Ringkasan Inovasi
BUMDes Berkah Maju Bersama (BMB) di Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas mengembangkan sistem pengelolaan sampah terintegrasi berbasis TPST 3R. Inovasi ini mengubah paradigma penanganan sampah dari sekadar angkut-buang menjadi siklus ekonomi sirkular yang menghasilkan energi listrik dan produk bernilai tinggi. [1]
Dampak utama inovasi ini adalah terciptanya kemandirian energi operasional fasilitas pengolahan sampah serta terbukanya lapangan kerja tetap bagi puluhan warga. Keberhasilan ini menjadikan Desa Rempoah sebagai model percontohan nasional dalam penerapan ekonomi sirkular di tingkat pedesaan. [2]
Latar Belakang
Desa Rempoah yang terletak di jalur wisata strategis menuju Baturraden menghadapi tekanan besar ketika Kabupaten Banyumas menyatakan darurat sampah pada tahun 2018. Volume sampah harian yang terus meningkat menimbulkan bau tidak sedap dan merusak kenyamanan warga serta wisatawan yang melintas. [3] Metode konvensional gali-tutup dan open dumping terbukti tidak lagi efektif karena keterbatasan lahan dan risiko pencemaran tanah yang tinggi.
Masalah sosial turut membayangi desa ini karena banyak warga bekerja sebagai pemulung atau buruh kasar dengan penghasilan sangat rendah dan tidak menentu. Mereka mengais sampah tanpa perlindungan kesehatan yang layak dan tanpa kepastian finansial untuk menghidupi keluarga. [4] Kebutuhan sistem pengelolaan sampah yang manusiawi dan berkelanjutan menjadi sangat mendesak untuk menjawab persoalan lingkungan dan kemiskinan sekaligus.
Tantangan terbesar adalah biaya operasional listrik yang sangat tinggi untuk menjalankan mesin pengolah sampah, sehingga fasilitas sejenis di tempat lain kerap mangkrak. Desa Rempoah harus menemukan cara agar pengelolaan sampah tidak terus membebani anggaran desa. [5] Peluang inilah yang mendorong BUMDes Berkah Maju Bersama merancang sistem yang mampu menghasilkan energi dari sampah itu sendiri.
Inovasi yang Diterapkan
BUMDes Berkah Maju Bersama melahirkan inovasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) skala desa yang terintegrasi di dalam fasilitas TPST 3R. Teknologi pirolisis digunakan untuk membakar sampah residu pada suhu hingga 950 derajat Celsius, menghasilkan panas yang dikonversi menjadi uap penggerak turbin generator berkapasitas lima ribu watt. [6] Bank Indonesia melalui KPwBI Purwokerto turut menyumbang alat conveyor pemilah sampah dan mesin pirolisis untuk memperkuat kapasitas TPST. [7]
Pengelolaan sampah organik dilakukan melalui budidaya Black Soldier Fly (BSF) — lalat tentara hitam — yang larvanya dikenal sangat efektif mengurai materi organik. Sampah sisa makanan difermentasi menjadi pakan larva maggot selama 21 hari, lalu dipanen sebagai pakan ternak berprotein tinggi. [8] Sisa uraian larva menghasilkan kasgot — pupuk organik premium yang bernilai tinggi untuk pertanian dan perikanan. Selain inovasi teknologi, BUMDes menerapkan Kartu Iuran Sampah yang mewajibkan warga menunjukkan bukti pembayaran saat mengurus dokumen di kantor desa, menciptakan disiplin partisipasi yang efektif.
Proses Penerapan Inovasi
Proses pengembangan dimulai dengan kolaborasi intensif antara pengelola BUMDes dan akademisi Universitas Jenderal Soedirman untuk merancang teknologi yang sesuai karakteristik sampah lokal. Nana Supriyatna bersama tim teknis melakukan serangkaian eksperimen modifikasi mesin pemilah sampah yang diterima dari pemerintah agar lebih tahan lama dan efisien. [2] Tantangan teknis berupa pisau mesin yang cepat aus diatasi dengan mengganti material menggunakan baja mesin bubut yang lebih keras dan awet.
Eksperimen pada tungku pirolisis dilakukan berulang kali untuk menemukan suhu dan durasi pembakaran optimal agar uap stabil menggerakkan generator. Kegagalan di tahap awal ketika biaya listrik PLN membengkak justru memacu percepatan pengembangan PLTSa mandiri. [5] Pendekatan rekrutmen terbuka mengubah para pemulung dan buruh kasar desa menjadi karyawan tetap dengan gaji bulanan yang lebih layak dan terjamin.
