Ringkasan Inovasi
Pemerintah Kabupaten Tolikara di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan, menyelenggarakan Festival Etnik Religi Tolikara (FERT) perdana pada 12–13 Agustus 2026 di Lapangan Merah Putih Karubaga sebagai platform strategis yang mempertemukan dimensi keimanan, pelestarian budaya, dan pengembangan ekonomi kreatif masyarakat [1][2]. Bupati Willem Wandik bersama Dekranasda dan TP-PKK di bawah kepemimpinan Ny. Elisabet Y. Flassy Wandik merancang festival ini untuk menjawab tantangan keterisolasian ekonomi di wilayah pegunungan dengan menghadirkan 18 stan UMKM yang memamerkan 23 motif batik khas Tolikara, kerajinan noken, mahkota adat, ukiran, lukisan, dan kopi lokal. Melalui FERT, Tolikara menegaskan visi pembangunan 2024–2029 sebagai Pusat Kerohanian dan Pusat Kebudayaan, dengan dampak langsung berupa terbukanya peluang ekonomi bagi pelaku UMKM lokal dan bangkitnya kesadaran generasi muda untuk menjadi pencipta karya bernilai jual [3][4].
Latar Belakang
Kabupaten Tolikara membentang seluas sekitar 14.564 kilometer persegi di jantung Provinsi Papua Pegunungan dengan ibu kota di Karubaga. Wilayah yang dihuni oleh sekitar 251.661 jiwa ini terbagi menjadi 46 distrik, 4 kelurahan, dan 541 kampung yang tersebar di bentang alam pegunungan dengan ketinggian rata-rata di atas seribu meter dari permukaan laut. Masyarakat Tolikara yang didominasi oleh Suku Lani menggantungkan kehidupan pada pertanian tradisional dengan ubi jalar sebagai komoditas utama dan babi sebagai ternak yang memiliki nilai budaya tinggi. Kekayaan alam berupa buah merah, kelapa hutan, anggrek Papua, dan kopi arabika menjadi potensi unggulan yang belum sepenuhnya tergarap secara optimal [5][6].
Di balik potensi yang melimpah, Tolikara menghadapi tantangan serius dalam mengembangkan ekonomi masyarakat. Isolasi geografis wilayah pegunungan membuat biaya distribusi barang sangat tinggi dan akses pasar bagi produk lokal sangat terbatas. Sebelum penyelenggaraan festival, belum ada satu pun platform berskala kabupaten yang secara khusus memfasilitasi pelaku UMKM untuk memamerkan dan memasarkan produk mereka. Dekranasda Kabupaten Tolikara mencatat bahwa meskipun telah berhasil mengembangkan 23 motif kain khas daerah, sebagian besar masyarakat dan ASN belum mengenal — apalagi membeli — produk tersebut. Sementara itu, generasi muda semakin jauh dari praktik kerajinan tradisional karena tidak melihat nilai ekonomi dari keterampilan yang diwariskan leluhur [7][1].
Momentum perubahan muncul ketika Bupati Willem Wandik dan Wakil Bupati Yotam Wonda menetapkan visi pembangunan Tolikara 2024–2029 sebagai “Pusat Kerohanian dan Pusat Kebudayaan.” Visi ini menuntut sebuah langkah nyata yang mampu menerjemahkan narasi besar menjadi aksi konkret bagi masyarakat. Kebutuhan akan sebuah panggung yang menyatukan seluruh elemen — iman, budaya, pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif — dalam satu momentum besar menjadi pemicu lahirnya gagasan Festival Etnik Religi Tolikara. Peristiwa ini menjadi titik balik bagi Tolikara untuk membuktikan bahwa wilayah pegunungan yang selama ini identik dengan keterbatasan mampu melahirkan inovasi pemberdayaan ekonomi yang bermartabat [8][3].
