Ringkasan Inovasi
Dusun Bondan di Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, bertransformasi dari dusun gelap tanpa jaringan listrik PLN menjadi kampung mandiri energi berkat teknologi Hybrid Energi One Pole (HEOP) yang menggabungkan panel surya dan kincir angin dalam satu tiang instalasi [1], [2]. Program yang diinisiasi Mohamad Jamaludin, tokoh pemuda dusun, bersama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Cilacap sejak 2017 ini berkembang menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) berkapasitas 16.200 Wp yang kini menerangi 78 rumah dan fasilitas umum selama 24 jam. Sebelumnya, warga — mayoritas pendatang dari Karawang yang membuka tambak di lahan pasang surut sejak 1997 — mengandalkan lampu minyak tanah atau menarik kabel ilegal sejauh 5 kilometer dari dusun tetangga [7]. Dampak inovasi ini melampaui penerangan: listrik PLTH juga mengoperasikan sistem desalinasi air payau Sidesimas dan aerator tambak ikan warga [3], [4]. Keberhasilan program Desa Energi Berdikari ini diakui lewat penghargaan Dharma Karya ESDM 2024 dan Satyalancana Pembangunan, menjadikan Dusun Bondan model percontohan nasional [8], [9].
Latar Belakang
Dusun Bondan terletak di kawasan laguna Segara Anakan yang dikelilingi ekosistem hutan mangrove terbesar di Pulau Jawa, dan hanya dapat dijangkau melalui perahu motor sekitar 1,5 hingga 2,5 jam dari daratan Cilacap [1]. Mayoritas warga dusun ini adalah pendatang dari Karawang, Jawa Barat, yang tiba sekitar 1997 untuk membuka tambak udang dan bandeng di lahan pasang surut hasil reklamasi [7]. Keterisolasian geografis menjadikan dusun ini tidak terjangkau jaringan listrik PLN selama lebih dari dua dekade, memaksa warga menjalani kehidupan dalam kegelapan setiap malam.
Sebelum hadirnya inovasi HEOP, warga mengandalkan teplok atau lampu minyak tanah sebagai satu-satunya sumber penerangan. Sebagian keluarga berupaya menarik kabel listrik secara mandiri sejauh 5 kilometer dari dusun sebelah menggunakan tiang kayu yang melewati rawa-rawa, menghasilkan aliran listrik yang tidak stabil dan berbahaya bagi keselamatan [1], [5]. Keluarga lainnya sama sekali tidak memiliki akses listrik dan hanya menggunakan pelita minyak maupun lampu LED baterai, sementara kebutuhan air bersih harus dipenuhi dengan menempuh perjalanan hingga tiga jam ke Pulau Nusakambangan [7].
Kondisi ini menghambat pendidikan anak-anak dan produktivitas tambak ikan yang menjadi mata pencaharian utama warga [2]. Keresahan inilah yang menggerakkan Mohamad Jamaludin, tokoh pemuda setempat, untuk menghubungi PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Cilacap dan mengajak perusahaan menganalisis bersama persoalan serta potensi dusunnya, momentum yang kemudian melahirkan program Desa Energi Berdikari pada 2017 [6].
Inovasi yang Diterapkan
Teknologi Hybrid Energi One Pole (HEOP) lahir dari ajang kompetisi karya ilmiah inovasi teknologi terapan untuk masyarakat pesisir yang diselenggarakan Pertamina RU IV Cilacap pada akhir 2016. Mahasiswa STT PLN Jakarta (kini Institut Teknologi PLN) memenangkan kompetisi tersebut dengan prototipe pembangkit listrik hibrida yang memadukan panel surya dan kincir angin dalam satu tiang tunggal [5]. Mohamad Jamaludin dan KPI Unit Cilacap kemudian menantang para mahasiswa pemenang mengimplementasikan temuan mereka langsung di Dusun Bondan sebagai proyek percontohan nyata.
HEOP memanfaatkan dua sumber energi terbarukan yang melimpah di kawasan pesisir — sinar matahari dan tiupan angin — dengan komposisi sekitar 70 persen tenaga surya dan 30 persen tenaga angin [9]. Energi disimpan dalam baterai aki dan didistribusikan melalui jaringan kabel sederhana. Sistem ini berkembang menjadi PLTH berkapasitas 16.200 Wp dengan 5 unit kincir angin dan 24 panel surya, yang selain menyalakan listrik rumah tangga juga menggerakkan sistem desalinasi air payau Sidesimas dan sistem peringatan dini banjir bagi warga dusun yang rawan pasang laut [8].
