Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Baru, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, mengembangkan Desa Wisata Pinge sejak 2004 sebagai destinasi wisata agraris dan budaya berbasis kehidupan asli masyarakat Bali [1]. Inovasi ini digagas warga Banjar Pinge bersama Pemerintah Desa Baru di bawah Perbekel I Made Suarjana, mengajak wisatawan hidup layaknya warga desa, termasuk mempelajari sistem pertanian Bali seperti metekap [2]. Konsep ini menjawab kebutuhan menawarkan wisata alternatif di tengah maraknya atraksi buatan di destinasi wisata Bali lain, dengan mengandalkan orisinalitas lingkungan, budaya, dan kehidupan masyarakat agraris sebagai daya tarik utama [2]. Wisatawan dapat menginap di rumah warga, belajar menari Bali, membuat banten, megambel, memasak kuliner khas, hingga trekking menyusuri sawah dan perkebunan [3]. Jumlah kamar homestay berkembang dari 33 unit menjadi 97 kamar seiring meningkatnya kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara dari Eropa hingga Asia [1], [3]. Di balik pertumbuhan ini, intensitas kunjungan yang terus meningkat setiap tahun justru mengancam keberlanjutan lingkungan dan budaya desa, sebagaimana diidentifikasi studi akademik terbaru [4].

 

Latar Belakang

Desa Baru merupakan salah satu dari 16 desa di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, dengan luas wilayah 3,76 kilometer persegi dan penduduk 2.002 jiwa pada 2023 [5]. Desa ini terletak sekitar 18 kilometer di sebelah utara pusat Kota Tabanan, terbagi dalam lima Banjar Dinas, salah satunya Banjar Dinas Pinge yang kini dikenal sebagai kawasan Desa Wisata Pinge. Banjar Pinge sendiri berketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut, dengan nama yang berasal dari bunga cempaka putih yang tumbuh di area Pura Natar Jemeng [1].

Banjar Pinge dihuni sekitar 168 kepala keluarga atau sekitar 830 jiwa yang terbagi dalam tiga kelompok subak, yaitu Subak Utama, Subak Pacung, dan Subak Belawan [2]. Hampir separuh warga merantau ke luar Tabanan maupun Bali untuk bekerja, meninggalkan banyak rumah kosong yang berpotensi tidak termanfaatkan secara produktif [2]. Di tengah maraknya destinasi wisata Bali yang mengandalkan atraksi buatan, Banjar Pinge menghadapi tantangan menemukan model wisata yang sesuai dengan karakter agraris dan tradisi masyarakatnya, tanpa mengorbankan orisinalitas budaya setempat.

Momentum pengembangan wisata muncul ketika warga Pinge menyadari potensi mengubah rumah-rumah kosong peninggalan warga perantau menjadi homestay, sekaligus menjadikan aktivitas pertanian dan budaya sehari-hari sebagai atraksi wisata itu sendiri. Sejak dirintis pada 2004, konsep ini dikembangkan dengan filosofi tidak menjual atraksi buatan, melainkan menjual orisinalitas kehidupan desa, budaya, dan lingkungan alam yang masih terjaga [2].

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah Desa Wisata Pinge, sebuah model wisata agraris dan budaya yang mengajak wisatawan menjadi bagian dari kehidupan warga desa, bukan sekadar menyaksikan dari luar. Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa Banjar Pinge memiliki modal orisinalitas berupa lanskap pertanian, tradisi Bali, dan kehidupan masyarakat subak yang autentik. Pendekatan wisata berbasis kehidupan nyata warga ini dipilih untuk membedakan Pinge dari destinasi wisata Bali lain yang lebih mengandalkan atraksi buatan [2].

Wisatawan yang menginap di rumah warga melalui pola induk semang dapat langsung terlibat dalam aktivitas pertanian, seperti metekap, menanam padi, memetik bunga, hingga memanen sayuran [3]. Paket budaya menawarkan pembelajaran menari Bali, membuat banten, megambel, serta kelas memasak kuliner khas Bali, sementara paket alam menyediakan trekking dan bersepeda menyusuri sawah dan perkebunan [3]. Bagi wisatawan yang mencari ketenangan, tersedia pula area meditasi dan penginapan yang dekat dengan alam.

