Ringkasan Inovasi

Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Kalurahan Dlingo yang terletak di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menghadirkan inovasi ritel modern berbasis kerakyatan melalui pendirian Dlingo Mart. Inisiatif strategis ini digerakkan oleh KDMP Kalurahan Dlingo bersama Pemerintah Kalurahan Dlingo di bawah kepemimpinan Lurah Agus Purnomo dan pengurus koperasi Mulyoto. Inovasi ini bertujuan menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sekaligus menjadi etalase utama bagi pemasaran produk unggulan lokal buatan warga desa. Dampak utamanya adalah memutus rantai distribusi yang panjang sehingga harga barang menjadi lebih kompetitif, serta terciptanya perputaran ekonomi yang keuntungannya dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk dividen [1].

Latar Belakang

Kalurahan Dlingo terletak di kawasan perbukitan karst ujung Kabupaten Bantul pada ketinggian 200–285 meter di atas permukaan laut. Jarak yang cukup jauh dari pusat kota membuat warga terjebak dalam ketergantungan pada pedagang perantara dan tengkulak yang menguasai rantai distribusi. Harga sembako di perbukitan Dlingo selalu lebih mahal dibandingkan di pusat kota karena biaya angkut yang ditanggungkan pedagang perantara kepada konsumen akhir. Para peternak lele dan pembuat jajanan tradisional seperti pukis dan tiwul ayu pun terpaksa menjual hasil produksi mereka dengan harga murah kepada tengkulak karena tidak memiliki akses pasar yang adil [2].

Akses permodalan bagi pelaku usaha mikro di Dlingo sangat terbatas. Warung-warung kecil milik warga tidak memiliki posisi tawar untuk mendapatkan barang grosir dengan harga murah, sementara lembaga keuangan formal jarang menjangkau kawasan perbukitan ini. Sebagian warga yang membutuhkan modal cepat bahkan terpaksa meminjam kepada rentenir dengan bunga yang mencekik. Ketiadaan wadah ekonomi kolektif membuat keuntungan dari transaksi perdagangan sehari-hari lebih banyak mengalir keluar desa daripada berputar di dalam komunitas, memperparah ketimpangan sosial-ekonomi antara warga desa perbukitan dan masyarakat perkotaan.

Peluang untuk membangun kekuatan ekonomi bersama muncul melalui program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang merupakan bagian dari kebijakan nasional “Satu Desa, Satu Koperasi” [3]. Tantangan utamanya adalah bagaimana membangun sebuah lembaga ekonomi kerakyatan yang mampu memutus ketergantungan warga pada tengkulak dan rentenir, tanpa mematikan usaha kecil yang sudah ada. Selain itu, pengurus harus mematahkan keraguan masyarakat yang selama ini trauma dengan lembaga keuangan desa yang pernah mengecewakan di masa lalu.

Inovasi yang Diterapkan

KDMP Kalurahan Dlingo bukan sekadar toko kelontong atau lembaga simpan pinjam biasa, melainkan sebuah instrumen kewirausahaan sosial (social enterprise) yang dibangun di atas asas kekeluargaan dan semangat nasionalisme “Merah Putih” [1]. Pemerintah Kalurahan bersama pengurus KDMP mewujudkan gerakan kolektif ini melalui pendirian Dlingo Mart yang diresmikan oleh Bupati Bantul Abdul Halim Muslih pada 1 Oktober 2025. Inovasi ini menggabungkan konsep minimarket modern yang bersih dan rapi dengan nilai-nilai luhur gotong royong: dari warga, oleh warga, dan untuk warga. Dlingo Mart hadir sebagai jawaban spesifik terhadap masalah tengkulak, yakni menyediakan gerai yang membeli langsung produk lokal warga dengan harga wajar dan menjual kebutuhan pokok tanpa perantara berlebihan.

Produk unggulan desa seperti lele hidup, pukis, dan tiwul ayu mendapat ruang display khusus yang setara dengan produk pabrikan, sehingga para produsen lokal tidak lagi bergantung pada tengkulak yang selama ini menekan harga. Penerapan inovasi layanan juga dilakukan dengan menyederhanakan birokrasi pendaftaran keanggotaan secara radikal. Warga cukup mendaftar langsung di meja kasir saat berbelanja dan kartu anggota langsung dicetak saat itu juga tanpa harus mengisi formulir rumit di kantor. Kemudahan ini menjadi daya tarik luar biasa hingga tercatat lima ratus calon anggota mendaftar pada saat peresmian gerai [1].

