra logistik berpengalaman ekspor sejak tahap awal, alih-alih menunggu komoditas siap terlebih dahulu baru mengurus dokumen. BUMDes lain yang ingin merintis ekspor komoditas serupa disarankan menyiapkan kapasitas administrasi dokumen bersamaan dengan kapasitas produksi, bukan secara berurutan.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal pertama adalah keterbatasan sumber daya manusia wirausaha yang mumpuni mengelola bisnis lintas negara, kendala umum yang dihadapi hampir seluruh badan usaha milik nagari di Sumatera Barat [4]. BUMDes Kumbayau memitigasi kendala ini dengan memusatkan kepemimpinan strategis pada Direktur Ferdi Datuk Dinagari, yang secara aktif membangun jaringan dengan mitra logistik dan pemerintah provinsi. Tantangan internal kedua adalah keterbatasan modal untuk membangun empat unit usaha sekaligus sejak 2017. BUMDes menjawab tantangan itu melalui skema Bank Desa dengan bagi hasil lima persen dari nilai permodalan [2], sehingga modal berputar dari dalam komunitas sendiri.
Tantangan eksternal utama adalah syarat volume dan dokumen ekspor yang ketat dari pembeli India, Nepal, dan Turki, termasuk kewajiban memenuhi minimal dua puluh ton pinang pada setiap pengiriman [1]. BUMDes memitigasi tantangan ini dengan menyatukan hasil panen banyak warga melalui Unit Pengelolaan Hasil Bumi, alih-alih mengandalkan produksi satu kebun saja yang mustahil memenuhi kuota tersebut. Tantangan eksternal kedua adalah rumitnya birokrasi dan dokumen ekspor internasional, yang diatasi lewat kemitraan resmi dengan PT Pos Indonesia sebagai penyedia jasa kepabeanan dan logistik berpengalaman [1], [3].
Begitu permintaan ekspor meningkat, kapasitas panen pinang di sekitar Desa Kumbayau berpotensi tidak mencukupi kuota pengiriman rutin dalam jangka panjang. BUMDes memitigasi risiko ini dengan menjalin kemitraan pengadaan bahan baku bersama desa-desa lain di sekitar Sawahlunto, Pariaman, Mentawai, hingga Bengkulu [2]. Kemitraan lintas wilayah ini memastikan pasokan pinang tidak bergantung pada satu wilayah panen saja.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah kepemimpinan Direktur Ferdi Datuk Dinagari sejak BUMDes berdiri tahun 2017. Ia berani merancang empat unit usaha sekaligus sejak awal, alih-alih membangun satu unit sederhana lebih dahulu. Keberanian membaca peluang ekspor komoditas yang selama ini dianggap remeh, yakni pinang pekarangan, menjadi fondasi strategi bisnis BUMDes Kumbayau Maju Bersama [2].
Faktor kedua adalah kemitraan strategis dengan PT Pos Indonesia Regional Sumatera Barat, Riau, dan Jambi [1], [3]. Kemitraan ini mengisi celah kapasitas logistik dan dokumen ekspor yang tidak mungkin dipenuhi BUMDes seorang diri. Dukungan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sumatera Barat turut memperkuat posisi Kumbayau sebagai rujukan BUMNag maju yang telah melakukan ekspor-impor pinang dari desanya sendiri [4], [5].
Modal sosial yang mengikat partisipasi warga bersumber dari skema Bank Desa [2]. Peminjam dapat melunasi utang dengan komoditas pertanian seperti pinang, kakao, kemiri, dan kelapa, bukan hanya uang tunai. Pendekatan ini membuat warga merasa dilibatkan langsung dalam rantai pasok ekspor, karena kewajiban finansial mereka pada BUMDes terhubung langsung dengan hasil kebun yang mereka miliki sehari-hari.
