Ringkasan Inovasi

Desa Cingkrong di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah, membangun destinasi edukasi dan wisata bernama De Bale Cingkrong di atas lahan seluas 3.000 meter persegi menggunakan Dana Desa senilai Rp500 juta yang dikelola oleh BUMDes Cingkrong Makmur [1]. Mengusung konsep Fun and Education, De Bale menyajikan wahana outbond, taman lalu lintas, pembuatan batik tulis, permainan air, perahu bebek, spot selfie, dan gerai kuliner warga dalam satu kawasan yang sejuk dan rindang tepat di belakang kompleks Balai Desa [2]. Diresmikan langsung oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni pada 10 April 2019, De Bale Cingkrong berhasil mengubah lahan desa yang sebelumnya terbengkalai menjadi mesin penghasil Pendapatan Asli Desa (PADes) sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi warga yang mayoritas bekerja sebagai petani dengan akses ekonomi terbatas [3][4]. Inovasi ini terdaftar di platform Jadesta Kementerian Pariwisata sebagai desa wisata kategori rintisan dan tercatat dalam direktori Visit Jawa Tengah [8][9].

Latar Belakang

Desa Cingkrong terletak di Kecamatan Purwodadi yang sekaligus merupakan ibu kota Kabupaten Grobogan, kabupaten terluas kedua di Jawa Tengah dengan luas wilayah sekitar 2.022,25 km² [5]. Desa ini memiliki luas wilayah 5.000 hektar pada ketinggian 100 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 27,5°C, dan terbagi ke dalam enam dusun: Tegalgiling, Karangmanis, Jangkung, Tegal, Cingkrong, dan Widuri [6]. Berdasarkan data kependudukan Pemerintah Desa Cingkrong, desa ini dihuni oleh 6.835 jiwa — terdiri dari 3.415 laki-laki dan 3.420 perempuan dalam 2.523 kepala keluarga — dengan mayoritas berprofesi sebagai petani (1.195 orang), pelajar (1.205 orang), dan wiraswasta (819 orang) [6]. Kabupaten Grobogan dikenal sebagai lumbung pangan utama Jawa Tengah dengan sekitar 83,94% lahannya dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, dengan komoditas unggulan padi, jagung, dan kedelai [5].

 

Sebelum De Bale Cingkrong berdiri, mayoritas warga menggantungkan hidup pada sektor pertanian yang pendapatannya tidak menentu dan bergantung musim [4]. Lapangan kerja di desa sangat terbatas, mendorong banyak warga usia produktif mencari penghasilan di luar desa, sementara lahan di belakang kompleks Balai Desa — berupa kolam tidak terurus seluas hampir 3.000 meter persegi — terbengkalai tanpa memberikan manfaat ekonomi apapun [4][7]. Kabupaten Grobogan juga minim destinasi wisata keluarga yang edukatif dan terjangkau, padahal permintaan masyarakat terhadap wahana rekreasi berbasis alam terus meningkat [2].

 

Momentum perubahan hadir ketika Dana Desa mulai bergulir dan pemerintah desa menghadapi pilihan strategis: menggunakan dana untuk pembangunan fisik semata atau merancang investasi yang menghasilkan pendapatan jangka panjang [1]. Kepala Desa Jasmi dan pengurus BUMDes Cingkrong Makmur menangkap peluang bahwa ceruk pasar wisata keluarga edukatif di Grobogan belum terisi. Penasihat BUMDes memiliki jaringan dengan PT Bangkit Jaya, kontraktor yang sebelumnya berhasil membangun Geopark Karangsari dan Kampung Semar di Jawa Tengah [5]. Dari pengalaman dan jaringan inilah, ide mengintegrasikan edukasi, permainan tradisional, outbond, dan kuliner lokal dalam satu kawasan terpadu mulai dikristalisasikan menjadi konsep De Bale Cingkrong [1].

