Ringkasan Inovasi
Di puncak kilometer 259 jalur Trans Papua Barat, tersembunyi sebuah keajaiban alam bernama Gunung Petik Bintang. Masyarakat Kampung Konja, Distrik Aifat Utara, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya, bersama penggiat wisata Fransiskus Xaverius Tenau mengembangkan titik tertinggi Trans Papua Barat ini menjadi destinasi wisata “Negeri Diatas Awan” yang menakjubkan. Inovasi ini mengubah spot persinggahan pelancong menjadi desa wisata terstruktur yang memadukan keindahan panorama awan 360 derajat, kekayaan budaya Suku Maybrat, dan semangat pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Pada ketinggian 1.012 meter di atas permukaan laut, wisatawan dapat “memetik bintang” di malam hari dan menyaksikan lautan awan membelah pegunungan di pagi hari. Berkat upaya kolektif ini, Desa Wisata Negeri Diatas Awan berhasil menembus 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Inovasi ini dimulai sejak tahun 2020 dan terus berkembang hingga kini, membawa harapan baru bagi perekonomian masyarakat pegunungan Maybrat [1][2].
Latar Belakang
Kabupaten Maybrat terletak di jantung Kepala Burung Pulau Papua, diapit oleh pegunungan Tamrau dan lembah-lembah hijau yang masih perawan. Kabupaten ini berpenduduk sekitar 46.000 jiwa yang mayoritas merupakan Suku Maybrat dengan sub-suku Ayamaru, Aitinyo, dan Aifat. Kampung Konja sendiri berada di Distrik Aifat Utara, sebuah wilayah pegunungan yang menjadi lintasan utama jalan Trans Papua Barat segmen Sorong–Manokwari sepanjang 594,81 kilometer. Di sinilah Gunung Petik Bintang berdiri kokoh pada ketinggian 1.012 mdpl, menjadikannya titik tertinggi di seluruh ruas jalan Trans Papua Barat [3][4].
Sebelum pembangunan Trans Papua, kawasan pegunungan Aifat Utara nyaris terisolasi dari dunia luar. Masyarakat Kampung Konja bergantung sepenuhnya pada pertanian subsisten dan perburuan tradisional dengan penghasilan rata-rata di bawah Rp500.000 per bulan per keluarga. Akses menuju kota terdekat memerlukan perjalanan berhari-hari melintasi hutan belantara. Ketika proyek Trans Papua Barat mulai membelah pegunungan pada era 2010-an, kehidupan masyarakat pelan-pelan berubah. Namun, jalan baru ini hanya menjadikan Kampung Konja sebagai titik lewat semata — bukan tujuan. Kendaraan melaju tanpa berhenti, dan masyarakat setempat tidak mendapat manfaat ekonomi dari lalu lintas yang meningkat [2][5].
Momentum perubahan datang ketika beberapa pelancong dan vlogger mulai mengunggah foto dan video panorama lautan awan di puncak Petik Bintang ke media sosial sekitar tahun 2019–2020. Konten viral tersebut mengundang perhatian publik dan pemerintah daerah. Fransiskus Xaverius Tenau, seorang putra daerah yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pengembangan wisata lokal, menyadari bahwa momentum ini harus dimanfaatkan sebelum hilang. Ia bersama tokoh masyarakat dan pemuda Kampung Konja sepakat bahwa keindahan alam yang selama ini terbuang percuma harus dikelola menjadi sumber penghidupan baru [6][7].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan spot wisata alam terbuka di puncak Gunung Petik Bintang menjadi desa wisata terstruktur yang mengintegrasikan tiga elemen utama: wisata panorama alam pegunungan, wisata budaya Suku Maybrat, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Gagasan ini lahir dari pengamatan bahwa ribuan kendaraan melintasi Petik Bintang setiap bulan tanpa berhenti, padahal pemandangan di titik ini merupakan salah satu yang paling spektakuler di seluruh Papua. Fransiskus Xaverius Tenau dan tim pengelola kemudian mendesain konsep “wisata persinggahan bermakna” yang mengubah titik transit menjadi destinasi [1][8].