Inovasi yang Diterapkan
Festival Etnik Religi Tolikara (FERT) lahir dari gagasan kepala daerah untuk menciptakan sebuah platform multidimensi yang tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan seni, melainkan wahana strategis untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat melalui identitas budaya dan nilai keimanan. Ide ini berangkat dari kesadaran bahwa Tolikara memiliki kekayaan budaya yang luar biasa — mulai dari tarian tradisional, ratapan Lendawai, hingga kerajinan tangan — tetapi belum pernah memiliki satu momentum besar yang mengemas seluruh potensi tersebut menjadi daya ungkit ekonomi. FERT dirancang sebagai jawaban atas kekosongan tersebut dengan pendekatan yang berbeda dari festival budaya pada umumnya [1][2].
Inovasi utama FERT terletak pada integrasi tiga pilar yang biasanya berdiri terpisah: dimensi religi, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi kreatif. Lapangan Merah Putih Karubaga diubah menjadi etalase ekonomi kreatif Tolikara dengan menghadirkan 18 stan UMKM yang memamerkan produk-produk unggulan daerah. Batik bermotif buah merah, kelapa hutan, dan anggrek Papua dipajang berdampingan dengan noken tradisional, mahkota adat, ukiran, lukisan, dan kopi lokal. Pertunjukan kolosal ukulele oleh 150 pelajar serta tarian kolosal sejarah masuknya Injil di Tolikara menjadi panggung budaya yang mengiringi pameran ekonomi kreatif. Elemen pembeda terpenting dari pendekatan konvensional adalah keputusan Dekranasda untuk membuka peluang bagi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menggunakan batik bermotif khas Tolikara sebagai seragam resmi, menjadikan pemerintah daerah sebagai pasar pertama bagi produk masyarakat sendiri [7][4].
Proses Penerapan Inovasi
Perjalanan menuju penyelenggaraan FERT dimulai dari konsolidasi internal pemerintah daerah pada awal tahun 2026. Bupati Willem Wandik menginstruksikan pembentukan panitia lintas OPD yang melibatkan Dekranasda, TP-PKK, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Pariwisata, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Setiap instansi mendapat peran yang jelas: Dekranasda dan TP-PKK di bawah kepemimpinan Ny. Elisabet Y. Flassy Wandik bertugas mengkurasi dan membina produk UMKM yang akan dipamerkan, sementara Dinas Koperasi dan UMKM bertanggung jawab atas pendampingan teknis dan pelatihan kepada pelaku usaha. Proses kurasi produk berlangsung selama beberapa bulan sebelum festival, memastikan setiap stan menampilkan produk yang layak jual dan mencerminkan identitas budaya Tolikara [1][2].
Tantangan terbesar dalam proses persiapan adalah meyakinkan pelaku UMKM bahwa produk mereka memiliki nilai jual dan layak dipamerkan. Beberapa pengrajin awalnya ragu untuk berpartisipasi karena belum terbiasa dengan konsep pameran formal. Pendekatan yang ditempuh adalah melakukan kunjungan langsung ke kampung-kampung untuk mendampingi proses produksi dan memberikan masukan tentang kualitas serta kemasan produk. Percobaan pertama dalam menyusun motif batik yang menggabungkan unsur budaya pegunungan dan daratan tidak langsung berhasil — beberapa motif awal dinilai belum cukup merepresentasikan identitas Tolikara secara kuat sehingga harus melalui proses revisi berulang hingga tercapai 23 motif yang disepakati. Pengalaman ini mengajarkan bahwa pengembangan produk berbasis budaya membutuhkan dialog intensif antara perajin, budayawan, dan pasar [7].