Elemen pembeda inovasi ini terletak pada prinsip tanpa tiket masuk formal, hanya mengenakan biaya sekitar Rp25.000 untuk fasilitas aktivitas pusat [2]. Aturan ketat juga melarang bangunan melampaui tembok panyengker dan mewajibkan warga menjaga pekarangan dengan tanaman dan bunga. Pendekatan ini memastikan wajah asli desa tetap terjaga meski kunjungan wisatawan terus bertambah dari tahun ke tahun.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan dimulai sejak 2004 ketika warga Pinge mulai mengalihfungsikan rumah-rumah kosong peninggalan warga yang merantau menjadi homestay bagi wisatawan. Jumlah homestay yang semula 33 unit terus berkembang seiring waktu hingga mencapai 97 kamar tamu pada 2024, menandakan pertumbuhan partisipasi warga dalam menyediakan akomodasi [1], [3].

Pada 2017, Pemerintah Desa Baru mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa untuk melengkapi sarana pendukung wisata, seperti pembangunan air terjun buatan, jembatan kecil, dan kamar mandi umum bagi wisatawan. Alokasi ini dilakukan setelah menyadari fasilitas dasar yang ada belum memadai untuk menampung kunjungan yang terus bertambah. Studi akademik terbaru menemukan bahwa intensitas kunjungan wisatawan yang terus meningkat setiap tahun justru berpotensi mengancam keberlanjutan lingkungan dan budaya Desa Wisata Pinge, sehingga pengelola perlu mengevaluasi kembali kapasitas tampung kawasan [4]. Temuan ini menjadi pembelajaran penting bahwa pertumbuhan jumlah wisatawan yang pesat harus diimbangi mitigasi keberlanjutan, bukan hanya dirayakan sebagai indikator keberhasilan semata.

Pengelolaan objek wisata dan jasa akomodasi hingga saat ini masih dijalankan oleh kelompok dan individu secara terpisah. Kondisi ini terjadi karena Badan Usaha Milik Desa di Desa Baru masih tergolong baru dan belum memiliki kecakapan mengelola potensi desa wisata secara terpadu. Wawasan berharga bagi replikator adalah pentingnya membangun kapasitas kelembagaan BUMDes sejak awal perintisan desa wisata, agar pengelolaan tidak rentan konflik akibat persaingan antarkelompok maupun individu.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah Badan Usaha Milik Desa di Desa Baru yang masih tergolong baru dan belum memiliki kecakapan mengelola potensi desa wisata secara menyeluruh. Akibatnya, pengelolaan objek wisata dan jasa akomodasi masih dijalankan kelompok dan individu secara terpisah. Kondisi ini rentan menimbulkan konflik akibat persaingan antarkelompok maupun pribadi. Pemerintah Desa Baru berencana mengatasi tantangan ini dengan mengembangkan desa wisata terpadu sebagai wadah kolaborasi antarpihak di bidang pariwisata.

Tantangan eksternal berupa intensitas kunjungan wisatawan yang terus meningkat setiap tahun berpotensi mengancam keberlanjutan lingkungan dan budaya Desa Wisata Pinge, sebagaimana diidentifikasi studi akademik terbaru [4]. Pengelola desa memitigasi risiko ini dengan mempertahankan aturan ketat soal batas bangunan dan pemeliharaan pekarangan, sehingga pertumbuhan wisatawan tidak serta-merta mengubah wajah asli desa.

Tantangan lain adalah kurangnya sentra UMKM dan oleh-oleh yang terintegrasi bagi wisatawan, sehingga potensi pendapatan tambahan dari produk kerajinan dan kuliner khas belum tergarap optimal [4]. Pemerintah desa memitigasi keterbatasan ini secara bertahap lewat rencana pengembangan desa wisata terpadu yang turut mencakup penguatan sentra UMKM warga.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah komitmen warga Banjar Pinge menjaga orisinalitas kehidupan agraris dan budaya Bali sebagai daya tarik utama, alih-alih mengikuti tren atraksi buatan yang marak di destinasi wisata Bali lain [2]. Peran Desa Pakraman Pinge yang menyusun Perarem untuk menjaga kebersihan dan keteraturan kawasan turut menjadi modal kelembagaan adat yang memperkuat keberlanjutan desa wisata.

Faktor kedua adalah dukungan Pemerintah Desa Baru melalui alokasi anggaran desa untuk sarana pendukung wisata sejak 2017, serta partisipasi aktif warga yang mengalihfungsikan rumah kosong menjadi homestay. Modal sosial berupa struktur subak yang sudah mengakar turut menjadi pengikat partisipasi warga dalam menjaga lanskap pertanian sebagai bagian dari daya tarik wisata.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum menjadi desa wisata, rumah-rumah kosong peninggalan warga yang merantau di Banjar Pinge tidak termanfaatkan secara produktif. Setelah Desa Wisata Pinge berkembang, jumlah homestay meningkat dari 33 unit menjadi 97 kamar tamu, memberikan pemasukan bagi warga pemilik rumah sebesar seratus ribu rupiah per wisatawan yang menginap [1], [3]. Warga memperoleh tambahan pendapatan bila turut terlibat dalam paket pertanian dan budaya.

