Ringkasan Inovasi
Dari kesunyian dataran tinggi Timor yang tersembunyi di balik kabut pegunungan — perjalanan masyarakat Desa Fatumnasi menyulap hutan bonsai purba, sabana hijau, dan kearifan Suku Dawan menjadi destinasi ekowisata yang meraih pengakuan nasional dan mengangkat perekonomian masyarakat.Desa Fatumnasi di Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur, mentransformasi keindahan alam dataran tinggi Gunung Mutis dan kekayaan budaya Suku Dawan menjadi destinasi ekowisata berbasis komunitas (Community Based Tourism) yang kini diakui sebagai salah satu dari 50 desa wisata terbaik Indonesia dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 [1][2]. Inovasi ini mengintegrasikan tiga pilar utama — wisata alam pegunungan, wisata budaya Suku Dawan, dan ekonomi kreatif berbasis produk lokal — ke dalam satu ekosistem pariwisata terpadu yang dikelola langsung oleh masyarakat desa melalui kelompok sadar wisata dan unit usaha homestay. Pengelola desa wisata bersama masyarakat setempat merancang pendekatan pariwisata berkelanjutan yang menjaga kelestarian Cagar Alam Gunung Mutis sambil membuka akses ekonomi baru bagi warga yang sebelumnya bergantung sepenuhnya pada pertanian subsisten [3][4].
Latar Belakang
Kecamatan Fatumnasi terletak di dataran tinggi Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan luas wilayah 198,65 km² yang membentang di kaki Gunung Mutis — gunung tertinggi di Pulau Timor dengan ketinggian 2.427 meter di atas permukaan laut [4]. Wilayah ini dihuni oleh sekitar 6.928 jiwa penduduk yang tersebar di empat desa, dengan mata pencaharian utama sebagai petani subsisten yang mengandalkan hasil perkebunan dan madu hutan [5]. Topografi pegunungan yang didominasi padang sabana hijau, hutan ampupu (Eucalyptus urophylla) yang tumbuh kerdil menyerupai bonsai alami, serta udara sejuk bersuhu 12–19°C menyimpan potensi wisata luar biasa yang selama bertahun-tahun bagai permata tersembunyi di balik kabut pegunungan Timor [6].
Sebelum inovasi desa wisata diterapkan, masyarakat Fatumnasi menghadapi tantangan ekonomi yang serius. Ketergantungan pada pertanian musiman dengan hasil yang tidak menentu menyebabkan pendapatan rumah tangga sangat rendah dan fluktuatif. Aksesibilitas yang terbatas — jarak tempuh sekitar 35 km ke arah utara dari Kota Soe atau sekitar 2 jam perjalanan darat — membuat wilayah ini terisolasi dari pusat perekonomian [7]. Wisatawan yang secara sporadis datang mendaki Gunung Mutis sebenarnya telah menjadi sinyal bahwa kawasan ini memiliki daya tarik wisata yang belum tergarap secara optimal.
Peluang transformasi muncul ketika pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mulai mendorong pengembangan desa wisata sebagai strategi pemberdayaan ekonomi pedesaan. Keberadaan Cagar Alam Gunung Mutis yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi, dikombinasikan dengan kekayaan budaya Suku Dawan yang masih terjaga — termasuk rumah adat Ume Kbubu yang telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2010 — menjadi modal tak ternilai bagi pengembangan ekowisata [8][9]. Momentum inilah yang menggugah masyarakat Fatumnasi untuk bangkit mengubah potensi alam dan budaya menjadi sumber penghidupan baru.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi Desa Wisata Ekowisata Berbasis Komunitas Fatumnasi lahir dari kesadaran kolektif masyarakat Suku Dawan bahwa kekayaan alam dan budaya yang mereka warisi turun-temurun memiliki nilai ekonomi yang dapat dinikmati tanpa merusaknya. Gagasan awalnya berasal dari pengamatan Mateos Anin — tokoh yang aktif dalam pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal — terhadap wisatawan domestik dan mancanegara yang secara mandiri sudah datang mengeksplorasi keindahan Hutan Bonsai dan mendaki Gunung Mutis tanpa fasilitas memadai [3][10]. Dari pengamatan tersebut, lahirlah konsep mengemas tiga pilar destinasi — wisata alam (Hutan Bonsai, Padang Sabana, pendakian Gunung Mutis), wisata budaya (rumah adat Ume Kbubu, ritual adat Suku Dawan, tenun ikat tradisional), dan ekonomi kreatif (madu hutan, kerajinan tenun, kuliner khas) — dalam satu ekosistem ekowisata terpadu yang dikelola masyarakat.
