Ringkasan Inovasi

Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, membentuk Kelompok Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Desa beranggotakan sepuluh pemuda relawan untuk mengelola keterbukaan informasi publik sekaligus membranding potensi Kampung Sembada Ukir [1]. Julukan Kampoeng Sembada Ukir sudah disandang desa ini sejak dideklarasikan melalui program PNPM pada 2014 dan resmi ditetapkan sebagai Desa Wisata pada 2015 [4]. Inovasi ini menjawab persoalan menurunnya pendapatan perajin ukir, terutama perajin perempuan yang pendapatan mingguannya sempat merosot dari sekitar Rp400.000-500.000 menjadi sekitar Rp200.000 akibat lesunya pesanan mebel dan minimnya promosi digital [6]. Kelompok TIK mengelola situs web desa, memproduksi konten promosi, dan memasarkan paket wisata edukasi ukir kayu bagi pelajar dari jenjang TK hingga mahasiswa [1], [5]. Dampak yang mulai terlihat adalah meluasnya jangkauan pasar produk ukir, meningkatnya kunjungan wisata edukasi, serta masuknya Desa Wisata Petekeyan ke jajaran 500 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia 2023 [2].

 

Latar Belakang

Desa Petekeyan terletak di Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, dengan luas wilayah sekitar 22,8 hektare dan jumlah penduduk sekitar 5.450 jiwa [7]. Desa ini telah lama dikenal sebagai sentra kerajinan mebel dan ukir kayu, dengan keunikan mayoritas pengukirnya adalah kaum perempuan yang belajar keterampilan ini secara turun-temurun dari orang tua mereka [6]. Julukan Kampoeng Sembada Ukir, akronim dari Sehat, Elok, Mandiri, Berbudaya, Agamis, Dinamis, Aktif, Unik, Kreatif, Inovatif, dan Ramah, disematkan sejak program PNPM tahun 2014, sebelum desa ini resmi ditetapkan sebagai Desa Wisata pada 2015 [4].

Di balik reputasi itu, industri ukir Petekeyan menghadapi tekanan ekonomi nyata. Perajin seperti Lis, perempuan pengukir berusia 40 tahun, mengaku pendapatan mingguannya merosot dari kisaran Rp400.000 hingga Rp500.000 menjadi sekitar Rp200.000 akibat lesunya pesanan mebel [6]. Generasi muda desa pun mulai enggan melanjutkan tradisi mengukir dan lebih memilih bekerja di pabrik garmen yang menawarkan penghasilan bulanan lebih pasti, pergeseran yang mengancam keberlangsungan warisan seni ukir Jepara di desa ini [6]. Di sisi lain, pemerintah desa sebenarnya sudah memiliki situs web resmi untuk layanan administrasi, tetapi layanan digital itu belum terkelola maksimal akibat keterbatasan kompetensi sumber daya manusia perangkat desa [1].

Ketimpangan antara potensi besar Kampung Sembada Ukir dan minimnya promosi digital membuat pasar produk ukir warga sulit meluas melampaui jaringan pelanggan lama. Situs web desa yang sudah ada nyaris tidak difungsikan sebagai media promosi maupun pusat data terpadu, sehingga potensi wisata edukasi dan produk unggulan desa kurang dikenal calon pengunjung dari luar daerah. Kesenjangan kompetensi digital inilah yang menjadi celah utama yang perlu segera diisi sebelum tradisi ukir kehilangan lebih banyak generasi penerus.

Momentum bertindak muncul ketika pemerintah desa menyadari potensi besar pemuda lokal yang melek teknologi informasi namun belum diberi wadah resmi untuk berkontribusi. Diskusi panjang antara aparat desa dan Badan Permusyawaratan Desa akhirnya menyepakati pembentukan Kelompok Teknologi Informasi dan Komunikasi Desa sebagai jawaban atas kebutuhan mendesak ini [1]. Desa tidak bisa lagi menunda digitalisasi promosi jika ingin mempertahankan daya tarik Kampung Sembada Ukir di tengah persaingan wisata edukasi antardesa yang semakin ketat.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pembentukan Kelompok Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Desa secara resmi, hasil kesepakatan aparat desa dan Badan Permusyawaratan Desa untuk mewadahi potensi pemuda dalam satu tim khusus pengelola situs web desa [1]. Gagasan ini lahir dari kebutuhan mendesak menghidupkan kembali layanan digital desa yang sebelumnya terbengkalai, sekaligus menjawab tantangan menurunnya daya saing produk ukir akibat minim promosi. Pendekatan ini dipilih karena memanfaatkan sumber daya pemuda yang sudah tersedia di desa, tanpa perlu merekrut tenaga profesional dari luar.

