Ringkasan Inovasi

Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Girimukti berdiri di Desa Girimukti, Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sebagai koperasi percontohan nasional yang digagas dalam program Kopdes Merah Putih Kementerian Koperasi [1]. Inovasi ini resmi beroperasi sejak September 2025, digerakkan oleh Asep Kurnia selaku Manajer Bisnis KDMP Girimukti, yang menyatukan tiga lini usaha dalam satu kawasan: gerai sembako terpadu, pabrik pengolahan gula aren, dan klinik kesehatan desa. Permasalahan utama yang diselesaikan adalah jerat tengkulak yang menekan harga panen petani aren jauh di bawah nilai pasar, serta ketiadaan lembaga ekonomi terpadu yang melayani kebutuhan pokok, pemasaran produk lokal, dan layanan kesehatan dasar. Dampak utamanya terlihat pada terserapnya tenaga kerja lokal, meningkatnya pendapatan petani aren, dan terbentuknya pusat distribusi yang memasok 344 koperasi desa lain di Kabupaten Lebak.

Latar Belakang

Desa Girimukti terletak di Kecamatan Cilograng, ujung selatan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, berbatasan langsung dengan Kabupaten Sukabumi di Jawa Barat. Kawasan ini berupa lembah pegunungan dengan topografi berbukit, ketinggian berkisar 200–600 meter di atas permukaan laut, dan dikelilingi hutan aren yang lebat. Penduduk Desa Girimukti berjumlah sekitar 3.000 jiwa, mayoritas bermata pencaharian sebagai petani penderes aren yang mengolah nira menjadi gula cetak. Secara administratif, Kabupaten Lebak memiliki 345 desa, dan hingga awal 2025 hampir seluruhnya belum memiliki lembaga ekonomi terpadu yang mampu menyatukan distribusi sembako, pemasaran produk lokal, dan layanan kesehatan dasar dalam satu atap [2].

Selama puluhan tahun, petani penderes aren di Cilograng hidup dalam paradoks: semakin keras bekerja dari fajar hingga petang menderes nira, semakin tipis hasil yang diterima. Petani menjual gula aren langsung ke tengkulak dengan harga yang jauh di bawah nilai pasar karena membutuhkan uang tunai cepat untuk kebutuhan harian, tanpa punya posisi tawar yang memadai. Hampir seluruh dari 345 desa di Kabupaten Lebak belum memiliki lembaga ekonomi yang mampu menyatukan penjualan kebutuhan pokok, pemasaran produk lokal, dan layanan dasar dalam satu tempat [2]. Selain tekanan ekonomi, akses layanan kesehatan warga terpencil seperti Girimukti juga sangat terbatas—puskesmas terdekat memerlukan perjalanan jauh di jalan berbukit. Pemuda desa mulai merantau ke kota karena tidak melihat peluang ekonomi yang menjanjikan di kampung halaman.

Momentum lahirnya inovasi adalah peluncuran program nasional Kopdes Merah Putih oleh Kementerian Koperasi pada pertengahan 2025. Pemerintah menugaskan setiap kabupaten untuk membentuk koperasi desa berbasis potensi lokal, dan Kabupaten Lebak memilih Girimukti sebagai salah satu titik percontohan karena kekayaan bahan baku aren yang melimpah serta keberadaan sosok penggerak lokal yang bersedia bertindak lebih awal dari desa lain. Kombinasi kebijakan nasional yang tepat waktu, potensi sumber daya alam yang belum tergarap optimal, dan keberanian inovator lokal menjadi tiga faktor pemicu yang mempercepat kelahiran KDMP Girimukti.

Inovasi yang Diterapkan

KDMP Girimukti lahir dari satu keyakinan sederhana: petani aren tidak boleh terus-menerus menjadi pihak yang paling lemah dalam rantai nilai komoditas yang mereka hasilkan sendiri. Asep Kurnia, yang sebelumnya mengelola usaha distribusi sembako skala kecil di Cilograng, menggabungkan pengalamannya di bidang distribusi dengan semangat nasionalisme program Kopdes Merah Putih untuk merancang model koperasi yang berbeda dari koperasi desa pada umumnya. Inspirasinya datang dari pengamatan langsung: petani yang paling rajin justru yang paling miskin, sementara tengkulak yang tidak memproduksi apapun menikmati selisih harga terbesar.