Elemen pembeda utama inovasi ini terletak pada penerapan prinsip Community Based Tourism (CBT) yang menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama pengelolaan, bukan sekadar objek wisata. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang membangun infrastruktur wisata masif, inovasi Fatumnasi mengusung prinsip ekowisata minimal intervensi — mempertahankan keaslian alam sepenuhnya sambil membangun kapasitas masyarakat sebagai pengelola [11][12]. Wisatawan tidak datang untuk menikmati fasilitas mewah, melainkan untuk merasakan keotentikan kehidupan masyarakat Dawan yang harmonis dengan alam — menginap di homestay sederhana beratap alang-alang, menyusuri padang sabana bersama pemandu lokal, dan belajar menenun bersama ibu-ibu desa.
Proses Penerapan Inovasi
Tahap rintisan dimulai dengan identifikasi dan pemetaan seluruh potensi wisata di Desa Fatumnasi secara partisipatif. Masyarakat bersama pengelola desa wisata mengidentifikasi setidaknya lima destinasi unggulan: Hutan Bonsai Alam dengan pohon ampupu berusia ratusan tahun yang tumbuh kerdil setinggi 2–5 meter, Padang Sabana nan hijau yang membentang luas, jalur pendakian Gunung Mutis, perkampungan rumah adat Ume Kbubu, dan Taman Bunga Gladiol yang bermekaran pada bulan-bulan tertentu [13][6]. Pada tahap ini, pembentukan kelompok pengelola wisata dan pelatihan awal manajemen homestay untuk warga dilaksanakan dengan pendampingan dari pemerintah kabupaten.
Tahap penguatan fondasi difokuskan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan perbaikan fasilitas dasar. Warga yang memiliki rumah layak dilatih mengelola homestay dengan standar kebersihan dan keramahan yang memadai. Salah satu langkah inovatif yang ditempuh pada tahap ini adalah penggantian atap seng pada beberapa homestay dengan atap alang-alang tradisional untuk mempertahankan nuansa arsitektur lokal dan suasana khas pegunungan Timor [14]. Strategi ini terbukti tepat karena wisatawan
justru menyukai pengalaman menginap yang otentik. Pembangunan infrastruktur pendukung berupa akses jalan, papan petunjuk wisata, dan area istirahat mulai direalisasikan menggunakan Dana Desa. Tahap pengakuan nasional tercapai ketika Desa Wisata Fatumnasi berhasil menembus 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 dalam kategori rintisan dari total 6.016 desa wisata yang mendaftar di seluruh Indonesia[1][15]. Pencapaian ini ditandai dengan penyerahan plakat dan sertifikat penghargaan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kepada Pemerintah Kabupaten TTS pada 16 Agustus 2024 di kawasan wisata Hutan Bonsai, Fatumnasi. Penghargaan ini sekaligus membuka pintu bagi program pendampingan berkelanjutan dari Kemenparekraf, termasuk peningkatan sarana prasarana dan kolaborasi dengan mitra strategis [16].
Faktor Penentu Keberhasilan
Kearifan lokal Suku Dawan yang memandang hutan dan gunung sebagai entitas sakral menjadi faktor penentu utama keberhasilan inovasi ini. Bagi masyarakat Dawan — atau Atoni Pah Meto — hutan (nasi) bukan sekadar sumber daya alam, melainkan tempat spiritual yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta (Apinat-Aklahat) [17]. Filosofi ini menjadi benteng pelestarian yang alami: masyarakat menjaga hutan bukan karena regulasi pemerintah, melainkan karena keyakinan adat yang telah mengakar selama berabad-abad. Tradisi dan nilai-nilai adat yang diwariskan turun-temurun inilah yang memastikan ekosistem kawasan Gunung Mutis tetap lestari di tengah tekanan pembangunan.
Kolaborasi multipihak yang solid antara pengelola desa wisata, masyarakat, pemerintah kabupaten, dan Kementerian Pariwisata menjadi penguat kelembagaan yang tidak ternilai. Mateos Anin sebagai penggerak utama di tingkat akar rumput berhasil mengonsolidasikan partisipasi masyarakat melalui pendekatan yang menghormati struktur adat setempat [10]. Pemerintah Kabupaten TTS menyediakan dukungan kebijakan dan anggaran, sementara Kemenparekraf melalui program ADWI memberikan pengakuan dan pendampingan teknis. Kehadiran wisatawan yang datang secara organik sebelum inovasi diterapkan membuktikan bahwa alam Fatumnasi telah memberikan cap persetujuan atas potensi destinasi ini jauh sebelum intervensi formal dilakukan.