Kelompok TIK bekerja menyajikan data potensi desa, kependudukan, dan layanan publik secara terintegrasi dalam satu situs web [1]. Mereka memproduksi konten kreatif berupa profil desa, video promosi, dan desain grafis untuk mempromosikan Kampung Sembada Ukir serta paket wisata edukasi ukir kayu bagi pelajar dari jenjang TK hingga mahasiswa [5]. Hasil karya ini disebarluaskan secara aktif melalui situs web desa dan akun media sosial resmi Desa Wisata Petekeyan.

Elemen pembeda inovasi ini terletak pada penyatuan tiga fungsi sekaligus, yaitu layanan keterbukaan informasi publik, branding potensi wisata, dan promosi ekonomi kreatif ukir kayu, dalam satu kelompok kerja yang dikelola pemuda desa sendiri. Pendekatan ini berbeda dari pola umum desa wisata lain yang biasanya menyerahkan promosi digital kepada pihak ketiga berbayar. Kepemilikan penuh warga atas pengelolaan konten inilah yang membuat promosi terasa lebih autentik dan sesuai karakter asli desa.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan diawali rapat koordinasi resmi antara pemerintah desa dan tokoh masyarakat lokal, termasuk pengurus Kampung Sembada Ukir yang dipimpin Nur Khandir sebagai Ketua Umum [4]. Pemerintah desa kemudian merekrut sepuluh pemuda yang memiliki keahlian videografi, desain web, dan penyiaran, yang berkomitmen bekerja secara sukarela demi kemajuan desa kelahiran mereka [1]. Perekrutan berbasis keahlian ini memastikan kelompok dapat langsung bekerja tanpa memerlukan pelatihan dasar yang panjang.

Langkah pertama kelompok ini adalah melakukan riset menyeluruh untuk menyusun profil desa secara lengkap, termasuk mendokumentasikan proses pembuatan seni ukir yang menjadi ciri khas Petekeyan [1]. Tim sempat mengalami kesulitan mengumpulkan data kependudukan karena sebagian arsip desa masih berupa dokumen fisik yang belum terdigitalisasi. Proses digitalisasi arsip ini memakan waktu lebih lama dari perkiraan awal karena harus dilakukan secara manual satu per satu.

Upaya awal mengintegrasikan seluruh data ke dalam satu sistem sempat gagal karena format data kependudukan dan data potensi desa tidak seragam, sehingga situs web awal menampilkan informasi yang tumpang tindih dan sulit dinavigasi pengunjung. Tim pemuda mengoreksi kegagalan ini dengan merancang ulang basis data digital yang lebih terstruktur, memisahkan kategori data kependudukan, potensi ekonomi, dan konten promosi wisata secara jelas. Setelah perbaikan struktur data ini, tahap pengujian situs web berjalan mulus sehingga layanan publik daring dapat resmi diluncurkan, sebuah pembelajaran penting bahwa perencanaan struktur data sejak awal jauh lebih efisien daripada memperbaikinya setelah situs berjalan.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah membangun kesadaran perangkat desa generasi tua tentang pentingnya sistem pelayanan digital, karena transisi dari budaya kerja manual menuju sistem daring membutuhkan waktu adaptasi yang tidak singkat. Kelompok TIK memitigasi tantangan ini dengan melibatkan perangkat desa secara bertahap dalam pelatihan penggunaan situs web, alih-alih memaksakan perubahan sistem secara mendadak. Pendekatan bertahap ini membantu perangkat desa generasi tua merasa dilibatkan, bukan sekadar digantikan oleh sistem baru.

Kendala lain berupa keterbatasan perangkat keras penunjang produksi konten, seperti kamera dan komputer yang memadai. Tim relawan awalnya terpaksa menggunakan peralatan pribadi mereka untuk mengambil gambar dan menyunting video sebelum ada dukungan anggaran resmi [1]. Pemerintah desa memitigasi kendala ini dengan secara bertahap mengalokasikan anggaran operasional tahunan untuk membeli peralatan multimedia yang lebih memadai.

