Ringkasan Inovasi

Kelompok Kerja (Pokja) Resik di Desa Kalensari, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, menghadirkan terobosan pengelolaan sampah dengan mengubah limbah rumah tangga menjadi asap cair pestisida organik melalui teknologi mesin pirolisis yang digagas oleh Kepala Desa Ir Masroni pada tahun 2016 [1], [2]. Inovasi berbasis ekonomi sirkular ini menerapkan sistem pengumpulan sampah komunal tanpa pemilahan untuk diproses menjadi asap cair tiga tingkatan mutu — grade satu sebagai pengawet makanan, grade dua sebagai pestisida nabati, dan grade tiga sebagai pengawet bahan bangunan — dengan kapasitas produksi lima hingga dua belas liter per siklus mingguan, berhasil memangkas volume tumpukan sampah desa hingga mendekati nol persen dan menurunkan biaya produksi pertanian bagi komunitas petani Kalensari [2], [3].

 

Latar Belakang

Desa Kalensari di Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat, menghadapi persoalan klasik berupa rendahnya kedisiplinan warga dalam memilah dan mengelola limbah rumah tangga. Tumpukan sampah kering yang menggunung di berbagai sudut pekarangan desa memicu bau tidak sedap dan menyimpan potensi penyebaran bibit penyakit menular [2]. Kondisi sanitasi lingkungan yang memburuk ini menciptakan kebutuhan mendesak akan sistem pengelolaan sampah komunal yang praktis dan tidak merepotkan warga.

Pada sisi lain, para petani setempat menyuarakan keluhan terkait tingginya biaya pembelian bahan kimia sintetis untuk pengendalian hama tanaman. Serangan organisme pengganggu seperti penggerek batang padi dan ulat grayak kerap merusak hasil panen sehingga mengancam ketahanan pangan keluarga petani [2], [1]. Penelitian di berbagai universitas Indonesia menunjukkan bahwa asap cair hasil pirolisis biomassa mengandung senyawa fenol, asam organik, dan karbonil yang efektif sebagai pestisida nabati [4].

Peluang untuk menyelesaikan masalah lingkungan dan pertanian secara bersamaan inilah yang mendorong pemerintah desa merumuskan solusi terpadu. Kabupaten Indramayu sendiri telah mencanangkan program Manajemen Sampah Zero (MASARO) yang mengedepankan prinsip pengolahan sampah dari cost center menjadi profit center [5]. Semangat pengelolaan limbah berbasis nilai ekonomi ini menjadi landasan lahirnya inovasi mesin pirolisis di Desa Kalensari.

 

Inovasi yang Diterapkan

Gagasan inovasi ini lahir dari inisiatif Kepala Desa Kalensari, Ir Masroni, yang membentuk Kelompok Kerja Resik pada tahun 2016 untuk mengelola kebersihan dan pengolahan sampah desa. Tim yang beranggotakan empat orang pemuda berdedikasi ini mendatangkan sebuah unit mesin pirolisis untuk memproses limbah kering, baik organik maupun nonorganik [1], [2]. Kehadiran teknologi penghasil asap cair ini menjadi jawaban atas kebiasaan warga yang membuang sampah tanpa pemilahan terlebih dahulu.

Mesin pirolisis ini bekerja dengan metode pembakaran bertemperatur tinggi di dalam ruang minim oksigen sehingga meminimalkan pencemaran karbon ke udara. Asap pekat yang dihasilkan dari pembakaran limbah disalurkan menuju pipa penyulingan untuk melewati fase kondensasi hingga menetes menjadi asap cair [2]. Produk asap cair yang dihasilkan diklasifikasikan ke dalam tiga tingkatan mutu: grade satu sebagai pengawet makanan, grade dua sebagai pestisida nabati untuk pertanian, dan grade tiga sebagai pengawet bahan bangunan seperti kayu.

Pendekatan ini dirancang agar warga hanya perlu membuang seluruh jenis sampah ke dalam satu wadah tempat pembuangan komunal tanpa harus memisahkan kategori materialnya. Strategi penyederhanaan ini efektif meningkatkan partisipasi warga dalam program pengelolaan sampah karena tidak membebani mereka dengan proses pemilahan yang dianggap merepotkan [2]. BUMDes Berkah Mandiri turut berperan dalam mengelola distribusi dan pemasaran produk asap cair yang dihasilkan oleh Pokja Resik.