Hasil dan Dampak Inovasi
p>Secara kuantitatif, dampak inovasi desa wisata Fatumnasi menunjukkan perubahan signifikan dari kondisi sebelumnya. Jumlah kunjungan wisatawan meningkat setelah penetapan sebagai salah satu dari 50 desa wisata terbaik ADWI 2024, menempatkan Fatumnasi pada peta destinasi wisata nasional. Pendapatan rumah tangga yang terlibat dalam usaha pariwisata — terutama pemilik homestay, pemandu wisata lokal, dan pedagang produk lokal — mengalami peningkatan yang menjadi sumber ekonomi tambahan di luar pertanian musiman [18]. Jumlah unit homestay yang dikelola masyarakat bertambah seiring meningkatnya permintaan akomodasi dari wisatawan yang ingin menikmati pengalaman menginap di “negeri di atas awan.”
Dampak kualitatif yang paling mencolok adalah perubahan pola pikir masyarakat terhadap nilai ekonomi warisan budaya dan alam mereka. Masyarakat yang sebelumnya memandang rumah adat Ume Kbubu dan tradisi menenun sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari kini menyadari bahwa warisan tersebut memiliki daya tarik wisata yang bernilai ekonomi tinggi [19]. Generasi muda mulai termotivasi mempelajari kerajinan tenun ikat, seni mengambil madu hutan secara tradisional, dan cara memasak kuliner khas Dawan — keterampilan yang sebelumnya terancam punah karena dianggap ketinggalan zaman. Kehadiran hutan sebagai aset wisata utama mereka.
Pengakuan ADWI 2024 membawa efek berganda (multiplier effect) yang melampaui sektor pariwisata. Produk lokal seperti madu hutan Fatumnasi dan tenun ikat khas Suku Dawan kini mendapat perhatian pasar yang lebih luas. Sektor jasa wisata membuka peluang pekerjaan bagi pemandu wisata lokal, penyedia jasa jungle tracking, dan pengrajin yang sebelumnya tidak memiliki akses pasar [20]. Secara sosial, interaksi dengan wisatawan dari berbagai latar belakang membuka cakrawala masyarakat desa, mendorong generasi muda untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan bahasa asing.
Tantangan dan Kendala
Tantangan internal terberat adalah keterbatasan sumber daya manusia di bidang manajemen pariwisata dan literasi digital. Mayoritas penduduk Fatumnasi berprofesi sebagai petani yang tidak memiliki pengalaman melayani wisatawan, sehingga standar pelayanan homestay dan pemanduan wisata masih perlu ditingkatkan secara berkelanjutan [14]. Penataan akomodasi (cottage dan homestay) yang lebih profesional dan kreatif menjadi pekerjaan rumah yang harus terus dibenahi agar daya tarik wisata Fatumnasi tetap kompetitif di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin ketat.
Tantangan eksternal yang paling krusial adalah aksesibilitas dan infrastruktur. Jarak tempuh sekitar 2 jam dari Kota Soe melalui jalan yang di beberapa titik masih perlu perbaikan menjadi hambatan bagi wisatawan, terutama yang tidak menggunakan kendaraan pribadi [7][21]. Keterbatasan jaringan telekomunikasi, fasilitas sanitasi yang memadai, dan sarana penunjang wisata lainnya turut mengurangi kenyamanan pengunjung. Sebagai kawasan yang berbatasan langsung dengan Cagar Alam Gunung Mutis, pengembangan infrastruktur juga harus memperhatikan regulasi konservasi yang ketat agar tidak merusak ekosistem yang menjadi daya tarik utama [22].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan jangka panjang dirancang melalui penguatan kapasitas masyarakat sebagai pengelola mandiri yang tidak bergantung pada satu figur individu. Program pendampingan dari Kemenparekraf pasca-ADWI 2024 difokuskan pada pelatihan manajemen homestay, pelayanan wisatawan, dan literasi digital agar masyarakat mampu memasarkan destinasi secara mandiri melalui platform daring [16]. Kaderisasi pemuda desa yang dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan wisata sejak dini menjadi kunci agar roda inovasi terus berputar lintas generasi.