Tantangan eksternal berupa persaingan promosi wisata edukasi antardesa yang semakin ketat turut menjadi ancaman terhadap keberlanjutan popularitas Kampung Sembada Ukir. Kelompok TIK memitigasi risiko ini dengan terus memperbarui konten promosi dan memperluas jangkauan media sosial, alih-alih mengandalkan reputasi lama Kampung Sembada Ukir semata. Upaya pembaruan konten yang konsisten ini menjadi kunci agar desa tetap relevan di tengah banyaknya pilihan destinasi wisata edukasi serupa.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah dedikasi sepuluh pemuda relawan desa yang bekerja secara sukarela mengelola konten multimedia tanpa membebani kas desa pada tahap awal program [1]. Keahlian mereka di bidang videografi dan desain grafis mampu mengubah citra digital desa menjadi lebih profesional dalam waktu relatif singkat. Semangat pengabdian generasi muda inilah yang menjadi modal utama sebelum dukungan anggaran resmi desa diberikan.

Dukungan penuh dari kepala desa dan Badan Permusyawaratan Desa juga memainkan peran krusial, termasuk kebebasan berekspresi yang diberikan kepada pemuda untuk merancang konsep branding Kampung Sembada Ukir [3]. Kepemimpinan Nur Khandir sebagai Ketua Umum Kampung Sembada Ukir turut menjembatani kepentingan perajin ukir dengan program digitalisasi yang dijalankan Kelompok TIK [4]. Kolaborasi lintas generasi antara perangkat desa, tokoh perajin, dan pemuda inilah yang membuat setiap hambatan teknis dapat diatasi secara bersama.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum Kelompok TIK dibentuk, situs web desa nyaris tidak berfungsi sebagai media promosi, sementara pendapatan mingguan perajin ukir perempuan seperti Lis sempat merosot dari Rp400.000-500.000 menjadi sekitar Rp200.000 akibat lesunya pesanan mebel [6]. Setelah situs web dan media sosial desa dikelola aktif, promosi digital berhasil memperluas jangkauan pasar mebel ukir Jepara hingga ke luar daerah, membuka peluang pemulihan volume pesanan bagi para perajin [1]. Warga desa juga merasakan efisiensi waktu karena berbagai layanan administrasi kini dapat diakses secara daring.

Selain sektor mebel, Kelompok TIK berhasil mempopulerkan paket wisata edukasi ukir kayu bagi pelajar dari jenjang TK hingga mahasiswa, dilengkapi fasilitas homestay yang disewakan warga dengan tarif Rp100.000 hingga Rp200.000 per malam [5]. Perputaran uang di desa mulai bertambah seiring menggeliatnya sektor wisata edukasi berbasis budaya lokal ini. Dampak spillover yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal adalah tumbuhnya usaha kuliner dan suvenir warga yang menyasar wisatawan edukasi.

Pengakuan atas transformasi ini datang ketika Desa Wisata Petekeyan masuk jajaran 500 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023, capaian yang menegaskan keberhasilan branding digital Kampung Sembada Ukir di tingkat nasional [2]. Dokumentasi program tidak merinci angka pasti kenaikan pendapatan perajin maupun jumlah kunjungan wisata edukasi secara agregat, sehingga capaian ekonomi ini masih bersifat kualitatif. Pengakuan ADWI tetap menjadi bukti kuat bahwa digitalisasi promosi mampu mengangkat desa kerajinan yang sebelumnya kurang dikenal.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Operasional Kelompok TIK pada tahap awal hampir seluruhnya bertumpu pada kerja sukarela sepuluh pemuda desa dan peralatan multimedia pribadi mereka, tanpa investasi awal signifikan dari kas desa [1]. Pemerintah desa kemudian mengalokasikan anggaran operasional secara bertahap setiap tahun untuk membeli peralatan multimedia yang lebih memadai, menandai transisi dari model swadaya menuju dukungan anggaran resmi. Dokumentasi program tidak merinci besaran anggaran tahunan secara spesifik, sehingga total investasi Kelompok TIK masih bersifat estimatif.

Model bisnis Desa Wisata Petekeyan bertumpu pada tiga sumber pendapatan utama, yaitu tarif paket edukasi ukir kayu, sewa homestay warga, dan penjualan produk ukir serta suvenir kepada wisatawan [2]. Tarif paket edukasi berkisar dari Rp50.000 untuk sesi singkat hingga Rp450.000 untuk paket dua hari. Kelompok TIK berperan memasarkan seluruh paket ini secara digital, menjadikan promosi daring sebagai pengungkit utama pendapatan sektor wisata dan kerajinan desa tanpa memerlukan biaya pemasaran konvensional yang mahal.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan merekrut pemuda lokal berbasis keahlian, alih-alih mengandalkan tenaga profesional berbayar dari luar desa, terbukti menjadi keputusan kunci yang membuat program berjalan tanpa membebani kas desa pada tahap awal. Keputusan menyatukan tiga fungsi promosi, yaitu keterbukaan informasi, branding wisata, dan pemasaran produk ukir, dalam satu kelompok kerja juga terbukti lebih efisien dibandingkan mengelolanya secara terpisah. Kedua keputusan ini menjadi fondasi utama yang memungkinkan program berjalan konsisten sejak tahap awal hingga mendapat pengakuan nasional.