Inovasi inti KDMP Girimukti adalah penggabungan tiga lini bisnis dalam satu kawasan terintegrasi: gerai sembako yang menjual bahan pangan, buah segar, dan produk rumah tangga dengan sistem QRIS layaknya minimarket modern milik warga desa; pabrik pengolahan gula aren yang membeli langsung deresan petani dan mengolahnya menjadi gula cetak dan gula semut berkualitas ekspor; serta klinik dan puskesmas pembantu yang mendekatkan layanan kesehatan dasar kepada warga. Mekanisme paling kritis ada pada lini gula aren: koperasi membeli langsung dari petani dengan harga yang disepakati bersama, memangkas jalur tengkulak sepenuhnya. Produk olahan kemudian dipasarkan ke pasar lokal maupun ekspor, dengan sekitar 40% produksi diarahkan ke tujuan ekspor [3].

Pembeda fundamental inovasi ini dari koperasi desa konvensional terletak pada dua hal. Pertama, koperasi ditetapkan sebagai pusat distribusi (hub) yang memasok kebutuhan barang ke 344 KDMP lain di seluruh Kabupaten Lebak [4]. Kedua, diversifikasi tiga lini bisnis memastikan koperasi tidak bergantung pada satu sumber pendapatan—saat satu lini melemah, lini lain menopang keberlangsungan operasional.

Proses Penerapan Inovasi

Penerapan KDMP Girimukti dimulai pada awal 2025 dengan tahap inisiasi kelembagaan. Pemerintah Desa Girimukti menyediakan lahan bengkok sebagai syarat program, yang sekaligus menjadi sinyal resmi dukungan desa kepada warga. Sebelum operasional dimulai, Asep Kurnia mengambil langkah berani yang tidak lazim: mengeluarkan dana pribadi hingga Rp5 miliar sebagai modal talangan untuk pembangunan gerai dan pembelian awal produk warga [5]. Selanjutnya, pengurus menerapkan sistem pencatatan keuangan yang terbuka dan dapat diaudit oleh semua anggota untuk membangun kepercayaan sejak hari pertama. Puncaknya, KDMP Girimukti diresmikan oleh Menteri Koperasi Ferry Juliantono pada 12 September 2025, dihadiri Bupati Lebak Hasbi Asyidiki Jayabaya [4].

Salah satu pelajaran berharga yang muncul dari proses rintisan adalah percobaan pengorganisasian kelompok tani aren tanpa standar mutu yang jelas. Pada awalnya, koperasi menerima semua hasil deresan petani tanpa seleksi kualitas, dengan asumsi semua gula aren dari Cilograng sudah cukup baik. Hasilnya, sejumlah kiriman produk ke mitra pasar ekspor dikembalikan karena tidak memenuhi standar kadar air dan tekstur yang disyaratkan. Kegagalan ini mendorong pengurus untuk menyusun panduan standar pengolahan dan mendampingi petani secara langsung di dapur pengolahan masing-masing. Penyesuaian ini membutuhkan waktu sekitar dua bulan dan biaya pelatihan tambahan, tetapi hasilnya nyata: konsistensi mutu produk meningkat signifikan dan hubungan dengan mitra ekspor dapat dipulihkan. Bagi replikator, pelajaran ini sangat berharga: jangan menunda standarisasi mutu—terapkan sejak batch pertama produksi.

Wawasan penting lain bagi replikator: kepercayaan warga tidak datang dari sosialisasi, tetapi dari tindakan nyata yang bisa dilihat langsung. Modal talangan yang dikeluarkan Asep Kurnia, meskipun berisiko secara personal, terbukti jauh lebih efektif meyakinkan warga daripada puluhan rapat penjelasan program. Pengurus baru yang ingin mereplikasi model ini harus menyiapkan satu atau lebih “tindakan pembuka kepercayaan” yang konkret dan bisa diamati komunitas sebelum mengundang partisipasi lebih luas.

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan internal terbesar adalah ketergantungan pada modal pribadi satu orang penggerak. Model pembiayaan yang mengandalkan tabungan dan aset Asep Kurnia sangat rentan: jika terjadi sesuatu pada inovator, koperasi bisa kehilangan fondasi keuangannya seketika. Mitigasi yang ditempuh adalah mengajukan akses pembiayaan ke Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB-KUMKM) dan mendorong pemerintah mengalokasikan dana melalui mekanisme Sisa Anggaran Lebih melalui Bank Himbara [3]. Selain itu, resistensi awal warga yang skeptis akibat pengalaman buruk dengan lembaga keuangan informal diatasi melalui transparansi tata kelola: catatan keuangan dibuka untuk semua anggota dan forum laporan rutin diadakan setiap bulan.

