Ringkasan Inovasi
BUMDes Rawa Bento di Desa Jernih Jaya, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, sejak 2018 mengelola wisata susur rawa di Rawa Bento yang dijuluki The Amazon Kerinci [1]. Pemuda desa yang tergabung dalam Kelompok Ekowisata Rawa Bento mengantar wisatawan dengan perahu bermesin menyusuri hutan rawa di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) [1]. Inovasi ini menjawab dua persoalan sekaligus, yaitu perburuan burung dan peracunan ikan di rawa serta minimnya lapangan kerja bagi pemuda [1], [2]. Pengelola membatasi kegiatan pada wisata alam, melarang perburuan lewat peraturan desa, dan memakai pendapatan tiket untuk membeli perahu, pelampung, dan tenda [1]. Kunjungan naik dari 2–3 orang per pekan pada masa awal menjadi rata-rata sekitar 70 orang per pekan [2]. Pengelola juga menyebut angka pengangguran di desa jauh berkurang [1].
Latar Belakang
Desa Jernih Jaya berada di Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, sebagai desa penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat [1]. Gunung Kerinci berdiri di sisi barat desa, sedangkan deretan Gunung Tujuh membentang di sisi timur [1]. Di antara keduanya terbentang Rawa Bento seluas sekitar 1.000 hektare pada ketinggian sekitar 1.375 meter di atas permukaan laut, yang disebut sebagai rawa tertinggi di Sumatera [1], [3]. Kawasan ini merupakan sisa Danau Kerinci purba yang mendangkal hingga tertutup hutan rawa, dengan ekosistem rumput rawa gambut, hutan rawa kerdil, dan danau kecil [1].
Sebelum dikelola sebagai ekowisata, Rawa Bento lebih dikenal karena aktivitas ilegal seperti perburuan burung dan peracunan ikan [2]. Perburuan dan penebangan pohon juga disebut marak di kawasan ini [1]. Di sisi lain, pemuda desa sulit memperoleh pekerjaan, termasuk mereka yang putus sekolah maupun lulusan SMA dan perguruan tinggi [1]. Pada masa awal, kunjungan wisatawan hanya 2 sampai 3 orang per pekan, dengan perahu dayung sebagai satu-satunya sarana dan promosi yang terbatas pada penyebaran nomor kontak ke beberapa homestay di Kayu Aro [2].
Momentum datang dari minat wisatawan yang sudah ada. Wisatawan asing, terutama dari Australia, Belanda, dan Korea, lebih dulu menyewa perahu dayung warga dan berkemah di tepi rawa, di samping peneliti burung dan primata [1]. Pada 2018, pemuda desa membaca minat itu sebagai peluang dan membentuk Kelompok Ekowisata Rawa Bento yang dikelola BUMDes [1]. Banyaknya pengunjung lokal pada tahun itu, karena Rawa Bento lebih mudah dijangkau daripada mendaki Gunung Kerinci atau Gunung Tujuh, memperkuat keputusan tersebut [1].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi ini berupa ekowisata susur rawa yang dijalankan pemuda desa dan diperkuat BUMDes. BUMDes Rawa Bento memberi modal berupa dua perahu bermesin tempel untuk mengantar pengunjung menyusuri hutan rawa [1]. Dalam sekitar satu jam perjalanan, perahu tiba di hamparan rumput bento yang menjadi titik berhenti dan lokasi berkemah dengan latar Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh [1], [4]. Bantuan BioCF pada 2021 menambah dua unit perahu mesin sehingga akses wisata menjadi lebih mudah [2].
Wisatawan dapat memilih beberapa paket. Pada 2022, tarif perahu Rp500 ribu per perahu berkapasitas maksimal 8 orang, paket lengkap dengan pemandu, makanan, dan minuman Rp250 ribu per orang, dan paket kemping komplit Rp525 ribu per orang [1]. Pengunjung juga dapat menyewa tenda, lampu, kantong tidur, dan drone di posko kelompok [1]. Atraksi utama meliputi kawanan kerbau liar, pengamatan burung air, dan memancing, dan TNKS mencatat 46 jenis burung di kawasan ini [1], [5]. Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, kerbau itu awalnya dilepas warga dalam jumlah kecil dan kini berkembang hingga ratusan ekor [5].