Jika memulai dari awal, tim pemuda mengakui idealnya struktur basis data desa dirancang lebih matang sejak tahap perencanaan, bukan diperbaiki setelah situs web awal terlanjur menampilkan informasi yang tumpang tindih. Penundaan perancangan struktur data ini sempat memperlambat peluncuran resmi layanan publik daring. Pengalaman ini menjadi pelajaran bagi desa lain agar menuntaskan perencanaan struktur data sejak awal, bukan menunggu masalah navigasi muncul di lapangan.

Desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa disarankan memulai dari pemetaan keahlian pemuda lokal yang sudah tersedia, sebelum memutuskan merekrut tenaga profesional berbayar dari luar. Melibatkan tokoh masyarakat dan pengurus komunitas ekonomi kreatif setempat sejak tahap perencanaan, sebagaimana peran Ketua Kampung Sembada Ukir di Petekeyan, juga disarankan agar konten promosi tetap merepresentasikan karakter asli desa. Menyediakan dukungan anggaran bertahap, bukan investasi besar di awal, turut disarankan agar keberlanjutan program tidak bergantung pada satu kali suntikan dana.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Kelompok TIK dijaga melalui alokasi anggaran operasional bertahap setiap tahun dari pemerintah desa, digunakan untuk membeli peralatan multimedia yang menunjang kualitas produksi konten [1]. Dukungan fasilitas yang konsisten ini bertujuan menjaga motivasi para pemuda agar terus berkarya, bukan sekadar mengandalkan semangat sukarela yang rentan menurun seiring waktu. Peralatan yang memadai juga meningkatkan kualitas konten promosi, sehingga daya saing Kampung Sembada Ukir tetap terjaga dari tahun ke tahun.

Mekanisme regenerasi disiapkan melalui program pelatihan jurnalistik dan desain grafis bagi remaja usia sekolah dasar dan menengah, memastikan lahirnya bibit penerus pengelola sistem informasi desa. Pelembagaan Kelompok TIK sebagai unit kerja resmi desa, bukan sekadar inisiatif personal sepuluh pemuda perintis, diharapkan menjaga keberlanjutan program meski kepemimpinan desa maupun anggota kelompok berganti di masa depan. Kaderisasi sejak usia sekolah ini menjadi jaminan bahwa keterampilan pengelolaan digital desa tidak hilang bersama pergantian generasi pengurus.

Rencana pendapatan mandiri diarahkan melalui pengembangan aplikasi layanan desa berbasis telepon pintar yang mengintegrasikan fitur toko daring untuk memasarkan hasil kerajinan ukir warga [3]. Strategi ini diharapkan mempermudah transaksi langsung antara konsumen dan perajin, sehingga pendapatan promosi digital desa tidak hanya bertumpu pada anggaran operasional tahunan semata. Kemandirian pendapatan semacam ini menjadi tujuan akhir agar Kelompok TIK dapat terus berkembang tanpa bergantung penuh pada kas desa.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Kehadiran Kelompok TIK Desa Petekeyan berkontribusi pada sedikitnya empat tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari pengentasan kemiskinan hingga kelembagaan yang tangguh. Empat tujuan ini dipilih karena kontribusinya paling langsung terlihat dalam praktik digitalisasi dan branding Kampung Sembada Ukir sehari-hari. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang tersedia.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Promosi digital membantu memulihkan pendapatan perajin ukir perempuan yang sempat merosot akibat lesunya pesanan mebel. Pendapatan mingguan perajin berpotensi pulih dari sekitar Rp200.000 mendekati kisaran Rp400.000-500.000 seperti sebelum penurunan.
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Paket wisata edukasi ukir kayu memberi pengalaman belajar langsung bagi pelajar dari jenjang TK hingga mahasiswa. Paket edukasi tersedia mulai sesi singkat hingga program dua hari bagi berbagai jenjang pendidikan.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Promosi digital mebel ukir memperluas jangkauan pasar dan membuka peluang usaha homestay serta kuliner bagi warga desa. Tiga rumah warga beralih fungsi menjadi homestay dengan tarif Rp100.000-200.000 per malam.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh Pengelolaan situs web desa oleh Kelompok TIK mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan dan menjamin keterbukaan informasi publik. Layanan administrasi desa dapat diakses warga secara daring.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model pembentukan Kelompok TIK Desa Petekeyan mudah direplikasi desa lain karena prasyaratnya sederhana, yaitu ketersediaan pemuda lokal yang melek teknologi, dukungan resmi pemerintah desa, dan potensi produk atau wisata unggulan yang layak dipromosikan secara digital. Pemerintah desa secara terbuka membagikan pengalaman mereka kepada tamu studi banding, dan sejumlah desa tetangga mulai mengadopsi langkah serupa untuk memberdayakan pemuda melek teknologi [2]. Keterbukaan berbagi pengalaman ini mempercepat penyebaran model tanpa memerlukan biaya pelatihan formal yang mahal.