 

Proses Penerapan Inovasi

Tahapan operasional pengelolaan limbah desa diawali dengan rutinitas pengumpulan sampah dari berbagai titik tempat pembuangan sementara dalam siklus setiap tiga hari sekali. Seluruh material yang terkumpul langsung dimasukkan ke dalam bak penampungan mesin pirolisis untuk diproses menjadi asap cair multiguna [1]. Pada masa awal percobaan penyulingan, tim pengelola mengalami kesulitan teknis dalam mengatur kestabilan suhu tungku pembakaran sehingga kualitas asap cair yang diproduksi belum konsisten.

Kegagalan teknis pada fase pengujian lapangan justru memberikan wawasan empiris berharga bagi tim untuk memodifikasi struktur ruang pembakaran mesin pirolisis. Melalui puluhan kali eksperimen penyulingan bertingkat, empat anggota Pokja Resik berhasil memproduksi asap cair yang terklasifikasi ke dalam tiga tingkatan mutu berdasarkan spesifikasi fungsinya [2]. Penelitian di Universitas Hasanuddin menunjukkan bahwa suhu pirolisis optimal pada kisaran 380–430 derajat Celsius menghasilkan asap cair dengan kandungan senyawa aktif tertinggi sebagai insektisida alami [6].

Proses pembelajaran dari rentetan percobaan ini mengantarkan mesin pengolah sampah tersebut beroperasi pada tingkat performa optimal. Pokja Resik juga menjalin kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk diversifikasi produk olahan limbah, termasuk pengembangan pupuk ramah lingkungan [2]. Kolaborasi dengan lembaga akademis ini memperkuat basis ilmiah dalam pengembangan produk turunan sampah di Desa Kalensari.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan teknis terbesar terletak pada kesulitan mengatur kestabilan suhu tungku pembakaran mesin pirolisis selama fase awal operasi, yang menyebabkan kualitas asap cair tidak konsisten [2]. Mitigasinya ditempuh melalui puluhan kali eksperimen penyulingan bertingkat untuk menemukan parameter optimal, serta merujuk pada literatur ilmiah yang menunjukkan bahwa suhu pirolisis optimal pada kisaran 380–430 derajat Celsius menghasilkan kandungan senyawa aktif tertinggi [6].

Tantangan kedua adalah keterbatasan sumber daya manusia terampil di bidang teknologi pengolahan limbah. Pokja Resik hanya beranggotakan empat orang sehingga kapasitas produksi dan cakupan pengumpulan sampah terbatas [1]. Mitigasinya ditempuh melalui program regenerasi keanggotaan Pokja Resik yang melibatkan pemuda desa dan forum diskusi edukasi lingkungan di tingkat rukun warga secara berkala, serta kolaborasi dengan IPB untuk memperkuat kapasitas teknis tim pengelola.

Tantangan ketiga adalah resistensi awal dari sebagian warga yang skeptis terhadap manfaat pengolahan sampah. Mitigasinya ditempuh melalui pendekatan psikologis berupa sistem pengumpulan sampah tanpa pemilahan yang menghilangkan hambatan partisipasi, serta pembuktian hasil secara konsisten berupa produk asap cair yang nyata bermanfaat bagi petani [2]. Aspek pemasaran dan standardisasi produk dimitigasi melalui pelibatan BUMDes Berkah Mandiri dalam distribusi dan rencana kerjasama sertifikasi laboratorium dengan lembaga akademis.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan visioner Kepala Desa Ir Masroni menjadi faktor penentu utama keberhasilan inovasi ini. Beliau tidak hanya berani mengambil keputusan strategis membentuk Pokja Resik, tetapi juga secara aktif membangun jejaring kolaborasi dengan lembaga akademis dan pemerintah kabupaten [2], [1]. Dedikasi empat anggota Pokja Resik yang pantang menyerah menghadapi puluhan kali kegagalan eksperimen menjadi pondasi keberhasilan teknis dalam menghasilkan asap cair berkualitas.