Produk wisata utama adalah pengalaman menyaksikan sunrise di atas lautan awan pada pukul 06.00–09.00 WIT, di mana pengunjung dapat menikmati panorama 360 derajat ke seluruh penjuru lembah dan pegunungan. Selain itu, wisatawan juga dapat menikmati keindahan tebing batu warna-warni yang tercipta akibat penggalian jalan Trans Papua, berkemah di ketinggian sambil “memetik bintang” di malam hari, serta mengenal budaya dan kuliner tradisional Suku Maybrat. Yang membedakan inovasi ini dari pendekatan konvensional adalah posisinya yang unik — destinasi wisata ini berada tepat di badan jalan utama Trans Papua, bukan di lokasi terpencil yang sulit dijangkau. Keunikan ini menjadikan Petik Bintang sebagai perhentian ikonik yang secara alami menarik perhatian setiap pelancong yang melintas [3][7].
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai pada tahun 2020 ketika Fransiskus Xaverius Tenau bersama pemuda Kampung Konja melakukan survei awal untuk mengidentifikasi titik-titik panorama terbaik di kawasan Petik Bintang. Tim menemukan bahwa area puncak yang terbelah oleh jalan Trans Papua menciptakan “amfiteater alam” dengan dinding tebing batu di kedua sisi dan pandangan terbuka ke lembah di depan. Langkah pertama adalah membersihkan area, menata jalur pejalan kaki sederhana, dan memasang penanda lokasi agar pelancong tahu bahwa mereka telah tiba di titik tertinggi Trans Papua Barat [2].
Pada tahun 2021, pengelola mendaftarkan Gunung Petik Bintang ke platform Jejaring Desa Wisata (Jadesta) milik Kemenparekraf dan membangun kehadiran digital melalui Google Business Site. Upaya promosi dilakukan secara organik melalui media sosial dan kolaborasi dengan para travel vlogger yang melintasi Trans Papua. Tidak semua upaya berjalan mulus — percobaan pertama membangun warung sederhana di puncak gagal karena struktur bangunan tidak mampu menahan angin kencang di ketinggian 1.012 mdpl. Tim kemudian belajar dari kegagalan ini dan mengadopsi desain honai (rumah tradisional Papua berbentuk bulat) yang lebih aerodinamis dan tahan cuaca ekstrem pegunungan. Wawasan ini menjadi pembelajaran berharga: solusi lokal seringkali lebih efektif dibandingkan pendekatan modern yang tidak mempertimbangkan kondisi alam setempat [1][9].
Puncak pencapaian terjadi pada tahun 2022 ketika Desa Wisata Negeri Diatas Awan Gunung Petik Bintang berhasil masuk dalam 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. Pengakuan ini menjadi katalisator bagi pemerintah Kabupaten Maybrat untuk mengalokasikan dukungan anggaran dan kebijakan. Pj Bupati Maybrat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mulai memasukkan pengembangan Petik Bintang dalam rencana strategis pariwisata daerah, bersama destinasi unggulan lainnya seperti Danau Uter dan Danau Ayamaru [10][11].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan internal terbesar adalah keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan wisata profesional. Masyarakat Kampung Konja yang selama beberapa generasi hidup dari pertanian subsisten belum memiliki pengalaman dalam hospitality, pemasaran digital, dan manajemen destinasi. Resistensi sebagian warga juga muncul karena kekhawatiran bahwa wisatawan akan mengganggu kehidupan adat mereka. Untuk mengatasi tantangan ini, Fransiskus Xaverius Tenau mengadakan musyawarah rutin dengan tokoh adat dan tetua kampung, menjelaskan bahwa wisata justru menjadi alat pelestarian budaya — bukan ancaman. Pelatihan dasar pelayanan wisata dan kebersihan lingkungan juga diberikan kepada pemuda kampung secara bertahap [1][11].
Tantangan eksternal yang paling kritis adalah ketiadaan fasilitas homestay dan rumah singgah di sekitar lokasi wisata. Hingga saat ini, pengunjung hanya mampu singgah beberapa jam sebelum melanjutkan perjalanan karena tidak ada penginapan yang tersedia. Kondisi cuaca ekstrem di ketinggian — hujan deras, kabut tebal, dan angin kencang — juga menjadi hambatan bagi wisatawan yang tidak mempersiapkan diri. Untuk memitigasi masalah ini, pengelola mulai menyediakan area camping ground sederhana dan gazebo berteduh bagi wisatawan yang ingin menginap. Pemerintah Kabupaten Maybrat juga merencanakan pembangunan honai-honai wisata yang terintegrasi dengan kearifan arsitektur lokal untuk memberikan fasilitas akomodasi tanpa merusak estetika lanskap pegunungan [9][10].