Proses Penerapan Inovasi
Tahap pertama penerapan dimulai pada 2017, ketika prototipe HEOP dipasang di 14 titik sambungan utama, dilengkapi 14 unit panel surya tambahan untuk rumah-rumah yang berjarak jauh dari tiang utama [1], [7]. Pemeliharaan alat dirancang sederhana agar dapat langsung diserahkan kepada warga tanpa memerlukan tenaga ahli dari luar.
Prototipe HEOP generasi awal ini ternyata hanya mampu menghasilkan arus searah (DC), sementara sebagian besar peralatan rumah tangga standar seperti televisi dan penanak nasi membutuhkan arus bolak-balik (AC) 220 volt [7]. Keterbatasan ini membuat warga awalnya hanya bisa memanfaatkan listrik untuk penerangan dasar. Kendala inilah yang mendorong Pertamina menggandeng Politeknik Negeri Cilacap (PNC) pada 2018 untuk mengembangkan sistem hibrida berkapasitas 6.000 Wp yang dilengkapi inverter pengonversi arus, sehingga warga akhirnya bisa menggunakan peralatan elektronik rumah tangga standar — sebuah pembelajaran penting bagi replikator bahwa prototipe awal perlu diuji terhadap kebutuhan riil peralatan rumah tangga, bukan hanya kemampuan menghasilkan listrik semata.
Pengembangan berlanjut hingga PLTH berkapasitas 12.000 Wp resmi beroperasi pada 2019 dengan 5 unit kincir angin dan 24 panel surya, sebelum ditingkatkan lagi menjadi 16.200 Wp pada akhir 2020 [7]. Pada tahap ini, program bertransformasi menjadi Desa Energi Berdikari (DEB) dengan dua pilar utama: E-Mas Bayu (Energi Mandiri Tenaga Surya dan Angin) dan E-Mbak Mina (Energi Mandiri Tambak Ikan), dengan Mohamad Jamaludin berperan sebagai koordinator lapangan [3], [4].
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan utama penerapan inovasi ini terletak pada kondisi geografis Dusun Bondan yang sangat terpencil di tengah laguna Segara Anakan, sehingga pengiriman perangkat dan material hanya bisa dilakukan lewat jalur perahu dengan biaya logistik tinggi. Lingkungan rawa payau berkadar garam tinggi juga mempercepat korosi perangkat logam. Pertamina memitigasi kendala ini dengan merancang jadwal pengiriman material secara bertahap serta memilih komponen tahan korosi untuk instalasi di area terbuka [1].
Keterbatasan sumber daya manusia terampil di bidang teknik kelistrikan merupakan kendala struktural yang memerlukan pendampingan berkelanjutan. Pertamina mengatasinya dengan menyertakan Mohamad Jamaludin dalam program sertifikasi kelistrikan hasil kolaborasi Pertamina dan Kementerian ESDM, bersama 21 local heroes energi terbarukan lain dari 12 provinsi di Indonesia, sehingga kapasitas pemeliharaan sistem tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tenaga ahli dari luar [2], [6].
Cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang pasang di musim tertentu berpotensi merusak instalasi kincir angin dan panel surya yang terpapar langsung di area terbuka. Sistem peringatan dini banjir yang kini terintegrasi dengan PLTH membantu warga mengantisipasi risiko pasang laut lebih awal, sekaligus menjadi bagian dari mitigasi risiko terhadap infrastruktur energi itu sendiri [8].
Faktor Penentu Keberhasilan
Kepemimpinan lokal Mohamad Jamaludin menjadi faktor penentu utama keberhasilan inovasi ini. Jamal, sapaan akrabnya, resah melihat dusunnya tenggelam dalam kegelapan selama lebih dari dua dekade dan berinisiatif membangun jejaring kolaborasi dengan PT Kilang Pertamina Internasional Unit Cilacap [2], [3]. Perannya sebagai penghubung antara masyarakat dusun dan perusahaan memastikan kebutuhan nyata warga terterjemahkan dalam desain teknis program yang sesuai kondisi lapangan.
