Ringkasan Inovasi

Negeri Solea, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, memanfaatkan Dana Desa untuk membangun Rumah Singgah dan Sanggar Belajar Remaja bagi siswa yang harus menempuh jarak jauh ke sekolah lanjutan [1]. Program ini digagas Pemerintah Negeri Solea di bawah Kepala Negeri Simon Atuany. Inovasi ini bermula dari inisiatif warga penebang kayu yang pada 2013 membangun tiga unit rumah sederhana di perbatasan Negeri Solea dan Negeri Air Besar [3]. Rintisan itu kemudian dikembangkan Pemerintah Negeri Solea melalui Musrenbang 2016 dengan alokasi Rp239 juta untuk perbaikan Rumah Singgah dan pembangunan Sanggar Belajar Remaja berukuran 14,5 x 8 meter. Program ini menjawab persoalan jarak tempuh sekolah yang mencapai 12 kilometer ke SLTP dan 14 kilometer ke SLTA melalui medan berbukit dan bersungai tanpa angkutan umum memadai. Kondisi ini sebelumnya memaksa siswa membayar Rp80.000 sekali jalan untuk kendaraan khusus. Fasilitas ini terus dilengkapi hingga 2018, termasuk buku bacaan, meubeler, jembatan kayu, dan pelatihan keterampilan bercocok tanam serta beternak bagi pelajar. Dampak yang mulai terlihat adalah terjaganya angka partisipasi sekolah, bahkan meningkat, dengan sejumlah lulusan Rumah Singgah berhasil melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dan menjadi guru PAUD di Negeri Solea.

 

Latar Belakang

Negeri Solea terletak di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, wilayah yang secara administratif berstatus negeri adat sebagaimana lazim ditemukan di Pulau Seram [1]. Kecamatan Seram Utara memiliki wilayah daratan yang luas dengan topografi berbukit, bergunung, dan berbatasan langsung dengan sungai, sehingga aksesibilitas antarpermukiman di wilayah ini menjadi tantangan tersendiri [2]. Negeri Solea hanya memiliki satu sekolah dasar, sehingga anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTP maupun SLTA harus pergi ke desa tetangga atau kota kecamatan.

Jarak tempuh dari Negeri Solea ke sekolah lanjutan tergolong sangat jauh, mencapai 12 kilometer ke SLTP terdekat dan 14 kilometer ke SLTA, melalui jalan berbukit, bergunung, dan bersungai. Infrastruktur jalan yang masih sangat buruk membuat wilayah ini belum memiliki angkutan umum, sehingga siswa terpaksa menumpang kendaraan khusus dengan tarif Rp80.000 sekali jalan setiap hari sekolah. Beban biaya transportasi yang tinggi ini membuat banyak orang tua tidak mampu membiayai operasional pendidikan anak mereka, terutama bagi keluarga tanpa saudara atau kerabat di kota kecamatan yang dapat menyediakan tempat tinggal sementara.

Secercah harapan muncul pada 2013 ketika seorang warga penebang kayu berinisiatif membangun tiga unit rumah sederhana berkonstruksi kayu, beratap daun rumbia dan berdinding papan, di lahan kosong perbatasan Negeri Solea dan Negeri Air Besar. Rumah sederhana ini dimanfaatkan siswa Negeri Solea untuk menginap agar perjalanan ke SLTP dan SLTA menjadi lebih dekat. Inisiatif warga inilah yang mendapat apresiasi luas dan mendorong Pemerintah Negeri Solea untuk segera mengambil alih dan mengembangkan fasilitas ini secara resmi melalui musyawarah perencanaan pembangunan desa.

 

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan Rumah Singgah swadaya warga menjadi fasilitas resmi Rumah Singgah dan Sanggar Belajar Remaja yang dikelola Pemerintah Negeri Solea menggunakan Dana Desa. Gagasan ini lahir dari apresiasi pemerintah negeri terhadap inisiatif warga penebang kayu pada 2013, yang kemudian dikembangkan menjadi program permanen melalui kesepakatan Musyawarah Rencana Pembangunan Desa 2016. Pendekatan ini dipilih karena memanfaatkan modal sosial dan lokasi strategis yang sudah dirintis warga, alih-alih membangun fasilitas baru dari nol di lokasi berbeda.

