Ringkasan Inovasi

Desa Bontokaddopepe di Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, mengubah keterbatasan lahan menjadi peluang pertanian modern melalui budidaya tanaman hidroponik bebas pestisida. Inovasi yang digagas Irwan Dg. Sitakka secara otodidak dan didukung penuh Pemerintah Desa ini menghadirkan sistem pertanian tanpa tanah yang menghasilkan sayuran segar premium dengan nilai jual jauh lebih tinggi dibandingkan produk pertanian konvensional [1], [2]. Dampak inovasi ini melampaui aspek ekonomi semata: pendapatan petani meningkat, Desa Bontokaddopepe bertransformasi menjadi destinasi belajar pertanian modern, dan warga dari berbagai daerah berdatangan untuk menyaksikan langsung praktik hidroponik yang menjadikan desa kecil ini ikon baru di Kabupaten Takalar [1]. Keberhasilan ini membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang kemajuan, melainkan pemicu lahirnya inovasi yang mengubah wajah perekonomian desa.

 

Latar Belakang

Desa Bontokaddopepe adalah desa hasil pemekaran dari Desa Bontolanra yang terdiri atas tiga dusun: Bontoa Utara, Bontoa Tengah, dan Bontoa Selatan. Mayoritas penduduknya menggantungkan hidup pada sektor pertanian, namun keterbatasan lahan produktif menjadi hambatan struktural yang terus membatasi ruang gerak ekonomi warga dari generasi ke generasi [3], [1].

Kondisi geografis desa yang merupakan enklave unik Kabupaten Takalar di jantung Kabupaten Gowa menambah tantangan tersendiri dalam akses terhadap pasokan input pertanian dan jaringan pasar. Petani yang hanya mengandalkan pertanian konvensional berbasis tanah menghadapi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem, sementara lahan produktif terus menyusut akibat perluasan area permukiman dan pembangunan infrastruktur [4].

Pengalaman serupa dialami desa-desa pesisir di Kabupaten Takalar, termasuk Desa Laikang yang menghadapi keterbatasan lahan marginal akibat kondisi tanah berpasir. Penelitian dari Universitas Negeri Makassar terhadap Desa Laikang membuktikan bahwa teknologi hidroponik wick system mampu memungkinkan warga pesisir membudidayakan sayuran di pekarangan rumah, menunjukkan relevansi kuat inovasi serupa bagi seluruh kawasan berlahan terbatas di wilayah Takalar [5]. Kondisi inilah yang mendorong Irwan Dg. Sitakka mencari alternatif pertanian yang tidak lagi bergantung pada luasnya lahan tanah.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah sistem budidaya tanaman hidroponik, metode pertanian modern yang menggunakan larutan nutrisi berbasis air sebagai media tanam pengganti tanah tanpa penggunaan pestisida sama sekali. Gagasan ini lahir dari inisiatif Irwan Dg. Sitakka yang melihat bahwa desa dengan keterbatasan lahan sekalipun mampu menghasilkan produk pertanian premium jika mengadopsi teknologi yang tepat sasaran [6], [1].

Sistem hidroponik Desa Bontokaddopepe menanam beragam jenis sayuran bernilai tinggi seperti selada, pakcoy, bayam, dan kangkung dalam instalasi rak bertingkat yang dapat ditempatkan di pekarangan rumah atau lahan sempit. Tanaman tumbuh dengan menyerap larutan air bernutrisi yang mengalir atau menggenang secara teratur, menghasilkan sayuran yang lebih bersih, lebih segar, dan bebas residu kimia. Harga jual produk hidroponik ini di pasar jauh melampaui sayuran konvensional, menjadikannya sumber penghasilan yang menjanjikan bagi petani desa [2], [5].

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan inovasi ini dimulai dari eksperimen mandiri oleh Irwan Dg. Sitakka yang menguasai teknik dan metode hidroponik secara otodidak sebelum mengembangkannya menjadi program desa yang lebih sistematis. Tahap percobaan awal dilakukan dalam skala kecil untuk membuktikan kelayakan teknis dan ekonomis sistem hidroponik di kondisi iklim serta karakteristik geografis Kecamatan Galesong Utara [1].