Edukasi masyarakat dilakukan secara masif melibatkan perangkat desa, RT, dan Karang Taruna untuk memastikan sampah terpilah sejak dari rumah tangga. Sanksi denda bagi warga yang membuang sampah sembarangan menjadi metode kejut yang efektif mengubah perilaku masyarakat. [9] Evaluasi keuangan dilakukan setiap bulan untuk memastikan pendapatan dari iuran dan penjualan produk mampu menutup biaya operasional secara mandiri.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama adalah kepemimpinan Nana Supriyatna yang berani melakukan modifikasi teknologi secara mandiri, tanpa menunggu solusi dari luar. Kemampuannya mengintegrasikan pendekatan teknis dan sosial — dari rekayasa mesin hingga rekrutmen pemulung — menciptakan ekosistem kerja yang inklusif dan produktif. [1] Dukungan penuh Kepala Desa Sugeng Pujiharto dalam menetapkan regulasi iuran sampah memperkuat fondasi keberlanjutan finansial TPST.
Faktor kedua adalah kemitraan strategis dengan Universitas Jenderal Soedirman, Pegadaian, dan Bank Indonesia yang memperkuat kapasitas teknis dan finansial TPST. Dukungan alat conveyor dan mesin pirolisis dari Bank Indonesia secara signifikan meningkatkan efisiensi dan kapasitas pengolahan. [7] Kolaborasi lintas sektor inilah yang menjadikan TPST Rempoah mampu berkembang melampaui kapasitas desa pada umumnya.
Hasil dan Dampak Inovasi
PLTSa berhasil memangkas biaya tagihan listrik operasional TPST hingga tiga puluh persen — penghematan signifikan yang dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja. TPST kini mampu mengolah 15 hingga 20 ton sampah per hari dari sekitar 2.000 rumah tangga, 14 instansi, dan lebih dari 50 pelaku usaha. [10] Residu yang selama ini hanya menjadi beban TPA kini berubah menjadi energi cahaya yang menerangi fasilitas kerja TPST secara mandiri.
Dampak sosial ekonomi paling nyata adalah peningkatan taraf hidup 25 warga desa yang kini bekerja sebagai karyawan tetap TPST dengan gaji setara atau melebihi UMR setempat. [4] Maggot BSF yang dipanen secara rutin dijual sebagai pakan ikan dan unggas berprotein tinggi, sementara kasgot dipasarkan sebagai pupuk organik premium ke para petani dan peternak di wilayah Banyumas. [11]
Secara finansial, BUMDes Berkah Maju Bersama telah mandiri dan tidak lagi bergantung pada suntikan dana desa untuk operasional sehari-hari. Arus kas positif dari penjualan maggot, kasgot, dan iuran warga membuktikan bahwa sampah yang dikelola dengan teknologi dan manajemen tepat berubah dari beban menjadi berkah ekonomi desa. Telkom University Purwokerto bahkan turut mengembangkan sistem monitoring real-time untuk budidaya maggot di TPST ini demi meningkatkan produktivitas lebih lanjut. [12]
Tantangan dan Kendala
Kendala teknis muncul sejak awal operasional, terutama pada mesin pemilah sampah yang pisaunya cepat aus akibat beban kerja tinggi. Proses trial-and-error dalam memilih material pengganti pisau membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit sebelum ditemukan solusi menggunakan baja mesin bubut. [6] Tantangan menjaga stabilitas suhu dan tekanan pada tungku pirolisis juga memerlukan eksperimen berulang sebelum sistem berjalan optimal.
Kendala sosial tidak kalah berat: sebagian warga awalnya enggan membayar iuran dan tidak disiplin memilah sampah dari rumah. Kualitas input sampah yang tidak konsisten sempat menekan kapasitas produksi maggot dan membuat TPST masih terpaksa membuang sekitar tiga truk sampah per minggu ke TPA. [9] Ketegasan regulasi desa dikombinasikan dengan edukasi berkelanjutan menjadi kunci untuk mengatasi hambatan sosial ini secara bertahap.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan BUMDes Berkah Maju Bersama bertumpu pada perawatan aset mesin secara mandiri dan diversifikasi produk turunan sampah. Pengelola berencana mengembangkan produksi paving block dari sampah plastik leleh sebagai lini produk baru bernilai infrastruktur. [2] Kapasitas PLTSa akan terus dioptimalkan agar energi listrik yang dihasilkan lebih besar dan stabil untuk mendukung penambahan mesin baru.