Program ini menghadirkan dua fungsi utama sekaligus, yaitu Rumah Singgah sebagai tempat menginap siswa selama masa sekolah, dan Sanggar Belajar Remaja berukuran 14,5 x 8 meter sebagai ruang belajar dan pengembangan keterampilan [3]. Fasilitas ini dilengkapi bertahap dengan buku bacaan, meubeler, dan program keterampilan bercocok tanam serta beternak bagi para pelajar. Elemen pembeda inovasi ini terletak pada penggabungan fungsi tempat tinggal sementara dengan ruang pengembangan diri, sehingga siswa tidak hanya mendapatkan akses pendidikan formal tetapi juga keterampilan hidup tambahan.

 

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan dimulai dari inisiatif swadaya warga pada 2013 yang membangun tiga unit rumah sederhana di lahan kosong perbatasan negeri. Inisiatif ini kemudian mendapat apresiasi Pemerintah Negeri Solea dan dibawa ke Musyawarah Rencana Pembangunan Desa 2016, yang menghasilkan kesepakatan mengalokasikan Rp239 juta untuk memperbaiki Rumah Singgah sekaligus membangun Sanggar Belajar Remaja [3]. Warga turut menggalang dana swadaya tambahan hingga terkumpul Rp12 juta untuk mendukung program ini, menunjukkan keberlanjutan partisipasi warga sejak tahap perintisan.

Pada tahap awal pengelolaan pascapembangunan 2016, Pemerintah Negeri Solea dan warga belum memiliki kejelasan pihak yang bertanggung jawab mengelola sanggar, sehingga fasilitas yang baru selesai dibangun berisiko tidak termanfaatkan optimal. Pemerintah negeri mengoreksi kekosongan tata kelola ini dengan menentukan secara eksplisit pihak yang bertanggung jawab dan berwenang mengelola sanggar sebelum melengkapi fasilitas lebih lanjut. Koreksi kelembagaan ini menjadi pembelajaran penting bahwa pembangunan fisik semata tidak cukup, karena kejelasan struktur pengelolaan harus ditetapkan sejak awal agar fasilitas benar-benar termanfaatkan.

Setelah struktur pengelolaan jelas, Pemerintah Negeri Solea melengkapi fasilitas secara bertahap, dimulai dari buku bacaan senilai Rp26,9 juta dan satu unit meubeler senilai Rp8 juta pada 2017 [3]. Pengembangan berlanjut dengan pembangunan jembatan kayu berukuran 11 x 3 meter oleh perusahaan swasta pada 2018 agar jalan dapat dilalui kendaraan. Pemerintah negeri juga mengalokasikan Dana Desa 2018 senilai Rp54,7 juta untuk pengadaan bahan bacaan tambahan. Wawasan berharga bagi replikator adalah pentingnya pendekatan bertahap dan berkelanjutan, alih-alih menyelesaikan seluruh pembangunan sekaligus di awal program.

 

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal utama adalah ketidakjelasan tata kelola pada tahap awal pascapembangunan, sebagaimana dijelaskan pada tahap koreksi proses penerapan. Pemerintah Negeri Solea memitigasi tantangan ini dengan menetapkan secara resmi pihak yang bertanggung jawab dan berwenang mengelola sanggar sebelum melanjutkan pengembangan fasilitas. Kejelasan struktur pengelolaan ini menjadi prasyarat penting sebelum investasi lanjutan diberikan.

Tantangan eksternal utama adalah kondisi infrastruktur jalan yang buruk dan ketiadaan angkutan umum, sehingga akses menuju Rumah Singgah maupun dari Rumah Singgah ke sekolah tetap sulit meski fasilitas menginap sudah tersedia. Pemerintah Negeri Solea memitigasi tantangan ini dengan mendorong partisipasi perusahaan swasta membangun jembatan kayu pada 2018, sehingga jalan dapat dilalui kendaraan dan akses siswa menjadi lebih lancar [3]. Kemitraan dengan pihak swasta ini menjadi solusi praktis di tengah keterbatasan anggaran desa untuk membangun infrastruktur jalan secara menyeluruh.

Tantangan lain berupa keterbatasan ekonomi orang tua siswa, yang sebelumnya harus membayar Rp80.000 sekali jalan untuk transportasi anak ke sekolah, sehingga banyak yang tidak mampu membiayai operasional pendidikan secara berkelanjutan. Keberadaan Rumah Singgah memitigasi beban ini dengan menghilangkan kebutuhan transportasi harian, karena siswa cukup menginap dekat sekolah selama masa belajar. Pengurangan beban biaya transportasi harian ini secara langsung meningkatkan kemampuan keluarga membiayai pendidikan anak mereka.