Festival akhirnya terselenggara pada 12–13 Agustus 2026 dengan rangkaian acara yang padat. Hari pertama dibuka dengan upacara resmi oleh Bupati Willem Wandik yang dihadiri oleh tokoh agama, tokoh adat, pejabat kabupaten, serta unsur TNI-Polri. Pertunjukan budaya dan pameran UMKM berlangsung secara simultan, memberikan pengunjung pengalaman yang menyeluruh antara menikmati seni budaya dan menjelajahi produk ekonomi kreatif. Hari kedua difokuskan pada penguatan pesan tentang peran generasi muda dalam industri kreatif daerah, ditandai dengan ajakan langsung dari Wakil Bupati Yotam Wonda kepada anak-anak muda Tolikara untuk tampil sebagai pencipta karya [4][3].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal yang paling mendasar adalah keterbatasan kapasitas sumber daya manusia di kalangan pelaku UMKM. Sebagian besar perajin di Tolikara mengandalkan keterampilan yang diturunkan secara tradisional tanpa sentuhan teknik produksi modern, standar kemasan, atau strategi pemasaran. Kualitas dan konsistensi produk menjadi persoalan yang harus diatasi sebelum produk layak dipamerkan. Pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi dan UMKM mengatasi kendala ini dengan menyelenggarakan pembinaan langsung di tingkat kampung dan menggandeng Dekranasda serta TP-PKK sebagai pendamping teknis yang memahami konteks budaya lokal. Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibandingkan pelatihan formal yang bersifat kaku dan tidak menyentuh kebutuhan riil perajin [1][7].
Tantangan eksternal datang dari kondisi geografis Tolikara yang berada di wilayah pegunungan terpencil. Aksesibilitas yang terbatas membuat distribusi bahan baku dan logistik penyelenggaraan festival menjadi sangat mahal dan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan daerah lain. Jaringan komunikasi dan infrastruktur pendukung seperti listrik belum merata di seluruh distrik, sehingga koordinasi dengan pelaku UMKM di kampung-kampung terpencil menjadi hambatan tersendiri. Strategi mitigasi yang ditempuh adalah memusatkan penyelenggaraan di Karubaga sebagai ibu kota kabupaten yang memiliki infrastruktur relatif lebih baik, sambil membangun sistem koordinasi bertingkat melalui kepala distrik untuk menjangkau pelaku UMKM di wilayah terpencil [2][3].
Kendala pendanaan juga menjadi persoalan yang nyata mengingat festival ini merupakan penyelenggaraan perdana yang belum memiliki rekam jejak untuk menarik sponsor. Ketergantungan pada anggaran pemerintah daerah membuat ruang gerak panitia terbatas, terutama dalam menyediakan fasilitas pameran yang memadai bagi seluruh pelaku UMKM. Mitigasi dilakukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia, termasuk memanfaatkan fasilitas publik yang sudah ada di Lapangan Merah Putih Karubaga dan mendorong kontribusi swadaya dari masyarakat serta dukungan OPD terkait [4].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama keberhasilan FERT adalah komitmen dan kepemimpinan langsung dari kepala daerah. Bupati Willem Wandik tidak sekadar meresmikan festival, tetapi secara aktif mengunjungi setiap stan UMKM, memberikan apresiasi terhadap kreativitas masyarakat, dan menginstruksikan seluruh ASN untuk mendukung produk lokal. Keterlibatan personal kepala daerah mengirimkan sinyal kuat kepada seluruh jajaran pemerintahan dan masyarakat bahwa pengembangan ekonomi kreatif merupakan prioritas pembangunan yang serius. Wakil Bupati Yotam Wonda melengkapi dengan pendekatan kepada generasi muda, membangun narasi bahwa menjadi kreator karya adalah jalan kehormatan bagi anak-anak Tolikara [1][4].