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum BUMDes berdiri, warga Desa Kumbayau umumnya menjual pinang mentah kepada pengepul lokal tanpa proses pengolahan, dengan harga jual yang sepenuhnya ditentukan pembeli perantara. Setelah BUMDes Kumbayau Maju Bersama membangun Unit Pengelolaan Hasil Bumi dan menjalin kemitraan ekspor dengan PT Pos Indonesia pada 2018, keadaan itu berubah [1]. Pinang warga mulai terserap dalam skema ekspor terstruktur dengan volume minimal dua puluh ton setiap pengiriman ke India, Nepal, dan Turki [3]. Perubahan paling terukur adalah beralihnya posisi tawar petani, dari sekadar penjual mentah menjadi pemasok dalam rantai ekspor formal yang dikelola BUMDes milik mereka sendiri.
Secara kualitatif, pencapaian ekspor ini mengubah cara pandang warga terhadap pinang yang sebelumnya dianggap komoditas sampingan bernilai rendah. Pengakuan sebagai BUMDes terbaik tingkat nasional dari Sumatera Barat turut menumbuhkan kebanggaan kolektif warga dan pengurus, sekaligus menempatkan Kumbayau sebagai rujukan bagi pemerintah provinsi dalam mendorong BUMNag lain agar lebih berani berinovasi [4], [5]. Dampak spillover yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal adalah berkembangnya tiga unit usaha lain, yaitu Bank Desa, Perdagangan Desa, dan Wisata, yang saling menopang pendapatan BUMDes di luar musim panen pinang [2].
Dokumentasi program tidak merinci angka pasti kenaikan pendapatan warga secara agregat, maupun jumlah petani yang terlibat langsung dalam rantai pasok ekspor. Angka volume ekspor minimal dua puluh ton per pengiriman tetap menjadi indikator kuantitatif paling eksplisit yang tersedia dari sumber resmi dan pemberitaan media tentang program ini [1], [3]. Pengakuan sebagai BUMDes terbaik tingkat nasional dari Sumatera Barat tetap menjadi bukti kualitatif paling kuat atas keberhasilan program ini di mata pemerintah provinsi [4], [5].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal awal BUMDes Kumbayau Maju Bersama bersumber dari penyertaan modal desa saat pendiriannya pada 2017 [2]. Modal itu kemudian diputar melalui skema Bank Desa, dengan model bagi hasil sebesar lima persen dari nilai permodalan setiap pinjaman usaha. Model bisnis unit ekspor pinang berjalan sebagai bagian dari Unit Pengelolaan Hasil Bumi dan Unit Perdagangan Desa. Pendapatannya berasal dari selisih harga beli pinang dari warga dan harga jual ke pembeli ekspor, setelah dikurangi biaya logistik PT Pos Indonesia.
Strategi pembiayaan lanjutan BUMDes tidak bergantung pada satu unit usaha saja [2]. Bank Desa menyediakan pendapatan bagi hasil rutin dari pinjaman warga, sementara Unit Wisata membuka sumber pendapatan tambahan di luar sektor pertanian. Skema pelunasan pinjaman Bank Desa dengan komoditas pertanian turut memastikan pasokan pinang, kakao, kemiri, dan kelapa tetap mengalir ke BUMDes. Mekanisme ini berjalan tanpa memerlukan suntikan modal tunai tambahan dari luar setiap musim.
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan membangun empat unit usaha sekaligus sejak awal, alih-alih satu unit sederhana, terbukti menjadi keputusan kunci yang tepat. Keempat unit usaha itu saling menopang pendapatan BUMDes sepanjang tahun. Pemilihan pinang sebagai komoditas ekspor juga tepat, karena tanaman itu sudah tumbuh di pekarangan warga. BUMDes pun tidak perlu berinvestasi besar pada lahan maupun bibit baru.
Jika memulai dari awal, pengurus BUMDes mengakui idealnya kesiapan dokumen ekspor seperti material safety data sheet dan packing list disiapkan bersamaan dengan penjajakan pembeli. Langkah itu lebih baik daripada menyusun dokumen setelah kesepakatan volume dan harga tercapai. Menunda kesiapan dokumen sempat menghambat kelancaran pengiriman pertama. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi BUMDes lain yang berencana menembus pasar ekspor.
Desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa disarankan memulai dari komoditas yang sudah tersedia melimpah di pekarangan warga. Pilihan ini lebih realistis daripada mencari komoditas baru yang memerlukan investasi besar. Menjalin kemitraan dengan penyedia jasa logistik berpengalaman ekspor, seperti PT Pos Indonesia, sejak tahap perencanaan juga disarankan. Langkah ini membuat BUMDes tidak perlu mempelajari birokrasi ekspor sendirian dari nol.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan unit ekspor pinang BUMDes Kumbayau Maju Bersama ditopang oleh diversifikasi ke tiga unit usaha lain, yakni Bank Desa, Perdagangan Desa, dan Wisata [2]. Diversifikasi ini membuat BUMDes tidak sepenuhnya bergantung pada permintaan ekspor pinang yang fluktuatif. Perluasan kemitraan pengadaan bahan baku ke desa-desa di Pariaman, Mentawai, dan Bengkulu turut menjaga pasokan pinang tetap stabil, meski panen lokal Kumbayau terbatas.
Mekanisme regenerasi kepemimpinan menjadi perhatian penting bagi keberlanjutan BUMDes ini. Keberhasilan yang dicapai selama ini masih sangat bertumpu pada inisiatif dan jaringan pribadi Direktur Ferdi Datuk Dinagari. Penguatan empat unit usaha sebagai struktur kelembagaan permanen, bukan sekadar proyek personal direktur, diharapkan menjaga kelangsungan BUMDes meski kepemimpinan berganti di masa depan.
Skema Bank Desa dengan bagi hasil lima persen dan opsi pelunasan pinjaman lewat komoditas pertanian dirancang menjadi mesin pendapatan mandiri [2]. Mekanisme ini membuat BUMDes tidak bergantung pada dana hibah eksternal untuk terus beroperasi. Selama warga terus meminjam dan melunasi lewat hasil kebun, siklus permodalan sekaligus pasokan komoditas ekspor BUMDes akan terus berjalan tanpa memerlukan suntikan dana desa tambahan setiap tahun.
Kontribusi Pencapaian SDGs
BUMDes Kumbayau Maju Bersama berkontribusi pada sedikitnya empat tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari pengentasan kemiskinan hingga penguatan kemitraan lintas lembaga. Empat tujuan ini dipilih karena kontribusinya paling langsung terlihat dalam praktik BUMDes Kumbayau Maju Bersama sehari-hari. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang dapat dipantau pengelola program maupun pemerintah daerah.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
|---|---|---|
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Ekspor pinang terstruktur memindahkan posisi warga dari penjual pinang mentah kepada pengepul menjadi pemasok dalam rantai ekspor formal yang dikelola BUMDes milik mereka sendiri. | Minimal 20 ton pinang per pengiriman terserap dari hasil kebun warga menuju pasar ekspor sejak 2018. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Empat unit usaha BUMDes, yaitu Bank Desa, Pengelolaan Hasil Bumi, Perdagangan Desa, dan Wisata, membuka lapangan kerja dan aktivitas ekonomi baru bagi warga Desa Kumbayau. | Empat unit usaha aktif berjalan sejak BUMDes Kumbayau Maju Bersama berdiri pada 2017. |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | BUMDes membangun rantai nilai ekspor komoditas pekarangan pertama di desanya yang terintegrasi dengan mitra logistik badan usaha milik negara. | Kemitraan resmi dokumen dan logistik ekspor dengan PT Pos Indonesia berjalan sejak Agustus 2018. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi BUMDes, PT Pos Indonesia, dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, ditambah kemitraan pengadaan bahan baku antar-desa, menunjukkan model kemitraan multipihak untuk ekonomi desa. | Kemitraan pengadaan bahan baku terjalin dengan desa-desa di Sawahlunto, Pariaman, Mentawai, dan Bengkulu. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Prasyarat minimum bagi desa lain yang ingin mereplikasi model ini ada tiga. Pertama, ketersediaan komoditas pertanian yang sudah tumbuh di wilayah desa. Kedua, kepemilikan lembaga BUMDes atau BUMNag dengan badan hukum yang jelas. Ketiga, kesediaan menjajaki kemitraan logistik berpengalaman ekspor sejak tahap perencanaan awal.