Dlingo Mart memosisikan diri bukan sebagai pesaing bagi warung kecil, melainkan sebagai mitra strategis melalui sistem titip jual untuk jajanan pasar buatan warga. Keuntungan dari setiap transaksi tidak mengalir ke investor luar, melainkan dikembalikan kepada anggota dalam bentuk Sisa Hasil Usaha (SHU). Model kemitraan ini menjadi penggerak ekonomi sirkular di tingkat kalurahan yang memastikan perputaran uang tetap berada di dalam komunitas desa, bukan bocor ke luar wilayah.

Proses Penerapan Inovasi

Proses paling sulit dalam membangun KDMP Dlingo adalah meyakinkan warga agar mau menabung dan berinvestasi di koperasinya sendiri. Lurah Dlingo, Agus Purnomo, bersama pengurus koperasi Mulyoto melakukan pendekatan dari pintu ke pintu di setiap padukuhan untuk mengubah pola pikir masyarakat yang trauma dengan lembaga keuangan desa [1]. Mereka menjelaskan secara gamblang bahwa KDMP bukan koperasi lama yang mengecewakan, melainkan gerakan ekonomi baru yang dikelola secara transparan dan akuntabel. Transparansi sejak awal menjadi senjata ampuh untuk mematahkan keraguan warga, mulai dari pencatatan keuangan yang terbuka hingga laporan operasional yang dapat diakses seluruh anggota.

Musyawarah tingkat kalurahan menghasilkan kesepakatan bahwa koperasi harus dibangun dengan metodologi bootstrapping atau kekuatan sendiri tanpa terburu-buru mengambil pinjaman dari bank. Eksperimen pasar dilakukan dengan menargetkan transaksi harian sebesar enam ratus ribu rupiah untuk mengukur daya beli dan minat warga. Pengurus melakukan kurasi produk lokal yang akan dijual di gerai untuk memastikan kualitasnya layak bersanding dengan produk pabrikan. Namun upaya awal ini sempat menemui kendala ketika sebagian warga menolak berpartisipasi karena pengalaman buruk dengan lembaga keuangan desa di masa lalu — sebuah kegagalan pendekatan formal yang kemudian dikoreksi dengan strategi sosialisasi dari pintu ke pintu yang lebih personal dan transparan.

Tantangan dalam menggaet warga miskin diatasi dengan kolaborasi cerdas bersama Pemerintah Kabupaten Bantul. Bupati Abdul Halim Muslih mengeluarkan kebijakan inovatif berupa subsidi yang menanggung biaya simpanan pokok dan wajib bagi warga miskin melalui Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Padukuhan (PPBMP) [4]. Kebijakan ini memungkinkan warga kurang mampu menjadi anggota koperasi tanpa beban finansial. Bantuan produktif ini melengkapi bantuan konsumtif yang selama ini diberikan, sehingga menciptakan metodologi pengentasan kemiskinan yang lebih struktural melalui kepemilikan saham dan akses permodalan mikro.

Tantangan, Kendala, dan Mitigasi

Tantangan terbesar dalam mendirikan Dlingo Mart adalah meyakinkan masyarakat bahwa koperasi ini berbeda dari koperasi konvensional yang selama ini dianggap rumit dan kurang transparan. Stigma negatif terhadap kelembagaan koperasi yang pernah mengecewakan di masa lalu masih membekas di benak sebagian warga. Pengurus mengatasi hal ini melalui sosialisasi intensif dari padukuhan ke padukuhan, menerapkan prinsip keterbukaan informasi keuangan sejak hari pertama operasional, dan memperkenalkan sistem pendaftaran anggota via kasir yang mematahkan kesan birokratis koperasi konvensional.

Kendala geografis berupa medan perbukitan yang terjal juga menjadi hambatan serius dalam rantai pasok logistik barang dagangan. Biaya pengiriman dari distributor di pusat kota ke lokasi gerai di kawasan perbukitan lebih tinggi dibandingkan wilayah datar sehingga memengaruhi struktur harga jual. Mitigasi ditempuh dengan menghitung margin keuntungan secara cermat agar harga tetap kompetitif, serta mengembangkan sistem titip jual produk lokal yang tidak memerlukan biaya pengiriman dari luar daerah sehingga memperkaya ragam produk tanpa membebani ongkos logistik.

