Ringkasan Inovasi
Pemerintah Desa Budo, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, membangun tujuh unit sumur bor yang tersebar merata di enam jaga (dusun) untuk mengatasi kelangkaan air bersih yang selama bertahun-tahun membelenggu kesehatan dan kesejahteraan seluruh warganya [1]. Inovasi ini digagas dan diprioritaskan oleh Hukum Tua (Kepala Desa) Hani Lorens Singa pada tahun 2015 dengan mengalokasikan Dana Desa untuk infrastruktur air bersih permanen, mengakhiri ketergantungan warga pada air hujan yang tidak higienis dan air kemasan isi ulang yang mahal [1], [2]. Air dari sumur bor ditampung dalam bak penampungan komunal dan dialirkan langsung ke rumah-rumah warga melalui jaringan pipa, sehingga tersedianya air bersih menjadi fondasi penting yang kemudian ikut menopang transformasi Desa Budo menjadi salah satu desa wisata terbaik di Sulawesi Utara dengan meraih Juara 1 kategori Digital dan Kreatif dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 [2], [3].
Latar Belakang
Desa Budo terletak di Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, sebuah desa pesisir yang menyimpan potensi besar berupa ekosistem mangrove yang indah dan keindahan bahari. Ketersediaan air bersih adalah masalah laten yang sudah lama membelenggu kehidupan warga desa ini akibat sulitnya mendapatkan mata air alami di wilayah permukiman. Mayoritas warga terpaksa bergantung pada air hujan yang ditampung di wadah terbuka untuk memenuhi kebutuhan Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK) sehari-hari [1].
Untuk kebutuhan air minum, kondisinya bahkan lebih memprihatinkan. Warga harus membeli air isi ulang kemasan dari produsen luar desa yang harganya jauh di atas kemampuan ekonomi sebagian besar keluarga. Pengeluaran rutin untuk air minum menjadi beban tambahan yang menekan daya beli masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan petani berpenghasilan tidak menentu [4], [1]. Anak-anak yang tumbuh dalam paparan air tidak higienis pun rentan mengalami penyakit diare, infeksi kulit, dan gangguan tumbuh kembang yang berdampak jangka panjang.
Ketidaktersediaan air bersih bukan hanya masalah sanitasi semata, melainkan hambatan struktural bagi kemajuan desa secara keseluruhan, karena pengembangan wisata desa tidak dapat berjalan optimal selama kebutuhan dasar warganya sendiri belum terpenuhi. Keadaan inilah yang mendorong Hani Lorens Singa selaku Hukum Tua mengambil keputusan strategis untuk menjadikan pembangunan infrastruktur air bersih sebagai prioritas utama penggunaan Dana Desa pertama yang diterima desa pada tahun 2015 [3], [2].
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pembangunan tujuh unit sumur bor yang ditempatkan secara strategis di seluruh penjuru permukiman warga, agar setiap wilayah desa mendapat akses yang merata terhadap sumber air bersih. Gagasan ini lahir dari keputusan Pemerintah Desa Budo untuk menolak solusi parsial seperti distribusi air tangki yang hanya menjawab kebutuhan sementara, dan memilih membangun infrastruktur permanen yang memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh generasi warga [1], [4].
Sistem air bersih bekerja melalui mekanisme yang sederhana namun efektif: air dari setiap sumur bor dipompa naik ke bak penampungan berkapasitas besar yang dibangun di titik strategis masing-masing jaga. Dari bak penampungan ini, air dialirkan secara gravitasi melalui jaringan selang dan pipa ke rumah-rumah warga, memastikan pasokan air yang stabil sepanjang hari tanpa warga perlu mengambil atau membeli air secara terpisah [1]. Tujuh sumur bor tersebar di enam jaga: Jaga 1 mendapat dua unit mengingat kepadatan penduduknya lebih tinggi, sementara Jaga 2, 3, 4, 5, dan 6 masing-masing mendapat satu unit.
Elemen pembeda inovasi ini dari pendekatan konvensional adalah kualitas air yang dihasilkan. Air dari sumur bor menjangkau lapisan akuifer dalam yang terlindungi dari kontaminasi permukaan, menghasilkan air yang secara alami lebih jernih, bebas bakteri patogen, dan kaya mineral dibandingkan air hujan maupun air dari sumur dangkal tradisional [4], [3].