Pendekatan psikologis yang tepat dalam mendesain sistem pengumpulan sampah turut menentukan keberhasilan program ini. Keputusan untuk tidak mewajibkan warga memilah sampah menghilangkan hambatan partisipasi yang selama ini menjadi kendala utama program kebersihan desa [2]. Dukungan kelembagaan melalui BUMDes Berkah Mandiri memastikan keberlanjutan pengelolaan produk asap cair dari aspek distribusi dan pemasaran.

Sinergi antara program kabupaten dan inisiatif desa juga memperkuat keberhasilan inovasi ini. Program MASARO Kabupaten Indramayu yang mengedepankan kolaborasi pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat memberikan ekosistem yang kondusif bagi pengembangan inovasi pengelolaan sampah di tingkat desa [5]. Kemitraan dengan IPB dalam pengembangan produk turunan limbah memperkuat kapasitas inovasi Pokja Resik secara berkelanjutan.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum inovasi diterapkan, tumpukan sampah kering menggunung di berbagai sudut pekarangan Desa Kalensari memicu bau tidak sedap dan menyimpan potensi penyebaran penyakit, sementara petani harus mengeluarkan biaya tinggi untuk membeli pestisida kimia sintetis yang mengancam kesehatan dan kelestarian lingkungan. Setelah mesin pirolisis beroperasi, Pokja Resik berhasil memproduksi lima hingga dua belas liter asap cair pada setiap siklus produksi mingguan, volume tumpukan sampah di lingkungan desa terpangkas hingga mendekati nol persen, dan produk asap cair grade dua telah dibuktikan efektif sebagai pestisida pembasmi hama perusak tanaman padi [1], [2].

Secara kualitatif, persepsi masyarakat terhadap limbah rumah tangga mengalami transformasi dari ancaman menjadi sumber daya ekonomi yang menjanjikan. Para petani menikmati penghematan biaya produksi pertanian secara signifikan karena tidak perlu lagi membeli pestisida kimia sintetis berharga tinggi [2]. Penelitian di Universitas Negeri Gorontalo menunjukkan bahwa asap cair dengan konsentrasi tujuh persen mampu mencapai tingkat mortalitas ulat grayak hingga 88,89 persen, memperkuat validasi ilmiah atas efektivitas produk Pokja Resik [4].

Dampak spillover yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal adalah melambungnya reputasi Desa Kalensari sebagai pionir desa mandiri bebas limbah. Diversifikasi produk asap cair ke dalam tiga tingkatan mutu membuka potensi pendapatan dari berbagai segmen pasar, mulai dari sektor pangan, pertanian, hingga bahan bangunan [3].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Sumber pendanaan awal pembangunan dan pengadaan mesin pirolisis berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang dialokasikan atas inisiatif Kepala Desa Ir Masroni, mencakup biaya pengadaan unit mesin pirolisis, peralatan pendukung penyulingan, serta biaya operasional awal selama fase eksperimen dan pengujian [2].

Model bisnis Pokja Resik bertumpu pada penjualan produk asap cair tiga tingkatan mutu yang didistribusikan melalui BUMDes Berkah Mandiri. Grade satu sebagai pengawet makanan menyasar segmen industri pangan, grade dua sebagai pestisida nabati menyasar komunitas petani lokal dan regional, dan grade tiga sebagai pengawet bahan bangunan menyasar sektor konstruksi [2]. Pendapatan dari penjualan produk dikelola oleh Pokja Resik untuk menutup biaya operasional, pemeliharaan mesin, dan pengadaan suku cadang, sementara keuntungan bersih dikembalikan ke kas desa melalui BUMDes. Rencana komersialisasi jangka panjang mencakup penyiapan standar pengemasan produk yang lebih profesional agar memiliki daya saing di pasar yang lebih luas [3].

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan kunci yang tepat adalah mendesain sistem pengumpulan sampah tanpa mewajibkan pemilahan, karena pendekatan ini menghilangkan hambatan psikologis yang selama ini menjadi penyebab kegagalan program kebersihan desa di banyak wilayah. Keputusan untuk tidak menyerah setelah puluhan kali kegagalan eksperimen pirolisis juga terbukti menjadi fondasi keberhasilan — dedikasi tim yang pantang menyerah akhirnya menghasilkan parameter optimal untuk produksi asap cair berkualitas [2].