Keterbatasan modal awal juga menjadi kendala yang harus dihadapi mengingat keputusan untuk tidak mengambil pinjaman bank sejak awal berdiri. Meskipun pendekatan bootstrapping memberikan kebebasan dari beban utang, keterbatasan modal membatasi variasi dan volume stok barang yang dapat disediakan di awal operasional. Pengurus mengatasi hal ini dengan memprioritaskan produk kebutuhan pokok yang paling dicari warga, mengoptimalkan sistem titip jual untuk memperkaya ragam produk tanpa memerlukan modal tambahan yang besar, serta memanfaatkan kebijakan subsidi simpanan pokok dari Pemkab Bantul melalui PPBMP untuk memperluas basis keanggotaan dan permodalan [4].

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama keberhasilan Dlingo Mart adalah partisipasi aktif anggota yang menumbuhkan rasa kepemilikan komunal (sense of belonging) terhadap koperasi. KDMP Dlingo berhasil bukan semata karena pengurusnya hebat, tetapi karena anggotanya aktif menabung, berbelanja, dan menitipkan produk di koperasi milik mereka sendiri. Warga merasa bahwa Dlingo Mart adalah “milik bersama” sehingga mereka dengan sukarela menjadi duta promosi dari mulut ke mulut di setiap padukuhan. Rasa memiliki kolektif inilah yang menjadi kunci utama keberlanjutan koperasi.

Sinergi kelembagaan antara Pemerintah Kalurahan, BUMDes, dan Pemerintah Kabupaten Bantul memperkuat fondasi keberhasilan KDMP. Penyertaan modal awal dan dukungan administratif dari pemerintah kalurahan memberikan legitimasi yang kuat bagi operasional koperasi. Subsidi simpanan pokok bagi warga miskin melalui Surat Edaran Bupati Bantul menunjukkan komitmen politik serius terhadap inklusi ekonomi yang menjangkau kelompok masyarakat paling rentan di akar rumput [4]. Dukungan tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat turut mempercepat penerimaan sosial terhadap kehadiran koperasi.

Strategi memosisikan koperasi sebagai mitra dan bukan pesaing bagi warung warga menjadi kunci penerimaan sosial yang luar biasa. Sistem titip jual dan penyediaan ruang khusus bagi produk lokal membuktikan bahwa Dlingo Mart hadir untuk menguatkan, bukan melemahkan, ekosistem ekonomi desa yang sudah ada. Pendekatan inklusif ini menghilangkan resistensi dari pelaku usaha kecil yang awalnya khawatir terhadap kehadiran ritel modern di tengah komunitas mereka.

Hasil dan Dampak Inovasi

Kehadiran Dlingo Mart mendapat respons sangat positif dengan tercatatnya lima ratus calon anggota yang antusias bergabung pada saat peresmian gerai. Kemudahan pendaftaran via kasir terbukti ampuh meruntuhkan stigma bahwa berurusan dengan koperasi itu rumit dan birokratis. Para pembuat jajanan pasar dan peternak lele kini terbebas dari ketergantungan pada tengkulak karena produk mereka selalu terserap oleh gerai koperasi dengan harga yang lebih layak. Koperasi berhasil menstabilkan harga komoditas lokal sehingga daya beli masyarakat desa meningkat secara nyata [5].

Secara kualitatif, Dlingo Mart berhasil membangkitkan rasa kebanggaan dan kepemilikan kolektif warga Dlingo terhadap aset ekonomi desanya. Keuntungan koperasi tidak mengalir ke investor asing, melainkan dikembalikan kepada anggota dalam bentuk Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dapat digunakan untuk beasiswa anak desa, santunan sosial, atau reinvestasi usaha. Warga kini memiliki alternatif tempat berbelanja yang nyaman, dekat, dan memberikan harga wajar untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota Bantul.

Dampak makro dari kebijakan subsidi simpanan pokok oleh Pemkab Bantul adalah terciptanya kemerdekaan finansial desa yang sesungguhnya. Kelompok masyarakat termiskin pun memiliki saham dan hak suara dalam lembaga ekonomi desa sehingga mereka bukan sekadar penerima bantuan pasif melainkan pelaku aktif dalam roda perekonomian. Pedagang kecil yang sebelumnya terjerat utang berbunga tinggi dari rentenir kini dapat mengakses permodalan mikro melalui skema koperasi yang lebih adil. Dlingo Mart membuktikan bahwa ekonomi modern dan gotong royong dapat berjalan beriringan dalam mewujudkan kemandirian desa.