Tantangan eksternal yang paling mendesak adalah kesenjangan kapasitas logistik untuk menjalankan fungsi hub bagi 344 koperasi desa. Peran sebagai pusat distribusi menuntut kapasitas gudang, sistem inventaris, dan armada pengiriman yang jauh melebihi kebutuhan koperasi tunggal. Koperasi merespons dengan memprioritaskan investasi bertahap pada infrastruktur gudang dan bekerja sama dengan pihak transportasi lokal sebelum membangun armada sendiri. Tantangan lain
adalah konsistensi mutu gula aren untuk standar ekspor: mendampingi ratusan petani kecil agar memenuhi spesifikasi pasar internasional secara konsisten bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan sekali jadi. Koperasi mengatasinya dengan membentuk tim pendamping mutu yang bertugas mengunjungi dan melatih petani mitra secara berkala, sekaligus menyiapkan fasilitas pengolahan bersama di kawasan koperasi sebagai tempat finalisasi produk sebelum dikirim ke pembeli.

Faktor Penentu Keberhasilan

KDMP Girimukti berhasil karena konvergensi tiga kekuatan yang saling menguatkan: keberanian individual inovator, sinergi kelembagaan pemerintah, dan partisipasi aktif anggota. Asep Kurnia, sebagai inovator utama, bukan hanya memberikan modal finansial tetapi juga menjadi wajah kepercayaan yang meyakinkan warga bahwa koperasi ini bukan proyek kosong. Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Koperasi dan UKM memberikan dukungan dari sisi legalitas, penetapan Girimukti sebagai hub distribusi bagi 344 KDMP lain, serta fasilitasi peresmian tingkat nasional yang memperkuat legitimasi koperasi di mata warga. Peresmian oleh Menteri Koperasi pada September 2025 secara langsung mengangkat profil KDMP Girimukti dari sekadar koperasi desa biasa menjadi percontohan nasional.

Modal sosial yang menjadi pengikat partisipasi adalah budaya gotong royong yang sudah mengakar di komunitas Cilograng. Koperasi tidak membangun budaya baru—ia memanfaatkan nilai kebersamaan yang sudah ada dan menyalurkannya ke dalam struktur usaha yang lebih formal dan terukur. Warga yang aktif berbelanja di gerai koperasi, menyetorkan produk aren ke pabrik koperasi, dan memanfaatkan klinik koperasi adalah wujud nyata dari rasa memiliki (sense of belonging) yang tidak bisa dibeli oleh modal sebesar apapun. Keberhasilan KDMP Girimukti membuktikan bahwa koperasi desa yang kuat membutuhkan lebih dari sekadar permodalan—ia membutuhkan pemimpin yang dipercaya dan komunitas yang merasa menjadi bagian dari kisah bersama.

Hasil dan Dampak Inovasi

Perubahan paling fundamental dapat dilihat dari perbandingan kondisi sebelum dan sesudah kehadiran KDMP Girimukti. Sebelumnya, petani aren menjual hasil panen ke tengkulak dengan harga yang tidak dapat dinegosiasikan, dan tidak ada kepastian pembelian rutin. Setelah koperasi beroperasi, petani memiliki pembeli tetap dengan harga yang disepakati bersama melalui mekanisme koperasi, tanpa perantara. Kapasitas pengolahan mencapai 300 ton bahan baku gula aren per bulan, dengan sekitar 40% dipasarkan ke tujuan ekspor [3]. Koperasi menyerap enam pegawai tetap dengan gaji setara UMK Kabupaten Lebak—kepastian penghasilan yang sebelumnya mustahil dibayangkan oleh warga desa terpencil [6]. Omzet harian pada bulan-bulan awal operasional mencapai Rp5 juta per hari, dengan target jangka panjang Rp100 juta per hari seiring perluasan pasar [5].

Dampak kualitatif yang paling transformatif adalah perubahan posisi desa dalam ekosistem ekonomi daerah. Sebelumnya, Girimukti adalah desa penerima program pemerintah yang pasif. Setelah koperasi berdiri, Girimukti menjadi penggerak jaringan ekonomi yang aktif—memasok kebutuhan pokok dan mengagregasi produk lokal bagi 344 KDMP di seluruh Kabupaten Lebak [4].