Jika memulai dari awal, survei literatur ilmiah mengenai parameter suhu pirolisis optimal sebaiknya dilakukan secara lebih mendalam sebelum memulai eksperimen lapangan, agar jumlah percobaan yang dibutuhkan dapat dikurangi secara signifikan. Sertifikasi laboratorium untuk produk asap cair juga sebaiknya diurus sejak tahap awal, bukan menunggu produk sudah jadi baru kemudian mencari jalur sertifikasi [6]. Saran praktis bagi desa lain adalah memulai dengan satu unit mesin pirolisis skala kecil untuk pembuktian konsep, melibatkan lembaga akademis sejak fase perencanaan untuk mempercepat kurva pembelajaran, dan memastikan distribusi produk dikelola oleh badan usaha desa yang memiliki kapasitas pemasaran [3].

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Strategi keberlanjutan inovasi ini bersandar pada rencana komersialisasi produk asap cair menuju pasar pertanian yang lebih luas. Pemerintah desa tengah menyiapkan standar pengemasan produk yang lebih profesional agar pestisida organik tersebut memiliki daya saing komersial di pasaran [2]. Pendapatan dari penjualan produk dikelola oleh Pokja Resik untuk menutup biaya pemeliharaan dan pengembangan mesin pirolisis.

Program edukasi kesadaran lingkungan kepada generasi muda dilaksanakan melalui forum diskusi di tingkat rukun warga secara berkala. Regenerasi kepemimpinan keanggotaan Pokja Resik telah dipersiapkan agar estafet pengelolaan kebersihan desa tidak terputus [1]. Kolaborasi berkelanjutan dengan IPB dan lembaga akademis lainnya diharapkan memperkuat inovasi produk turunan sampah serta memperoleh sertifikasi formal bagi produk asap cair.

Integrasi dengan program MASARO Kabupaten Indramayu membuka peluang dukungan kebijakan dan pendanaan dari pemerintah daerah [5]. Dokumentasi praktik baik melalui platform inovasi.web.id memperluas jangkauan diseminasi inovasi ini kepada desa-desa lain di seluruh Indonesia [3].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi mesin pirolisis Pokja Resik Desa Kalensari berkontribusi pada beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama dalam dimensi ketahanan pangan, kesehatan lingkungan, pertumbuhan ekonomi, dan konsumsi berkelanjutan, sebagaimana dirinci dalam tabel berikut.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Pokja Resik menciptakan lapangan kerja bagi empat pemuda desa sebagai pengelola mesin pirolisis dan distributor produk asap cair, menjadi sumber ekonomi baru yang mengurangi ketergantungan pada pekerjaan musiman. 4 pemuda desa terserap sebagai pengelola Pokja Resik; pendapatan dari penjualan asap cair tiga tingkatan mutu
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Ketersediaan pestisida organik asap cair melindungi tanaman padi dari serangan hama penggerek batang dan ulat grayak sehingga hasil panen petani Kalensari lebih terjaga. Penghematan biaya pembelian pestisida kimia sintetis; mortalitas ulat grayak hingga 88,89% dengan konsentrasi 7%
SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera Pengurangan volume sampah hingga mendekati nol persen menghilangkan sumber penyebaran bibit penyakit menular di lingkungan desa, sementara pestisida organik menggantikan bahan kimia sintetis yang berbahaya bagi kesehatan. Volume tumpukan sampah desa mendekati 0%; eliminasi penggunaan pestisida kimia sintetis oleh petani
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pengelolaan mesin pirolisis oleh Pokja Resik dan BUMDes Berkah Mandiri menciptakan rantai nilai ekonomi baru dari pengumpulan sampah, produksi asap cair, hingga distribusi dan pemasaran produk. Produksi 5–12 liter asap cair per siklus mingguan; distribusi melalui BUMDes Berkah Mandiri; diversifikasi ke tiga segmen pasar
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Sistem pengumpulan dan pengolahan sampah komunal tanpa pemilahan mewujudkan permukiman desa yang bersih, sehat, dan berkelanjutan dengan partisipasi warga yang tinggi. Pengumpulan sampah komunal setiap 3 hari sekali; partisipasi warga meningkat berkat sistem tanpa pemilahan
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Transformasi sampah menjadi produk asap cair bernilai ekonomi merupakan implementasi prinsip ekonomi sirkular di tingkat desa, mengurangi ketergantungan pada produk kimia sintetis. Seluruh sampah desa diproses menjadi produk bernilai ekonomi; zero waste approach berhasil diterapkan
SDGs 15: Ekosistem Daratan Penggunaan pestisida organik asap cair menggantikan bahan kimia sintetis melindungi ekosistem tanah, air, dan mikroorganisme bermanfaat di lahan pertanian. Eliminasi pencemaran tanah dan air akibat pestisida kimia; perlindungan mikroorganisme bermanfaat di lahan pertanian