 

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah kepemimpinan Kepala Negeri Simon Atuany yang responsif terhadap inisiatif warga, mengangkat rintisan swadaya penebang kayu pada 2013 menjadi program resmi pemerintah negeri melalui Musrenbang 2016. Keberanian mengapresiasi dan mengembangkan inisiatif akar rumput ini menjadi fondasi legitimasi program di mata warga. Rumah Singgah dan Sanggar Belajar bukan proyek yang dipaksakan dari atas, melainkan pengembangan dari kebutuhan nyata yang sudah dirasakan warga.

Faktor kedua adalah modal sosial berupa partisipasi swadaya warga yang berkelanjutan, tercermin dari penggalangan dana Rp12 juta untuk mendukung pembangunan meski Pemerintah Negeri Solea sudah mengalokasikan anggaran resmi. Dukungan perusahaan swasta dalam pembangunan jembatan kayu pada 2018 turut menunjukkan bahwa program ini berhasil menggerakkan kemitraan lintas sektor, tidak hanya bertumpu pada anggaran pemerintah negeri semata. Kombinasi modal sosial warga dan kemitraan swasta inilah yang memperkuat keberlanjutan program tanpa harus sepenuhnya bergantung pada satu sumber daya.

 

Hasil dan Dampak Inovasi

Sebelum inovasi ini berjalan, siswa Negeri Solea harus menanggung biaya transportasi Rp80.000 sekali jalan setiap hari sekolah, beban yang membuat banyak keluarga tidak mampu membiayai pendidikan anak secara berkelanjutan. Setelah Rumah Singgah dan Sanggar Belajar Remaja beroperasi penuh, angka partisipasi sekolah anak Negeri Solea mampu terjaga, bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Data lulusan menunjukkan pada 2013 terdapat 8 anak lulusan SD melanjutkan ke SLTP dan 1 anak ke SMA, meningkat menjadi 7 anak ke SLTP dan 3 anak ke SLTA pada 2014.

Pada 2015, tercatat 5 anak melanjutkan ke SLTA, 1 anak melanjutkan kuliah di perguruan tinggi, dan 1 anak lainnya menjadi Guru PAUD di Negeri Solea. Capaian ini menunjukkan bahwa dampak program berlanjut hingga jenjang pendidikan tinggi dan bahkan kembali berkontribusi ke desa asal. Dampak spillover yang tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal adalah tumbuhnya kreativitas siswa melalui Sanggar Belajar Remaja, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik tetapi juga ruang pengembangan keterampilan bercocok tanam dan beternak.

Rumah Singgah kini berfungsi sebagai simpul pelayanan sosial dasar, mencakup pendidikan dan kesehatan, yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan dengan pemerintah negeri. Dokumentasi program tidak merinci angka pasti total siswa yang telah memanfaatkan Rumah Singgah secara keseluruhan sejak 2013, sehingga capaian ini masih perlu dicatat lebih rinci ke depan. Keberadaan lulusan yang kembali mengabdi sebagai Guru PAUD di desa asal tetap menjadi bukti kualitatif kuat bahwa investasi pendidikan berbasis Rumah Singgah dapat menciptakan siklus manfaat jangka panjang bagi negeri.

 

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pembangunan dan pengembangan Rumah Singgah serta Sanggar Belajar Remaja dibiayai dari kombinasi tiga sumber [3]. Sumber itu meliputi swadaya warga penebang kayu pada tahap perintisan 2013, Dana Desa Negeri Solea sejak Musrenbang 2016 senilai Rp239 juta, dan penggalangan dana swadaya warga tambahan senilai Rp12 juta. Pengembangan fasilitas berlanjut dengan alokasi Rp26,9 juta untuk buku bacaan dan Rp8 juta untuk meubeler pada 2017, serta Rp54,7 juta untuk bahan bacaan tambahan dari Dana Desa 2018. Skema pembiayaan bertahap dan berlapis ini sejalan dengan kebijakan nasional yang menjadikan pendidikan sebagai salah satu prioritas penggunaan Dana Desa [4].