Sumber Pendanaan dan Model Bisnis

Pendanaan awal KDMP Kalurahan Dlingo bersumber dari kombinasi simpanan pokok dan simpanan wajib anggota yang dikumpulkan secara swadaya melalui pendekatan bootstrapping tanpa pinjaman bank. Pemerintah Kalurahan Dlingo turut menyertakan modal awal sebagai bentuk dukungan kelembagaan, sementara Pemerintah Kabupaten Bantul memberikan kontribusi strategis melalui kebijakan subsidi simpanan pokok dan wajib bagi warga miskin yang dibiayai dari Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Padukuhan (PPBMP) [4]. Pendekatan ini memastikan koperasi tumbuh dari kekuatan sendiri tanpa beban utang berbunga yang dapat menggerus margin operasional di tahap awal.

Model bisnis Dlingo Mart bertumpu pada dua aliran pendapatan utama yang saling menopang. Pertama, margin keuntungan dari penjualan kebutuhan pokok yang dipasok langsung dari distributor tanpa perantara berlebihan sehingga harga tetap kompetitif. Kedua, pendapatan dari sistem titip jual produk lokal warga yang memberikan komisi bagi koperasi tanpa memerlukan modal pembelian stok di muka. Seluruh keuntungan dikembalikan kepada anggota dalam bentuk Sisa Hasil Usaha (SHU), menjadikan koperasi sebagai instrumen redistribusi kekayaan di tingkat desa. Rencana pengembalian investasi dirancang secara organik melalui peningkatan volume transaksi harian yang ditargetkan tumbuh bertahap dari enam ratus ribu rupiah per hari [1].

Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)

Keputusan paling tepat yang diambil KDMP Dlingo adalah menerapkan prinsip transparansi total sejak hari pertama operasional. Pencatatan keuangan yang terbuka dan laporan operasional yang dapat diakses seluruh anggota menjadi senjata ampuh untuk mematahkan keraguan warga yang trauma dengan lembaga keuangan desa di masa lalu. Strategi memosisikan Dlingo Mart sebagai mitra warung kecil — bukan pesaing — melalui sistem titip jual terbukti menjadi langkah brilian yang menghilangkan resistensi pelaku usaha lokal dan justru memperkuat ekosistem ekonomi desa secara keseluruhan.

Jika memulai dari awal, satu hal yang akan dilakukan berbeda adalah mempersiapkan infrastruktur pencatatan digital dan pelatihan manajerial bagi pengurus sebelum gerai diresmikan, bukan secara paralel dengan operasional harian. Selain itu, sosialisasi dari pintu ke pintu seharusnya dimulai lebih awal dan lebih intensif agar basis keanggotaan sudah kuat sebelum hari peluncuran. Kegagalan pendekatan formal di awal mengajarkan bahwa kepercayaan warga desa harus dibangun melalui interaksi personal yang konsisten, bukan melalui pengumuman resmi semata.

Bagi kalurahan atau desa lain yang ingin mereplikasi keberhasilan ini, tiga saran praktis yang paling krusial adalah: (1) mulai dari pendekatan bootstrapping untuk membangun kemandirian dan menghindari beban utang di tahap awal; (2) jadikan transparansi keuangan sebagai fondasi utama untuk membangun kepercayaan masyarakat; dan (3) posisikan koperasi sebagai mitra yang menguatkan pelaku usaha lokal yang sudah ada, bukan sebagai pesaing yang mengancam kelangsungan usaha mereka [5].

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Koperasi merupakan kelembagaan ekonomi yang diamanatkan oleh konstitusi Pasal 33 UUD 1945, karena itu KDMP Dlingo harus memiliki strategi keberlanjutan yang kuat dan bukan sekadar proyek jangka pendek. Strategi keberlanjutan Dlingo Mart difokuskan pada diversifikasi produk dan layanan untuk meningkatkan volume transaksi harian. Pengurus berencana membuka kedai mi instan dengan berbagai topping kekinian di area gerai untuk menarik segmen anak muda dan menjadikan Dlingo Mart sebagai pusat berkumpul komunitas. Ekspansi produk olahan lokal akan terus diperbanyak untuk memaksimalkan penyerapan hasil panen dan karya kuliner warga sekitar.

