Ringkasan Inovasi
Desa Cangkuang Wetan di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, melahirkan terobosan melalui pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang menyatukan tiga pilar layanan dalam satu wadah kelembagaan: koperasi serba usaha, layanan kesehatan dasar melalui klinik dan apotek desa, serta pengolahan sampah berbasis teknologi di TPS3R Tanginas Bedas [1][2]. Inovasi ini digerakkan oleh Pemerintah Desa Cangkuang Wetan di bawah kepemimpinan Kepala Desa Asep Kusmiadi, S.Pd.I., M.Pd., yang mengubah paradigma sampah dari beban lingkungan menjadi sumber energi dan modal ekonomi melalui sistem ekonomi sirkular. Permasalahan utama yang diselesaikan adalah tumpukan sampah yang mencemari Sungai Citarum, keterbatasan akses layanan kesehatan, dan ketiadaan wadah ekonomi produktif bagi warga. Keberhasilan model integrasi tiga pilar ini menjadikan Cangkuang Wetan sebagai salah satu titik peluncuran nasional KDMP pada 21 Juli 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, bersamaan dengan 80.081 koperasi desa lainnya di seluruh Indonesia [3][4].
Latar Belakang
Desa Cangkuang Wetan terletak di kawasan padat penduduk Kecamatan Dayeuhkolot yang berbatasan langsung dengan aliran Sungai Citarum, salah satu sungai paling tercemar di Indonesia. Setiap hari, puluhan ton sampah rumah tangga menumpuk tanpa sistem pengelolaan yang memadai, mencemari badan sungai dan menimbulkan ancaman kesehatan bagi ribuan warga [2][7]. Masyarakat memandang sampah sebagai residu tak bernilai yang hanya layak diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang jaraknya puluhan kilometer.
Persoalan lingkungan ini diperparah oleh terbatasnya akses layanan kesehatan dasar yang terjangkau bagi rumah tangga berpenghasilan rendah. Fasilitas kesehatan terdekat memerlukan biaya transportasi dan waktu tempuh yang membebani ekonomi keluarga secara signifikan [8][5]. Warga yang sakit seringkali menunda kunjungan ke dokter karena kendala biaya, sementara keberadaan apotek yang menyediakan obat-obatan bermutu dengan harga terjangkau di lingkungan desa nyaris tidak ada.
Di tengah keputusasaan itu, Kepala Desa Asep Kusmiadi melihat peluang di balik tumpukan sampah yang menggunung. Peluang untuk menghubungkan bank sampah dengan unit usaha koperasi dan layanan kesehatan menjadi visi transformasi yang berani dan belum pernah dicoba oleh desa mana pun di Indonesia [9][1]. Desa membutuhkan wadah legal dan profesional untuk menampung aspirasi ekonomi sirkular ini agar memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh warganya.
Inovasi yang Diterapkan
Di bawah kepemimpinan Asep Kusmiadi, KDMP Cangkuang Wetan melahirkan inovasi “Koperasi Sirkular Terintegrasi” yang menghubungkan tiga unit usaha strategis dalam satu ekosistem. Ketiga unit tersebut mencakup ritel kebutuhan pokok, layanan kesehatan melalui klinik dan apotek desa, serta pengolahan sampah berbasis teknologi di TPS3R Tanginas Bedas [2][9]. Gagasan ini lahir dari musyawarah desa yang visioner, di mana keanggotaan koperasi disinergikan dengan kepesertaan nasabah Bank Sampah Tanginas yang telah berjalan aktif.
Inti teknologi pengolahan sampah terletak pada mesin Motah (Mesin Olah Runtah) yang mampu mengolah sampah residu hingga satu ton per jam menggunakan sistem pembakaran mandiri tanpa memerlukan bahan bakar tambahan [7][10]. Sampah yang dipilah warga dari tingkat rumah tangga dikonversi menjadi saldo tabungan koperasi atau ditukar langsung dengan pengisian ulang gas dan kebutuhan pokok di gerai koperasi. Sampah organik diolah menjadi pakan ternak melalui budidaya maggot serta pupuk organik yang mendukung pertanian lokal.