Faktor kedua adalah sinergi kelembagaan antara Dekranasda, TP-PKK, dan Dinas Koperasi dan UMKM yang bekerja dalam satu kerangka koordinasi yang saling melengkapi. Dekranasda di bawah kepemimpinan Ny. Elisabet Y. Flassy Wandik berperan sebagai pengembang produk dan identitas visual daerah melalui penciptaan motif batik khas Tolikara. TP-PKK menjangkau pelaku usaha di tingkat kampung melalui jaringan kader yang sudah terbangun. Dinas Koperasi dan UMKM memberikan pendampingan teknis dan memfasilitasi akses ke pameran di luar daerah, termasuk partisipasi di pameran Makassar yang menjadi bukti bahwa produk Tolikara mampu bersaing di tingkat nasional. Modal sosial berupa semangat gotong royong dan kebanggaan terhadap identitas budaya Suku Lani menjadi perekat partisipasi masyarakat yang tidak bisa diukur secara material tetapi sangat menentukan keberhasilan festival [7][2].
Hasil dan Dampak Inovasi
Secara kuantitatif, FERT berhasil menghadirkan 18 stan UMKM yang memamerkan ratusan produk ekonomi kreatif dalam satu lokasi terpadu. Dekranasda Kabupaten Tolikara memperkenalkan 23 motif kain khas daerah — mencakup variasi kain printing dan batik tulis — yang sebelumnya belum dikenal oleh masyarakat luas. Pertunjukan kolosal ukulele melibatkan 150 pelajar, sementara tarian kolosal sejarah Injil dan tradisi ratapan Lendawai diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai distrik. Keputusan untuk membuka peluang penggunaan batik khas Tolikara sebagai seragam OPD berpotensi menciptakan pasar captive yang stabil bagi para perajin, mengingat jumlah ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tolikara yang tersebar di 46 distrik. Produk Dekranasda dan TP-PKK Tolikara juga telah berhasil menembus pameran di Makassar dan mendapat respons positif dari masyarakat luar daerah [7][1].
Dampak kualitatif yang paling signifikan adalah terbangunnya kesadaran kolektif bahwa kekayaan Tolikara tidak hanya berada di dalam tanah dan hutan, tetapi juga hidup dalam ide, kreativitas, dan keterampilan tangan masyarakatnya. Festival ini berhasil mengubah persepsi masyarakat tentang nilai ekonomi produk lokal — dari sekadar kerajinan rumah tangga menjadi komoditas yang memiliki nilai jual dan kebanggaan identitas daerah. Generasi muda mulai melihat peluang di bidang industri kreatif setelah menyaksikan secara langsung bagaimana batik, ukiran, lukisan, dan mahkota adat dipamerkan dalam format yang profesional dan diapresiasi oleh pejabat daerah. Dampak spillover juga terlihat dari meningkatnya kesadaran akan pentingnya branding produk lokal, kemasan yang menarik, dan pemasaran digital — aspek-aspek yang sebelumnya belum menjadi perhatian pelaku UMKM di Tolikara [2][3].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Pendanaan penyelenggaraan FERT bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tolikara yang dialokasikan melalui beberapa OPD terkait, terutama Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UMKM, serta sekretariat daerah. Biaya operasional mencakup penyediaan infrastruktur pameran di Lapangan Merah Putih Karubaga, logistik pertunjukan budaya, honorarium panitia, dan pendampingan teknis kepada pelaku UMKM. Kontribusi swadaya dari masyarakat dan dukungan in-kind dari OPD dalam bentuk tenaga kerja dan fasilitas turut mengurangi beban anggaran yang dibutuhkan [4].
Model bisnis yang dibangun melalui FERT bersifat ekosistem bertingkat. Di tingkat hulu, Dekranasda dan TP-PKK berperan sebagai inkubator produk yang mengembangkan desain motif, melakukan pembinaan kualitas, dan memfasilitasi akses bahan baku. Di tingkat hilir, festival menjadi marketplace fisik yang mempertemukan produsen dengan konsumen, termasuk ASN yang didorong untuk membeli produk lokal. Keputusan untuk menjadikan batik khas Tolikara sebagai seragam OPD merupakan strategi demand creation yang menjamin keberlangsungan permintaan. Ke depan, model ini diharapkan berkembang menjadi sistem pemasaran berkelanjutan yang tidak bergantung pada momentum festival semata, melainkan terintegrasi dengan platform digital dan jaringan pameran nasional [1][7].