Kemitraan dengan perusahaan swasta turut melengkapi skema pembiayaan, terlihat dari partisipasi sektor swasta membangun jembatan kayu sebagai infrastruktur pendukung akses pada 2018. Model pembiayaan kolaboratif ini menempatkan Dana Desa sebagai motor utama, dilengkapi swadaya warga dan kontribusi swasta, sehingga beban anggaran tidak sepenuhnya bertumpu pada satu sumber pembiayaan saja. Pola pembiayaan berlapis semacam ini juga meringankan tekanan pada anggaran desa yang terbatas setiap tahunnya.

 

Pelajaran yang Dipetik

Keputusan mengapresiasi dan mengembangkan inisiatif swadaya warga penebang kayu, alih-alih membangun fasilitas baru dari nol, terbukti menjadi keputusan kunci yang mempercepat penerimaan program oleh warga. Keputusan menetapkan struktur pengelolaan sanggar secara eksplisit sebelum melanjutkan pengembangan fasilitas juga terbukti mencegah fasilitas yang sudah dibangun menjadi tidak termanfaatkan. Kedua keputusan ini menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh besaran anggaran, tetapi juga ketepatan urutan langkah pelaksanaannya.

Jika memulai dari awal, Pemerintah Negeri Solea mengakui idealnya kejelasan tata kelola sanggar ditetapkan bersamaan dengan alokasi anggaran Musrenbang 2016, bukan setelah pembangunan fisik selesai. Penundaan penetapan tata kelola ini berisiko membuat fasilitas yang baru selesai dibangun tidak segera termanfaatkan optimal oleh warga. Pengalaman ini menjadi pelajaran bagi negeri lain agar menuntaskan aspek kelembagaan bersamaan dengan perencanaan fisik, bukan secara berurutan.

Desa atau negeri lain di wilayah terpencil dengan tantangan jarak sekolah serupa disarankan memulai dari pemetaan inisiatif swadaya warga yang sudah ada, sebelum memutuskan membangun fasilitas baru dari awal. Menggandeng perusahaan swasta untuk infrastruktur pendukung, sebagaimana pembangunan jembatan kayu di Negeri Solea, juga disarankan agar keterbatasan anggaran desa tidak menghambat akses siswa secara menyeluruh. Melengkapi fasilitas secara bertahap sesuai kemampuan anggaran, bukan sekaligus di awal, turut disarankan agar program tetap berkelanjutan.

 

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Rumah Singgah dan Sanggar Belajar Remaja dijaga melalui kejelasan struktur pengelolaan yang sudah ditetapkan Pemerintah Negeri Solea bersama warga, sehingga operasional harian tidak bergantung pada satu individu semata. Pelengkapan fasilitas secara bertahap setiap tahun, mulai dari buku bacaan hingga jembatan akses, menunjukkan komitmen jangka panjang yang tidak berhenti setelah pembangunan awal selesai. Konsistensi investasi bertahap ini menjadi jaminan bahwa fasilitas terus relevan dengan kebutuhan siswa dari tahun ke tahun.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan program bertumpu pada struktur pengelolaan sanggar yang sudah dilembagakan terpisah dari jabatan Kepala Negeri, sehingga program tetap dapat berjalan meski kepemimpinan Negeri Solea berganti di masa depan. Keberadaan lulusan Rumah Singgah yang kembali menjadi Guru PAUD di desa asal turut membuka peluang regenerasi pengelola dari kalangan alumni program sendiri. Pola regenerasi berbasis alumni semacam ini menjaga keberlanjutan program tanpa harus selalu mencari pengelola baru dari luar komunitas.

Rencana keberlanjutan jangka panjang diarahkan pada pengembangan program keterampilan bercocok tanam dan beternak yang sudah dirintis di Sanggar Belajar, dengan potensi hasil panen atau ternak turut mendukung operasional harian Rumah Singgah. Strategi ini diharapkan mengurangi ketergantungan penuh pada Dana Desa maupun donasi swadaya warga setiap tahun, menjadikan Rumah Singgah lebih mandiri secara operasional. Kemandirian operasional semacam ini penting agar program tetap berjalan meski alokasi Dana Desa untuk sektor lain turut meningkat di masa depan.

 

Kontribusi Pencapaian SDGs

Rumah Singgah dan Sanggar Belajar Remaja Negeri Solea berkontribusi pada sedikitnya tiga tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), mulai dari pendidikan berkualitas hingga pengurangan ketimpangan. Tiga tujuan ini dipilih karena kontribusinya paling langsung terlihat dalam praktik pemenuhan akses pendidikan di Negeri Solea sehari-hari. Tabel berikut merinci kontribusi setiap tujuan beserta indikator yang tersedia.