Aspek kelembagaan diperkuat dengan mempertahankan regulasi desa mengenai kewajiban iuran sampah yang telah berjalan efektif. Kerjasama dengan toko pertanian dan peternak ikan diperluas untuk menjamin pasar bagi maggot dan kasgot secara berkelanjutan. Regenerasi tenaga teknis disiapkan melalui pelatihan pemuda desa agar kemampuan modifikasi dan perawatan mesin dapat diwariskan ke generasi berikutnya, menjadikan TPST Rempoah sebagai pusat edukasi wisata pengelolaan sampah yang juga menghasilkan pendapatan tambahan. [5]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi TPST 3R BUMDes Berkah Maju Bersama berkontribusi nyata pada beberapa tujuan SDGs yang ditetapkan PBB untuk tahun 2030. Dengan memadukan teknologi energi terbarukan, ekonomi sirkular, pemberdayaan pekerja rentan, dan pengelolaan lingkungan, inovasi ini menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan secara menyeluruh. Pemetaan kontribusinya terhadap SDGs tersaji dalam tabel berikut:
| No SDGs | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | TPST Rempoah menciptakan 25 lapangan kerja tetap dengan gaji stabil bagi warga yang sebelumnya bekerja serabutan sebagai pemulung dan buruh kasar. Penghasilan rutin dari penjualan maggot, kasgot, dan iuran memberikan kepastian finansial yang mengangkat warga dari kerentanan ekonomi. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Produksi kasgot sebagai pupuk organik premium memperkuat produktivitas pertanian warga Desa Rempoah dan sekitarnya. Maggot BSF sebagai pakan ternak berprotein tinggi mendukung ketahanan pangan berbasis peternakan lokal yang lebih mandiri dan berkelanjutan. |
| SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau | PLTSa berbasis teknologi pirolisis menghasilkan energi listrik terbarukan berkapasitas 5.000 watt dari sampah residu yang sebelumnya tidak termanfaatkan. Inovasi ini memangkas ketergantungan TPST pada listrik PLN hingga 30%, membuktikan bahwa energi terbarukan skala desa dapat diwujudkan dari sumber daya lokal. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | BUMDes Berkah Maju Bersama menciptakan pekerjaan layak dengan penghasilan stabil bagi 25 warga desa, mendorong pertumbuhan PADes dari sektor pengelolaan sampah, dan membangun fondasi ekonomi desa yang tidak bergantung semata-mata pada transfer fiskal pemerintah pusat. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Pengolahan 15–20 ton sampah per hari secara terpadu mengubah Desa Rempoah dari desa yang rentan pencemaran menjadi permukiman bersih di jalur wisata Baturraden. Sistem pengelolaan sampah mandiri ini menjadi model permukiman pedesaan berkelanjutan yang layak huni dan ramah lingkungan. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab | Sistem TPST 3R mendorong pola konsumsi bertanggung jawab dengan mengubah paradigma warga dari “buang-habis” menjadi “pilah-olah-jual.” Prinsip sirkular yang menghasilkan listrik, maggot, dan pupuk dari sampah menekan laju pembuangan akhir ke TPA secara signifikan. |
| SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim | Penghentian pembakaran sampah terbuka dan peralihan ke sistem pirolisis terkontrol menurunkan emisi gas rumah kaca dari permukiman secara terukur. Produksi pupuk organik kasgot mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang berkontribusi pada emisi karbon dari sektor pertanian. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Keberhasilan TPST Rempoah bertumpu pada kemitraan multipihak antara BUMDes, Pemerintah Desa, Universitas Jenderal Soedirman, Bank Indonesia KPwBI Purwokerto, Pegadaian, dan Telkom University Purwokerto. Model kolaborasi lintas sektor ini membuktikan bahwa inovasi desa yang kompleks memerlukan sinergi pemerintah, akademisi, dan swasta. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pengelolaan sampah terintegrasi Desa Rempoah sangat layak direplikasi oleh desa-desa lain yang menghadapi persoalan sampah dan keterbatasan anggaran operasional. BUMDes Berkah Maju Bersama membuka diri sebagai laboratorium belajar bagi pengelola sampah dari daerah lain untuk mengadopsi teknologi tepat guna yang telah teruji. [13] Kunci replikasi terletak pada keberanian memodifikasi teknologi sesuai kebutuhan lokal dan ketegasan regulasi desa dalam menegakkan kewajiban iuran warga.
Strategi scale up akan dilakukan dengan memperluas cakupan layanan pengambilan sampah ke desa-desa tetangga yang belum memiliki fasilitas pengolahan memadai. BUMDes juga berencana menjual jasa modifikasi mesin dan konsultasi manajemen TPST kepada KSM lain sebagai unit bisnis baru yang menghasilkan pendapatan. [2] Kolaborasi antar-desa dalam satu kecamatan dapat menciptakan TPST kawasan yang lebih efisien secara skala ekonomi, dengan dukungan insentif kebijakan dari pemerintah daerah Kabupaten Banyumas.