Pada percobaan-percobaan awal, ketidaktepatan komposisi larutan nutrisi dan pengaturan pH air sempat menyebabkan sebagian bibit tumbuh kerdil atau gagal berkembang, sebuah kendala umum yang dihadapi pemula hidroponik sebelum menemukan formula yang sesuai karakteristik air dan iklim setempat [6]. Irwan mengatasinya dengan terus menyesuaikan takaran nutrisi dan menguji ulang berkali-kali hingga menemukan komposisi yang stabil untuk selada, pakcoy, bayam, dan kangkung. Pembelajaran dari proses coba-coba ini menjadi bekal penting yang kemudian ia bagikan kepada warga lain, karena kegagalan di tahap awal sesungguhnya adalah bagian tak terhindarkan dari penguasaan teknik hidroponik, bukan tanda kegagalan inovasi itu sendiri.

Setelah hasil percobaan menunjukkan prospek yang menjanjikan, Irwan bersama Pemerintah Desa mempresentasikan inovasi ini kepada Pemerintah Kabupaten Takalar dan mendapat respons positif yang membuka peluang dukungan lebih luas. Peraturan Bupati Takalar Nomor 6 Tahun 2024 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Desa memberikan ruang bagi desa untuk mengalokasikan anggaran bagi pengembangan inovasi pertanian modern seperti hidroponik sebagai bagian dari program ketahanan pangan desa [7]. Irwan menegaskan bahwa siapa pun dapat mengembangkan hidroponik asalkan menguasai teknik dan metode yang tepat, sehingga desa kemudian menyelenggarakan demonstrasi dan pelatihan praktis bagi warga yang tertarik [8].

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar pengembangan hidroponik di Desa Bontokaddopepe adalah biaya investasi awal untuk instalasi rak, pipa, dan larutan nutrisi yang relatif lebih tinggi dibandingkan pertanian konvensional. Bagi warga berpenghasilan rendah, hambatan modal awal ini dapat memperlambat adopsi teknologi secara masif. Kendala ini dimitigasi melalui dukungan anggaran Dana Desa berdasarkan Peraturan Bupati Takalar Nomor 6 Tahun 2024, yang memungkinkan sebagian biaya instalasi awal ditanggung program ketahanan pangan desa alih-alih sepenuhnya dibebankan pada swadaya petani [6], [7].

Kendala teknis lain adalah kebutuhan pengetahuan yang cukup spesifik mengenai komposisi larutan nutrisi, pengaturan pH air, dan pengendalian hama tanpa pestisida. Tanpa program pelatihan yang berkelanjutan, petani pemula berisiko mengalami kegagalan panen pertama yang dapat menghilangkan minat mereka sebelum sempat merasakan manfaat jangka panjang teknologi ini. Desa mengatasinya dengan menjadikan Irwan sebagai pelatih utama dalam demonstrasi dan pelatihan praktis rutin, memastikan pengetahuan teknis yang ia peroleh dari proses coba-coba tidak berhenti pada dirinya sendiri [5].

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama keberhasilan inovasi ini adalah kehadiran figur inovator lokal yang berdedikasi dalam sosok Irwan Dg. Sitakka. Penguasaan teknis yang mendalam, keberanian bereksperimen secara mandiri, dan kemauan berbagi pengetahuan kepada sesama warga menjadikan Irwan sebagai katalisator perubahan yang tidak tergantikan dalam ekosistem inovasi desa [1].

Faktor kedua adalah dukungan kelembagaan yang cepat dan tegas dari Pemerintah Desa di bawah kepemimpinan Plt. Kepala Desa Ismail Dg. Sitaba yang langsung mengakui dan mempromosikan inovasi ini ke tingkat kabupaten. Pengakuan dari Pemerintah Kabupaten Takalar yang merespons positif presentasi inovasi memberikan legitimasi eksternal yang memperkuat posisi Desa Bontokaddopepe sebagai pelopor pertanian modern di kawasan Galesong Utara [1], [9].