 

Inovasi yang Diterapkan

De Bale Cingkrong adalah destinasi eduwisata terpadu yang secara harfiah mengubah halaman belakang balai desa menjadi taman bermain dan belajar yang terbuka untuk umum dengan konsep Fun and Education [2]. Wahana utamanya meliputi taman lalu lintas untuk edukasi keselamatan berkendara anak-anak, workshop batik tulis yang mengajarkan seni budaya lokal, area outbond seluas 1.500 meter persegi yang menyediakan permainan tali, jembatan gantung, dan flying fox, serta kolam air dengan fasilitas perahu bebek, perahu rakit, dan kolam ciblon (kolam bermain air) untuk anak-anak [2]. Dermaga di tepi kolam berfungsi ganda sebagai panggung pertunjukan seni saat ada acara komunitas, sementara kawasan ini berjarak sekitar 7 kilometer atau 15 menit perjalanan dari Alun-Alun Purwodadi [6].

 

Elemen pembeda utama De Bale dari pendekatan wisata desa konvensional adalah sistem pengelolaannya yang menjadikan BUMDes Cingkrong Makmur sebagai operator utama dengan model distribusi manfaat yang menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. BUMDes merekrut karyawan dari warga desa sendiri untuk posisi petugas tiket, keamanan, pemandu outbond, dan pengelola fasilitas [4]. Gerai kuliner dikelola langsung oleh warga yang menyewa lapak, sementara lahan outbond merupakan lahan warga yang disewa BUMDes secara berkala, sehingga manfaat ekonomi menyebar ke lebih banyak keluarga di luar struktur karyawan formal. BUMDes juga berkolaborasi dengan PKK dan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) untuk mendorong produktivitas warga dalam memproduksi barang yang dipasarkan di area wisata [10]. Model ini memastikan bahwa De Bale bukan sekadar unit usaha BUMDes, melainkan ekosistem ekonomi mini yang menggerakkan seluruh lapisan masyarakat desa.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses pembangunan De Bale Cingkrong berjalan sangat cepat — hanya empat bulan dari Januari 2019 hingga peresmian April 2019 — berkat kemitraan strategis BUMDes dengan PT Bangkit Jaya sebagai mitra pembangunan berpengalaman. PT Bangkit Jaya membawa pengalaman langsung dari proyek Geopark Karangsari dan Kampung Semar yang konsepnya menjadi referensi utama desain De Bale [5]. Pada 10 April 2019, Bupati Grobogan Sri Sumarni meresmikan De Bale Cingkrong dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita, yang langsung mendapat sambutan antusias dari pengunjung yang membludak pada akhir pekan pertama operasional [3].

 

Sebelum pembukaan, seluruh karyawan De Bale menjalani pelatihan intensif yang melibatkan Camat Tegowanu Yunus Suryawan, seorang praktisi outbond berpengalaman yang juga terlibat dalam pengembangan wahana Cindelaras [5]. Pelatihan mencakup keterampilan teknis outbond, public speaking, dan tata boga untuk pengelola gerai kuliner, memastikan bahwa karyawan dari warga desa memiliki kompetensi profesional sejak hari pertama operasional [4]. BUMDes juga menyediakan fasilitas latihan mandiri di dalam kawasan De Bale agar pengembangan kapasitas SDM berlangsung berkelanjutan setelah pelatihan formal selesai [5].

 