Selain itu, ancaman kerusakan lingkungan akibat galian jalan Trans Papua yang terus berlangsung menjadi perhatian serius. Tim teknis Kementerian PUPR telah menerapkan kebijakan agar sisa galian tidak dibuang sembarangan ke jurang untuk menjaga kelestarian ekosistem dan mencegah erosi, meskipun kebijakan ini meningkatkan biaya konstruksi. Pengelola desa wisata aktif mengadvokasi agar pembangunan infrastruktur jalan tetap memperhatikan kelestarian panorama alam yang menjadi aset utama wisata [3][5].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama adalah keindahan alam Gunung Petik Bintang yang luar biasa dan posisinya yang strategis di jalur utama Trans Papua Barat. Berbeda dengan destinasi wisata alam pada umumnya yang memerlukan perjalanan ekstra ke lokasi terpencil, Petik Bintang berada tepat di badan jalan utama yang dilintasi kendaraan setiap hari. Panorama lautan awan, tebing batu warna-warni, hamparan bintang di malam hari, dan sunrise menawan di ketinggian 1.012 mdpl menjadikan destinasi ini memiliki daya tarik alami yang sangat kuat tanpa perlu investasi besar untuk membangun atraksi buatan [7][6].
Faktor kedua adalah peran kunci Fransiskus Xaverius Tenau sebagai inisiator dan penghubung antara masyarakat, pemerintah, dan dunia luar. Sebagai putra daerah yang memahami dinamika adat dan sekaligus melek digital, ia mampu menjembatani kepentingan pelestarian budaya dengan kebutuhan promosi wisata modern. Pemerintah Kampung Konja memberikan dukungan kelembagaan, Dinas Pariwisata Kabupaten Maybrat menyediakan payung kebijakan dan penganggaran, sementara masyarakat adat memberikan legitimasi budaya atas pengembangan wisata. Modal sosial berupa semangat gotong royong dan kearifan lokal Suku Maybrat — seperti tradisi Koba-Koba (penyambutan tamu dengan payung anyaman daun pandan) — menjadi daya tarik budaya yang memperkaya pengalaman wisatawan [1][11].
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak kuantitatif yang paling signifikan adalah peningkatan jumlah pengunjung dari rata-rata 10–15 orang per bulan pada tahun 2019 (sebelum inovasi) menjadi sekitar 150–200 pengunjung per bulan pada tahun 2024. Pencapaian masuk 500 besar ADWI 2022 meningkatkan visibilitas Petik Bintang di platform Jadesta Kemenparekraf dan berbagai media nasional. Pendapatan masyarakat dari sektor wisata — melalui penjualan makanan, minuman, suvenir, dan jasa pemandu — meningkat rata-rata Rp300.000–Rp500.000 per keluarga per bulan dari sebelumnya yang nyaris nol. Meskipun angka ini masih moderat, peningkatan ini sangat berarti bagi masyarakat pegunungan yang sebelumnya hanya bergantung pada pertanian subsisten dengan penghasilan di bawah Rp500.000 per bulan [1][8].
Dampak kualitatif yang paling menonjol adalah bangkitnya rasa kebanggaan dan identitas lokal di kalangan masyarakat Kampung Konja. Pemuda kampung yang sebelumnya bermigrasi ke kota kini mulai tertarik kembali ke kampung halaman untuk terlibat dalam pengelolaan wisata. Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dan kelestarian alam meningkat drastis karena masyarakat menyadari bahwa panorama alam adalah aset ekonomi yang harus dilindungi. Mama Yulia, seorang ibu rumah tangga yang kini berjualan kopi dan ubi bakar di area wisata, menyampaikan bahwa kehadiran wisatawan yang berhenti dan membeli dagangan membantu membiayai kebutuhan pendidikan anak-anaknya — sebuah perubahan yang sebelumnya tidak terbayangkan [1].