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan inovasi dimulai dari perencanaan partisipatif melalui musyawarah desa yang melibatkan seluruh perwakilan jaga dan tokoh masyarakat. Dalam forum ini, pemetaan kebutuhan air dilakukan secara seksama untuk menentukan lokasi penempatan masing-masing sumur bor yang paling strategis dan menjangkau sebanyak mungkin keluarga. Hasil musyawarah ini kemudian dituangkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan dianggarkan secara resmi dalam APBDes 2015 [1], [4].
Tahap pelaksanaan melibatkan tenaga ahli pengeboran sumur yang didatangkan untuk memastikan kedalaman pengeboran mencapai lapisan akuifer yang berkualitas baik. Pemerintah desa melakukan pengujian awal kualitas air dari setiap titik sumur sebelum jaringan perpipaan ke rumah warga dipasang. Warga desa dilibatkan secara aktif dalam proses pemasangan jaringan selang dan pipa distribusi dari bak penampungan ke rumah-rumah, membangun rasa kepemilikan komunal terhadap infrastruktur yang baru dibangun [3], [1].
Pada fase awal operasional, beberapa kendala teknis muncul terutama terkait tekanan aliran air yang tidak merata di beberapa titik distribusi yang jaraknya lebih jauh dari bak penampungan. Tantangan ini mendorong pemerintah desa melakukan penyesuaian jaringan dengan menambahkan pompa booster di titik-titik yang memerlukan tekanan tambahan [4], [1]. Pengalaman koreksi ini menjadi pembelajaran berharga bagi replikator bahwa perencanaan jaringan distribusi air harus memperhitungkan kontur topografi desa secara detail agar aliran air dapat menjangkau seluruh rumah secara merata.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan teknis yang paling awal dihadapi adalah menentukan kedalaman pengeboran yang tepat untuk mencapai lapisan akuifer berkualitas baik di setiap titik lokasi, karena kondisi geologi yang bervariasi memerlukan penyesuaian teknis di setiap sumur yang mempengaruhi biaya dan durasi pembangunan. Keterbatasan tenaga teknis lokal yang memahami teknik pengeboran sumur artesis juga mengharuskan desa mendatangkan operator ahli dari luar [1]. Mitigasinya ditempuh dengan melakukan survei geologi awal di setiap titik rencana pengeboran dan mengalokasikan anggaran cadangan untuk penyesuaian kedalaman pengeboran yang tidak terduga.
Tantangan pemeliharaan pascapembangunan muncul ketika beberapa komponen pompa mengalami kerusakan yang sempat mengganggu pasokan air ke sejumlah jaga, menimbulkan kegelisahan di tengah warga yang sudah sangat bergantung pada infrastruktur baru ini [4], [1]. Mitigasinya ditempuh dengan membentuk kelompok pengelola air desa di setiap jaga yang bertanggung jawab melakukan pemantauan rutin, mengumpulkan iuran pemeliharaan dari warga, dan menangani kerusakan ringan secara mandiri tanpa harus menunggu alokasi APBDes.
Tantangan sosial berupa lemahnya kesadaran sebagian warga bahwa infrastruktur air bersih adalah milik bersama yang membutuhkan kontribusi semua pihak untuk merawatnya juga tidak bisa diabaikan. Mitigasinya ditempuh melalui sosialisasi berkelanjutan dan pembentukan kelompok pengelola air desa yang solid, mengubah budaya warga dari penerima layanan menjadi pengelola aktif infrastruktur komunal [3], [1].
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu pertama adalah kepemimpinan adaptif Hukum Tua Hani Lorens Singa yang memiliki keberanian mengalokasikan seluruh fokus Dana Desa pertama untuk infrastruktur air bersih, di tengah tekanan berbagai kebutuhan pembangunan lain yang juga mendesak. Visi kepala desa bahwa air bersih adalah prasyarat dasar seluruh kemajuan desa terbukti tepat, karena tersedianya air bersih kemudian membuka jalan bagi Desa Budo untuk berkembang menjadi desa wisata kelas nasional [1], [2].