Unit kesehatan yang ditinjau langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengintegrasikan Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) ke dalam manajemen koperasi untuk menjamin keberlanjutan operasional [5][8]. Klinik dan apotek desa menyediakan layanan kesehatan dasar dengan mekanisme pembayaran fleksibel, termasuk melalui saldo tabungan sampah warga. Inovasi ini menciptakan siklus utuh di mana kesehatan lingkungan mendukung kesehatan fisik dan kesehatan finansial warga secara simultan.
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan diawali dengan akselerasi kelembagaan yang mencengangkan: sertifikat Akta Hukum Pendirian dari Kemenkumham terbit hanya sehari setelah musyawarah desa pada 14 Mei 2025. Kecepatan legalitas ini dimungkinkan oleh Permenkum Nomor 13 Tahun 2025 yang menyederhanakan prosedur pendirian koperasi desa secara daring [9][11]. Pemerintah desa langsung menggandeng pemangku kepentingan strategis, mulai dari Dinas Koperasi Provinsi Jawa Barat hingga BRI sebagai mitra permodalan.
Metodologi kolaboratif diterapkan dengan menempatkan ibu rumah tangga sebagai ujung tombak pemilahan sampah melalui jaringan Bank Sampah Tanginas yang dipimpin oleh Tini Sri Wahyuni. Pada percobaan awal mengubah kebiasaan warga, pengurus koperasi menghadapi kegagalan yang menjadi pembelajaran berharga — sosialisasi melalui forum formal di balai desa nyaris tidak menghasilkan dampak karena warga tetap membuang sampah sembarangan seperti kebiasaan bertahun-tahun. Kegagalan ini mendorong pengurus beralih ke sistem insentif langsung berupa cashback dan konversi sampah menjadi gas memasak yang membuktikan manfaat ekonomi secara nyata [2][12]. Pendekatan “jemput bola” dari rumah ke rumah yang dilakukan secara konsisten berhasil menggerakkan partisipasi warga secara bertahap.
Eksperimen kritis dilakukan melalui integrasi basis data nasabah Bank Sampah Tanginas menjadi anggota koperasi, memastikan basis massa yang solid sejak hari pertama beroperasi. Setiap nasabah bank sampah memiliki buku tabungan transparan dengan pencairan dana setiap tiga puluh hari sehingga manfaat ekonomi terasa nyata. Kolaborasi akademis dengan Universitas Pasundan memperkuat aspek transfer teknologi pengolahan sampah dan pengembangan jejaring ekonomi sirkular [13][14]. Keberhasilan legalitas cepat, kesiapan infrastruktur, dan soliditas jaringan masyarakat menjadikan Cangkuang Wetan terpilih sebagai titik peluncuran nasional KDMP.
Tantangan, Kendala, dan Mitigasi
Tantangan terbesar terletak pada upaya mengubah kebiasaan masyarakat yang selama bertahun-tahun membuang sampah sembarangan menjadi memilah dan menabung sampah sebagai modal ekonomi. Proses edukasi membutuhkan waktu dan kesabaran yang luar biasa karena kebiasaan lama tidak dapat diubah dalam semalam [2][7]. Mitigasi yang ditempuh adalah penggantian pendekatan sosialisasi formal yang terbukti gagal dengan sistem insentif langsung berupa cashback dan konversi sampah menjadi gas memasak. Pendekatan “jemput bola” dari rumah ke rumah oleh pengurus koperasi secara intensif berhasil menggerakkan partisipasi warga secara bertahap, dan bukti nyata manfaat ekonomi yang dirasakan oleh nasabah awal menjadi alat promosi paling ampuh untuk merekrut warga lainnya.
Kendala teknis muncul dari kompleksitas regulasi perizinan medis yang memperlambat operasionalisasi penuh unit klinik dan apotek desa. Biaya penyediaan tenaga kesehatan berlisensi dan obat-obatan yang memenuhi standar Kementerian Kesehatan membebani struktur keuangan koperasi yang masih dalam tahap pengembangan [8][5]. Mitigasi dilakukan melalui kemitraan dengan BPJS Kesehatan dan distributor farmasi nasional untuk memperluas cakupan layanan, serta skema subsidi silang dari keuntungan unit usaha ritel dan pengolahan sampah untuk menjaga biaya layanan kesehatan tetap terjangkau bagi warga kurang mampu. Pemeliharaan rutin mesin Motah agar tetap berfungsi optimal juga ditangani melalui pendampingan teknis berkelanjutan dari Universitas Pasundan [13].