Pada tahap awal operasional, pengelola menghadapi satu koreksi penting dalam penetapan harga wahana. Tarif outbond yang semula ditetapkan lebih tinggi dari wahana lain membuat pengunjung cenderung hanya menikmati area kolam dan kuliner tanpa mencoba fasilitas outbond [4]. BUMDes segera menyeragamkan tarif menjadi Rp5.000 per wahana agar seluruh fasilitas terjangkau oleh semua segmen pengunjung — sebuah koreksi yang terbukti meningkatkan pemanfaatan semua wahana secara merata [2]. Tantangan membangun kepercayaan warga untuk menyewakan lapak dan lahan juga diatasi melalui transparansi pembagian hasil dan skema sewa yang adil, serta membuka ruang bagi warga berbakat seni untuk tampil tanpa biaya bahkan dengan imbalan [5].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal terbesar adalah keterbatasan sumber daya manusia yang terampil di bidang pengelolaan wisata. Warga Desa Cingkrong yang mayoritas berprofesi sebagai petani belum memiliki pengalaman mengelola wahana wisata bertaraf profesional, khususnya peralatan outbond seperti tali, jembatan gantung, dan flying fox yang membutuhkan inspeksi keselamatan rutin dan intensif [11]. Mitigasi ditempuh melalui pelatihan intensif bersama Camat Tegowanu Yunus Suryawan sebagai praktisi outbond berpengalaman, didukung fasilitas latihan mandiri berkelanjutan di dalam kawasan De Bale agar kompetensi karyawan terus meningkat [5]. Penelitian Nurizzati (2021) mencatat bahwa kurangnya kepercayaan masyarakat dan kendala permodalan pada fase awal juga diatasi melalui transparansi laporan keuangan BUMDes yang memperlihatkan arus pendapatan nyata [4].

 

Tantangan eksternal berupa persaingan dengan destinasi wisata baru yang terus bermunculan di Grobogan dan sekitarnya menuntut De Bale berinovasi secara berkelanjutan. Tren wisata yang berubah cepat memerlukan investasi reguler dari PADes dan BUMDes agar pengalaman pengunjung tidak monoton [2]. Mitigasi dilakukan melalui penguatan pemasaran digital lewat platform Jadesta, kolaborasi dengan Visit Jawa Tengah, serta promosi aktif di Facebook, Instagram @debalecingkrong, dan YouTube [9][8]. BUMDes juga memanfaatkan tren wisata edukatif pasca-pandemi — segmen yang terus tumbuh karena kebutuhan orang tua akan destinasi yang sekaligus mendidik anak — sebagai positioning De Bale yang kuat di tengah persaingan [10].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan visioner Kepala Desa Jasmi menjadi faktor penentu utama keberhasilan De Bale Cingkrong. Beliau berani mengalokasikan Rp500 juta dari APBDes untuk investasi unit usaha BUMDes — sebuah keputusan yang tidak lazim di banyak desa yang lebih memilih pembangunan fisik infrastruktur konvensional [1]. Keberanian ini dilandasi keyakinan bahwa wisata berbasis komunitas memiliki multiplier effect yang jauh lebih besar dibandingkan pembangunan fisik satu kali pakai. Apresiasi langsung dari Bupati Sri Sumarni saat peresmian yang menyebut De Bale sebagai inspirasi bagi desa lain di Grobogan memberikan dorongan moral dan legitimasi politik yang memperkuat keberlanjutan program [3].

 

Kemitraan strategis lintas pihak menjadi pilar kedua keberhasilan. PT Bangkit Jaya menyediakan keahlian teknis pembangunan wisata yang tidak dimiliki desa secara mandiri, sementara Camat Tegowanu membawa kompetensi pelatihan SDM outbond yang menjamin kualitas layanan [5]. Kolaborasi BUMDes dengan PKK dan Pokdarwis dalam mendorong produktivitas warga menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif, sedangkan pendamping desa memperkuat aspek administrasi dan tata kelola kelembagaan BUMDes [10]. Penelitian tentang pengembangan desa wisata berbasis outbond menegaskan bahwa kualitas pemandu dan fasilitas merupakan faktor utama kepuasan pengunjung yang mendorong kunjungan ulang — dan investasi awal pada pelatihan SDM inilah yang menjadi fondasi reputasi De Bale sebagai destinasi wisata keluarga yang ramah dan profesional [11].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum De Bale berdiri, lahan di belakang Balai Desa hanya berupa kolam tidak terurus yang tidak menghasilkan manfaat ekonomi, dan 1.195 warga menggantungkan hidup sepenuhnya pada sektor pertanian musiman [6]. Setelah De Bale beroperasi, masyarakat yang sebelumnya hanya bekerja sebagai petani kini mendapat pekerjaan sebagai karyawan BUMDes, mendapat pelatihan tata boga profesional, public speaking, dan outbond yang meningkatkan kapasitas diri mereka di pasar tenaga kerja [4]. Pengelola warung makan, penjual suvenir, pemilik lahan parkir, dan produsen keripik yang disuplai ke De Bale merasakan peningkatan pendapatan signifikan seiring bertumbuhnya kunjungan wisatawan. Penelitian Nurizzati dari UIN Walisongo Semarang (2021) menyimpulkan bahwa De Bale berhasil meningkatkan taraf hidup mandiri, memperluas lapangan kerja, dan mempererat kohesi sosial masyarakat Desa Cingkrong [4].