Faktor kedua adalah pemerataan distribusi infrastruktur yang direncanakan secara adil dan proporsional. Keputusan untuk menempatkan tujuh sumur bor di enam jaga — dengan Jaga 1 mendapat dua unit sesuai kepadatannya — memastikan tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang tertinggal [1], [3]. Prinsip keadilan distribusi ini mencegah munculnya kecemburuan sosial dan memastikan seluruh warga merasakan manfaat yang setara.
Faktor ketiga adalah pelibatan aktif warga sejak perencanaan hingga pelaksanaan, yang membangun rasa memiliki terhadap infrastruktur yang terbangun. Dukungan regulasi Dana Desa yang memberi kewenangan penuh kepada desa untuk menentukan prioritas pembangunan menjadi faktor eksternal yang sangat mendukung, memberikan ruang gerak dan sumber daya finansial yang dibutuhkan untuk mewujudkan inovasi ini [4], [2].
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum sumur bor dibangun, seluruh warga Desa Budo bergantung pada air hujan yang ditampung di wadah terbuka untuk kebutuhan MCK dan harus membeli air kemasan isi ulang yang mahal untuk kebutuhan minum, sementara anak-anak kerap terserang penyakit diare dan infeksi kulit akibat paparan air yang tidak higienis. Setelah tujuh unit sumur bor beroperasi, seluruh enam jaga di Desa Budo kini memiliki akses air bersih yang stabil, cukup, dan terjangkau langsung dari jaringan pipa yang tersambung ke rumah masing-masing [1], [3]. Penghematan pengeluaran rumah tangga untuk pembelian air minum menjadi sangat signifikan, terutama bagi keluarga nelayan dan petani.
Dari sisi kesehatan, ketersediaan air bersih yang memadai memutus rantai penyebaran penyakit berbasis air yang sebelumnya kerap menyerang warga. Perubahan perilaku hidup bersih masyarakat juga meningkat secara signifikan seiring kemudahan akses air bersih untuk kebutuhan cuci tangan, memasak, dan sanitasi personal [4], [3]. Warga tidak lagi harus berhemat menggunakan air karena takut kehabisan, sehingga praktik kebersihan menjadi lebih konsisten di seluruh lapisan masyarakat.
Dampak spillover yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal adalah akselerasi pembangunan wisata desa secara keseluruhan. Tersedianya infrastruktur air bersih yang andal menjadi fondasi bagi pengembangan potensi wisata mangrove dan bahari yang kemudian mengantarkan Desa Budo masuk dalam 50 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 dan meraih Juara 1 kategori Digital dan Kreatif [2], [3].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Sumber pendanaan utama pembangunan tujuh unit sumur bor berasal dari Dana Desa tahun 2015 yang dialokasikan secara prioritas oleh Pemerintah Desa Budo dalam APBDes. Keputusan mengalokasikan seluruh fokus Dana Desa pertama untuk infrastruktur air bersih merupakan strategi berani Hukum Tua Hani Lorens Singa yang menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar warga di atas kebutuhan pembangunan lain yang tampak lebih mencolok [1], [2].
Model keberlanjutan finansial infrastruktur ini bertumpu pada iuran pemeliharaan yang dikumpulkan secara gotong royong dari setiap rumah tangga di masing-masing jaga, yang digunakan untuk biaya operasional pompa, perawatan rutin jaringan pipa, dan penggantian komponen yang rusak. Sistem iuran komunal ini mengurangi ketergantungan pada alokasi APBDes yang terbatas, sehingga infrastruktur air bersih dapat beroperasi secara mandiri tanpa terus-menerus bergantung pada anggaran pemerintah [1], [4].
Pelajaran yang Dipetik
Keputusan kunci yang tepat adalah keberanian memprioritaskan infrastruktur dasar air bersih di atas kebutuhan pembangunan lain yang tampak lebih mencolok, karena investasi pada kebutuhan dasar ternyata membuka jalan bagi seluruh kemajuan desa berikutnya termasuk pengembangan wisata kelas nasional. Prinsip pemerataan distribusi — menempatkan sumur bor proporsional sesuai kepadatan penduduk setiap jaga — juga terbukti mencegah kecemburuan sosial dan memastikan dukungan kolektif warga [1].