Pembeda inovasi ini terletak pada pengelolaan yang menjaga fungsi kawasan konservasi. Karena Rawa Bento berada di dalam TNKS, fasilitas hanya boleh berupa area berkemah, dan penginapan tidak diizinkan dibangun di lokasi [1]. Peraturan Desa Jernih Jaya melarang perburuan hewan, penangkapan burung, dan penebangan pohon dengan sanksi Rp5 juta [1]. Dengan cara ini, wisata menjadi alasan ekonomi bagi warga untuk menjaga rawa, bukan ancaman bagi kawasan.
Proses Penerapan Inovasi
Perjalanan dimulai dari perahu dayung. Sebelum kelompok terbentuk, wisatawan asing sudah menyewa perahu dayung warga dan bermain kano di rawa [1]. Pada 2018, pemuda membentuk Kelompok Ekowisata Rawa Bento, dan BUMDes membekalinya dua perahu bermesin tempel [1]. Pada 2019, TNKS menyusun desain tapak dan site plan bersama kelompok serta memberi bantuan perahu [1]. Tahun 2021 menjadi titik balik ketika bantuan BioCF menambah dua perahu mesin dan kelompok mulai memakai media sosial untuk promosi [2].
Dua koreksi tercatat selama proses ini. Perahu dayung membatasi jangkauan dan jumlah pengunjung, sehingga kelompok beralih ke perahu bermesin yang lebih cepat dan nyaman [2]. Promosi yang semula hanya lewat nomor kontak di homestay diperluas ke media sosial [2]. Hasilnya, kunjungan naik dari 2–3 orang per pekan menjadi rata-rata sekitar 70 orang per pekan [2].
Bagi replikator, proses ini memberi tiga catatan. Pertama, mulailah dari sarana sederhana yang sudah dimiliki warga, seperti perahu dayung, lalu tingkatkan seiring permintaan. Kedua, libatkan otoritas kawasan sejak awal agar rute dan fasilitas sesuai aturan konservasi [1]. Ketiga, siapkan tenaga dan dana pembersihan gulma sejak awal karena eceng gondok tumbuh sangat cepat, terutama pada musim hujan [1].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan eksternal terbesar datang dari alam. Eceng gondok tumbuh sangat cepat, terutama pada musim hujan, dan menghalangi jalur perahu sehingga pembersihannya menyerap tenaga dan dana [1]. Hujan lebat dan banjir menutup sisi kiri dan kanan sungai sehingga wisata tidak dapat berjalan selama satu hingga dua bulan [1]. Pengelola memitigasinya dengan menyisihkan pendapatan usaha untuk membiayai pembersihan jalur [1].
Tantangan internal berupa keterbatasan tenaga dan modal. Kelompok dikelola 25 pemuda berusia 15 sampai 30 tahun, dan sebagian masih pelajar yang menjadi pemandu saat ada pengunjung [1]. Pendapatan usaha belum menyumbang kas desa karena seluruhnya dipakai lagi untuk pengembangan layanan [1]. Pengelola menjawabnya dengan menanamkan kembali hasil usaha untuk menambah perahu, pelampung, tenda, gazebo, serta meja dan kursi [1].
Pengelolaan di dalam taman nasional menuntut kepatuhan pada aturan konservasi, misalnya larangan membangun homestay [1]. Kerja sama dengan TNKS, terutama untuk tiket masuk, masih direncanakan pada saat dokumentasi ditulis [1]. Kunjungan juga berfluktuasi, dengan puncak 1.474 orang pada Mei 2022 dan kisaran 200 sampai 400 orang pada tiga bulan terakhir tahun itu [1]. Untuk memperluas sumber pendapatan, pengelola membuka peluang wisata kebun kopi, kuliner, dan oleh-oleh di sekitar dermaga [1].
Faktor Penentu Keberhasilan
Keberhasilan inovasi ini ditopang oleh peta pemangku kepentingan yang saling melengkapi. Kelompok Ekowisata beranggotakan 25 pemuda menjadi pelaksana harian, sedangkan BUMDes Rawa Bento menyediakan modal perahu dan dipimpin Dozer yang juga memimpin kelompok tersebut [1]. Balai Besar TNKS mendorong pengelolaan sejak awal, menyusun desain tapak pada 2019, dan memberi bantuan perahu [1]. Program BioCF Provinsi Jambi menambah dua perahu mesin pada 2021, dan kajian akademik menegaskan bahwa kolaborasi erat BUMDes dan komunitas lokal memperbaiki akses, atraksi, dan fasilitas wisata [2], [6].