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Penyelenggaraan FERT perdana memberikan sejumlah pelajaran berharga yang relevan bagi daerah lain yang ingin mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya di wilayah terpencil. Keputusan untuk mengintegrasikan dimensi religi, budaya, dan ekonomi kreatif dalam satu platform terbukti menciptakan daya tarik yang lebih besar dibandingkan menyelenggarakan kegiatan secara terpisah. Menjadikan pemerintah daerah sebagai pasar pertama bagi produk masyarakat melalui kebijakan seragam batik OPD memberikan jaminan permintaan awal yang konkret bagi perajin — sebuah langkah cerdas yang bisa langsung diadopsi oleh daerah lain. Selain itu, pendampingan langsung di tingkat kampung terbukti lebih efektif dibandingkan pelatihan formal berskala besar karena menyentuh kebutuhan spesifik setiap perajin [1][7].
Jika memulai dari awal, beberapa hal akan dilakukan secara berbeda. Pembinaan produk sebaiknya dimulai setidaknya enam bulan sebelum festival agar kualitas dan konsistensi produk lebih terjamin, bukan hanya beberapa bulan sebelumnya. Penyediaan mekanisme transaksi digital di area pameran akan memudahkan pembeli dan mencatat volume penjualan secara akurat sebagai data baseline yang sangat berharga untuk evaluasi dampak ekonomi. Pelibatan pelaku UMKM dari distrik-distrik terpencil juga perlu dilakukan sejak tahap perencanaan agar jangkauan partisipasi lebih merata di seluruh kabupaten, bukan hanya dari wilayah yang mudah dijangkau [2].
Bagi daerah lain yang ingin menerapkan inovasi serupa, saran praktisnya adalah mengidentifikasi terlebih dahulu produk unggulan yang memiliki identitas budaya kuat dan potensi pasar, tanpa memaksakan seluruh jenis produk masuk ke pameran. Kepala daerah harus terlibat secara personal dan aktif — bukan sekadar hadir di pembukaan — karena hal ini memberikan legitimasi dan semangat bagi pelaku UMKM. Kebijakan demand creation seperti seragam OPD dari produk lokal sebaiknya dibangun sebelum festival agar perajin sudah memiliki pesanan yang pasti. Terakhir, dokumentasi seluruh proses dan volume transaksi sejak penyelenggaraan pertama menjadi basis data yang sangat penting untuk evaluasi dan perencanaan festival berikutnya [4][3].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan FERT bertumpu pada pelembagaan festival sebagai agenda tahunan resmi Kabupaten Tolikara yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dengan menjadikan FERT sebagai program prioritas — bukan sekadar kegiatan insidental — alokasi anggaran dan sumber daya dapat direncanakan secara berkelanjutan dari tahun ke tahun. Pemerintah daerah juga berencana memperluas cakupan festival dengan melibatkan lebih banyak distrik dan memperkenalkan kategori produk baru pada setiap edisi berikutnya, sehingga festival terus berkembang dan tidak stagnan [1][8].
Mekanisme regenerasi kepemimpinan menjadi aspek krusial yang telah diantisipasi. Pelibatan generasi muda sebagai pelaku utama — bukan hanya penonton — dalam festival merupakan investasi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan inovasi melampaui periode kepemimpinan kepala daerah saat ini. Ajakan Wakil Bupati Yotam Wonda kepada anak-anak muda untuk menjadi pencipta karya bukan sekadar retorika, melainkan bagian dari strategi kaderisasi pelaku ekonomi kreatif. Penguatan kapasitas kelembagaan Dekranasda dan Dinas Koperasi UMKM melalui pelatihan-pelatihan yang dikolaborasikan dengan TP-PKK diharapkan menciptakan ekosistem pemberdayaan yang tidak bergantung pada satu figur pemimpin [2][3].