Dampak multiplier juga muncul secara tidak terencana: popularitas Petik Bintang mendorong peningkatan kunjungan ke destinasi wisata lain di Maybrat seperti Danau Uter, Danau Ayamaru, dan Kali Kaca yang terletak di sepanjang rute yang sama. Efek rambatan ini memperkuat posisi Kabupaten Maybrat sebagai destinasi wisata terpadu di wilayah Papua Barat Daya [10][7].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Sumber pendanaan awal sepenuhnya berasal dari swadaya masyarakat dan inisiatif pribadi Fransiskus Xaverius Tenau beserta pemuda Kampung Konja. Investasi awal diperkirakan sekitar Rp15–25 juta yang digunakan untuk pembersihan area, pembuatan penanda lokasi, dan pembangunan gazebo sederhana dari bahan lokal. Biaya operasional bulanan relatif rendah, berkisar Rp1–2 juta, karena pengelolaan dilakukan secara sukarela oleh masyarakat dengan memanfaatkan material alam yang tersedia [1].
Model pendapatan saat ini bersifat hybrid: pendapatan langsung diperoleh dari penjualan makanan dan minuman, jasa dokumentasi foto, serta retribusi parkir sukarela. Pemerintah Kabupaten Maybrat mulai mengalokasikan anggaran APBD untuk pengembangan infrastruktur wisata di kawasan Petik Bintang, termasuk rencana pembangunan honai wisata dan toilet umum. Strategi pendanaan berkelanjutan mencakup kemitraan dengan operator wisata, penyedia jasa transportasi udara (Susi Air), dan potensi CSR dari perusahaan yang beroperasi di wilayah Papua Barat Daya. Ke depan, model bisnis akan diperkuat melalui paket wisata terpadu Maybrat yang mengemas Petik Bintang bersama Danau Uter, Danau Ayamaru, dan destinasi lainnya [10][11].
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Keputusan paling tepat yang diambil oleh tim pengelola adalah memanfaatkan momentum konten viral dari vlogger yang melintas untuk segera membangun kehadiran digital dan mendaftarkan destinasi ke platform Jadesta Kemenparekraf — langkah yang mengubah perhatian sesaat menjadi pengakuan nasional berupa masuknya Petik Bintang ke 500 besar ADWI 2022. Pelibatan tokoh adat dan tetua kampung sejak awal terbukti sangat krusial untuk mendapatkan restu dan menghindari konflik sosial yang dapat menghancurkan inisiatif wisata. Keputusan mengadopsi desain honai tradisional setelah warung modern gagal menahan angin mengajarkan bahwa solusi lokal seringkali lebih efektif dibandingkan pendekatan modern yang tidak mempertimbangkan kondisi alam setempat [1][9].
Jika memulai dari awal, pengelola mengakui bahwa kemitraan formal dengan operator wisata dan maskapai penerbangan perintis seharusnya dibangun lebih awal untuk memastikan akses pengunjung yang lebih teratur. Fasilitas akomodasi berupa honai wisata idealnya disiapkan sebelum promosi besar-besaran dilakukan, karena ketiadaan penginapan menjadi hambatan utama yang menyebabkan wisatawan hanya singgah beberapa jam tanpa menginap — padahal pengalaman menginap di malam hari untuk “memetik bintang” justru merupakan daya tarik utama destinasi ini.
Saran praktis bagi desa atau kampung lain yang ingin menerapkan inovasi serupa mencakup tiga hal pokok. Pertama, identifikasi aset alam atau budaya yang benar-benar unik dan tidak dimiliki destinasi lain — keunikan inilah yang akan menarik perhatian wisatawan di tengah persaingan destinasi yang semakin ketat. Kedua, bangun kehadiran digital sejak awal melalui platform gratis seperti Google Business Site dan media sosial, karena promosi organik dari vlogger dan wisatawan yang puas jauh lebih efektif dibandingkan iklan berbayar untuk destinasi di kawasan terpencil. Ketiga, libatkan seluruh elemen masyarakat melalui musyawarah adat agar program memiliki legitimasi budaya dan dukungan komunal yang menjadi fondasi keberlanjutan jangka panjang [8][11].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan bertumpu pada penguatan kelembagaan Pokdarwis Petik Bintang sebagai pengelola utama destinasi. Organisasi ini dirancang agar tidak bergantung pada satu figur saja, melainkan melibatkan regenerasi kepemimpinan melalui pelibatan aktif pemuda kampung. Jika kepala kampung atau inovator utama berganti, struktur Pokdarwis yang sudah terlatih akan memastikan kontinuitas pengelolaan. Pelatihan berkala dalam bidang hospitality, kebersihan lingkungan, dan pemasaran digital menjadi program rutin untuk meningkatkan kapasitas anggota [1][11].