Dokumentasi program tidak merinci besaran investasi awal secara spesifik, sehingga desa calon replikator perlu mengacu pada skema penyertaan modal desa saat pendirian BUMDes Kumbayau tahun 2017 sebagai titik awal estimasi. Fase penjajakan kemitraan ekspor dan penyiapan dokumen hingga pengiriman pertama berlangsung sekitar satu tahun, terhitung sejak BUMDes berdiri hingga kerja sama dengan PT Pos Indonesia diumumkan pada 2018 [1]. Model ini dapat diadaptasi desa lain dengan mengganti pinang dengan komoditas pekarangan lain yang memiliki permintaan pasar ekspor serupa, seperti kakao, kemiri, atau kelapa, yang juga diterima Bank Desa Kumbayau sebagai alat pelunasan pinjaman [2].
BUMDes Kumbayau memperluas manfaat lintas desa melalui kemitraan pengadaan bahan baku dengan desa-desa di Pariaman, Mentawai, dan Bengkulu [2]. Kemitraan ini membuat desa pemasok turut menikmati akses pasar ekspor, tanpa harus membangun unit ekspor sendiri. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat turut mendorong replikasi model BUMNag berbasis ekspor komoditas pekarangan ini. Model ini diharapkan menjadi standar baru pemberdayaan ekonomi desa di provinsi tersebut [4], [5].
Daftar Pustaka
[1] Redaksi Tribun Sumbar, “Hebat…BUMDes Kumbayau Sawahlunto Ekspor Pinang ke India, Nepal dan Turki,” tribunsumbar.com, 3 Agu. 2018. [Daring]. Tersedia: https://www.tribunsumbar.com/hebat-bumdes-kumbayau-sawahlunto-ekspor-pinang-ke-india-nepal-dan-turki
[2] Redaksi Bumdes.id, “Mengenal Lebih Dekat BUMNag Kumbayau Maju Bersama, BUMDes yang Namanya Semakin Mendunia,” bumdes.id. [Daring]. Tersedia: https://bumdes.id/artikel/mengenal-lebih-dekat-bumnag-kumbayau-maju-bersama-bumdes-yang-namanya-semakin-mendunia
[3] Langkan ID, “Hasil Komoditas Pertanian Bumdes Kumbayau Diekspor ke India, Turki dan Nepal,” kumparan.com, 3 Agu. 2018, diperbarui 14 Mar. 2019. [Daring]. Tersedia: https://kumparan.com/langkanid/hasil-komoditas-pertanian-bumdes-kumbayau-dieskpor-ke-india-turki-dan-nepal-27431110790559356
[4] Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sumatera Barat, “BUMNag Diharapkan sebagai Sumber Pembiayaan Pemerintahan Nagari/Desa,” sumbarprov.go.id. [Daring]. Tersedia: https://sumbarprov.go.id/home/news/17010-bumnag-diharapkan-sebagai-sumber-pembiayaan-pemerintahan-nagari-desa.html
[5] Redaksi Jurnal Sumbar, “Kadis PMD Sumbar: BUMNag Diharap Bisa Sebagai Sumber Pembiayaan Nagari,” jurnalsumbar.com, 25 Jun. 2019. [Daring]. Tersedia: https://jurnalsumbar.com/2019/06/kadis-pmd-sumbar-bumnag-diharap-bisa-sebagai-sumber-pembiayaan-nagari/