 

Secara operasional, De Bale mencatat lonjakan kunjungan yang konsisten pada akhir pekan dan hari libur nasional dengan tiket masuk yang sangat terjangkau — Rp5.000 per orang dan Rp5.000 per wahana — menjadikannya salah satu destinasi wisata keluarga baru yang diperhitungkan di Kabupaten Grobogan [2]. Visit Jawa Tengah memasukkan De Bale Cingkrong dalam direktori resmi destinasi wisata Kabupaten Grobogan, meningkatkan visibilitas bagi wisatawan luar daerah [8]. De Bale juga terdaftar dalam platform Jadesta milik Kementerian Pariwisata sebagai desa wisata aktif dengan kategori rintisan [9].

 

Dampak multiplier yang tidak direncanakan sebelumnya adalah penguatan kapasitas kelembagaan BUMDes Cingkrong Makmur sebagai entitas bisnis profesional dan transparan. BUMDes yang kuat ini menjadi modal sosial dan kelembagaan yang mendukung pengembangan unit usaha baru di luar sektor pariwisata, memperluas sumber PADes dan mengurangi ketergantungan desa pada transfer pemerintah pusat [1]. Kolaborasi BUMDes dengan PKK dalam memfasilitasi warga memproduksi suvenir dan oleh-oleh menciptakan rantai nilai ekonomi baru yang sebelumnya tidak ada di desa, sekaligus mengubah cara pandang masyarakat tentang potensi ekonomi sektor jasa dan pariwisata [10].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Sumber pendanaan utama pembangunan De Bale Cingkrong berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) senilai Rp500 juta yang dialokasikan sebagai investasi untuk unit usaha BUMDes Cingkrong Makmur [1][3]. Anggaran ini mencakup biaya konstruksi wahana, pengadaan peralatan outbond, pembangunan kolam dan dermaga, serta penataan lanskap kawasan wisata. Lahan yang digunakan terdiri dari tanah desa seluas 1.500 meter persegi dan lahan warga yang disewa BUMDes untuk area outbond, sehingga pemilik lahan juga mendapat bagian dari pendapatan wisata [5].

 

Model pendapatan De Bale bertumpu pada beberapa aliran pemasukan yang saling melengkapi: tiket masuk Rp5.000 per orang, tarif wahana Rp5.000 per wahana (kolam ciblon, bebek gowes, outbond, flying fox), sewa lapak kuliner oleh warga, serta pendapatan dari acara khusus dan pertunjukan seni [2][11]. Sebagian keuntungan BUMDes disetor sebagai PADes yang membiayai program sosial desa, menciptakan siklus ekonomi mandiri yang tidak bergantung terus-menerus pada Dana Desa. Pendapatan berulang dari berbagai aliran ini diproyeksikan mampu menutup biaya operasional, pemeliharaan fasilitas, dan pengembangan wahana baru secara berkelanjutan [4].

 

Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Keputusan paling tepat yang diambil Kepala Desa Jasmi adalah mengalokasikan Dana Desa untuk investasi unit usaha wisata BUMDes — bukan pembangunan fisik konvensional — pada saat yang tepat ketika ceruk pasar wisata keluarga edukatif di Grobogan belum terisi. Studi banding ke Geopark Karangsari dan Kampung Semar sebelum memulai pembangunan terbukti strategis karena memberikan referensi konkret yang dapat langsung diadaptasi [5]. Keputusan mendahulukan pelatihan SDM sebelum pembukaan wisata memastikan karyawan dari warga desa siap memberikan layanan berkualitas sejak hari pertama operasional, dan penetapan tarif seragam Rp5.000 per wahana terbukti menjadi kunci menarik pengunjung dari berbagai kalangan [4][2].