Rencana pendapatan mandiri difokuskan pada pengembangan paket wisata terpadu yang menggabungkan Petik Bintang dengan destinasi lain di Maybrat sehingga wisatawan menghabiskan waktu lebih lama dan berbelanja lebih banyak di kawasan ini. Pembangunan homestay berbasis honai direncanakan dapat menghasilkan pendapatan sewa harian yang stabil. Diversifikasi produk wisata — termasuk wisata budaya Suku Maybrat, trekking pegunungan, dan kuliner lokal — akan mengurangi ketergantungan pada satu jenis atraksi semata [10][8].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi Desa Wisata Negeri Diatas Awan Gunung Petik Bintang menunjukkan bahwa pengembangan wisata alam di kawasan terpencil dan perbatasan dapat berkontribusi signifikan terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals). Integrasi wisata panorama alam, pelestarian budaya lokal, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur (Trans Papua) dan pelestarian alam dapat berjalan berdampingan secara harmonis. Kontribusi tersebut terangkum dalam tabel berikut [1][4].
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Pengembangan desa wisata membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Kampung Konja sebagai pedagang, pemandu wisata, pengelola camping ground, dan penyedia jasa transportasi lokal. Pendapatan tambahan dari sektor pariwisata mengurangi ketergantungan pada pertanian subsisten. | Pendapatan tambahan per keluarga dari wisata naik Rp300.000–Rp500.000/bulan dari sebelumnya Rp0 |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Desa wisata menciptakan lapangan kerja lokal di sektor jasa pariwisata, kuliner, dan kerajinan tangan. Pemuda yang sebelumnya bermigrasi ke kota kini memiliki alternatif mata pencaharian di kampung halaman. | Jumlah pengunjung naik dari 10–15 menjadi 150–200 orang/bulan; terciptanya 15+ peluang usaha lokal |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Pembangunan jalan Trans Papua Barat yang melewati Petik Bintang menjadi infrastruktur penggerak utama konektivitas dan pertumbuhan ekonomi di wilayah pegunungan Papua Barat Daya. Inovasi wisata memanfaatkan infrastruktur ini sebagai multiplier ekonomi. | Jalan Trans Papua segmen Sorong–Manokwari 594,81 km tersambung; waktu tempuh turun dari berhari-hari menjadi 4–5 jam |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan | Pengembangan desa wisata mendorong penataan kawasan permukiman di sekitar Petik Bintang agar lebih tertata, bersih, dan ramah wisatawan. Pendekatan honai wisata mempertahankan arsitektur tradisional sambil meningkatkan kualitas hunian. | Rencana pembangunan honai wisata berbasis arsitektur lokal; area wisata tertata dengan camping ground dan gazebo |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab | Pengelola desa wisata menerapkan prinsip wisata bertanggung jawab dengan meminimalkan sampah plastik, menggunakan material lokal untuk fasilitas wisata, dan memanfaatkan produk pertanian setempat untuk kebutuhan kuliner wisatawan. | Penggunaan 80% material lokal untuk infrastruktur wisata; produk kuliner 100% berbasis hasil bumi setempat |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | Kesadaran masyarakat terhadap pelestarian ekosistem pegunungan meningkat karena panorama alam menjadi aset ekonomi utama. Kebijakan Kementerian PUPR untuk tidak membuang galian ke jurang saat pembangunan jalan melindungi ekosistem lembah di bawah Petik Bintang. | Penerapan kebijakan pengelolaan galian ramah lingkungan; peningkatan kesadaran pelestarian hutan pegunungan |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi multipihak antara pengelola lokal (Fransiskus Xaverius Tenau), masyarakat adat, Pokdarwis, Pemerintah Kabupaten Maybrat, Kemenparekraf (melalui Jadesta dan ADWI), serta maskapai Susi Air menciptakan ekosistem kemitraan yang mendukung keberlanjutan destinasi wisata. | Terdaftarnya destinasi di Jadesta Kemenparekraf; masuk 500 besar ADWI 2022; dukungan APBD Kabupaten Maybrat |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model wisata “persinggahan bermakna” yang diterapkan di Petik Bintang dapat direplikasi di titik-titik strategis lain sepanjang jalur Trans Papua maupun jalan trans di wilayah Indonesia Timur yang memiliki panorama alam serupa. Prasyarat minimum untuk replikasi mencakup lokasi yang berada di atau dekat jalur transportasi utama, keberadaan pemandangan alam yang unik, adanya minimal satu tokoh penggerak lokal yang memiliki komitmen dan jaringan, serta dukungan awal dari pemerintah desa dan tokoh adat. Estimasi biaya replikasi berkisar Rp15–30 juta untuk fase awal dan dapat dimulai dalam 3–6 bulan pertama [1][8].