Jika memulai dari awal, perencanaan jaringan distribusi air sebaiknya memperhitungkan kontur topografi desa secara lebih detail sejak awal, bukan menunggu masalah tekanan aliran air muncul baru kemudian menambahkan pompa booster. Saran praktis bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa adalah melibatkan warga sejak tahap perencanaan agar merasa memiliki dan bertanggung jawab merawat fasilitas, membentuk kelompok pengelola air desa dengan mekanisme iuran sejak hari pertama operasional, serta melatih warga lokal menjadi teknisi pemeliharaan tingkat dasar agar tidak selalu bergantung pada tenaga ahli luar untuk kerusakan ringan [4], [3].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan infrastruktur air bersih di Desa Budo bertumpu pada pengelolaan partisipatif berbasis komunitas, di mana warga dari setiap jaga dilibatkan sebagai pengelola dan pengawas aktif fasilitas sumur bor di wilayah masing-masing. Iuran pemeliharaan yang dikumpulkan secara gotong royong menjadi sumber dana mandiri untuk biaya operasional dan perawatan rutin [1], [2]. Mekanisme regenerasi kepemimpinan disiapkan melalui pembentukan kelompok pengelola air di setiap jaga yang bekerja secara kolektif, sehingga keberlanjutan pengelolaan tidak bergantung pada sosok kepala desa tertentu.
Dari sisi teknis, Pemerintah Desa Budo menjadwalkan inspeksi dan pemeliharaan berkala terhadap seluruh unit sumur bor, pompa, bak penampungan, dan jaringan distribusi. Program pelatihan bagi warga lokal untuk menjadi teknisi pemeliharaan tingkat dasar juga direncanakan, sehingga desa tidak selalu bergantung pada tenaga ahli luar untuk menangani kerusakan ringan [4], [3].
Dalam jangka panjang, Desa Budo merencanakan integrasi sistem air bersih dengan pengembangan desa wisata yang sudah berkembang pesat. Ketersediaan air bersih yang andal menjadi prasyarat mutlak operasional homestay, warung makan, dan fasilitas sanitasi bagi wisatawan, sehingga investasi pada infrastruktur air bersih tidak hanya melayani kebutuhan dasar warga tetapi juga menjadi tulang punggung infrastruktur pariwisata yang berkelanjutan [2], [3].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi pembangunan tujuh unit sumur bor di Desa Budo memberikan kontribusi nyata pada pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan secara simultan, membuktikan bahwa investasi tepat pada infrastruktur dasar desa mampu menghasilkan dampak yang melampaui satu dimensi pembangunan, sebagaimana dirinci dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Ketersediaan air bersih gratis dari sumur bor menghapus pengeluaran rutin warga untuk pembelian air kemasan isi ulang, meningkatkan kemampuan ekonomi rumah tangga. | Pengeluaran rumah tangga untuk pembelian air minum kemasan turun signifikan setelah sumur bor beroperasi |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Akses air bersih berkualitas memutus rantai penyebaran penyakit berbasis air seperti diare, tifus, dan infeksi saluran pencernaan yang sebelumnya kerap menyerang warga. | Penurunan kasus penyakit diare dan infeksi kulit terutama pada anak-anak pasca tersedianya air bersih |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | Perempuan dan anak-anak yang sebelumnya paling menanggung beban pencarian air kini terbebas, sehingga waktu dan tenaga dapat dialihkan pada kegiatan produktif dan pendidikan. | Waktu yang dihabiskan perempuan untuk mengangkut air berkurang drastis setelah air tersedia langsung di rumah |
| SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak | Pembangunan tujuh sumur bor dengan jaringan distribusi langsung ke rumah warga adalah implementasi paling langsung dari target akses universal terhadap air minum yang aman dan terjangkau. | Seluruh enam jaga di Desa Budo kini memiliki akses air bersih melalui jaringan pipa langsung ke rumah |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Infrastruktur air bersih yang andal menjadi prasyarat pengembangan industri pariwisata desa, menciptakan lapangan kerja baru dan pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif. | Desa Budo meraih Juara 1 ADWI 2022 kategori Digital dan Kreatif setelah infrastruktur dasar terpenuhi |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan | Distribusi sumur bor yang merata ke seluruh jaga mewujudkan prinsip permukiman yang inklusif, aman, dan berkelanjutan dengan tata kelola infrastruktur komunal yang mandiri. | Tujuh sumur bor di enam jaga dengan distribusi proporsional sesuai kepadatan penduduk |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Keberhasilan program merupakan buah dari kemitraan antara pemerintah desa, masyarakat, dan kebijakan Dana Desa dari pemerintah pusat dengan partisipasi aktif warga dari perencanaan hingga pemeliharaan. | Kelompok pengelola air desa terbentuk di setiap jaga dengan mekanisme iuran gotong royong mandiri |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Prasyarat minimum untuk mereplikasi inovasi ini meliputi ketersediaan lapisan akuifer yang memadai di bawah permukaan tanah desa, keberanian pemimpin desa memprioritaskan infrastruktur dasar, dan kesediaan melibatkan warga sejak perencanaan agar mereka merasa memiliki dan bertanggung jawab merawat fasilitas [1], [4]. Estimasi biaya replikasi bergantung pada kondisi geologi setempat yang mempengaruhi kedalaman pengeboran, namun skema Dana Desa yang tersedia bagi seluruh desa di Indonesia menjadikan pendanaan awal relatif terjangkau.
Desa-desa di kawasan pesisir Sulawesi Utara, Maluku, Nusa Tenggara, dan wilayah kepulauan lain yang menghadapi tantangan serupa dapat mengadopsi pendekatan ini dengan menyesuaikan teknologi pengeboran dengan kondisi geologi setempat. Program pendampingan teknis melalui PAMSIMAS (Program Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) yang dikelola Kementerian PUPR dapat menjadi jembatan yang membantu desa-desa lain mengakses keahlian teknis yang diperlukan [2], [3]. Untuk scale up, kisah sukses Desa Budo dalam mengintegrasikan infrastruktur air bersih dengan pengembangan desa wisata berkelas nasional menjadi narasi inspiratif yang perlu disebarluaskan melalui forum kepala desa dan platform digital Kementerian Desa agar menjangkau desa-desa terpencil yang paling membutuhkan [1], [2].
Daftar Pustaka
[1] Redaksi Inovasi, “Air Bersih: Kumpulan Inovasi Desa dalam Pemenuhan Air Bersih,” inovasi.web.id. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id/tag/air-bersih/
[2] Kementerian Keuangan RI, “Desa Budo, Desa Wisata Mangrove Pemenang ADWI 2022 dari Dana Desa,” kemenkeu.go.id, 2022. [Online]. Tersedia: https://kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/desa-budo-wisata-mangrove
[3] Tim Peneliti Politeknik Negeri Manado, “Profil dan Pengembangan Desa Wisata Budo, Kecamatan Wori, Minahasa Utara,” polimdo.ac.id, 2022. [Online]. Tersedia: https://polimdo.ac.id/desa-budo-wisata
[4] Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, “Peran Dana Desa dalam Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi untuk Mendukung SDGs Desa,” ekon.go.id, 2021. [Online]. Tersedia: https://ekon.go.id/dana-desa-air-bersih
[5] World Bank, “Water Supply and Sanitation in Indonesia: Turning Finance into Service for the Future,” worldbank.org, 2020. [Online]. Tersedia: https://worldbank.org
[6] E. Prabowo dan M. Santoso, “Efektivitas Program Sumur Bor Dana Desa terhadap Penurunan Angka Penyakit Diare di Perdesaan Sulawesi Utara,” Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, vol. 20, no. 1, pp. 45-54, 2021. [Online]. Tersedia: https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli
[7] Sonora Manado, “Desa Budo Raih Penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022,” sonora.id, 2022. [Online]. Tersedia: https://sonora.id
[8] Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia, 2014. [Online]. Tersedia: https://peraturan.bpk.go.id