 

Jika memulai dari awal, pengelola mengakui bahwa sosialisasi kepada pemilik lahan dan calon penyewa lapak seharusnya dimulai lebih awal dan lebih intensif untuk meminimalkan resistensi awal. Dokumentasi proses pembangunan dan pengelolaan secara sistematis sejak awal juga seharusnya dilakukan untuk mempermudah replikasi di desa lain [4]. Kesiapan rencana pemeliharaan fasilitas jangka panjang — termasuk inspeksi rutin peralatan outbond untuk keselamatan pengunjung — idealnya sudah tersusun matang sebelum pembukaan, bukan dikembangkan secara reaktif setelah operasional berjalan [11].

 

Saran praktis bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa mencakup tiga hal pokok. Pertama, lakukan studi banding ke destinasi wisata desa yang sudah berhasil untuk mendapatkan referensi konkret dan membangun jaringan mitra potensial. Kedua, investasikan waktu dan anggaran untuk pelatihan SDM berbasis kompetensi sebelum membuka layanan wisata, karena kualitas pemandu dan pelayanan menentukan kepuasan dan kunjungan ulang pengunjung. Ketiga, rancang model distribusi manfaat yang menyertakan warga sebagai penyewa lapak dan pemilik lahan agar rasa kepemilikan kolektif terbangun sejak awal [4][10].

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan De Bale Cingkrong bertumpu pada model bisnis BUMDes yang sehat, di mana pendapatan dari tiket masuk, sewa lapak, penyewaan wahana, dan layanan outbond diputar kembali untuk pemeliharaan fasilitas, pengembangan wahana baru, dan pelatihan SDM secara berkala [4]. Sebagian keuntungan BUMDes disetor sebagai PADes yang membiayai program sosial desa, menciptakan siklus ekonomi mandiri. Kolaborasi dengan PKK, Pokdarwis, dan kelompok UMKM desa dalam memasok produk ke area wisata memperluas basis ekonomi yang bertumpu pada De Bale, sehingga keberlanjutan tidak bergantung pada satu sumber pendapatan saja [10].

 

Mekanisme regenerasi kepemimpinan dijamin melalui pelembagaan pengelolaan wisata dalam struktur organisasi BUMDes Cingkrong Makmur yang memiliki kepengurusan formal dan mekanisme pergantian terstruktur. Karyawan yang telah dilatih secara profesional dalam bidang outbond, tata boga, dan public speaking menjadi aset kelembagaan yang tidak terikat pada figur kepala desa tertentu [4]. Penguatan pemasaran digital melalui platform Jadesta, situs resmi cingkrong.id, media sosial @debalecingkrong, dan kolaborasi dengan platform perjalanan daring seperti Trip.com membuka jangkauan promosi ke pasar wisatawan yang lebih luas [9][6]. Konsep Fun and Education yang sejalan dengan tren wisata edukatif pasca-pandemi memberi De Bale posisi yang relevan dan bertahan lama di tengah persaingan destinasi wisata yang semakin ketat.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

De Bale Cingkrong merupakan bukti nyata bahwa Dana Desa yang diinvestasikan secara strategis dapat berkontribusi pada berbagai dimensi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) secara serentak. Model BUMDes wisata edukatif ini menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak harus memilih antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian nilai sosial-budaya, karena keduanya dapat berjalan beriringan dalam satu desain inovasi yang inklusif [1][4].