Kolaborasi multipihak antara masyarakat Dusun Bondan, PT Kilang Pertamina Internasional, mahasiswa STT PLN Jakarta sebagai perancang awal prototipe, dan Politeknik Negeri Cilacap sebagai mitra pengembangan teknis sejak 2018 menciptakan ekosistem inovasi yang saling melengkapi [5], [7]. Kesederhanaan desain teknologi HEOP yang mudah dipelihara oleh masyarakat awam menjadi kunci keberlanjutan program tanpa ketergantungan penuh pada tenaga teknis dari luar.
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum PLTH beroperasi, warga hanya mengandalkan lampu minyak tanah atau aliran listrik ilegal yang tidak stabil, sementara kebutuhan air bersih dipenuhi dengan perjalanan tiga jam ke Nusakambangan dengan pengeluaran rata-rata sekitar Rp743.590 per bulan per rumah tangga [7]. Setelah PLTH berkapasitas 16.200 Wp beroperasi penuh, 78 rumah dan fasilitas umum di Dusun Bondan kini menikmati listrik 24 jam, sementara sistem desalinasi Sidesimas menghasilkan sekitar 720 liter air bersih per hari, menekan pengeluaran air rumah tangga hingga 76 persen menjadi sekitar Rp185.897 per bulan [7], [8].
Anak-anak kini dapat belajar di malam hari tanpa bergantung pada cahaya pelita yang redup dan berisiko kebakaran. Aerator tambak yang dioperasikan listrik PLTH menjaga kualitas air tambak dan mendorong hasil budidaya ikan bandeng, udang, dan kepiting naik hingga 1,5 ton per hektare, sementara kelompok usaha mikro warga kini meraup omzet sekitar Rp7,5 juta per bulan [7].
Keberhasilan program ini mendapat pengakuan nasional: tim CSR Gugus Exterminator RU IV meraih penghargaan Dharma Karya ESDM 2024 dari Kementerian ESDM, sementara Area Manager Communication, Relation & CSR Kilang Pertamina, Cecep Supriyatna, dianugerahi Satyalancana Pembangunan oleh Presiden atas pembinaan program ini [8], [9]. Dusun Bondan kini dikenal sebagai “Kampung Kincir” yang menjadi destinasi studi banding dan rujukan nasional pengembangan energi terbarukan di wilayah kepulauan terpencil.
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Investasi awal dan pengembangan PLTH sepenuhnya dibiayai program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Kilang Pertamina Internasional Unit Cilacap, mencakup pembangunan instalasi HEOP, kolaborasi teknis dengan Politeknik Negeri Cilacap pada 2018, hingga peningkatan kapasitas bertahap dari 6.000 Wp menjadi 16.200 Wp [1], [7]. Model pembiayaan ini tidak membebani anggaran desa maupun swadaya warga pada tahap pembangunan infrastruktur.
Keberlanjutan operasional ditopang iuran warga yang sangat terjangkau: sekitar Rp25.000 per bulan untuk pemeliharaan listrik per rumah tangga, dan Rp1.500 per jerigen 30 liter untuk air bersih hasil desalinasi [7]. Mekanisme kompensasi diterapkan ketika terjadi pemadaman — pengelola mengurangi tagihan bulan berikutnya sebagai bentuk akuntabilitas layanan. Untuk jangka panjang, Pertamina tengah menyiapkan pengembangan koperasi warga agar Dusun Bondan mencapai kemandirian penuh begitu masa pendampingan CSR berakhir [7].
Pelajaran yang Dipetik
Pengalaman Dusun Bondan menunjukkan bahwa keputusan Mohamad Jamaludin menghubungi langsung perusahaan dan mengajak dialog terbuka soal kebutuhan dusunnya adalah langkah kunci yang tepat, jauh lebih efektif dibanding menunggu program bantuan datang dengan sendirinya. Keputusan menantang mahasiswa pemenang kompetisi untuk mengimplementasikan langsung prototipe mereka di lapangan, bukan membiarkannya berhenti sebagai karya ilmiah, juga terbukti menjadi keputusan yang tepat.
Jika memulai dari awal, keterbatasan arus DC pada prototipe generasi pertama semestinya diantisipasi lebih dini lewat kajian teknis bersama institusi pendidikan vokasi seperti Politeknik Negeri Cilacap, alih-alih menunggu keluhan warga soal peralatan elektronik yang tidak bisa digunakan. Pembelajaran ini menegaskan pentingnya melibatkan mitra teknis formal sejak fase prototipe, bukan hanya pada fase pengembangan lanjutan.