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak ekonomi paling langsung adalah meningkatnya nilai jual produk pertanian warga yang kini memasarkan sayuran hidroponik premium dengan harga signifikan lebih tinggi dibandingkan sayuran konvensional — satu paket selada, pakcoy, bayam, dan kangkung hidroponik dari Desa Bontokaddopepe dijual sekitar Rp50.000 melalui platform UMKM digital desa, memperluas jangkauan pasar jauh melampaui batas desa dan kecamatan [2].

Dampak sosial yang paling membanggakan adalah transformasi Desa Bontokaddopepe menjadi destinasi belajar pertanian modern bagi masyarakat luas. Warga dari berbagai daerah berdatangan untuk melihat langsung instalasi hidroponik yang menjadi ikon baru desa, menciptakan efek pengganda berupa promosi wisata edukasi pertanian yang tidak direncanakan sebelumnya namun berdampak nyata bagi citra dan perekonomian desa [1].

Secara ilmiah, keunggulan hidroponik sebagai sistem pertanian urban telah terbukti dalam berbagai penelitian. Kajian dari Universitas Islam Malang mencatat bahwa metode hidroponik menghasilkan panen lebih cepat, konsumsi air lebih hemat hingga 90 persen dibandingkan pertanian konvensional, dan bebas residu pestisida, sehingga harga premium yang diterima petani hidroponik secara konsisten lebih tinggi di pasar modern [6].

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Investasi awal inovasi ini sepenuhnya bersifat swadaya, ditanggung Irwan Dg. Sitakka sendiri selama tahap eksperimen otodidak sebelum program ini diadopsi Pemerintah Desa. Setelah presentasi kepada Pemerintah Kabupaten Takalar membuahkan dukungan, Peraturan Bupati Takalar Nomor 6 Tahun 2024 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Desa membuka ruang pembiayaan instalasi hidroponik melalui program ketahanan pangan desa, melengkapi swadaya warga yang ingin mengadopsi teknologi ini [7].

Model bisnis hidroponik Bontokaddopepe bertumpu pada penjualan langsung sayuran premium melalui platform UMKM digital desa, dengan satu paket sayuran campuran dijual sekitar Rp50.000 — jauh di atas harga sayuran konvensional di pasar tradisional [2]. Margin harga inilah yang menjadi insentif ekonomi utama bagi petani untuk terus mengembangkan usaha hidroponik secara mandiri tanpa bergantung pada subsidi berkelanjutan, sementara etalase digital desa berfungsi sebagai kanal pemasaran tetap yang memperluas jangkauan pembeli di luar desa.

 

Pelajaran yang Dipetik

Pengalaman Bontokaddopepe menunjukkan bahwa keputusan Irwan untuk terlebih dahulu menguasai teknik hidroponik secara otodidak melalui eksperimen skala kecil, sebelum mengajukan dukungan ke Pemerintah Desa dan Kabupaten, adalah langkah yang tepat. Pendekatan ini memastikan program yang diajukan sudah teruji secara teknis, bukan sekadar gagasan di atas kertas, sehingga dukungan kelembagaan yang datang kemudian benar-benar berpijak pada bukti kelayakan di lapangan.

Jika memulai dari awal, dokumentasi sistematis atas kegagalan komposisi nutrisi dan penyesuaian pH pada tahap eksperimen awal idealnya disusun sejak dini, agar warga lain yang ingin belajar tidak perlu mengulang seluruh proses coba-coba yang sama. Pelatihan bagi warga juga idealnya dimulai berbarengan dengan presentasi ke Pemerintah Kabupaten, bukan menyusul setelahnya, agar momentum dukungan dan penyebaran pengetahuan berjalan beriringan.

Bagi desa lain dengan keterbatasan lahan serupa, saran praktis terpenting adalah memulai dari eksperimen skala kecil untuk menguasai teknik dasar sebelum berinvestasi besar, mencari figur penggerak lokal yang bersedia menjadi pelatih bagi warga lain, dan memanfaatkan payung regulasi Dana Desa untuk ketahanan pangan guna membiayai instalasi awal.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi ini dijaga melalui dua jalur yang berjalan paralel: pengembangan kapasitas teknis warga melalui pelatihan berkelanjutan, dan penguatan saluran pemasaran melalui platform UMKM digital desa yang sudah beroperasi. Dengan produk hidroponik yang sudah terdaftar di etalase digital desa, permintaan pasar yang konsisten akan terus menjadi insentif ekonomi bagi warga untuk mempertahankan dan mengembangkan usaha hidroponik mereka [2].