Modal sosial yang mengikat partisipasi adalah keterlibatan pemuda desa sebagai pemilik usaha. Dozer mengajak anak yang putus sekolah dan lulusan yang belum bekerja untuk bergabung mengelola Rawa Bento [1]. Kerbau liar di rawa hidup alami tetapi tetap dimiliki beberapa warga, sehingga satwa itu menjadi bagian dari kepentingan bersama [1]. Peraturan desa bersanksi Rp5 juta menegaskan kesepakatan warga untuk melindungi rawa, sementara pengelolaan wisata berada di bawah pengawasan TNKS [1], [7].
Hasil dan Dampak Inovasi
Perbandingan kondisi sebelum dan sesudah menunjukkan perubahan yang jelas pada kunjungan. Pada masa awal, Rawa Bento menerima 2 sampai 3 pengunjung per pekan, dan laporan BioCF yang terbit Agustus 2025 mencatat rata-rata sekitar 70 pengunjung per pekan, atau naik sekitar 23 hingga 35 kali lipat [2]. Kunjungan tertinggi pada 2022 mencapai 1.474 orang dalam sebulan [1]. Pada libur Lebaran 2026, pengunjung terpantau padat dan sebagian besar datang dari luar Kabupaten Kerinci [8].
Dampak sosial ekonomi terlihat pada pemuda desa. Dua puluh lima pemuda kini mengelola kawasan dan memperoleh penghasilan sebagai pegiat wisata, meski usaha belum menyumbang pendapatan desa [1]. Dozer menyebut angka pengangguran di desa jauh berkurang, tetapi dokumentasi belum memuat jumlah penganggur sebelum dan sesudah inovasi [1]. Dari sisi konservasi, perburuan dan penebangan kini dilarang aturan desa, dan BioCF melaporkan praktik yang merusak lingkungan menghilang [1], [2]. Data jumlah kasus perburuan sebelum dan sesudah belum tersedia, sehingga capaian ini perlu diperkuat pencatatan.
Perubahan perilaku dan dampak lanjutan mulai tampak. Warga yang semula lekat dengan perburuan burung dan peracunan ikan kini memperoleh penghasilan dari menjaga rawa [2]. Perahu wisata kini juga berangkat dari Desa Pelompek, sehingga manfaat ekonomi menjangkau desa tetangga [4]. Kawasan ini juga menjadi lokasi tetap sensus burung air Asia sejak 2019, yang memperkuat nilai ilmiahnya [1].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Modal awal usaha berasal dari beberapa pihak. BUMDes Rawa Bento menyediakan dua perahu bermesin tempel, TNKS menyusun desain tapak dan memberi bantuan perahu pada 2019, dan program BioCF menambah dua perahu mesin pada 2021 [1], [2]. Dokumentasi yang tersedia belum mencantumkan nilai rupiah investasi awal maupun biaya operasional tahunan. Informasi tersebut perlu dilengkapi agar replikator dapat menghitung kebutuhan modal.
Model pendapatan bertumpu pada penjualan paket perahu, paket lengkap dengan pemandu, paket kemping, serta penyewaan peralatan berkemah dan drone [1]. Seluruh pendapatan dipakai kembali untuk membeli perahu, pelampung, tenda, gazebo, perabot, dan membiayai pembersihan jalur [1]. Pada 2026, pengelola menyatakan dana tarif dipakai untuk perawatan kawasan serta operasional dan gaji staf [8]. Skema tiket masuk bersama TNKS direncanakan sebagai tambahan sumber pendapatan [1].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan yang terbukti tepat adalah memulai dari pasar dan sarana yang sudah ada, yaitu wisatawan asing dan perahu dayung warga. Kemitraan dengan TNKS menjaga rute dan fasilitas tetap sesuai aturan konservasi [1]. Peraturan desa bersanksi dan penanaman kembali pendapatan untuk peralatan membuat usaha tumbuh tanpa merusak kawasan [1]. Peralihan ke perahu mesin dan promosi lewat media sosial mempercepat kenaikan kunjungan [2].