Kehadiran klinik dan puskesmas pembantu dalam kawasan koperasi juga menghapus hambatan geografis akses kesehatan warga. Dampak lanjutan yang tidak direncanakan sebelumnya adalah meningkatnya minat pemuda desa untuk tetap tinggal dan terlibat dalam ekosistem koperasi, setelah mereka melihat bahwa usaha berbasis potensi lokal bisa memberikan penghasilan yang kompetitif.

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Tahap rintisan KDMP Girimukti dibiayai dari dua sumber utama: modal talangan pribadi Asep Kurnia sebesar Rp5 miliar yang digunakan untuk pembangunan fisik gerai dan pembelian awal produk warga [5], serta lahan bengkok yang disediakan Pemerintah Desa sebagai kontribusi aset tetap. Model pendapatan koperasi bersifat terdiversifikasi: margin penjualan gerai sembako, selisih harga beli-jual produk gula aren, dan tarif layanan klinik kesehatan. Mekanisme Sisa Hasil Usaha (SHU) memastikan sebagian keuntungan dikembalikan kepada anggota secara proporsional berdasarkan partisipasi transaksi, bukan berdasarkan besaran modal yang disetor.

Untuk keberlanjutan finansial jangka panjang, koperasi mengakses pembiayaan formal melalui LPDB-KUMKM dan memanfaatkan alokasi Rp16 triliun dari Sisa Anggaran Lebih melalui Bank Himbara yang disiapkan pemerintah nasional untuk program Kopdes Merah Putih [3]. Strategi ini secara bertahap menggantikan ketergantungan pada modal pribadi pengurus dengan permodalan kelembagaan yang lebih stabil. Pengembalian investasi awal Asep Kurnia dirancang melalui mekanisme bagi hasil yang proporsional, tanpa membebankan bunga kepada koperasi—pendekatan yang selaras dengan prinsip koperasi namun tetap memberikan kepastian hukum bagi penyerta modal awal.

Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Yang berjalan paling baik adalah keputusan untuk memulai dengan tindakan konkret yang bisa dilihat warga, bukan dengan rapat sosialisasi yang panjang. Pembangunan gerai fisik dan operasional koperasi yang langsung berjalan terbukti jauh lebih persuasif dari presentasi program apapun. Keputusan lain yang tepat adalah memilih tiga lini bisnis yang saling melengkapi sejak awal—diversifikasi ini membuat koperasi lebih tahan terhadap guncangan di satu sektor dan langsung menjangkau kebutuhan warga yang beragam.

Jika memulai dari awal, pengurus mengakui bahwa standarisasi mutu produk gula aren seharusnya disiapkan lebih awal, sebelum kontrak dengan mitra ekspor ditandatangani. Pengalaman produk yang dikembalikan oleh pembeli ekspor karena tidak memenuhi spesifikasi bisa dihindari dengan pelatihan petani dan uji mutu internal sebelum pengiriman pertama dilakukan. Selain itu, dokumentasi prosedur operasional standar (SOP) yang lebih sistematis sejak hari pertama akan mempermudah regenerasi pengurus di masa mendatang.

Bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa, tiga saran praktis ini layak digarisbawahi. Pertama, pastikan ada setidaknya satu penggerak lokal yang dipercaya warga dan bersedia mengambil risiko nyata di fase awal—bukan hanya pengelola administratif. Kedua, mulailah dengan satu lini usaha yang paling dekat dengan kebutuhan sehari-hari warga (misalnya gerai sembako), baru tambahkan lini berikutnya setelah kepercayaan terbentuk. Ketiga, transparansi keuangan bukan pilihan melainkan keharusan: laporan keuangan yang terbuka adalah senjata paling efektif mematahkan keraguan warga dan menjaga integritas koperasi dalam jangka panjang.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

KDMP Girimukti dirancang untuk bertahan melampaui satu periode kepengurusan. Strategi jangka panjangnya bertumpu pada tiga pilar: penguatan permodalan formal, digitalisasi operasional, dan regenerasi sumber daya manusia. Permodalan formal melalui LPDB-KUMKM dan Bank Himbara menggantikan ketergantungan pada modal pribadi pengurus secara bertahap. Digitalisasi mencakup pengembangan sistem pencatatan transaksi berbasis aplikasi, perluasan saluran penjualan melalui  platform e-commerce, dan perbaikan sistem logistik hub distribusi yang saat ini masih sebagian besar dikelola secara manual.