 

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan De Bale membuka sumber penghasilan baru bagi warga yang sebelumnya hanya bergantung pada pertanian musiman, melalui lapangan kerja sebagai karyawan BUMDes, penyewa lapak kuliner, pengelola parkir, dan pemasok produk UMKM ke kawasan wisata [4]. Terciptanya lapangan kerja baru di sektor wisata; peningkatan pendapatan pedagang dan penyewa lapak; diversifikasi sumber penghasilan warga dari pertanian ke jasa wisata
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Wahana taman lalu lintas dan workshop batik tulis memberikan pengalaman belajar berbasis praktik yang memperkaya pendidikan anak di luar kelas, menjadikan wisata sebagai media pembelajaran yang menyenangkan dan terjangkau [2]. Tersedianya wahana edukasi keselamatan berkendara untuk anak; program workshop batik tulis aktif; akses wisata edukatif dengan tiket Rp5.000
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi BUMDes Cingkrong Makmur sebagai pengelola De Bale menciptakan lapangan kerja layak bagi warga desa dengan pelatihan profesional tata boga, public speaking, dan outbond, mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang inklusif [4]. Investasi APBDes Rp500 juta menjadi aset produktif; karyawan terlatih profesional; pendapatan BUMDes dari multiple revenue streams; kontribusi laba ke PADes
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan Model distribusi manfaat yang menyertakan pemilik lahan warga, penyewa lapak, pengrajin UMKM, dan kolaborasi PKK serta Pokdarwis memastikan pertumbuhan ekonomi desa tidak terkonsentrasi pada segelintir pihak [10]. Distribusi manfaat ke pemilik lahan, penyewa lapak, dan produsen UMKM; skema sewa yang adil dan transparan; fasilitasi PKK dan Pokdarwis untuk produk warga
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan Transformasi lahan tidur menjadi ruang publik edukatif dan rekreatif bagi seluruh warga menciptakan lingkungan desa yang lebih inklusif, produktif, dan nyaman sebagai tempat tinggal sekaligus tujuan wisata [7]. Konversi 3.000 m² lahan tidur menjadi ruang publik produktif; peningkatan kualitas hidup dan aktivitas sosial warga; desa menjadi destinasi wisata yang membanggakan
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, PT Bangkit Jaya, Camat Tegowanu, PKK, Pokdarwis, pendamping desa, dan Pemkab Grobogan membuktikan kemitraan multipihak sebagai kunci percepatan pembangunan desa wisata berkualitas [5][3]. Kemitraan aktif dengan 6+ lembaga; dukungan eksplisit Bupati Grobogan; terdaftar di platform nasional Jadesta dan Visit Jawa Tengah; pendampingan desa aktif

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model De Bale Cingkrong sangat relevan direplikasi oleh desa-desa yang memiliki lahan belum dioptimalkan dan Dana Desa yang cukup untuk investasi awal unit usaha BUMDes berbasis wisata. Prasyarat minimum mencakup ketersediaan lahan desa atau lahan warga yang bisa disewa, komitmen kepala desa untuk mengalokasikan APBDes sebagai investasi, dan kesiapan BUMDes sebagai operator profesional [1]. Tiga elemen inti yang dapat ditransfer secara langsung adalah konversi lahan tidur menjadi destinasi eduwisata, pembentukan BUMDes sebagai operator dengan pelatihan SDM berbasis kompetensi, dan model distribusi manfaat yang menyertakan warga sebagai penyewa lapak dan pemilik lahan [4]. Estimasi biaya replikasi berkisar Rp300–500 juta tergantung skala kawasan dan kelengkapan wahana, dengan durasi pembangunan sekitar 4–6 bulan jika bermitra dengan kontraktor berpengalaman. Bupati Grobogan Sri Sumarni pun secara eksplisit menyebut De Bale sebagai inspirasi yang perlu dicontoh desa-desa lain di Kabupaten Grobogan dalam pidato peresmiannya [3].