Manajemen akan terus memegang teguh prinsip kehati-hatian dalam mengelola keuangan dengan memaksimalkan perputaran modal yang ada. Jika kapasitas manajerial dan pasar sudah benar-benar matang, barulah koperasi akan mengajukan pinjaman modal untuk menyerap tenaga kerja lokal dalam jumlah yang lebih besar. Penguatan tata kelola profesional menjadi prioritas agar regenerasi pengurus dan kader muda desa dapat berjalan lancar lintas generasi tanpa tergantung pada sosok penggerak awal saja.

Kolaborasi multipihak (pentahelix) antara pemerintah kalurahan, pemerintah kabupaten, akademisi, dunia usaha, dan komunitas masyarakat akan terus dikembangkan untuk memperkuat praktik baik ini. Sinergi dengan jaringan KDMP wilayah Bantul yang tersebar di 17 kecamatan menjadi fondasi bagi pertukaran pembelajaran dan penguatan rantai pasok antargerai koperasi desa [5]. Visi besarnya adalah menjadikan Dlingo Mart sebagai pusat grosir yang mampu menyuplai kebutuhan warung-warung kecil di seluruh wilayah perbukitan Dlingo dengan harga distributor.

Kontribusi Pencapaian SDGs

KDMP Dlingo sebagai kelembagaan ekonomi kerakyatan sangat identik dengan pemerataan ekonomi dan berkontribusi nyata terhadap pencapaian beberapa pilar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Berikut adalah rincian kontribusi inovasi ini terhadap target-target SDGs yang relevan [6].

No SDGs Penjelasan Indikator
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan Akses permodalan mikro melalui keanggotaan koperasi bersubsidi mengangkat warga dari garis kemiskinan ekstrem. Kebijakan subsidi simpanan pokok memastikan kelompok masyarakat termiskin memperoleh kepemilikan saham, akses SHU, dan harga barang kompetitif yang secara langsung meningkatkan daya beli mereka tanpa harus terjerat utang rentenir berbunga tinggi. Warga miskin memperoleh subsidi simpanan pokok melalui PPBMP; akses permodalan mikro tanpa bunga rentenir; distribusi SHU kepada seluruh anggota
SDGs 2: Tanpa Kelaparan Dlingo Mart menyediakan kebutuhan pangan pokok dengan harga terjangkau bagi warga di kawasan perbukitan yang selama ini harus membayar lebih mahal akibat rantai distribusi panjang. Ketersediaan bahan pangan yang stabil dan terjangkau di tingkat desa memperkuat ketahanan pangan lokal dan memastikan akses nutrisi yang memadai bagi seluruh lapisan masyarakat. Harga sembako lebih kompetitif dibanding harga tengkulak; ketersediaan pangan pokok stabil di gerai desa; rantai distribusi diperpendek
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Kehadiran Dlingo Mart mendorong lahirnya wirausaha baru (UMKM) melalui sistem titip jual yang membuka peluang usaha bagi pembuat jajanan pasar, peternak lele, dan produsen tiwul ayu. Koperasi juga menyerap tenaga kerja lokal sebagai pengurus dan staf operasional, mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang tidak bergantung pada sumber pendapatan musiman. 500 calon anggota mendaftar saat peresmian; produk lokal (lele, pukis, tiwul ayu) terserap koperasi; target transaksi harian Rp600.000
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan Koperasi memastikan perputaran uang tetap berada di dalam desa dan mendistribusikan kekayaan secara adil lewat mekanisme SHU kepada seluruh anggota. Model inklusif yang memberikan hak kepemilikan dan suara setara bagi warga miskin menghapus kesenjangan akses modal dan menjamin pemerataan manfaat ekonomi di kawasan perbukitan Dlingo. Warga miskin memiliki hak suara dan saham setara; perputaran uang tetap di dalam desa; SHU didistribusikan merata
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan Kolaborasi multipihak (pentahelix) antara KDMP Kalurahan Dlingo, Pemerintah Kalurahan, Pemerintah Kabupaten Bantul, tokoh masyarakat, dan pelaku UMKM lokal menunjukkan model kemitraan yang efektif. Sinergi kebijakan subsidi pemerintah daerah dengan inisiatif ekonomi berbasis gotong royong masyarakat menjadi contoh kemitraan strategis yang dapat direplikasi secara nasional. Kolaborasi pentahelix operasional; kebijakan subsidi PPBMP dari Pemkab Bantul; jaringan KDMP di 17 kecamatan se-Bantul