Dari sisi kemandirian pendanaan, strategi utama adalah mengembangkan model pendapatan yang tidak sepenuhnya bergantung pada APBD. Langkah konkret yang direncanakan meliputi pengembangan sistem pemasaran digital untuk produk UMKM Tolikara, perluasan jaringan pameran ke tingkat nasional (seperti yang sudah dirintis melalui pameran di Makassar), serta pengembangan kemitraan dengan sektor swasta dan lembaga pemberdayaan untuk pendanaan pelatihan dan pengembangan produk. Kebijakan seragam batik OPD juga dirancang sebagai sumber permintaan yang mandiri dan berkelanjutan tanpa memerlukan subsidi tambahan [7].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Festival Etnik Religi Tolikara menunjukkan bahwa inovasi pemberdayaan ekonomi berbasis budaya di wilayah terpencil dapat berkontribusi secara simultan terhadap beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan. Dengan memadukan dimensi ekonomi, sosial, dan budaya dalam satu platform, FERT membuktikan bahwa daerah pegunungan di Papua mampu menjadi aktor aktif dalam pencapaian SDGs melalui pendekatan yang berakar pada kearifan dan identitas lokal. Kontribusi paling signifikan terletak pada SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) serta SDGs 11 (Permukiman Berkelanjutan) melalui pelestarian warisan budaya, sebagaimana dirinci dalam tabel berikut [1][2].
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | FERT membuka akses pasar bagi pelaku UMKM di wilayah pegunungan yang selama ini terisolasi secara ekonomi. Pameran 18 stan UMKM dengan produk-produk bernilai jual menciptakan sumber pendapatan baru bagi perajin dan keluarga mereka, mengurangi ketergantungan pada pertanian subsisten [1]. | Jumlah pelaku UMKM yang berpartisipasi: 18 stan; terciptanya peluang pendapatan tambahan bagi perajin dari penjualan produk lokal |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | Peran sentral TP-PKK dan Dekranasda di bawah kepemimpinan Ny. Elisabet Y. Flassy Wandik dalam pengembangan produk UMKM menunjukkan kontribusi signifikan perempuan dalam pemberdayaan ekonomi daerah. Perempuan Tolikara menjadi aktor utama dalam pengembangan batik, noken, dan kerajinan tangan [7]. | Perempuan sebagai pelaku utama pengembangan 23 motif kain khas Tolikara melalui Dekranasda dan TP-PKK |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Festival ini menjadi katalis pertumbuhan ekonomi kreatif di Tolikara dengan mempertemukan produsen dan konsumen dalam satu platform. Kebijakan seragam batik OPD menciptakan permintaan pasar yang stabil bagi perajin lokal, mendorong profesionalisasi usaha mikro menjadi usaha yang berdaya saing [1][2]. | 18 stan UMKM aktif; kebijakan seragam batik OPD sebagai jaminan permintaan pasar; produk Tolikara berhasil dipamerkan di Makassar |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | FERT menjadi instrumen pelestarian warisan budaya tak benda melalui pertunjukan tarian tradisional, ratapan Lendawai, dan tradisi kolosal sejarah Injil. Festival ini mengemas warisan budaya Suku Lani menjadi aset daerah yang dilestarikan dan dirayakan secara kolektif [3]. | Pertunjukan kolosal ukulele 150 pelajar; pementasan tradisi Lendawai; pengembangan 23 motif batik berbasis identitas budaya lokal |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Keberhasilan FERT merupakan hasil kolaborasi multipihak antara Pemkab Tolikara, Dekranasda, TP-PKK, Dinas Koperasi dan UMKM, tokoh agama, tokoh adat, unsur TNI-Polri, dan masyarakat. Kemitraan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi di daerah terpencil membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan [4]. | Kolaborasi lintas OPD (Dekranasda, TP-PKK, Dinas Koperasi UMKM) dengan tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model FERT dapat direplikasi oleh kabupaten lain di Provinsi Papua Pegunungan dan wilayah terpencil lainnya di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya tetapi menghadapi keterbatasan akses pasar. Prasyarat minimum untuk replikasi meliputi tiga elemen utama: pertama, komitmen kepala daerah yang ditunjukkan melalui kebijakan konkret seperti penggunaan produk lokal sebagai seragam ASN; kedua, keberadaan lembaga pendamping seperti Dekranasda atau TP-PKK yang memiliki jaringan hingga tingkat kampung; dan ketiga, tersedianya minimal satu produk unggulan yang memiliki identitas budaya kuat dan potensi pasar. Tanpa ketiga elemen ini, festival akan kehilangan substansi dan hanya menjadi ajang seremonial tanpa dampak ekonomi yang terukur [1][7].