Kata Kunci: BUMDes, Desa Rempoah, Baturraden, Banyumas, TPST 3R, ekonomi sirkular, PLTSa, pirolisis, maggot BSF, Black Soldier Fly, kasgot, pupuk organik, pengelolaan sampah, energi terbarukan, kartu iuran sampah, kemandirian desa, Nana Supriyatna, pakan ternak, Bank Indonesia, Universitas Jenderal Soedirman
Daftar Pustaka
[1] ANTARA, “Rempoah bersinergi mewujudkan desa mandiri,” antaranews.com, 19 Mei 2019. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/878263/rempoah-bersinergi-mewujudkan-desa-mandiri
[2] ANTARA Jateng, “Unsoed-Pegadaian dukung pengelolaan TPST Rempoah untuk atasi sampah desa,” jateng.antaranews.com, 29 Nov. 2024. [Online]. Available: https://jateng.antaranews.com/berita/561649/unsoed-pegadaian-dukung-pengelolaan-tpst-rempoah-untuk-atasi-sampah-desa
[3] Mongabay Indonesia, “Upaya Penanganan Sampah di Banyumas, Dari TPST, Mesin Pirolisis hingga TPA BLE,” mongabay.co.id, 29 Nov. 2021. [Online]. Available: https://mongabay.co.id/2021/11/29/upaya-penanganan-sampah-di-banyumas-dari-tpst-mesin-pirolisis-hingga-tpa-ble/
[4] Tribun Banyumas, “Olah Sampah Warga, TPST Rempoah Baturraden Banyumas Hasilkan Maggot untuk Dijual,” banyumas.tribunnews.com, 3 Agu. 2021. [Online]. Available: https://banyumas.tribunnews.com/2021/08/03/olah-sampah-warga-tpst-rempoah-baturraden-banyumas-hasilkan-maggot-untuk-dijual
[5] Suara Merdeka Banyumas, “Dukung Transisi Energi dari Balik Tumpukan Sampah,” banyumas.suaramerdeka.com, 5 Nov. 2025. [Online]. Available: https://banyumas.suaramerdeka.com/banyumas/0916209622/dukung-transisi-energi-dari-balik-tumpukan-sampah
[6] Tribun Banyumas, “Banyumas Sudah Punya Mesin Pirolisis, Mengolah Residu Sampah Anorganik Tanpa Tersisa,” banyumas.tribunnews.com, 24 Nov. 2020. [Online]. Available: https://banyumas.tribunnews.com/2020/11/24/banyumas-sudah-punya-mesin-pirolisis-mengolah-residu-sampah-anorganik-tanpa-tersisa
[7] Bank Indonesia KPwBI Purwokerto, “Program Sosial Bank Indonesia untuk TPST 3R REMPOAH – Alat Conveyor Pemilah Sampah dan Mesin Pirolisis,” YouTube, 2023. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=neAGeGZjIlo
[8] BUMDes Berkah Maju Bersama, “Edisi Jalan-Jalan Melihat Budidaya Maggot BSF di Desa Rempoah Baturraden,” YouTube, 17 Jun. 2020. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=pf16r03Ydss
[9] Panturaews, “Inovasi Pengelolaan Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular dan Edukasi untuk Masyarakat Desa,” panturanews.com, 12 Jan. 2026. [Online]. Available: https://panturanews.com/index.php/panturanews/baca/266044/12/01/2026/inovasi-pengelolaan-sampah-berbasis-ekonomi-sirkular-dan-edukasi-untuk-masyarakat-desa
[10] Festival Desa Lestari, “Mengubah Sampah Menjadi Berkah | FDL 2020 – Kab. Banyumas,” YouTube, 3 Des. 2020. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=qa56mXvm6YA
[11] Suara Merdeka Banyumas, “Solusi Ramah Lingkungan: KKN Unsoed Limbasari Kenalkan Budidaya Maggot BSF,” banyumas.suaramerdeka.com, 14 Agu. 2025. [Online]. Available: https://banyumas.suaramerdeka.com/banyumas/0915727556/solusi-ramah-lingkungan-kkn-unsoed-limbasari-kenalkan-budidaya-maggot-bsf
[12] Telkom University Purwokerto, “Terapkan Sistem Monitoring Real-Time, Telkom University Purwokerto Tingkatkan Efisiensi Budidaya Maggot,” purwokerto.telkomuniversity.ac.id, 22 Sep. 2025. [Online]. Available: https://purwokerto.telkomuniversity.ac.id/terapkan-sistem-monitoring-real-time-telkom-university-purwokerto-tingkatkan-efisiensi
[13] Ditjen PDP Kemendes PDTT, “Geliat Unit Persampahan BUMDes Berkah Maju Bersama #KabarPILIHAN,” YouTube, 9 Nov. 2022. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=dJIDxB_-YFs