Rencana pengembangan ke depan diarahkan pada diversifikasi produk wisata dan peningkatan lama tinggal wisatawan. Pengembangan paket ekowisata multi-hari yang menggabungkan pendakian Gunung Mutis, eksplorasi Hutan Bonsai, pengalaman menginap di Ume Kbubu, workshop tenun ikat, dan panen madu hutan bersama masyarakat bertujuan meningkatkan lama kunjungan dan belanja wisatawan di desa [23]. Kemitraan dengan operator wisata dan penguatan sinergi antara pemerintah, pengelola desa wisata, dan pihak swasta akan memperluas jangkauan pasar, sementara penerapan carrying capacity (daya dukung lingkungan) memastikan bahwa aktivitas wisata tidak melampaui ambang batas kemampuan alam untuk memulihkan diri.
Kontribusi Pencapaian SDGs
| No SDGs | Penjelasan |
|---|---|
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Pengembangan desa wisata berbasis komunitas menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat petani subsisten melalui usaha homestay, pemanduan wisata, penjualan madu hutan, dan kerajinan tenun ikat. Diversifikasi ekonomi ini mengurangi kerentanan rumah tangga terhadap kegagalan panen dan fluktuasi harga komoditas pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan tunggal masyarakat Fatumnasi. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Ekosistem wisata terpadu menciptakan lapangan kerja baru di sektor pariwisata, termasuk pengelola homestay, pemandu wisata lokal, instruktur jungle tracking, pedagang kuliner khas, dan pengrajin tenun ikat. Pertumbuhan ekonomi lokal didorong oleh belanja wisatawan dan peningkatan permintaan terhadap produk-produk khas Fatumnasi seperti madu hutan dan kain tenun Dawan. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Pembangunan infrastruktur wisata berupa jalan akses, papan petunjuk, dan fasilitas pendukung meningkatkan kualitas lingkungan permukiman di Desa Fatumnasi. Penataan kawasan wisata berjalan selaras dengan pelestarian arsitektur tradisional Ume Kbubu dan karakteristik unik perkampungan Suku Dawan di dataran tinggi Timor. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab | Prinsip ekowisata minimal intervensi yang diterapkan di Fatumnasi mendorong pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Wisatawan diajak menikmati keindahan alam tanpa mengeksploitasinya, sementara masyarakat memproduksi madu hutan dan tenun ikat secara tradisional yang berkelanjutan tanpa merusak sumber daya alam. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | Pengembangan ekowisata di kawasan Cagar Alam Gunung Mutis secara langsung mendukung pelestarian ekosistem daratan, termasuk hutan ampupu endemik, padang sabana, dan keanekaragaman hayati pegunungan Timor. Kearifan lokal Suku Dawan yang memandang hutan sebagai entitas sakral menjadi mekanisme konservasi alami yang memperkuat upaya pelestarian resmi pemerintah. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi multipihak antara masyarakat Desa Fatumnasi, Pemerintah Kabupaten TTS, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta lembaga pendamping menjadi model kemitraan efektif dalam pengembangan destinasi wisata berbasis komunitas. Pengakuan ADWI 2024 membuka jaringan kemitraan yang lebih luas dengan operator wisata dan mitra strategis nasional. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Prasyarat minimum untuk mereplikasi model Desa Wisata Ekowisata Berbasis Komunitas Fatumnasi mencakup tiga hal utama. Pertama, keberadaan potensi wisata alam atau budaya yang autentik dan memiliki keunikan pembeda — tidak harus hutan bonsai atau gunung, tetapi bisa berupa air terjun, danau, goa, atau ekosistem khusus lainnya. Kedua, komitmen kolaboratif antara masyarakat, pemerintah desa, dan pemerintah kabupaten untuk mengelola wisata secara partisipatif dengan menghormati kearifan lokal. Ketiga, kesiapan masyarakat untuk menjadi pelaku utama pengelolaan melalui pelatihan manajemen homestay, pemanduan wisata, dan pemasaran digital [11].
Strategi scale up diarahkan pada pembentukan jaringan desa wisata se-Kabupaten Timor Tengah Selatan yang saling terhubung dalam ekosistem pariwisata terintegrasi. Fatumnasi dapat menjadi anchor destination yang terhubung dengan destinasi wisata lain di TTS — seperti Pantai Kolbano dengan batu warna-warninya dan Air Terjun Oehala — dalam satu paket wisata lintas desa yang terkoordinasi. Model CBT yang berhasil di Fatumnasi juga dapat diadaptasi oleh desa-desa lain di Nusa Tenggara Timur yang memiliki potensi alam dan budaya serupa, dengan penyesuaian terhadap konteks lokal masing-masing. Kuncinya adalah memastikan bahwa replikasi tidak
mengorbankan keotentikan — setiap desa harus mengembangkan identitas wisata uniknya sendiri, bukan menjadi salinan dari Fatumnasi.