Estimasi biaya replikasi untuk skala kabupaten berkisar antara Rp500 juta hingga Rp1,5 miliar, mencakup komponen penyediaan infrastruktur pameran (30%), pembinaan dan pelatihan UMKM selama enam bulan sebelum festival (25%), logistik pertunjukan budaya (20%), promosi dan publikasi (15%), serta biaya operasional panitia (10%). Durasi persiapan ideal adalah delapan hingga dua belas bulan sejak pembentukan panitia hingga hari pelaksanaan. Model adaptasi dapat disesuaikan dengan konteks lokal — misalnya kabupaten pesisir dapat mengintegrasikan festival dengan wisata bahari, sementara kabupaten agraris dapat memadukan dengan pameran hasil pertanian dan kuliner khas daerah [2][3].
Untuk scale up, FERT dapat dikembangkan menjadi event berskala regional Papua Pegunungan yang mengundang partisipasi UMKM dari kabupaten-kabupaten tetangga, menciptakan jaringan pemasaran antardaerah yang saling menguatkan. Pendaftaran festival ke dalam kalender Kharisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI menjadi langkah strategis untuk meningkatkan visibilitas nasional. Pengembangan platform e-commerce khusus produk UMKM Tolikara yang diluncurkan bersamaan dengan festival akan memperluas jangkauan pasar secara permanen, menjadikan festival bukan hanya sebagai momentum penjualan dua hari, melainkan pintu masuk bagi pemasaran berkelanjutan sepanjang tahun [4][8].
Daftar Pustaka
[1] RRI, “Festival Etnik Religi Tolikara: Pameran UMKM dan Ekonomi Kreatif Ramaikan FERT 2026,” rri.co.id, Agu. 2026. [Online]. Tersedia: https://www.rri.co.id
[2] Redaksi, “Festival Etnik Religi Tolikara 2026 Resmi Digelar di Karubaga,” Pasific Pos, Agu. 2026. [Online]. Tersedia: https://www.pasificpos.com
[3] Antara, “Bupati Tolikara Buka Festival Etnik Religi Pertama di Karubaga,” Antara News, Agu. 2026. [Online]. Tersedia: https://www.antaranews.com
[4] Redaksi, “Festival Etnik Religi Tolikara 2026: Bupati Dorong Ekonomi Kreatif Papua Pegunungan,” Jawa Pos, Agu. 2026. [Online]. Tersedia: https://www.jawapos.com
[5] Wikipedia, “Kabupaten Tolikara,” Wikipedia Bahasa Indonesia. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tolikara
[6] Redaksi, “Profil Kabupaten Tolikara Papua Pegunungan,” Papuani. [Online]. Tersedia: https://www.papuani.com
[7] Redaksi, “Dekranasda Tolikara Kembangkan 23 Motif Kain Khas Daerah,” Cepos Online, 2026. [Online]. Tersedia: https://www.ceposonline.com
[8] Redaksi, “Tolikara Menuju Pusat Kerohanian dan Kebudayaan Papua Pegunungan,” Kompasiana, 2026. [Online]. Tersedia: https://www.kompasiana.com