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas Rumah Singgah dan Sanggar Belajar mengatasi kendala jarak tempuh sekolah sejauh 12-14 kilometer, memastikan anak Negeri Solea tetap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTP dan SLTA. Angka partisipasi sekolah terjaga, dengan sejumlah lulusan melanjutkan hingga perguruan tinggi.
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur Pembangunan jembatan kayu oleh perusahaan swasta pada 2018 meningkatkan konektivitas jalan dari Rumah Singgah menuju sekolah lanjutan. Jembatan kayu berukuran 11 x 3 meter terbangun dan dapat dilalui kendaraan.
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan Fasilitas menginap gratis mengurangi kesenjangan akses pendidikan antara anak di wilayah terpencil berbukit dengan anak di kota kecamatan yang dekat sekolah. Siswa tidak lagi menanggung biaya transportasi Rp80.000 sekali jalan setiap hari sekolah.

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Prasyarat minimum bagi desa atau negeri lain yang ingin mereplikasi model ini ada tiga. Pertama, ketersediaan lahan strategis yang lebih dekat dengan sekolah lanjutan dibandingkan permukiman asal siswa. Kedua, kesediaan pemerintah desa mengapresiasi dan mengembangkan inisiatif swadaya warga yang mungkin sudah ada. Ketiga, kejelasan struktur pengelolaan yang ditetapkan sejak tahap perencanaan, bukan setelah pembangunan fisik selesai.

Estimasi biaya replikasi dapat mengacu pada total investasi Negeri Solea sejak 2016 hingga 2018 [3]. Investasi itu terdiri dari sekitar Rp239 juta untuk pembangunan awal, ditambah Rp34,9 juta untuk buku dan meubeler, serta Rp54,7 juta untuk bahan bacaan tambahan. Durasi pengembangan penuh berlangsung sekitar lima tahun sejak inisiatif swadaya 2013 hingga pelengkapan jembatan akses pada 2018, menunjukkan bahwa program semacam ini dapat dibangun secara bertahap sesuai kemampuan anggaran desa.

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi berpeluang menjadikan model Rumah Singgah Negeri Solea sebagai rujukan replikasi bagi desa-desa terpencil lain dengan tantangan jarak sekolah serupa. Peluang ini sejalan dengan prioritas penggunaan Dana Desa untuk sektor pendidikan [4]. Perluasan model ini ke wilayah kepulauan dan pegunungan lain di Indonesia dapat membantu menekan angka putus sekolah akibat kendala geografis secara lebih luas [5].

 

Daftar Pustaka

[1] Wikipedia Bahasa Indonesia, “Solea, Seram Utara, Maluku Tengah,” id.wikipedia.org. [Online]. Tersedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Solea,_Seram_Utara,_Maluku_Tengah

[2] Badan Pusat Statistik Kabupaten Maluku Tengah, “Kecamatan Seram Utara Dalam Angka 2024,” malukutengahkab.bps.go.id. [Online]. Tersedia: https://malukutengahkab.bps.go.id/

[3] Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, “Bursa Inovasi Desa,” inovasidesa.kemendesa.go.id. [Online]. Tersedia: https://inovasidesa.kemendesa.go.id/

[4] Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, “Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 13 Tahun 2020 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2021,” peraturan.bpk.go.id. [Online]. Tersedia: https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/151181/permendesa-pdtt-no-13-tahun-2020

[5] Sekretariat Negara Republik Indonesia, “Pendidikan di Wilayah Terpencil: Tantangan Pemerintah dalam Pemerataan Pendidikan di Indonesia,” setneg.go.id. [Online]. Tersedia: https://www.setneg.go.id/baca/index/pendidikan_di_wilayah_terpencil_tantangan_pemerintah_dalam_pemerataan_pendidikan_di_indonesia_1

 

Data Inovasi

Nama Inovasi
Rumah Singgah dan Sanggar Belajar Remaja Negeri Solea
Alamat
Negeri Solea, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku
Inovator
Pemerintah Negeri Solea (Kepala Negeri Simon Atuany) bersama warga dan pengelola sanggar
Kontak
Simon Atuany (Kepala Negeri Solea), telepon/WhatsApp +62-812-4046-1034
Lokasi