Untuk scale up, Petik Bintang perlu diintegrasikan ke dalam paket wisata terpadu Kabupaten Maybrat yang menghubungkan seluruh destinasi unggulan: Danau Uter, Danau Ayamaru, Kali Kaca, dan spot wisata alam lainnya. Pengembangan jalur udara melalui Bandara Ayawasi dan Bandara Kambuaya dengan pesawat perintis Susi Air (jadwal dua kali seminggu, tiket bersubsidi Rp300.000 per penumpang) akan memperluas jangkauan pasar ke wisatawan nasional dan internasional. Model adaptasi dapat disesuaikan untuk konteks yang berbeda: di kawasan pesisir, konsep serupa dapat diterapkan sebagai “wisata persinggahan bahari,” sementara di kawasan dataran rendah dapat dikemas sebagai “wisata persinggahan budaya.” Strategi agar manfaat meluas ke desa-desa sekitar adalah melalui pembentukan jaringan desa wisata Maybrat yang saling mempromosikan dan membagi wisatawan secara merata [10][11].
Daftar Pustaka
[1] Kemenparekraf RI, “Desa Wisata Negeri Diatas Awan Gunung Petik Bintang — Jejaring Desa Wisata Indonesia,” Jadesta Kemenparekraf. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/petik-bintang
[2] Redaksi, “Negeri di Atas Awan Petik Bintang, Destinasi Wisata Menarik di Maybrat Papua Barat Daya,” detik.com, 2022. [Online]. Tersedia: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-5976521/negeri-di-atas-awan-petik-bintang-maybrat
[3] R. Kusuma, “Pesona Petik Bintang, Negeri di Atas Awan di Trans Papua,” Liputan6.com, 2023. [Online]. Tersedia: https://liputan6.com/regional/read/5178234/pesona-petik-bintang-negeri-di-atas-awan-di-trans-papua
[4] Kementerian PUPR, “Jalan Trans Papua Barat Ruas Sorong–Manokwari,” pu.go.id, 2022. [Online]. Tersedia: https://pu.go.id/berita/trans-papua-barat-sorong-manokwari
[5] Redaksi, “Menelusuri Jalan Trans Papua Barat: Petik Bintang dan Tantangan Pembangunan,” Majalah Lintas, 2023. [Online]. Tersedia: https://majalahlintas.com/trans-papua-barat-petik-bintang
[6] Redaksi, “Puncak Petik Bintang: Negeri Diatas Awan di Kabupaten Maybrat,” Pikiran Rakyat, 2023. [Online]. Tersedia: https://pikiran-rakyat.com/wisata/pr-015223344/puncak-petik-bintang-negeri-diatas-awan-maybrat
[7] Traveloka, “Gunung Petik Bintang: Daya Tarik, Aktivitas, dan Lokasi Wisata di Maybrat,” traveloka.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://traveloka.com/id-id/explore/destination/gunung-petik-bintang
[8] Redaksi, “Wisata Petik Bintang Maybrat: Negeri Diatas Awan yang Memukau,” NgopiBareng.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://ngopibareng.id/wisata-petik-bintang-maybrat-negeri-diatas-awan
[9] Redaksi, “Wisata Petik Bintang Maybrat di Jalur Trans Papua,” Metro Rakyat, 2024. [Online]. Tersedia: https://metrorakyat.com/wisata-petik-bintang-maybrat-trans-papua
[10] Redaksi, “Maybrat Dorong Pengembangan Wisata Petik Bintang dan Destinasi Unggulan,” Kumparan, 2024. [Online]. Tersedia: https://kumparan.com/news/maybrat-dorong-pengembangan-wisata-petik-bintang
[11] Redaksi, “Pj Bupati Maybrat Dorong Pariwisata sebagai Pilar Ekonomi Daerah,” Kapol.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://kapol.id/pj-bupati-maybrat-dorong-wisata-daerah
[12] Sekretariat Kabinet RI, “Jalan Trans Papua Barat Sepanjang 1.070,62 km Tersambung,” setkab.go.id, 2017. [Online]. Tersedia: https://setkab.go.id/jalan-trans-papua-barat-tersambung