Daftar Pustaka
[1] Suara TTS, “Desa Wisata Fatumnasi Masuk 50 Besar Terbaik ADWI 2024,” suaratts.com, Agu. 2024. [Online]. Tersedia: https://suaratts.com
[2] Kompas, “Fatumnasi, Desa Wisata di Timor Tengah Selatan yang Raih Penghargaan ADWI 2024,” kompas.com, Agu. 2024. [Online]. Tersedia: https://kompas.com
[3] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, “Profil Desa Wisata Fatumnasi,” jadesta.kemenparekraf.go.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenparekraf.go.id
[4] Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, “Profil Kecamatan Fatumnasi dan Potensi Wisata Alam,” ttskab.go.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://ttskab.go.id
[5] Badan Pusat Statistik Kabupaten Timor Tengah Selatan, “Kecamatan Fatumnasi dalam Angka,” bps.go.id, 2022. [Online]. Tersedia: https://ttskab.bps.go.id
[6] Tribun News, “Pesona Fatumnasi: Hutan Bonsai dan Jalur Pendakian Gunung Mutis di Timor,” tribunnews.com, 2023. [Online]. Tersedia: https://tribunnews.com
[7] Traveloka, “Panduan Wisata Desa Fatumnasi: Akses, Akomodasi, dan Destinasi,” traveloka.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://traveloka.com
[8] Wikipedia, “Ume Kbubu: Rumah Adat Tradisional Suku Dawan,” wikipedia.org, 2024. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org
[9] Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, “Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Fatumnasi,” kemdiktisaintek.go.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://kemdiktisaintek.go.id
[10] Victory News, “Mateos Anin: Tokoh Penggerak Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal di Fatumnasi,” victorynews.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://victorynews.id
[11] Universitas Muhammadiyah Malang, “Strategi Community Based Tourism dalam Pengembangan Desa Wisata Fatumnasi,” umm.ac.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://ejournal.umm.ac.id
[12] Wiyata Publisher, “Pariwisata Berbasis Masyarakat di Desa Fatumnasi Timor Tengah Selatan,” wiyatapublisher.or.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://wiyatapublisher.or.id
[13] Detik Travel, “Hutan Bonsai Fatumnasi: Keajaiban Alam di Dataran Tinggi Timor,” detik.com, 2023. [Online]. Tersedia: https://travel.detik.com
[14] Institut Pariwisata Trisakti, “Pengembangan Kapasitas SDM dan Penataan Cottage Desa Wisata Fatumnasi,” iptrisakti.ac.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://iptrisakti.ac.id
[15] Tempo, “Daftar 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia dalam ADWI 2024,” tempo.co, Agustus 2024. [Online]. Tersedia: https://tempo.co
[16] Spektrum NTT, “Program Pendampingan Kemenparekraf untuk Desa Wisata Fatumnasi Pasca-ADWI 2024,” spektrum-ntt.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://spektrum-ntt.com
[17] Universitas Widya Mataram, “Kearifan Lokal Suku Dawan dalam Pelestarian Ekosistem Gunung Mutis,” widyamataram.ac.id, 2022. [Online]. Tersedia: https://widyamataram.ac.id
[18] Universitas Mataram, “Dampak Ekonomi Pariwisata terhadap Masyarakat di Kawasan Wisata NTT,” unram.ac.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://eprints.unram.ac.id
[19] Kompasiana, “Ume Kbubu: Warisan Budaya Takbenda Suku Dawan yang Menjadi Daya Tarik Wisata,” kompasiana.com, 2023. [Online]. Tersedia: https://kompasiana.com
[20] Emtek, “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat melalui Pariwisata Berkelanjutan di NTT,” emtek.co.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://emtek.co.id
[21] IDN Times, “Panduan Lengkap Wisata ke Fatumnasi: Negeri di Atas Awan di Timor,” idntimes.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://idntimes.com
[22] Jurnal Hospitality dan Sains Terapan, “Sinergitas Stakeholder dalam Pengembangan Amenitas Destinasi Wisata Fatumnasi,” jurnalhst.com, 2023. [Online]. Tersedia: https://jurnalhst.com
[23] STIE Ken Dedes, “Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat melalui Pariwisata di Kabupaten Timor Tengah Selatan,” stieken.ac.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://stieken.ac.id