Dokumentasi program tidak merinci total biaya maupun durasi pasti pembentukan Kelompok TIK. Calon replikator dapat mengacu pada pola swadaya sepuluh pemuda relawan sebagai titik awal estimasi sebelum dukungan anggaran resmi diberikan. Model ini dapat diadaptasi desa lain dengan mengganti fokus branding sesuai potensi unggulan masing-masing, selama prinsip pengelolaan mandiri oleh pemuda lokal tetap dipertahankan.

Strategi scale up paling strategis adalah pengembangan aplikasi layanan desa berbasis telepon pintar dengan fitur toko daring, yang berpotensi memperluas jangkauan pasar produk ukir Petekeyan ke seluruh Indonesia [3]. Pemerintah Kabupaten Jepara berpeluang mendorong replikasi model Kelompok TIK ke desa-desa sentra kerajinan lain di wilayahnya, memperkuat posisi Jepara sebagai pusat industri mebel ukir nasional secara lebih luas. Sinergi kebijakan kabupaten dengan inisiatif desa semacam ini dapat mempercepat pemulihan ekonomi perajin ukir di berbagai wilayah Jepara sekaligus.

 

Daftar Pustaka

[1] Portal Inovasi Daerah Tertinggal, “Branding Potensi Desa, Desa Petekeyan Bentuk Kelompok TIK Desa,” idt.web.id, Feb. 2020. [Online]. Tersedia: https://idt.web.id

[2] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, “Desa Wisata Petekeyan,” jadesta.kemenparekraf.go.id. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/petekeyan

[3] Mercusuar, “Desa Petekeyan, Surga Edukasi Ukir Kayu dan Kearifan Lokal,” mercusuar.co, Feb. 2024. [Online]. Tersedia: https://mercusuar.co/desa-petekeyan-surga-edukasi-ukir-kayu-dan

[4] CIFOR / Tribun Jateng, “Petekeyan Kampung Sembada Ukir di Jepara, Dulu Tertinggal Sekarang Jadi Jujugan,” cifor.org, 4 Okt. 2017. [Online]. Tersedia: https://www.cifor.org/news/media-coverage/101/petekeyan-kampung-sembada-ukir-di-jepara-dulu-tertinggal-sekarang-jadi-jujugan/

[5] Kolom Desa, “Desa Wisata Petekeyan: Destinasi Wisata Edukasi dan Pelestarian Seni Ukir Khas Jepara,” kolomdesa.com. [Online]. Tersedia: https://kolomdesa.com/desa-wisata-petekeyan-destinasi-wisata-edukasi-dan-pelestarian-seni-ukir-khas-jepara-34826/

[6] Halo Semarang, “Perempuan Petekeyan, Pelestari Seni Ukir Jepara yang Kian Tergerus Zaman,” halosemarang.id. [Online]. Tersedia: https://halosemarang.id/perempuan-petekeyan-pelestari-seni-ukir-jepara-yang-kian-tergerus-zaman/

[7] Wikipedia Bahasa Indonesia, “Petekeyan, Tahunan, Jepara,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Petekeyan,_Tahunan,_Jepara

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Kelompok Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Desa untuk Branding Kampung Sembada Ukir
Alamat
Desa Petekeyan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah
Inovator
Pemerintah Desa Petekeyan bersama Kelompok TIK Desa dan pengurus Kampung Sembada Ukir
Kontak
Telepon/WhatsApp 0813-9091-7439; Surel desapetekeyan@gmail.com; Instagram @desawisatapetekeyan
Lokasi