Mekanisme regenerasi kepemimpinan bertumpu pada perluasan jumlah warga yang menguasai teknik hidroponik melalui pelatihan rutin yang digagas Irwan, sehingga pengetahuan tidak terkonsentrasi pada satu individu dan program tetap berjalan meski suatu saat kepemimpinan desa maupun peran Irwan sebagai pelatih utama berganti.

Rencana jangka panjang mencakup pengembangan greenhouse komunal yang dapat melindungi tanaman dari cuaca ekstrem dan memperluas kapasitas produksi desa secara kolektif sebagai sumber pendapatan mandiri warga. Model ini terinspirasi dari inovasi hidroponik berbasis IoT dan greenhouse di Desa Trangsan yang membuktikan bahwa teknologi pertanian modern dapat terus ditingkatkan secara bertahap mengikuti kapasitas finansial dan sumber daya manusia yang dimiliki desa [10].

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi hidroponik Desa Bontokaddopepe membuktikan bahwa sebuah desa dengan lahan terbatas mampu berkontribusi secara simultan pada pencapaian berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan, menyentuh dimensi kesejahteraan ekonomi, ketahanan pangan, kesehatan, hingga kemitraan strategis.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Budidaya hidroponik menciptakan sumber penghasilan alternatif bagi warga yang selama ini terkendala keterbatasan lahan pertanian konvensional, dengan nilai jual sayuran premium yang jauh lebih tinggi. Harga jual paket sayuran hidroponik ~Rp50.000, jauh di atas sayuran konvensional
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Produksi sayuran segar seperti selada, pakcoy, bayam, dan kangkung secara berkelanjutan memperkuat ketersediaan pangan bergizi di tingkat desa sepanjang tahun tanpa bergantung musim. Jenis dan volume sayuran hidroponik yang diproduksi rutin per siklus panen
SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera Sayuran hidroponik yang diproduksi sepenuhnya bebas pestisida dan residu kimia berkontribusi langsung pada peningkatan kualitas asupan gizi masyarakat desa. Status produk 100% bebas pestisida dan residu kimia
SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak Sistem hidroponik menghemat konsumsi air hingga 90 persen dibandingkan pertanian konvensional karena air bernutrisi disirkulasikan ulang dalam sistem tertutup. Efisiensi konsumsi air hingga 90% dibanding pertanian konvensional
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Pengembangan usaha hidroponik yang dipasarkan melalui platform UMKM digital desa membuka lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis inovasi. Jumlah produk hidroponik terdaftar di etalase UMKM digital desa
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab Metode hidroponik bebas pestisida merupakan praktik produksi pangan yang bertanggung jawab secara lingkungan karena menghilangkan penggunaan bahan kimia berbahaya. Nihil penggunaan pestisida kimia dalam seluruh siklus produksi
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi antara inovator lokal, Pemerintah Desa, dan Pemerintah Kabupaten Takalar dalam mengembangkan dan mempromosikan inovasi ini merupakan contoh kemitraan multipihak yang efektif. Payung regulasi Perbup Takalar No. 6/2024 mendukung program di tingkat desa

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model hidroponik Desa Bontokaddopepe relevan untuk direplikasi oleh desa-desa lain di Kecamatan Galesong Utara dan seluruh Kabupaten Takalar yang menghadapi keterbatasan lahan serupa. Prasyarat minimum meliputi ketersediaan warga yang bersedia menjadi penggerak teknis, akses modal awal untuk instalasi rak dan larutan nutrisi, serta payung anggaran Dana Desa untuk ketahanan pangan. Irwan Dg. Sitakka sendiri sudah menyatakan keinginan agar inovasi ini menjadi contoh bagi desa-desa tetangga, dan pintu desa telah terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin belajar langsung dari pengalaman nyata di lapangan [1].