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Keberhasilan Pokja Resik Desa Kalensari dapat direplikasi oleh desa-desa lain di Kabupaten Indramayu dan wilayah pertanian lainnya yang menghadapi masalah penumpukan sampah dan ketergantungan pada pestisida kimia. Prasyarat minimum replikasi meliputi pengadaan satu unit mesin pirolisis, pembentukan tim pengelola minimal empat orang yang bersedia menjalani pelatihan teknis, dukungan pemerintah desa melalui APBDes, dan pelibatan BUMDes untuk distribusi produk [3]. Dokumentasi lengkap mengenai metodologi operasional mesin pirolisis dan teknik penyulingan asap cair dibuka bagi siapa saja yang berminat mempelajarinya.

Pengembangan jaringan pengelolaan limbah berskala regional dapat digulirkan melalui pembentukan konsorsium pengolahan sampah antardesa yang saling terhubung. Integrasi dengan program MASARO yang telah diterapkan di Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, melalui kerja sama ITB dan PT Polytama Propindo menunjukkan bahwa kolaborasi multipihak mempercepat penyebarluasan inovasi pengolahan sampah [5]. Estimasi biaya replikasi mencakup pengadaan mesin pirolisis skala desa, pelatihan operator, dan biaya operasional awal selama fase eksperimen, dengan durasi pembangunan dan pengujian berkisar tiga hingga enam bulan sebelum mesin mencapai performa optimal.

 

Daftar Pustaka

[1] Wikipedia, “Kalensari, Widasari, Indramayu,” id.wikipedia.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kalensari,_Widasari,_Indramayu

[2] Disway, “BUMDes Berkah Mandiri Desa Kalensari Ciptakan Mesin Pengolah Sampah Menjadi Asap Cair Pestisida,” disway.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://disway.id

[3] Inovasi Desa, “Dokumentasi Inovasi dan Praktik Baik Pembangunan Desa,” inovasi.web.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id

[4] A. Y. Pakaya dan R. Hunowu, “Efektivitas Asap Cair Tempurung Kelapa sebagai Pestisida Nabati terhadap Mortalitas Ulat Grayak (Spodoptera litura),” Jurnal Agroteknologi, Universitas Negeri Gorontalo, 2023. [Online]. Tersedia: https://ung.ac.id

[5] A. Rahmawati et al., “Collaborative Governance dalam Program MASARO (Manajemen Sampah Zero) di Kabupaten Indramayu,” Jurnal Administrasi Publik, Universitas Wiralodra, 2024. [Online]. Tersedia: https://unwir.ac.id

[6] N. Ramadani dan A. R. Patandjengi, “Optimalisasi Suhu Pirolisis Sekam Padi untuk Produksi Asap Cair Insektisida dengan Integrasi IoT,” Jurnal Teknologi Pertanian, Universitas Hasanuddin, 2024. [Online]. Tersedia: https://unhas.ac.id

[7] Fokus Pantura, “Indramayu Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Teknologi Tepat Guna di Tingkat Desa,” fokuspantura.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://fokuspantura.com

[8] Infopublik, “Kabupaten Indramayu Terapkan Program Pengelolaan Sampah Ekosistem Hulu-Hilir,” infopublik.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://infopublik.id

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Mesin Pirolisis Pembuat Pestisida Organik Asap Cair
Alamat
Desa Kalensari, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat
Inovator
Pokja Resik, Ir Masroni (Kepala Desa Kalensari)
Kontak
0812-1439-5955 (Ir Masroni), http://kalensari-widasari.desa.id
Lokasi