Akses permodalan dari lembaga keuangan konvensional tidak selalu mudah bagi koperasi desa yang baru berdiri dan belum memiliki rekam jejak keuangan yang panjang. Meskipun dukungan BRI telah hadir sejak awal, kebutuhan modal kerja yang terus bertambah seiring pertumbuhan unit usaha memerlukan diversifikasi sumber pembiayaan [16][17]. Mitigasi yang ditempuh adalah advokasi aktif kepada Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Kementerian Koperasi untuk memperoleh pinjaman lunak, serta pengembangan pendapatan mandiri dari unit usaha yang sudah berjalan agar koperasi tidak bergantung sepenuhnya pada sumber pendanaan eksternal.
Faktor Penentu Keberhasilan
Kepemimpinan visioner Asep Kusmiadi menjadi faktor pembeda utama dalam mewujudkan integrasi tiga pilar layanan yang belum pernah dicoba oleh desa lain di Indonesia. Kemampuannya membangun konsensus melalui musyawarah desa dan menerjemahkan aspirasi warga menjadi program operasional yang konkret mempercepat seluruh proses transformasi [9][15]. Dukungan penuh perangkat desa dan tokoh masyarakat memastikan setiap kebijakan mendapatkan legitimasi sosial yang kuat.
Kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah desa, Satgas Citarum Harum, Universitas Pasundan, BRI, serta Kementerian Koordinator Bidang Pangan menciptakan ekosistem pendukung yang lengkap. BRI memberikan dukungan komprehensif berupa renovasi bangunan kantor dan gudang, penyediaan kendaraan angkutan operasional, serta pendampingan layanan keuangan melalui skema AgenBRILink [16][17]. Sistem insentif langsung berhasil mengubah perilaku masyarakat secara fundamental: warga tidak lagi memandang sampah sebagai limbah, melainkan sebagai “tabungan” yang dapat ditukar dengan gas, sembako, atau layanan kesehatan [1][2]. Pergeseran paradigma ini menjadi bukti bahwa perubahan perilaku kolektif bisa terjadi ketika insentif ekonomi terasa nyata dan langsung dirasakan oleh setiap rumah tangga.
Hasil dan Dampak Inovasi
Sebelum KDMP berdiri, puluhan ton sampah rumah tangga menumpuk setiap hari di lingkungan desa tanpa sistem pengelolaan yang memadai, mencemari Sungai Citarum dan menimbulkan ancaman kesehatan bagi ribuan warga. Masyarakat bergantung sepenuhnya pada pengangkutan sampah ke TPA Sarimukti yang jaraknya puluhan kilometer, sementara akses layanan kesehatan dasar memerlukan biaya transportasi yang membebani ekonomi keluarga. Setelah KDMP beroperasi, mesin Motah dengan kapasitas pengolahan hingga satu ton per jam berhasil memproses seluruh sampah residu desa menggunakan sistem pembakaran mandiri tanpa bahan bakar tambahan [7][18]. Desa terbebas dari ketergantungan pada TPA Sarimukti, dan volume sampah yang mencemari Sungai Citarum berkurang secara signifikan.
Dampak ekonomi paling nyata adalah penghematan biaya energi rumah tangga karena warga memperoleh gas memasak dari hasil konversi sampah yang mereka setorkan sendiri. Koperasi telah memiliki aset produktif berupa kantor, gudang logistik, gerai sembako, klinik, apotek, dan kendaraan operasional dari mitra perbankan. Ibu-ibu rumah tangga kini menukar tabungan sampah mereka dengan kebutuhan dapur atau layanan kesehatan di klinik koperasi tanpa mengeluarkan uang tunai [5][1]. Produk turunan sampah organik berupa pelet pakan ikan dan unggas dari budidaya maggot juga membuka aliran pendapatan baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa meningkat tajam seiring dengan transparansi pengelolaan usaha yang memberikan manfaat langsung ke dapur dan kesehatan warga. Kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan pada Mei 2025 memvalidasi keberhasilan model integrasi tiga pilar ini [6]. Desa Cangkuang Wetan kini menjadi model percontohan nasional yang menarik kunjungan studi banding dari berbagai kabupaten dan provinsi di seluruh Indonesia [12][19].