Berdasarkan hambatan yang tercatat, ada tiga hal yang layak didahulukan jika inovasi serupa dimulai dari awal. Pertama, siapkan anggaran dan jadwal pembersihan eceng gondok sejak tahun pertama [1]. Kedua, rundingkan pembagian pendapatan tiket dengan pengelola taman nasional dan kas desa sejak awal, karena usaha belum menyumbang pendapatan desa [1]. Ketiga, catat jumlah pengunjung, tenaga kerja, dan kasus perburuan secara berkala agar dampak dapat dibandingkan dengan kondisi awal.
Desa penyangga kawasan konservasi lain disarankan memetakan potensi alam yang selama ini dianggap biasa, lalu membentuk kelompok pemuda sebagai pengelola. Langkah berikutnya adalah menjalin kerja sama dengan otoritas kawasan, menetapkan aturan desa yang melindungi satwa dan pohon, serta menyiapkan sarana bertahap sesuai permintaan. Pendekatan bertahap ini menekan kebutuhan modal di awal dan memberi waktu bagi pemuda untuk belajar menjadi pemandu.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan usaha bertumpu pada penanaman kembali pendapatan untuk menambah perahu, pelampung, tenda, dan fasilitas kemah [1]. Pengelola berencana menyediakan tenda premium serta mengembangkan wisata kebun kopi, kuliner, dan oleh-oleh di sekitar dermaga [1]. Kerja sama tiket masuk dengan TNKS juga direncanakan agar pengelolaan kawasan memiliki dasar yang lebih formal [1].
Dokumentasi belum menjelaskan mekanisme regenerasi kepemimpinan. Kelompok yang beranggotakan pemuda berusia 15 sampai 30 tahun, termasuk pelajar, memberi jalur regenerasi alami bagi pemandu dan operator perahu [1]. Namun, Dozer saat ini memegang dua peran sekaligus sebagai ketua BUMDes dan ketua kelompok, sehingga pembagian tugas dan prosedur tertulis perlu disiapkan agar usaha tidak bergantung pada satu tokoh.
Kemandirian pendapatan sudah terlihat dari penjualan paket wisata dan penyewaan peralatan yang menutup kebutuhan operasional dan perawatan [1], [8]. Bantuan program seperti BioCF berperan sebagai pemicu awal, bukan sumber pendapatan tetap [2]. Ke depan, pendapatan tambahan dari kopi, kuliner, dan oleh-oleh dapat mengurangi ketergantungan pada musim kunjungan.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi ekowisata Rawa Bento berkontribusi pada empat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama melalui pekerjaan bagi pemuda dan perlindungan kawasan penyangga taman nasional. Kontribusi tersebut sebagian besar masih bersifat kualitatif karena data capaian terukur belum lengkap. Indikator dalam tabel berikut memakai data yang tersedia dan menandai baseline yang masih perlu dicatat.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Ekowisata membuka sumber penghasilan bagi pemuda desa yang sebelumnya sulit memperoleh pekerjaan, termasuk yang putus sekolah [1]. | 25 pemuda berusia 15–30 tahun mengelola kawasan; jumlah penganggur sebelum inovasi belum tercatat [1]. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Paket perahu, pemandu, kemping, dan penyewaan peralatan menciptakan usaha wisata berbasis desa yang menanamkan kembali pendapatannya [1]. | Kunjungan naik dari 2–3 orang per pekan menjadi rata-rata sekitar 70 orang per pekan; puncak 1.474 orang pada Mei 2022 [1], [2]. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | Peraturan desa dan pengelolaan wisata bersama TNKS menekan perburuan dan penebangan di kawasan rawa penyangga taman nasional [1], [2]. | Sanksi Rp5 juta bagi perburuan dan penebangan; 46 jenis burung tercatat; lokasi tetap sensus burung air sejak 2019 [1]. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kemitraan BUMDes, kelompok pemuda, Balai Besar TNKS, dan program BioCF menyediakan modal, desain tapak, dan perahu [1], [2]. | Empat pihak bermitra; desain tapak 2019 dan dua perahu mesin bantuan BioCF pada 2021 [1], [2]. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Prasyarat minimum replikasi mencakup tiga hal, yaitu potensi alam yang menarik dan aman dikunjungi, kelompok pemuda yang bersedia mengelola, dan kesepakatan dengan pengelola kawasan atau pemerintah desa mengenai aturan pemanfaatan [1]. Desa juga perlu peraturan yang melarang perburuan dan perusakan agar atraksi tetap terjaga. Tanpa prasyarat ini, wisata berisiko merusak kawasan yang justru menjadi daya tariknya.