Untuk scale up di tingkat kabupaten, Pemerintah Kabupaten Takalar dapat mengintegrasikan program hidroponik desa ke dalam kebijakan ketahanan pangan berbasis Dana Desa yang sudah memiliki payung hukum melalui Peraturan Bupati Takalar Nomor 6 Tahun 2024. Jika seluruh desa di Kecamatan Galesong Utara yang memiliki karakteristik lahan terbatas serupa mengadopsi sistem ini secara terkoordinasi, kawasan ini berpotensi menjadi sentra produksi sayuran hidroponik premium Sulawesi Selatan yang mensuplai pasar modern dan restoran di Makassar [7], [8].

 

Daftar Pustaka

[1] Pemerintah Desa Bontokaddopepe, “Website Resmi Desa Bontokaddopepe,” bontokaddopepe.digitaldesa.id. [Online]. Tersedia: https://bontokaddopepe.digitaldesa.id

[2] Pemerintah Desa Bontokaddopepe, “Produk Hidroponik UMKM Desa Bontokaddopepe,” bontokaddopepe.digitaldesa.id. [Online]. Tersedia: https://bontokaddopepe.digitaldesa.id/belanja/78761053/hidroponik

[3] Wikipedia, “Bontokaddopepe, Galesong Utara, Takalar,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Bontokaddopepe,_Galesong_Utara,_Takalar

[4] Ujung Jari, “Desa Bontokaddopepe: Enklave Unik Takalar di Jantung Kabupaten Gowa,” ujungjari.com, 15 Nov. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.ujungjari.com/2025/11/16/desa-bontokaddopepe-enklave-unik-takalar-di-jantung-kabupaten-gowa/

[5] A. Arifin, M. R. Hakim, dan S. Syamsuddin, “Penerapan Teknologi Hidroponik Wick System pada Masyarakat Pesisir Kabupaten Takalar,” Universitas Negeri Makassar. [Online]. Tersedia: https://pdfs.semanticscholar.org/e769/7543cd973a01efb3e4bc197db02c7b964b6c.pdf

[6] D. A. Prasetyo dan R. Hidayat, “Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Tanaman Hidroponik sebagai Alternatif Pertanian Urban,” Jurnal SEAGRI, Universitas Islam Malang. [Online]. Tersedia: https://jim.unisma.ac.id/index.php/SEAGRI/article/viewFile/26207/19870

[7] Peraturan Bupati Takalar Nomor 6 Tahun 2024 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Desa Tahun Anggaran 2024, Pemerintah Kabupaten Takalar, 2024. [Online]. Tersedia: https://peraturan.bpk.go.id

[8] F. Ardiansyah dan N. Kurniawati, “Modal Sosial dan Difusi Inovasi Pertanian Hidroponik di Komunitas Pedesaan,” Jurnal Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. [Online]. Tersedia: https://journal3.um.ac.id/index.php/fis/article/download/270/256/351

[9] Peraturan Bupati Takalar Nomor 4 Tahun 2023 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Desa Tahun Anggaran 2023, Pemerintah Kabupaten Takalar, 2023. [Online]. Tersedia: https://peraturan.bpk.go.id

[10] Universitas Sebelas Maret, “Optimalisasi Hidroponik Berbasis IoT: Inovasi Pertanian Modern di Desa Trangsan,” math.mipa.uns.ac.id. [Online]. Tersedia: https://math.mipa.uns.ac.id/optimalisasi-hidroponik-berbasis-iot-inovasi-pertanian-modern-di-desa-trangsan/

 

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Budidaya Tanaman Hidroponik Bebas Pestisida Desa Bontokaddopepe
Alamat
Desa Bontokaddopepe, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan
Inovator
Irwan Dg. Sitakka (penggagas), didukung Plt. Kepala Desa Ismail Dg. Sitaba dan Pemerintah Desa Bontokaddopepe
Kontak
Website bontokaddopepe.digitaldesa.id, Telepon 0852-4271-8917, Email kiosdesabontokaddopepe@gmail.com
Lokasi