Sumber Pendanaan dan Model Bisnis
Sumber pendanaan pendirian KDMP Cangkuang Wetan berasal dari kombinasi penyertaan modal Dana Desa, simpanan pokok dan simpanan wajib anggota, serta dukungan komprehensif dari BRI melalui program CSR yang mencakup renovasi bangunan kantor dan gudang, penyediaan kendaraan angkutan operasional, dan pendampingan layanan keuangan melalui AgenBRILink [16][17]. Infrastruktur TPS3R Tanginas Bedas beserta mesin Motah diperoleh melalui program Satgas Citarum Harum yang menjadi mitra strategis dalam pengadaan teknologi pengolahan sampah. Kolaborasi dengan Universitas Pasundan menyumbangkan pendampingan teknis dan transfer teknologi tanpa membebankan biaya konsultansi kepada desa [13].
Model bisnis KDMP Cangkuang Wetan beroperasi melalui ekosistem ekonomi sirkular yang menghubungkan tiga unit usaha secara sinergis. Unit pengolahan sampah menghasilkan pendapatan dari penjualan gas hasil konversi, pelet pakan maggot, dan pupuk organik. Unit ritel gerai sembako menjual kebutuhan pokok dengan mekanisme pembayaran tunai maupun tukar saldo tabungan sampah. Unit klinik dan apotek desa menghasilkan pendapatan dari layanan kesehatan dengan mekanisme pembayaran fleksibel. Keuntungan dari unit ritel dan pengolahan sampah disubsidi silang untuk menjaga biaya layanan kesehatan tetap terjangkau bagi warga kurang mampu [1][2]. Model subsidi silang antar-unit usaha ini memastikan misi sosial koperasi tetap terjaga meskipun orientasi bisnis terus dikembangkan.
Pelajaran yang Dipetik (Lessons Learned)
Keputusan paling tepat yang diambil Pemerintah Desa Cangkuang Wetan adalah mengintegrasikan basis data nasabah Bank Sampah Tanginas yang sudah aktif menjadi anggota koperasi, sehingga KDMP langsung memiliki basis massa yang solid sejak hari pertama beroperasi. Keputusan kunci lainnya adalah menerapkan sistem insentif langsung — cashback dan konversi sampah menjadi gas — yang membuktikan manfaat ekonomi secara nyata dan mengubah perilaku masyarakat jauh lebih efektif dibandingkan sosialisasi formal [2][12]. Strategi menempatkan ibu rumah tangga sebagai ujung tombak pemilahan sampah juga menjadi langkah cerdas karena mereka adalah pengelola utama ekonomi rumah tangga dan penghasil sampah terbesar di tingkat keluarga.
Jika memulai dari awal, pengelola mengakui bahwa pengurusan perizinan unit klinik dan apotek desa seharusnya dimulai bersamaan dengan proses pendirian koperasi, bukan setelah KDMP beroperasi. Kompleksitas regulasi perizinan medis memperlambat operasionalisasi penuh unit kesehatan dan membebani struktur keuangan koperasi yang masih dalam tahap awal. Selain itu, pelatihan teknis pemeliharaan mesin Motah bagi operator lokal idealnya dilakukan lebih intensif sebelum TPS3R beroperasi penuh, agar ketergantungan pada pendampingan teknis dari Universitas Pasundan dapat diminimalkan secara bertahap [13].
Saran praktis bagi desa lain yang ingin menerapkan inovasi serupa mencakup tiga hal pokok. Pertama, manfaatkan lembaga masyarakat yang sudah berjalan (bank sampah, kelompok PKK, atau posyandu) sebagai fondasi keanggotaan koperasi — jangan membangun basis massa dari nol. Kedua, terapkan sistem insentif langsung yang menghubungkan pemilahan sampah dengan manfaat ekonomi konkret (gas, sembako, layanan kesehatan), karena perubahan perilaku kolektif hanya terjadi ketika warga merasakan manfaat nyata di dapur mereka sendiri. Ketiga, urus seluruh perizinan unit usaha secara paralel sejak awal, bukan bertahap, agar koperasi dapat beroperasi secara penuh pada hari peluncuran [9][1].