Replikasi dan Scale Up Inovasi

KDMP Dlingo tidak harus bekerja dari nol; mereka dapat melakukan terobosan dengan mereplikasi keberhasilan yang sudah dicapai oleh KDMP lain di Kabupaten Bantul maupun di tingkat nasional. Model ritel koperasi mandiri tanpa utang bank di awal ini sangat ideal untuk direplikasi oleh kalurahan lain di 17 kecamatan se-Bantul dan daerah perbukitan sekitarnya. Kunci keberhasilannya yang dapat ditiru terletak pada tiga pilar: konsep kemitraan dengan produk lokal, pendaftaran anggota yang mudah via kasir, dan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan modal [5].

Strategi peningkatan skala usaha akan dilakukan melalui jaringan KDMP wilayah dan nasional. Dlingo Mart berencana membangun gerai cabang di padukuhan-padukuhan lain agar lebih dekat dengan permukiman warga, sekaligus memperluas praktik baiknya melalui pertukaran pembelajaran antargerai KDMP. Koperasi juga berencana mengembangkan unit usaha pengemasan produk agar jajanan lokal seperti tiwul ayu dan pukis memiliki daya tahan dan tampilan yang lebih menarik untuk dijual ke luar daerah melalui kolaborasi dengan akademisi dan dunia usaha.

Kolaborasi multipihak (pentahelix) yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, dan komunitas masyarakat menjadi fondasi untuk memperkuat dan memperluas praktik baik ini. Pemerintah daerah diharapkan dapat mereplikasi kebijakan subsidi simpanan pokok bagi warga miskin ke seluruh koperasi desa yang baru berdiri. Dengan visi menjadikan koperasi sebagai amanat konstitusi yang hidup dan bergerak di akar rumput, kebangkitan KDMP bukan lagi sekadar wacana melainkan gerakan nyata yang memerdekakan ekonomi desa dari ketergantungan pada bantuan konsumtif dan jerat rentenir.

Daftar Pustaka

[1] Pemerintah Kabupaten Bantul, “Dlingo Mart Diresmikan, Bupati Bantul Tekankan Kemandirian Koperasi,” bantulkab.go.id, Okt. 2025. [Online]. Tersedia: https://bantulkab.go.id

[2] Pemerintah Kalurahan Dlingo, “Profil Kalurahan Dlingo, Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul,” dlingo-bantul.desa.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://dlingo-bantul.desa.id

[3] Redaksi Berita Koperasi, “Koperasi Desa Merah Putih: Program Nasional Satu Desa Satu Koperasi,” beritakoperasi.com, 2025. [Online]. Tersedia: https://beritakoperasi.com

[4] Redaksi JawaPos, “Bupati Bantul Tanggung Simpanan Pokok KDMP Warga Miskin lewat PPBMP,” jawapos.com, 2025. [Online]. Tersedia: https://jawapos.com

[5] KDMP Bantul, “Portal Koperasi Desa Merah Putih Kabupaten Bantul,” kdmpbantul.org, 2025. [Online]. Tersedia: https://kdmpbantul.org

[6] Inovasi Web, “Portal Inovasi dan Praktik Baik Desa,” inovasi.web.id, 2026. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id

Kata Kunci

Koperasi Desa Merah Putih, KDMP, Kalurahan Dlingo, Dlingo Mart, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ritel modern, kemandirian ekonomi, ekonomi kerakyatan, koperasi inklusif, produk lokal, subsidi simpanan pokok, bootstrapping, gotong royong, Abdul Halim Muslih, Agus Purnomo, Mulyoto, inklusi keuangan, UMKM, pemberdayaan desa


Data Inovasi

Nama Inovasi
Ritel Modern Dlingo Mart & Pendaftaran Keanggotaan via Kasir
Alamat
Kalurahan Dlingo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Inovator
KDMP Kalurahan Dlingo & Pemerintah Kalurahan Dlingo (Lurah Agus Purnomo, Pengurus Koperasi Mulyoto)
Kontak
Telepon: 081931754206
Email: desa.dlingo@bantulkab.go.id
Lokasi