Dokumentasi belum memuat estimasi biaya replikasi. Kronologi yang tercatat menunjukkan sekitar empat tahun dari pembentukan kelompok pada 2018 hingga kunjungan puncak pada 2022, dengan modal awal berupa perahu dayung dan dua perahu mesin tempel [1], [2]. Desa pemula dapat memulai dari sarana serupa, lalu menambah perahu dan perlengkapan setelah permintaan terbukti. Besaran anggaran perlu dihitung sesuai kondisi masing-masing desa.
Model ini dapat diadaptasi ke kawasan lahan basah, hutan, atau danau lain dengan menyesuaikan atraksi dan aturan setempat. Manfaat dapat diperluas melalui kerja sama antardesa, seperti perahu wisata dari Desa Pelompek menuju Rawa Bento [4]. BUMDes Rawa Bento juga dapat berbagi pengalaman kepada desa penyangga taman nasional lain, sedangkan kajian akademik tentang sinergi BUMDes dan komunitas dapat menjadi rujukan penyusunan standar pengelolaan [6].
Daftar Pustaka
[1] Febrianti, “BUMDes Rawa Bento Kelola Wisata The Amazon Kerinci,” kanaldesa.com, 2 Des. 2022. [Online]. Available: https://kanaldesa.com/artikel/bumdes-rawa-bento-kelola-wisata-the-amazon-kerinci
[2] BioCF-ISFL Provinsi Jambi, “Rawa Bento: Dari Perahu Dayung Menuju Harapan Baru Konservasi,” biocf.jambiprov.go.id, 8 Agu. 2025. [Online]. Available: https://biocf.jambiprov.go.id/post/rawa-bento-dari-perahu-dayung-menuju-harapan-baru-konservasi
[3] Redaksi Kompas.com, “Rawa Bento di TN Kerinci Seblat, Disebut Mirip Sungai Amazon,” travel.kompas.com, 7 Jun. 2023. [Online]. Available: https://travel.kompas.com/read/2023/06/07/101200027/rawa-bento-di-tn-kerinci-seblat-disebut-mirip-sungai-amazon
[4] Redaksi Kompas.com, “Rawa Bento di Jambi: Daya Tarik, Biaya, dan Rute,” regional.kompas.com, 25 Jul. 2024. [Online]. Available: https://regional.kompas.com/read/2024/07/25/223421478/rawa-bento-di-jambi-daya-tarik-biaya-dan-rute
[5] Redaksi Liputan6.com, “Menikmati Pagi di Rawa Bento dengan Berlatar Kemegahan Kerinci,” liputan6.com, 22 Des. 2022. [Online]. Available: https://www.liputan6.com/news/read/4733124/menikmati-pagi-di-rawa-bento-dengan-berlatar-kemegahan-kerinci
[6] D. Nofiansyah dan K. Khoirunnisa, “Sinergitas Bumdes dalam Pengembangan Kerangka 3A Berbasis Ekonomi Islam (Studi Kasus: Wisata Rawa Bento, Desa Jernih Jaya, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi),” EKOMAN: Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Manajemen, vol. 2, no. 3, hlm. 513–526, 2024, doi: 10.61930/ekoman.v2i3.224. [Online]. Available: https://doi.org/10.61930/ekoman.v2i3.224
[7] Redaksi detikTravel, “Menelusuri Rawa Bento, ‘Amazon’ dari Sumatera,” travel.detik.com, 26 Jul. 2022. [Online]. Available: https://travel.detik.com/cerita-perjalanan/d-6198957/menelusuri-rawa-bento-amazon-dari-sumatera
[8] Redaksi Detektif Spionase, “Pesona Rawa Bento, Destinasi Wisata Alam Ala Amazon yang Kian Diminati di Libur Lebaran 2026,” detektifspionase.com, 25 Mar. 2026. [Online]. Available: https://detektifspionase.com/berita/detail/pesona-rawa-bento-destinasi-wisata-alam-ala-amazon-yang-kian-diminati-di-libur-lebaran-2026