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan KDMP Cangkuang Wetan difokuskan pada pengembangan kapasitas teknologi pengolahan sampah menuju konversi menjadi energi listrik dan air uap destilasi steril. Peningkatan kapasitas mesin TPS3R direncanakan untuk melayani volume sampah yang lebih besar seiring pertambahan anggota koperasi dan perluasan wilayah layanan [12][13]. Kolaborasi berkelanjutan dengan Universitas Pasundan akan memperkuat riset dan pengembangan teknologi baru yang lebih efisien, sementara sinergi dengan program nasional Citarum Harum menjamin dukungan kebijakan dan infrastruktur dari pemerintah pusat.
Mekanisme regenerasi kepemimpinan dirancang melalui pelibatan pemuda desa dan kader Bank Sampah Tanginas dalam kepengurusan koperasi secara terstruktur. Transfer pengetahuan dari pengurus senior kepada generasi muda dilakukan melalui pendampingan langsung di setiap unit usaha, sehingga estafet keahlian terjamin meskipun pergantian kepala desa atau pengurus koperasi terjadi. Dokumentasi seluruh prosedur operasional — mulai dari pengoperasian mesin Motah hingga pembukuan keuangan — dalam bentuk panduan tertulis memastikan keberlangsungan operasional tidak bergantung pada satu figur individu. Jaringan ibu-ibu Bank Sampah Tanginas yang dipimpin Tini Sri Wahyuni telah membentuk struktur kepengurusan yang mandiri dan tidak bergantung pada arahan pemerintah desa [2].
Rencana pendapatan mandiri jangka panjang ditopang oleh pengembangan produk turunan sampah menjadi bahan bangunan seperti batako dan paving block, serta peningkatan volume penjualan pelet pakan maggot ke sektor perikanan dan peternakan. Manajemen koperasi berencana memperkuat unit klinik dan apotek dengan menggandeng BPJS Kesehatan dan distributor farmasi nasional untuk memperluas cakupan layanan [8][6]. Rantai distribusi energi dari sampah akan diperluas melalui jaringan koperasi antar-desa di Kecamatan Dayeuhkolot untuk menciptakan skala ekonomi yang lebih efisien. Visi jangka panjangnya adalah mewujudkan Cangkuang Wetan sebagai desa yang berdaulat energi dan pangan melalui kekuatan gotong royong modern yang terorganisasi dalam kelembagaan koperasi [1].
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi KDMP Cangkuang Wetan berkontribusi langsung pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang relevan dengan pengentasan kemiskinan, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat perkotaan pinggiran. Kontribusi tersebut terangkum dalam tabel berikut.
| No SDGs | Penjelasan | Indikator |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | KDMP menciptakan lapangan kerja tetap bagi pengelola TPS3R, operator mesin Motah, petugas klinik, dan staf gerai koperasi. Warga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap kini memperoleh pendapatan rutin dari pengelolaan sampah dan operasional unit usaha koperasi. | Terciptanya lapangan kerja tetap di tiga unit usaha koperasi; peningkatan daya beli rumah tangga melalui penghematan biaya energi |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | Gerai sembako koperasi menyediakan kebutuhan pangan pokok dengan harga terjangkau yang dapat diakses melalui mekanisme tukar tabungan sampah. Produksi pelet pakan dari budidaya maggot mendukung sektor perikanan dan peternakan lokal. | Ketersediaan sembako stabil melalui gerai koperasi; produksi pelet pakan maggot untuk perikanan dan peternakan lokal |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Integrasi klinik dan apotek desa dalam manajemen koperasi membuka akses layanan kesehatan dasar yang lebih dekat dan terjangkau. Pengurangan volume sampah turut menurunkan risiko penyakit berbasis lingkungan. | Klinik dan apotek desa beroperasi dengan mekanisme pembayaran fleksibel termasuk saldo tabungan sampah; penurunan risiko penyakit |
| SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau | Konversi sampah residu menjadi energi melalui mesin Motah di TPS3R Tanginas Bedas menciptakan sumber energi alternatif terjangkau. Mengurangi ketergantungan rumah tangga pada gas elpiji konvensional yang harganya terus meningkat. | Mesin Motah berkapasitas 1 ton/jam beroperasi; warga memperoleh gas memasak dari konversi sampah |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Pengelolaan tiga pilar usaha terintegrasi menciptakan pekerjaan layak dengan penghasilan stabil bagi warga desa. Perputaran ekonomi lokal mendorong pertumbuhan Pendapatan Asli Desa dan membangun fondasi ekonomi mandiri. | Peningkatan PADes; penyerapan tenaga kerja lokal di unit ritel, kesehatan, dan pengolahan sampah |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | Pengolahan sampah dari sumbernya melalui TPS3R Tanginas Bedas menjadikan lingkungan permukiman desa lebih bersih dan sehat. Membebaskan desa dari ketergantungan pada TPA Sarimukti dan berkontribusi pada pengurangan pencemaran Sungai Citarum. | Pengurangan volume sampah ke TPA Sarimukti; penurunan pencemaran aliran Sungai Citarum |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab | Sistem ekonomi sirkular mengubah pola konsumsi dan produksi dari paradigma linear menjadi berkelanjutan. Setiap jenis sampah mendapat perlakuan berbeda sehingga tidak ada material yang terbuang sia-sia. | Sampah anorganik menjadi energi; organik menjadi pakan dan pupuk; bernilai ekonomi dijual melalui bank sampah |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | KDMP membangun kemitraan strategis multipihak yang melibatkan pemerintah desa, Satgas Citarum Harum, Universitas Pasundan, BRI, dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Kolaborasi lintas sektor ini menciptakan ekosistem ekonomi desa yang tangguh dan inklusif. | Kemitraan aktif dengan minimal 5 lembaga lintas sektor; titik peluncuran nasional KDMP oleh Presiden RI |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model koperasi sirkular terintegrasi Cangkuang Wetan sangat layak direplikasi oleh desa-desa lain yang menghadapi tantangan serupa dalam pengelolaan sampah dan keterbatasan akses layanan kesehatan. Prasyarat minimum untuk replikasi mencakup tiga elemen utama: keberadaan bank sampah atau lembaga masyarakat yang sudah aktif sebagai fondasi keanggotaan koperasi, penerapan sistem insentif langsung yang menghubungkan pemilahan sampah dengan manfaat ekonomi konkret, dan kolaborasi multipihak yang mengatasi keterbatasan sumber daya [1][19]. Desa lain dapat mengadopsi kerangka model ini dengan menyesuaikan jenis unit usaha dan teknologi pengolahan sesuai potensi daerah masing-masing.
Model adaptasi dapat disesuaikan berdasarkan karakteristik wilayah. Desa-desa perkotaan pinggiran dengan volume sampah besar dapat langsung mengadopsi model TPS3R, sementara desa perdesaan dapat memulai dari unit bank sampah skala kecil yang terintegrasi dengan gerai sembako koperasi. Integrasi unit kesehatan dapat ditambahkan secara bertahap setelah unit usaha utama berjalan stabil dan menghasilkan pendapatan yang cukup untuk subsidi silang.
Strategi scale up difokuskan pada perluasan jaringan layanan antar-jemput sampah menggunakan aplikasi digital serta pengembangan produk turunan sampah menjadi bahan bangunan seperti batako dan paving block. KDMP Cangkuang Wetan telah membuka diri sebagai pusat pelatihan dan studi banding tata kelola yang menerima kunjungan dari berbagai kabupaten di Jawa Barat [12][13]. Rantai distribusi energi dari sampah akan diperluas melalui jaringan koperasi antar-desa di Kecamatan Dayeuhkolot. Dukungan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan KDMP memudahkan birokrasi perizinan bagi desa-desa replikator. Dokumentasi praktik baik melalui platform inovasi.web.id [20] memastikan pengalaman KDMP Cangkuang Wetan dapat diakses oleh komunitas desa lainnya sebagai panduan replikasi yang terukur.