 

Model adaptasi untuk konteks berbeda dapat dilakukan dengan menyesuaikan tema edukasi sesuai kearifan lokal masing-masing desa — workshop anyaman, kerajinan gerabah, atau pertanian organik dapat menggantikan workshop batik tulis — tanpa mengubah prinsip dasar konsep Fun and Education dan pengelolaan berbasis BUMDes. Untuk scale up di tingkat nasional, Kementerian Desa PDTT dapat mengembangkan modul “Desa Eduwisata BUMDes” berbasis pengalaman De Bale yang mencakup panduan perencanaan anggaran APBDes untuk investasi wisata, template pengelolaan BUMDes unit usaha wisata, dan kurikulum pelatihan SDM berbasis kompetensi wisata desa [11].

 

Daftar Pustaka

[1] Kementerian Desa PDTT, “Desa Cingkrong Kembangkan Wahana Wisata dan Edukasi,” Katalog Inovasi Desa, Perkumpulan Gedhe Nusantara, 2020.

 

[2] Travelspromo, “De Bale Cingkrong — Tiket Masuk & Daya Tarik 2026,” travelspromo.com, 24 Jun. 2024. [Online]. Tersedia: https://travelspromo.com/htm-wisata/de-bale-cingkrong-grobogan/

 

[3] Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, “D’ Bale Cingkrong Diresmikan Bupati,” jatengprov.go.id, 10 Apr. 2019. [Online]. Tersedia: https://jatengprov.go.id/beritadaerah/d-bale-cingkrong-diresmikan-bupati/

 

[4] D. R. Nurizzati, “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Wisata De Bale di Desa Cingkrong Kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan,” Skripsi, UIN Walisongo Semarang, 2021. [Online]. Tersedia: https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/14630/

 

[5] 123dok, “Proses Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Desa Wisata De Bale di Desa Cingkrong,” 123dok.com. [Online]. Tersedia: https://123dok.com/article/pemberdayaan-masyarakat-cingkrong-kecamatan-purwodadi-kabupaten-cingkrong-kecamatan.z1d7n2lv

 

[6] Pemerintah Desa Cingkrong, “Profil dan Data Kependudukan Desa Cingkrong,” cingkrong.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://cingkrong.id

 

[7] TIMES Indonesia, “Jasmi, Kepala Desa Cingkrong yang Mengubah Lahan Tidur Menjadi Destinasi Wisata,” timesindonesia.co.id, 2019. [Online]. Tersedia: https://timesindonesia.co.id

 

[8] Visit Jawa Tengah, “Destinasi Wisata: DE BALE CINGKRONG,” visitjawatengah.jatengprov.go.id. [Online]. Tersedia: https://visitjawatengah.jatengprov.go.id/id/regency/kabupaten-grobogan/destinasi-wisata/de-bale-cingkrong

 

[9] Kementerian Pariwisata RI, “Desa Wisata De Bale Cingkrong — Kategori Rintisan,” jadesta.kemenpar.go.id. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/de_bale_cingkrong

 

[10] R. Ismail, M. Hidayat, dan S. Priyono, “Penguatan Peran BUMDes dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Cingkrong,” ResearchGate, Universitas Diponegoro, 2022. [Online]. Tersedia: https://www.researchgate.net

 

[11] Proceeding UNPK Kediri, “Pengembangan Pariwisata Berbasis Outbond di Kampung Keren Wisata Air Sumber Banteng,” proceeding.unpkediri.ac.id. [Online]. Tersedia: https://proceeding.unpkediri.ac.id/index.php/ncce/article/download/5736/4168/21268

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
De Bale Cingkrong — Wahana Edukasi dan Wisata Berbasis BUMDes dengan Konsep <em>Fun and Education</em>

Alamat
Jalan Simo, di belakang kompleks Balai Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah (Kode Pos 58114)
Inovator
Pemerintah Desa Cingkrong (Kepala Desa Jasmi) bersama BUMDes Cingkrong Makmur, difasilitasi Pemerintah Kabupaten Grobogan
Kontak
Telepon: 087717983508 (Abdul Azis)
E-mail: debalecingkrong@gmail.com<br>
Website: https://cingkrong.id
Instagram: @debalecingkrong
YouTube: @desacingkrong2916
Lokasi