Mekanisme regenerasi kepemimpinan disiapkan melalui program kaderisasi internal: pengurus aktif mendampingi anggota muda yang berminat masuk ke manajemen koperasi, dengan sistem mentoring terstruktur. Koperasi tidak bergantung pada satu figur inovator—prosedur operasional standar dan sistem tata kelola yang terdokumentasi memungkinkan koperasi tetap berjalan meski kepemimpinan berganti. Jika inovator utama tidak lagi menjabat, fondasi kepercayaan yang telah dibangun melalui transparansi dan kinerja nyata akan menjadi warisan yang lebih tahan lama dibanding loyalitas personal.

Strategi pendapatan mandiri jangka panjang ditopang oleh pertumbuhan fungsi hub distribusi: semakin banyak KDMP yang terhubung dan bertransaksi melalui Girimukti, semakin besar volume dan marjin distribusi yang menjadi sumber pendapatan koperasi. Perluasan jaringan ke kabupaten dan provinsi lain—yang saat ini sedang dijajaki dalam kapasitas Girimukti sebagai percontohan nasional—akan membuka jalur pendapatan baru yang tidak bergantung pada satu wilayah pasar. Sinergi pentahelix antara pemerintah, koperasi, dunia usaha, akademisi, dan komunitas menjadi fondasi agar praktik baik Girimukti tidak berhenti di satu desa saja.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Model bisnis KDMP Girimukti yang memadukan usaha pangan, produk unggulan lokal, dan layanan kesehatan berkontribusi secara serentak pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan. Kontribusi ini bukan kebetulan—ini adalah hasildari desain koperasi yang sejak awal diarahkan pada pemerataan, keberdayaan, dan kemandirian komunitas desa.

No SDGs Penjelasan Kontribusi Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Pembelian langsung hasil gula aren tanpa perantara tengkulak meningkatkan kepastian dan kelayakan pendapatan warga penderes aren di Cilograng. Akses permodalan melalui koperasi mengangkat warga dari lingkaran ketergantungan finansial. 6 pegawai tetap digaji setara UMK; omzet harian Rp5 juta/hari; target Rp100 juta/hari
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Gerai sembako koperasi menyediakan bahan pangan pokok dengan warga bersaing, memperkuat akses warga desa terhadap kebutuhan gizi harian tanpa bergantung pada pedagang dengan harga tinggi. Gerai sembako aktif beroperasi, melayani warga Desa Girimukti
dan sekitarnya setiap hari
SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera Klinik dan puskesmas pembantu di dalam kawasan koperasi mendekatkan layanan kesehatan dasar bagi warga Girimukti dan sekitarnya. Integrasi layanan ini menjawab hambatan geografis akses kesehatan yang selama ini menjadi masalah serius warga desa terpencil. Klinik desa dan puskesmas pembantu aktif beroperasi di
kawasan koperasi
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Koperasi menyerap tenaga kerja lokal dengan gaji setara UMK, mendorong lahirnya wirausaha baru di ekosistem aren, dan membangun pertumbuhan ekonomi desa yang tidak bergantung semata-mata pada transfer fiskal dari pemerintah pusat. 6 pegawai tetap UMK; 300 ton bahan baku diolah/bulan; 40%
produk untuk ekspor
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan Fungsi koperasi sebagai hub distribusi bagi 344 KDMP lain memeratakan akses barang dan peluang usaha antarwilayah di Kabupaten Lebak. Mekanisme SHU memastikan keuntungan kembali ke kantong anggota, bukan mengendap di tangan pemegang modal besar. 344 KDMP di Kabupaten Lebak terhubung dan dipasok melalui
jaringan distribusi Girimukti
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi pentahelix antara pemerintah (Kemenkop, Pemkab Lebak), koperasi, dunia usaha (mitra ekspor), akademisi, dan komunitas petani aren menjadi model tata kelola inklusif yang bisa direplikasi di kabupaten lain. Peresmian tingkat nasional oleh Menkop; penetapan sebagai percontohan nasional; akses LPDB-KUMKM

 

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Pemerintah Kabupaten Lebak menjadikan KDMP Girimukti sebagai acuan bagi koperasi desa lain yang sedang membangun lini usaha berbasis potensi lokal masing-masing [7]. Model tiga-dalam-satu—gerai sembako, produk unggulan lokal, dan layanan dasar—dapat direplikasi oleh desa manapun dengan adaptasi pada komoditas khasnya masing-masing. Prasyarat minimum untuk replikasi mencakup: satu komoditas lokal yang cukup melimpah untuk diolah secara kolektif, setidaknya satu penggerak lokal yang dipercaya warga dan bersedia mengambil risiko di fase awal, lahan yang disediakan desa untuk operasional koperasi, serta komitmen transparansi tata kelola dari awal. Estimasi biaya replikasi bergantung pada skala, tetapi pengalaman Girimukti menunjukkan bahwa modal awal Rp5 miliar memadai untuk membangun gerai, lini pengolahan produk, dan fasilitas layanan dasar dalam skala yang bisa langsung menghasilkan omzet di bulan pertama.