Bagi desa atau dusun lain yang ingin menerapkan inovasi serupa, saran praktis terpenting adalah memulai dari tokoh lokal yang berani menjadi penghubung aktif dengan calon mitra pendanaan, memilih teknologi hibrida yang menggabungkan lebih dari satu sumber energi terbarukan sesuai potensi wilayah, serta merancang sejak awal skema iuran pemeliharaan yang terjangkau agar warga memiliki rasa tanggung jawab atas keberlanjutan infrastruktur.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan dirancang melalui pemberdayaan warga sebagai pengelola dan pemelihara infrastruktur energi secara mandiri. Mohamad Jamaludin, yang telah mengantongi sertifikasi kelistrikan hasil kolaborasi Pertamina dan Kementerian ESDM, melakukan pendampingan rutin kepada warga dalam perawatan panel surya, kincir angin, dan baterai penyimpan energi [2], [6].
Keikutsertaan Jamaludin dalam jaringan 21 local heroes energi terbarukan dari 12 provinsi turut membuka akses pembelajaran silang antar-daerah, sehingga kapasitas pengelolaan tidak hanya bertumpu pada dirinya seorang. Sistem pemeliharaan yang dirancang sesederhana mungkin memungkinkan warga tanpa latar belakang teknik sekalipun melakukan perawatan dasar dan identifikasi gangguan ringan secara mandiri, mengurangi risiko program terhenti jika kelak Jamaludin tidak lagi aktif.
Pada jangka panjang, Pertamina tengah menyiapkan pengembangan koperasi warga sebagai wadah kemandirian ekonomi begitu masa pendampingan CSR berakhir [7]. Iuran listrik dan air yang sudah berjalan menjadi fondasi arus kas mandiri, sementara integrasi program Desa Energi Berdikari ke dalam kebijakan CSR berkelanjutan KPI Unit Cilacap menjamin dukungan teknis untuk peremajaan peralatan selama masa transisi menuju kemandirian penuh.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi Desa Energi Berdikari Dusun Bondan berkontribusi pada berbagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | Ketersediaan listrik terjangkau dari PLTH menghilangkan beban pengeluaran warga untuk minyak tanah dan baterai, sementara aerator tambak membuka peluang peningkatan pendapatan petambak. | Penurunan pengeluaran air rumah tangga 76% (Rp743.590 menjadi Rp185.897/bulan) |
| SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak | Sistem desalinasi Sidesimas yang dioperasikan listrik PLTH mengubah air payau laguna Segara Anakan menjadi air bersih layak konsumsi, menghilangkan ketergantungan pada suplai air dari Nusakambangan. | Produksi air bersih sekitar 720 liter per hari |
| SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau | Teknologi HEOP yang berkembang menjadi PLTH berkapasitas 16.200 Wp menyediakan akses energi bersih terbarukan bagi 78 rumah di Dusun Bondan, menggantikan ketergantungan pada minyak tanah. | Kapasitas terpasang 16.200 Wp; 78 rumah teraliri listrik 24 jam |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pengoperasian aerator tambak melalui program E-Mbak Mina meningkatkan produktivitas budidaya ikan bandeng, udang, dan kepiting yang menjadi tulang punggung ekonomi warga. | Hasil tambak naik hingga 1,5 ton/hektare; omzet kelompok usaha mikro ~Rp7,5 juta/bulan |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | Penerapan HEOP membuktikan wilayah kepulauan terpencil dapat membangun sistem kelistrikan mandiri tanpa jaringan konvensional, hasil kolaborasi Pertamina, STT PLN Jakarta, dan Politeknik Negeri Cilacap. | Peningkatan kapasitas bertahap dari 6.000 Wp menjadi 16.200 Wp (2018–2020) |
| SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim | Penggantian lampu minyak tanah dengan energi surya dan angin mengurangi emisi karbon rumah tangga, selaras dengan target Net Zero Emission 2060 nasional. | Komposisi energi terbarukan 70% surya dan 30% angin menggantikan bahan bakar fosil |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | Kolaborasi multipihak antara masyarakat Dusun Bondan, KPI Unit Cilacap, mahasiswa STT PLN Jakarta, dan Politeknik Negeri Cilacap menciptakan model kemitraan efektif untuk pembangunan berkelanjutan. | 4 mitra aktif berkolaborasi (warga, KPI, STT PLN, PNC) |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Desa Energi Berdikari Dusun Bondan dapat direplikasi di desa pesisir dan kepulauan terpencil lain yang menghadapi tantangan serupa dalam akses listrik. Kunci keberhasilan replikasi terletak pada kehadiran tokoh lokal yang berperan sebagai penggerak, ketersediaan sumber energi terbarukan seperti matahari dan angin, serta kemitraan dengan perusahaan atau institusi pendidikan vokasi yang mampu menyediakan pendanaan dan pendampingan teknis [8]. Pertamina sendiri telah mengembangkan program serupa di lokasi lain seperti Pandansimo, yang mengadopsi pembelajaran dari pengalaman Dusun Bondan.