Kunjungan wisatawan yang semula berkisar 50-100 orang per kelompok kini bisa mencapai 200 orang dalam sehari pada masa ramai [3]. Wisatawan berasal dari berbagai daerah domestik hingga mancanegara seperti Jerman, Prancis, Singapura, Thailand, Malaysia, dan Jepang. Aktivitas wisata desa turut berkontribusi pada peningkatan pendapatan Desa Pakraman Pinge, khususnya untuk meringankan pepeson kegiatan keagamaan dan mendukung upacara serta upakara adat.

Pertumbuhan kunjungan yang pesat ini, di sisi lain, memunculkan konsekuensi yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal, yaitu ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan dan budaya desa akibat intensitas kunjungan yang terus meningkat setiap tahun [4]. Temuan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan menarik wisatawan perlu diimbangi dengan strategi pengelolaan daya tampung yang lebih terukur ke depan.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pendanaan pengembangan sarana pendukung wisata sejak 2017 bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Baru, mencakup pembangunan air terjun buatan, jembatan kecil, dan kamar mandi umum bagi wisatawan. Model pendapatan utama desa wisata bertumpu pada biaya masuk fasilitas aktivitas pusat sebesar Rp25.000, tanpa tiket masuk formal, ditambah pemasukan warga dari homestay sebesar seratus ribu rupiah per wisatawan yang menginap [2].

Warga memperoleh pendapatan tambahan bila terlibat dalam paket wisata lain, seperti paket pertanian dan budaya, sehingga model bisnis desa wisata ini terdistribusi ke banyak rumah tangga, bukan terpusat pada satu pengelola tunggal. Aktivitas wisata turut menjadi sumber pendapatan Desa Pakraman Pinge untuk mendukung pembiayaan kegiatan keagamaan dan upacara adat, melengkapi sumber pendanaan desa dinas yang sudah ada.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan mengandalkan orisinalitas kehidupan agraris dan budaya, alih-alih membangun atraksi buatan, terbukti menjadi keputusan kunci yang membedakan Desa Wisata Pinge dari destinasi wisata Bali lain sekaligus menjaga daya tarik jangka panjangnya. Keputusan menetapkan aturan ketat soal batas bangunan dan pemeliharaan pekarangan sejak awal juga terbukti penting untuk mencegah perubahan wajah desa akibat pertumbuhan wisata.

Jika memulai dari awal, Pemerintah Desa Baru dapat mempertimbangkan penguatan kapasitas BUMDes sejak tahap perintisan, alih-alih membiarkan pengelolaan objek wisata dan akomodasi berjalan terpisah antarkelompok dan individu selama bertahun-tahun. Pengalaman ini menjadi pelajaran bagi desa lain agar merancang strategi pengelolaan daya tampung wisatawan sejak dini, sebelum intensitas kunjungan benar-benar mengancam keberlanjutan lingkungan dan budaya.

Desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa disarankan menggali potensi orisinalitas budaya dan pertanian lokal sebagai daya tarik utama, sebagaimana dilakukan Banjar Pinge, ketimbang meniru atraksi wisata buatan dari daerah lain. Membangun kelembagaan pengelola desa wisata yang kuat sejak awal, termasuk BUMDes yang cakap, juga disarankan agar pertumbuhan wisata tidak menimbulkan konflik antarkelompok pengelola.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Desa Wisata Pinge direncanakan melalui pengembangan desa wisata terpadu sebagai wadah kolaborasi antarpihak di bidang pariwisata, menggantikan pengelolaan yang selama ini terpisah antarkelompok dan individu. Penguatan Perarem Desa Pakraman Pinge turut menjadi instrumen kelembagaan adat yang menjaga kebersihan dan keteraturan kawasan dalam jangka panjang.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan bertumpu pada struktur ganda desa dinas dan desa pakraman, yang melibatkan kelembagaan adat dan pemerintahan desa secara bersamaan. Struktur ini membuat pengelolaan Desa Wisata Pinge tidak bergantung sepenuhnya pada satu figur Perbekel maupun satu pengelola wisata. Pergantian ketua pengelola desa wisata dari waktu ke waktu turut menunjukkan bahwa program ini telah melembaga, bukan bergantung pada satu individu semata.