Pola hub-and-spoke yang diperankan Girimukti—satu koperasi desa menjadi pusat distribusi bagi ratusan koperasi lain di sekitarnya—berpotensi direplikasi di kabupaten lain yang sedang membangun koperasi desa secara massal dalam program Kopdes Merah Putih. Model adaptasi yang disarankan adalah: pilih satu desa yang memiliki posisi geografis strategis (dekat jalur utama transportasi) dan komoditas unggulan yang sudah dikenal pasar sebagai hub, lalu bangun secara bertahap jaringan distribusi ke desa-desa sekitarnya. Untuk scale up yang sehat, akses pembiayaan formal melalui LPDB-KUMKM harus menjadi jalur standar, bukan pengecualian. Pendampingan mutu produk juga perlu diperluas agar desa-desa yang mereplikasi mampu mencapai standar ekspor sebagaimana dirintis Girimukti. Saat semua infrastruktur itu
tersedia, model KDMP Girimukti bukan lagi hanya milik Cilograng—ia menjadi cetak biru bagi seluruh gerakan koperasi desa Indonesia.

Daftar Pustaka

[1] Redaksi Radar Banten, “Kopdes Merah Putih Girimukti Cilograng, Menjual Produk Lokal Gula Aren Khas Lebak,” Radar Banten, Nov. 2025. [Online]. Available: https://www.radarbanten.co.id/2025/11/13/kopdes-merah-putih-girimukti-cilograng-menjual-produk-lokal-gula-aren-khas-lebak/

[2] A. Nazmudin, “Alasan Banyak Kopdes Merah Putih Dibangun di Lokasi Terpencil,” Kompas.com, Jul. 2026. [Online]. Available: https://regional.kompas.com/read/2026/07/03/204128178/alasan-banyak-kopdes-merah-putih-dibangun-di-lokasi-terpencil?page=all

[3] Redaksi Editor Indonesia, “Menkop: Kopdes Girimukti Lebak Siap Jadi Role Model Nasional,” Editor
Indonesia
, Sep. 2025. [Online]. Available: https://editorindonesia.com/menkop-kopdes-girimukti-siap-jadi-role-model-nasional/

[4] Redaksi Detik.com, “Menkop Resmikan Kopdes Merah Putih di Lebak Banten, Harap Jadi Percontohan,”
Detik.com, Sep. 2025. [Online]. Available: https://news.detik.com/berita/d-8109277/menkop-resmikan-kopdes-merah-putih-di-lebak-banten-harap-jadi-percontohan

[5] Redaksi Kompas.com, “Melihat Koperasi Merah Putih Girimukti di Lebak, Dibangun Pakai Dana Pribadi, Beromzet Rp 5 Juta Per Hari,” Kompas.com, Sep. 2025. [Online]. Available: https://regional.kompas.com/read/2025/09/13/133744478/melihat-koperasi-merah-putih-girimukti-di-lebak-dibangun-pakai-dana-pribadi?page=all

[6] Redaksi Antara News Banten, “Pemkab Lebak Optimistis KDMP Tumbuhkan Ekonomi Warga Pedesaan,” Antara News Banten, Jun. 2026. [Online]. Available: https://banten.antaranews.com/berita/384285/pemkab-lebak-optimistis-kdmp-tumbuhkan-ekonomi-warga-pedesaan

[7] Redaksi Satelit News, “KDMP Lebak Belum Maksimal, Baru 58 Koperasi yang Beroperasi,” Satelit News, Jul. 2026. [Online]. Available: https://www.satelitnews.com/162349/kdmp-lebak-belum-maksimal-baru-58-koperasi-yang-beroperasi/

Data Inovasi

Nama Inovasi
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Girimukti — Model Bisnis Terpadu Gula Aren,
Sembako dan Klinik Desa
Alamat
Desa Girimukti, Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten
Inovator
Asep Kurnia (Manajer Bisnis KDMP Girimukti)
Kontak
Telepon: 083141714868
Lokasi