Daftar Pustaka
[1] Inovasi Desa, “KDMP Cangkuang Wetan: Integrasi Koperasi, Layanan Kesehatan, dan Pengolahan Sampah untuk Ekonomi Sirkular Desa,” inovasi.web.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id
[2] Pemerintah Provinsi Jawa Barat, “TPS3R Tanginas Bedas Cangkuang Wetan: Model Pengelolaan Sampah Mandiri Berbasis Masyarakat,” jabarprov.go.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://jabarprov.go.id
[3] Sekretariat Presiden RI, “Presiden Prabowo Luncurkan 80.081 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Secara Serentak,” presidenri.go.id, 21 Jul. 2025. [Online]. Tersedia: https://presidenri.go.id
[4] ANTARA, “Peluncuran KDMP Nasional: Cangkuang Wetan Jadi Salah Satu Titik Percontohan,” antaranews.com, 2025. [Online]. Tersedia: https://antaranews.com
[5] Pemerintah Kabupaten Bandung, “Menko Pangan Zulkifli Hasan Tinjau Klinik dan Apotek Desa Cangkuang Wetan,” bandungkab.go.id, 15 Mei 2025. [Online]. Tersedia: https://bandungkab.go.id
[6] Kementerian Koordinator Bidang Pangan, “Percepatan Operasionalisasi KDMP: Integrasi Klinik, Apotek, dan Koperasi Desa,” kemenkopangan.go.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://kemenkopangan.go.id
[7] Jurnal Polisi, “Mesin Motah di TPS3R Cangkuang Wetan: Kapasitas 1 Ton per Jam untuk Solusi Sampah Citarum,” jurnalpolisi.co.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://jurnalpolisi.co.id
[8] Kementerian Kesehatan RI, “Integrasi 30.000 Poskesdes ke dalam Sistem Koperasi Merah Putih untuk Layanan Kesehatan Desa,” kemkes.go.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://kemkes.go.id
[9] Sergap, “KDMP Cangkuang Wetan: AHU Terbit Sehari Setelah Musdes, Pionir Koperasi Desa Nasional,” sergap.co.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://sergap.co.id
[10] iNews, “TPS3R Tanginas Bedas Cangkuang Wetan Mampu Olah Sampah 1 Ton per Jam,” inews.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://inews.id
[11] Dirjen AHU Kemenkumham, “Percepatan Penerbitan Badan Hukum Koperasi Desa Merah Putih Melalui Sistem AHU Online,” ahu.go.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://ahu.go.id
[12] Pikiran Rakyat, “Desa Cangkuang Wetan Ubah Sampah Jadi BBM dan Gas: Model Ekonomi Sirkular Bandung,” pikiran-rakyat.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://pikiran-rakyat.com
[13] Universitas Pasundan, “Pendampingan Teknis dan Transfer Teknologi Pengolahan Sampah di Desa Cangkuang Wetan,” unpas.ac.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://unpas.ac.id
[14] Lima Waktu, “Mesin Motah TPS3R Tanginas Bedas: Kapasitas Besar untuk Solusi Sampah Dayeuhkolot,” limawaktu.id, 2024. [Online]. Tersedia: https://limawaktu.id
[15] Spot Berita, “Asep Kusmiadi: Kepala Desa Visioner di Balik Transformasi Cangkuang Wetan,” spotberita.com, 2025. [Online]. Tersedia: https://spotberita.com
[16] Detik, “BRI Peduli Dukung Infrastruktur dan Pengelolaan Sampah di DAS Citarum Cangkuang Wetan,” detik.com, 2025. [Online]. Tersedia: https://detik.com
[17] SWA, “BRI dan One BRI Solution: Pendampingan Komprehensif untuk Koperasi Desa Merah Putih,” swa.co.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://swa.co.id
[18] Tempo, “Konversi Sampah Menjadi Energi di Desa Cangkuang Wetan Bandung,” tempo.co, 2024. [Online]. Tersedia: https://tempo.co
[19] Link Jabar, “Cangkuang Wetan Jadi Destinasi Studi Banding Pengelolaan Sampah dari Berbagai Daerah,” linkjabar.com, 2024. [Online]. Tersedia: https://linkjabar.com
[20] Inovasi Desa, “Dokumentasi Inovasi dan Praktik Baik Pembangunan Desa,” inovasi.web.id, 2025. [Online]. Tersedia: https://inovasi.web.id