Rencana keberlanjutan jangka panjang diarahkan pada penguatan sentra UMKM dan oleh-oleh terintegrasi, mengatasi kesenjangan yang selama ini teridentifikasi dalam ekosistem wisata Pinge [4]. Strategi ini diharapkan memperluas sumber pendapatan warga di luar homestay dan paket wisata, sekaligus mengatasi risiko keberlanjutan akibat intensitas kunjungan yang terus meningkat.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Desa Wisata Pinge berkontribusi pada sedikitnya tiga tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari pekerjaan layak hingga konsumsi dan produksi bertanggung jawab. Tiga tujuan ini dipilih karena kontribusinya paling langsung terlihat dalam praktik wisata agraris dan budaya berbasis komunitas di Banjar Pinge sehari-hari. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang tersedia.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Homestay dan paket wisata pertanian-budaya membuka sumber pendapatan tambahan bagi warga pemilik rumah dan pelaku wisata lokal. Jumlah homestay berkembang dari 33 unit menjadi 97 kamar tamu, dengan pemasukan seratus ribu rupiah per wisatawan yang menginap.
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan Aturan ketat batas bangunan dan pemeliharaan pekarangan menjaga wajah asli desa tetap lestari meski kunjungan wisatawan terus bertambah. Perarem Desa Pakraman Pinge mengatur kebersihan dan keteraturan kawasan secara formal.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab Model wisata tanpa atraksi buatan mendorong konsumsi pariwisata yang menghargai lingkungan pertanian dan budaya asli, bukan eksploitasi sumber daya alam berlebihan. Studi akademik merekomendasikan pengelolaan daya tampung wisatawan yang lebih terukur untuk menjaga keberlanjutan.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Prasyarat minimum bagi desa lain yang ingin mereplikasi model ini ada tiga. Pertama, kepemilikan modal budaya dan pertanian lokal yang masih autentik dan layak dijadikan daya tarik wisata. Kedua, kesediaan warga mengalihfungsikan sebagian rumah menjadi homestay dengan pola induk semang. Ketiga, kelembagaan adat maupun pemerintah desa yang mampu menyusun aturan menjaga orisinalitas kawasan, sebagaimana Perarem di Desa Pakraman Pinge.

Estimasi biaya replikasi relatif terjangkau pada tahap awal karena mengandalkan rumah warga yang sudah ada. Investasi bertahap untuk sarana pendukung dapat mengikuti pola Desa Baru lewat APBDes 2017 untuk air terjun buatan, jembatan, dan kamar mandi umum. Durasi pengembangan penuh dapat mengacu pada perjalanan Pinge, yaitu dua dekade sejak dirintis pada 2004 hingga berkembang menjadi 97 kamar tamu pada 2024. Rentang waktu ini menunjukkan bahwa desa wisata berbasis komunitas memerlukan waktu panjang untuk tumbuh secara organik.

Model wisata agraris dan budaya ini dapat diadaptasi desa lain dengan menyesuaikan jenis komoditas pertanian dan tradisi budaya lokal yang paling autentik di wilayah masing-masing. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif maupun Pemerintah Kabupaten Tabanan berpeluang menjadikan Desa Wisata Pinge sebagai rujukan replikasi bagi desa wisata lain, dengan catatan turut mengadopsi strategi pengelolaan daya tampung wisatawan yang lebih terukur [4].

 

Daftar Pustaka

[1] Desa Wisata Pinge, “Sejarah Desa Pinge,” desawisatapinge.com. [Online]. Tersedia: https://desawisatapinge.com/profil/

[2] NUSABALI.com, “Desa Wisata Pinge, Kecamatan Marga, Tabanan, Jaga Orisinalitas Bali,” nusabali.com. [Online]. Tersedia: https://www.nusabali.com/berita/220281/desa-wisata-pinge-kecamatan-marga-tabanan-jaga-orisinalitas-bali

[3] NUSABALI.com, “Makin Ramai Kunjungan ke Desa Wisata Pinge,” nusabali.com. [Online]. Tersedia: https://www.nusabali.com/berita/175374/makin-ramai-kunjungan-ke-desa-wisata-pinge

[4] D. A. R. Sumariati, “Tantangan Desa Wisata Pinge Menuju Pariwisata Berkelanjutan,” EKOMA: Jurnal Ekonomi, Manajemen, Akuntansi, vol. 4, no. 4, pp. 6430-6441, 2025. doi: 10.56799/ekoma.v4i4.9146

[5] Wikipedia, “Marga, Tabanan,” en.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Marga,_Tabanan

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Desa Wisata Pinge, Wisata Agraris dan Budaya Bali Otentik
Alamat
Banjar Pinge, Desa Baru, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali
Inovator
Pemerintah Desa Baru (Perbekel I Made Suarjana) bersama Pengelola Desa Wisata Pinge
Kontak
I Made Suarjana (Perbekel Desa Baru), telepon/WhatsApp +62-813-3797-7500; website www.pingebali.com, email infopingetourismvillage@gmail.com