Strategi scale up jangka panjang dapat diwujudkan melalui integrasi model HEOP ke dalam kebijakan nasional elektrifikasi wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) yang belum terjangkau jaringan PLN. Kementerian ESDM dapat mengadopsi pendekatan kolaboratif Dusun Bondan — melibatkan korporasi, politeknik lokal, dan tokoh masyarakat sekaligus — sebagai pola standar pembangunan infrastruktur energi terbarukan berbasis masyarakat di wilayah kepulauan terpencil lainnya.
Daftar Pustaka
[1] Inovasi Desa, “Berkat Teknologi Hybrid Energi One Pole (HEOP), Dusun Bondan Nikmati Listrik dari Energi Terbarukan Secara Gratis,” inovasi.web.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id
[2] Mongabay Indonesia, “Dusun Bondan: Dari Kegelapan Menuju Kampung Mandiri Energi Terbarukan di Laguna Segara Anakan,” mongabay.co.id, 2023. [Online]. Tersedia: https://mongabay.co.id
[3] Kompas.com, “Mengenal Jamal, Komandan Energi Terbarukan dari Dusun Bondan,” nasional.kompas.com, 23 Mar. 2025. [Online]. Tersedia: https://nasional.kompas.com/read/2025/03/23/10260021/mengenal-jamal-komandan-energi-terbarukan-dari-dusun-bondan
[4] Kontan.co.id, “Jamal, Komandan Energi Terbarukan dari Dusun Bondan,” native.kontan.co.id. [Online]. Tersedia: https://native.kontan.co.id/news/jamal-komandan-energi-terbarukan-dari-dusun-bondan
[5] Liputan6.com, “Teknologi HEOP Buah Lomba Inovasi Pertamina Terangi Dusun Bondan Cilacap,” liputan6.com, 2018. [Online]. Tersedia: https://liputan6.com
[6] Liputan6.com, “Kisah Jamal, Pemimpin Lokal yang Membawa Energi Terbarukan ke Desanya,” liputan6.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://www.liputan6.com/bisnis/read/5972491/kisah-jamal-pemimpin-lokal-yang-membawa-energi-terbarukan-ke-desanya
[7] Antara News, “Pembangkit Hibrida Bebaskan Warga Dusun Bondan dari Kegelapan,” antaranews.com, 2023. [Online]. Tersedia: https://www.antaranews.com/berita/2440917/pembangkit-hibrida-bebaskan-warga-dusun-bondan-dari-kegelapan
[8] Cilacapedia, “Angkat Cerita Sukses Desa Energi Berdikari Binaan di Dusun Bondan, Kilang Pertamina Cilacap Raih Penghargaan Dharma Karya ESDM 2024,” cilacapedia.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://cilacapedia.com/angkat-cerita-sukses-desa-energi-berdikari-binaan-di-dusun-bondan-kilang-pertamina-cilacap-raih-penghargaan-dharma-karya-esdm-2024/
[9] Nusantara Indonesia, “Berhasil Bangun Desa Energi Berdikari, Area Manager CSR Kilang Balongan Diganjar Satyalancana Pembangunan,” nusantaraindonesia.id, 2026. [Online]. Tersedia: https://www.nusantaraindonesia.id/2026/05/berhasil-bangun-desa-energi-berdikari.html
Cara mengusulkan produknya sih bagaimana,soalnya desa saya blom ada penerangan sejak jaman dahulukala
lokasi dimana brother?
desa sayasudah ad liistriik tetapi terkadang sehari sering mati .. dengan aadany alat ini mungkin bisa membantu…
utk wilayah napal putih kec napal putih kab bengkulu utara kota bengkulu
ia di Desa saya juga belum ada alat ini,dulu sih kami pakai Tenaga PLTS tapi sekarang sudah pada rusak sehingga kami di wilayah Desa masih menggunakan lampu pelita,
U wilayah kepulauan cocok